"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."
Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.
Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.
Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.
apakah sang penguasa akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Dua
Sinar mentari pagi yang baru saja menyentuh puncak Jembatan Pertumbuhan menciptakan pendaran cahaya perak yang memantul ke permukaan sungai irigasi. Di atas air yang jernih, sensor-sensor kecil berbentuk piringan perak milik Yan Jiu terlihat mengapung dengan stabil, sesekali mengeluarkan cahaya biru redup saat mengirimkan data ke pusat pemantauan di Kedai Teh Kedamaian. Kehidupan di Desa Jinan kini telah memasuki era yang sangat unik; perpaduan antara kearifan tanah yang purba dengan teknologi dimensi yang sangat maju. Di bawah permukaan tanah, Gui Xu terus bekerja mengolah limbah organik dengan kecepatan konstan, sementara di atasnya, seluruh ekosistem desa bernapas dalam harmoni yang belum pernah terjadi dalam sejarah multisemesta.
Zhou Ji Ran duduk di kursi goyangnya, memegang sebuah perangkat kecil berbentuk lempengan kristal yang merupakan inovasi terbaru dari Yan Jiu. Di layar kristal tersebut, terlihat grafik pertumbuhan sawi primadonanya, lengkap dengan analisis kadar kelembapan tanah dan kepadatan esensi matahari yang diserap oleh setiap helai daun.
"Tuan, sensor di sektor timur menunjukkan adanya kenaikan kadar nitrogen sebesar nol koma lima persen karena pupuk baru dari Gui Xu. Saya menyarankan kita untuk sedikit meningkatkan aliran air dari Telaga Teratai agar keseimbangan nutrisinya tetap terjaga," lapor Yan Jiu yang berdiri di samping Zhou Ji Ran, mengenakan seragam teknisi biru tuanya yang kini penuh dengan kantong berisi obeng dan alat ukur digital.
Zhou Ji Ran menyesap teh melatinya, matanya menatap layar kristal itu dengan pandangan malas namun penuh perhatian. "Lakukan saja, Yan Jiu. Kau adalah kepala teknis di sini. Tapi ingat, jangan biarkan sistem otomatis itu membuat kita malas. Kita tetap harus menyentuh tanah dengan tangan kita sendiri setiap sore agar tanaman-tanaman itu tahu siapa yang sebenarnya memberi mereka cinta."
"Siap, Tuan Zhou! Kalibrasi manual akan dilakukan pukul empat sore nanti," jawab Yan Jiu dengan rasa hormat yang kini sudah mendarah daging.
Di halaman depan, Mo Ye sedang melakukan ritual pagi yang sangat presisi. Gunting tamannya yang berkilau bergerak dengan kecepatan yang hampir tidak bisa diikuti mata, membentuk pagar tanaman di sekitar kedai menjadi pola labirin geometris yang sangat rumit. Setiap daun yang dipotongnya memiliki ukuran yang sama persis hingga ke tingkat milimeter. Baginya, setiap tanaman adalah struktur data fisik yang harus diatur agar selaras dengan keindahan absolut desa.
"Mo Ye! Kau memotong bagian sudut itu terlalu tajam lagi! Itu membuat aliran energi angin menjadi sedikit terhambat di meja nomor tiga!" tegur Gong Sun, Sang Arsitek, yang sedang membawa gulungan denah paviliun teh barunya.
Mo Ye berhenti sejenak, menatap Gong Sun dengan wajah datarnya. "Analisis aliran udara menunjukkan bahwa sudut tajam ini justru membantu mengurangi turbulensi debu dari arah jalan setapak. Estetika fungsional adalah prioritas saya."
"Estetika tanpa harmoni ruang adalah kejahatan konstruksi!" balas Gong Sun tak mau kalah.
Zhou Ji Ran hanya menggelengkan kepala melihat perdebatan rutin antara dua ahli estetika tersebut. Baginya, kebisingan kecil semacam itu adalah tanda bahwa desa ini benar-benar hidup. Ia menoleh ke arah dapur, di mana aroma masakan Chen Long mulai menguar kuat—aroma nasi Padi Surgawi yang ditumis dengan mentega susu kambing gunung dan irisan daging asap dari buruan Jenderal Han di hutan utara.
"Tuan, sarapan sudah siap. Hari ini Chen Long membuat sup bening sawi dengan kaldu esensi bumi," Lin Xiaoqi datang membawa nampan kayu, senyumnya secerah matahari pagi. Di belakangnya, Su Ruo berjalan sambil memegang kecapinya, sesekali memetik senar untuk menyelaraskan energi di dalam ruangan.
"Duduklah, kita makan bersama," ajak Zhou Ji Ran.
Saat mereka sedang menikmati sarapan yang sangat lezat itu, tiba-tiba sensor di tangan Yan Jiu mengeluarkan suara peringatan yang sangat nyaring dan berulang-ulang. Layar kristalnya seketika berubah warna menjadi putih bersih, tanpa data, tanpa grafik, hanya sebuah kekosongan yang mempesona.
"Tuan! Sinyal deteksi menghilang! Bukan karena kerusakan, tapi karena ada sesuatu yang 'menghapus' frekuensi detektor saya!" Yan Fei berteriak panik, jemarinya bergerak cepat mencoba menstabilkan perangkatnya.
Zhou Ji Ran meletakkan sendok kayunya. Ia menatap ke arah langit timur, di mana sebuah fenomena luar biasa sedang terjadi. Langit yang tadinya biru jernih, tiba-tiba tampak seperti selembar perkamen kuno yang sedang dibuka. Sebuah gulungan kertas raksasa yang panjangnya mencapai beberapa kilometer membentang di angkasa, menutupi sinar matahari. Gulungan itu dipenuhi dengan ribuan karakter kaligrafi emas yang memancarkan aroma tinta yang sangat tua dan berat, seolah-olah seluruh sejarah dunia tersimpan di dalamnya.
Dari pusat gulungan kertas tersebut, muncul sebuah gerbang berbentuk buku yang terbuka. Dari gerbang itu, melayang turun sekelompok pria dan wanita yang mengenakan jubah panjang berwarna krem, masing-masing membawa kuas besar dan tinta kristal di pinggang mereka. Pemimpin mereka adalah seorang pria paruh baya dengan kacamata tipis yang terbuat dari lensa kebenaran. Namanya adalah Li Wei, Sang Arwah Pustaka dari "Sekte Pengetahuan Abadi", sebuah organisasi yang bertugas untuk mengindeks, mengarsipkan, dan membekukan setiap kejadian penting di multisemesta ke dalam Perpustakaan Pusat Takdir.
Sekte ini tidak tertarik pada kekuasaan fisik atau kekayaan. Mereka hanya tertarik pada satu hal: Informasi. Dan bagi mereka, Desa Jinan adalah sebuah "Anomali Informasi" yang tidak terdaftar dalam indeks mana pun, sebuah sejarah yang berjalan di luar pengawasan mereka.
"Zhou Ji Ran," suara Li Wei terdengar sangat tenang namun memiliki bobot yang bisa membuat pikiran seseorang terasa penuh sesak dengan data. "Kami telah mengamati domain ini. Keberadaan Anda telah menciptakan jutaan baris informasi baru yang tidak memiliki sumber orisinal dalam basis data kami. Anda adalah 'Kejadian Tanpa Catatan' yang harus segera diindeks dan dibekukan agar tidak merusak narasi utama semesta."
Li Wei mendarat dengan lembut di atas Jembatan Pertumbuhan, mengabaikan Huo Fen yang sedang memegang palu pemanasnya. Ia mengangkat kuas besarnya, mencelupkannya ke dalam udara yang seketika berubah menjadi tinta emas. "Saya adalah Li Wei. Saya datang untuk melakukan 'Pengarsipan Total'. Desa ini akan kami masukkan ke dalam Volume Keheningan, di mana waktu tidak akan bergerak lagi, sehingga informasi di dalamnya tetap murni selamanya."
Zhou Ji Ran berdiri dari meja makan, ia membersihkan mulutnya dengan saputangan. "Pengarsipan? Volume Keheningan? Kalian benar-benar sekelompok orang yang sangat membosankan. Kau ingin membekukan desaku hanya agar kau bisa memiliki catatan yang rapi di rak bukumu? Tidakkah kau tahu bahwa setiap hari di sini ada cerita baru yang tidak bisa kau ikat dengan tinta?"
"Cerita yang tidak tercatat adalah kekacauan," sahut Li Wei dingin. Ia mulai menggerakkan kuasnya di udara, membentuk karakter 'DIAM' yang sangat besar. Karakter itu memancarkan gelombang energi yang seketika membekukan gerakan naga-naga perak di sungai. Burung-burung yang sedang terbang di langit seketika berhenti di udara, tertahan oleh hukum pengarsipan yang memaksa realitas untuk menjadi sebuah gambar diam.
Para penduduk desa mulai merasa tubuh mereka menjadi kaku, seolah-olah mereka sedang berubah menjadi patung batu. Bahkan Ye Hua dan Su Ruo merasa pikiran mereka mulai melambat, tertimbun oleh beratnya pengetahuan kuno yang dipancarkan oleh Li Wei.
"Ini adalah 'Tinta Keabadian'," ucap Li Wei. "Setelah karakter ini selesai, Desa Jinan akan menjadi sebuah ilustrasi indah dalam buku sejarah kami, abadi dan tak tersentuh oleh perubahan."
Zhou Ji Ran berjalan perlahan menuju jembatan. Langkahnya tetap normal, tidak terpengaruh oleh hukum pembekuan informasi tersebut. Bagi Zhou Ji Ran, yang pernah memiliki sistem yang jauh lebih kompleks daripada perpustakaan mana pun, teknik pengarsipan ini hanyalah seperti mencoba menangkap laut menggunakan botol kecil.
"Kau bicara soal keabadian dalam buku, Li Wei," ucap Zhou Ji Ran sambil mengambil sebuah lap kain kotor dari konter kedai—lap yang tadi digunakan Ye Hua untuk membersihkan sisa tumpahan susu. "Tapi keabadian yang sebenarnya adalah apa yang terus tumbuh dan berubah. Tinta emasmu itu... ia terlalu kaku untuk tanahku yang subur ini."
Zhou Ji Ran melakukan satu gerakan yang sangat tidak terduga: ia mengibaskan lap kain kotor yang masih basah itu ke arah karakter 'DIAM' yang sedang dibuat oleh Li Wei.
*Plak!*
Lap kain kotor itu menghantam karakter emas tersebut. Secara ajaib, air cucian piring dan sisa lemak susu yang menempel di lap tersebut bereaksi dengan tinta emas suci Li Wei. Tinta emas itu seketika luntur dan berubah menjadi bercak-bercak hitam yang tidak beraturan, persis seperti noda kopi di atas kertas penting.
Pembekuan realitas seketika buyar. Naga-naga perak kembali berenang, burung-burung kembali terbang, dan para penduduk desa bisa bernapas kembali.
"Apa?! Kau mengotori Tinta Keabadian dengan... lap dapur kotor?!" Li Wei berteriak dengan wajah yang memerah karena marah. "Itu adalah penghinaan terhadap ilmu pengetahuan! Itu adalah vandalisme terhadap takdir semesta!"
"Vandalisme?" Zhou Ji Ran tertawa santai. "Itu namanya 'Improvisasi'. Dengar, Tuan Pustakawan. Masalahmu adalah kau terlalu banyak membaca dan kurang banyak bekerja. Kau ingin mencatat sejarah? Baiklah. Aku punya banyak sejarah yang perlu dicatat di sini. Tapi bukan dalam bentuk buku yang membosankan."
Zhou Ji Ran melesat maju, kecepatannya melampaui pemahaman data Li Wei. Sebelum sang pustakawan sempat mengangkat kuasnya lagi, Zhou Ji Ran sudah menangkap pergelangan tangannya.
"Kau punya kemampuan untuk mengorganisir informasi dengan sangat cepat," ucap Zhou Ji Ran. "Kebetulan sekali, sejak semakin banyak orang yang tinggal di sini, kami sedang kesulitan mengelola sistem pendidikan untuk anak-anak desa dan sistem rotasi tanaman di ladang yang semakin kompleks. Suan Ji sudah kewalahan dengan angka-angka susu, dan Wu Tie sibuk dengan logistik. Kami butuh seorang 'Manajer Pengetahuan' yang bisa membangun perpustakaan desa dan menjadi guru bagi anak-anak di sini."
Zhou Ji Ran menjentikkan jarinya ke dahi Li Wei. Seketika, jubah krem mewah sang pustakawan berubah menjadi jubah guru sederhana berwarna abu-abu tua. Kuas raksasanya menyusut menjadi sebuah pena bulu ayam yang sangat nyaman digenggam. Gulungan kertas raksasa di langit seketika melipat diri dan turun ke bumi, berubah menjadi sebuah bangunan perpustakaan kayu yang indah di samping sekolah desa.
"Mulai hari ini, kau adalah Kepala Perpustakaan dan Guru Besar Desa Jinan," perintah Zhou Ji Ran mutlak. "Tugasmu adalah mencatat setiap teknik pertanian baru yang kita temukan, mengajar anak-anak desa cara membaca dan menghitung, serta memastikan setiap warga desa memiliki akses ke informasi yang berguna untuk kehidupan mereka. Dan satu lagi, jika aku melihat kau mencoba 'membekukan' murid-muridmu hanya agar mereka diam di kelas, aku akan memintamu untuk membersihkan seluruh rak perpustakaan menggunakan lidahmu sendiri."
Li Wei merasakan seluruh basis kekuatan 'Pengarsipan'-nya kini telah diubah fungsinya menjadi kemampuan pedagogi dan manajemen data murni. Ia menatap perpustakaan baru di depannya, lalu menatap anak-anak desa yang mulai berlari mendekat dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Mengajar... manusia fana? Mengindeks teknik menanam sawi?" gumam Li Wei, namun ada sebuah kilatan baru di matanya. Sebagai seorang yang mencintai pengetahuan, ia menyadari bahwa di desa ini, ada jenis pengetahuan hidup yang jauh lebih berharga daripada apa pun yang pernah ia simpan di Perpustakaan Pusat. "Diterima. Pengetahuan harus mengalir agar tetap hidup. Saya akan segera menyusun kurikulum dasar untuk semester pertama."
Sore harinya, pemandangan di pusat desa menjadi sangat berbeda. Li Wei terlihat duduk di bawah pohon willow, dikelilingi oleh belasan anak desa dan beberapa prajurit zirah emas yang ingin belajar cara membaca. Ia menjelaskan tentang sejarah benua dengan cara yang sangat menarik, tidak lagi menggunakan bahasa kaku sistem, melainkan dengan cerita yang penuh warna.
"Lihatlah Guru Li! Dia bisa membuat gambar muncul dari dalam bukunya!" seru salah satu anak dengan gembira.
Di Kedai Teh Kedamaian, Wu Tie dan Suan Ji sedang duduk bersama Li Wei untuk mendiskusikan sistem pelaporan terpadu. "Guru Li, saya butuh bantuan Anda untuk mengkategorikan varietas gandum baru ini. Namanya 'Gandum Emas Pencerahan'. Suan Ji bilang kadar energinya fluktuatif, saya butuh sistem indeks yang lebih akurat," ucap Wu Tie.
"Serahkan pada saya, Tuan Akuntan. Saya sudah menyiapkan sistem klasifikasi desimal baru untuk hasil bumi kita," jawab Li Wei dengan senyum yang tulus.
Zhou Ji Ran memperhatikan semua itu dari teras kedainya, merasa sangat puas. Setiap kali musuh datang, mereka bukan hanya membawa tantangan, tapi membawa solusi bagi perkembangan desanya. Sekarang ia memiliki sistem pendidikan yang mumpuni, membuat Desa Jinan menjadi tempat yang benar-benar lengkap bagi sebuah komunitas.
"Tuan, apakah menurut Anda Sekte Pengetahuan Abadi akan mengirimkan orang lagi setelah mereka tahu pemimpin mereka menjadi guru sekolah?" tanya Lin Xiaoqi sambil menuangkan teh sore untuk Zhou Ji Ran.
"Mereka pasti akan mengirimkan 'Sang Penilai Kebenaran' atau sejenisnya," jawab Zhou Ji Ran santai. "Tapi itu bagus. Kita masih butuh seseorang untuk menjadi hakim desa atau pengawas kualitas di dapur Chen Long. Semakin banyak yang datang, semakin ringan pekerjaanku."
Lin Xiaoqi tertawa, ia menyandarkan kepalanya di bahu Zhou Ji Ran. "Tuan benar-benar menjadikan musuh-musuh besar itu sebagai tenaga kerja gratis yang sangat berkualitas."
"Itu namanya manajemen sumber daya multisemesta, Xiaoqi," canda Zhou Ji Ran.
Malam mulai turun menyelimuti Desa Jinan. Lampu-lampu lampion otomatis milik Yan Jiu mulai menyala, memberikan pendaran cahaya yang hangat di sepanjang jalan setapak. Di perpustakaan desa, cahaya dari karakter-karakter emas yang kini telah dijinakkan memberikan penerangan yang lembut bagi mereka yang ingin belajar hingga larut malam.
Zhou Ji Ran berdiri di jendela kamarnya, menatap ke arah langit yang bertabur bintang. Ia merasakan bahwa riak kedamaian yang ia bangun kini telah menjadi sebuah mercusuar yang sangat kuat. Namun, jauh di kedalaman dimensi yang paling gelap, ia merasakan adanya sebuah gerakan yang berbeda. Bukan lagi auditor, kolektor, atau pustakawan. Ia merasakan adanya aroma "Pembalasan" yang sangat pekat—aroma dari mereka yang benar-benar merasa kehilangan segalanya karena keberadaan desa ini.
"Besok pagi, aku harus memastikan pintu gerbang irigasi sudah diperkuat," gumam Zhou Ji Ran. "Hama berikutnya ini sepertinya tidak akan datang untuk bicara, tapi untuk menghancurkan. Tapi itu tidak masalah... kebetulan sekali, aku sedang butuh bahan untuk membuat tembok benteng baru di sekitar kandang kambing."
Ia tersenyum tipis, mematikan lampu minyaknya, dan berbaring untuk tidur nyenyak. Baginya, tantangan hari esok hanyalah satu lagi cara untuk mendapatkan bahan bangunan atau tenaga kerja baru. Selama ia memiliki cangkulnya, teh pahitnya, dan kedamaian di hatinya, tidak ada satu pun sistem di multisemesta ini yang bisa mengusik tidurnya.
Perjalanan tanpa instruksi ini terus berlanjut, selangkah demi selangkah, di atas tanah Jinan yang subur. Sebuah kisah tentang seorang pria yang menolak untuk menjadi legenda perang, dan memilih untuk menjadi legenda kehidupan. Di Desa Jinan, setiap hari adalah bab baru yang tidak perlu didefinisikan oleh tinta emas, karena ia telah terukir indah dalam setiap senyum penduduknya.
Malam semakin larut, dan Desa Jinan pun tenggelam dalam kesunyian yang penuh dengan harapan. Sang mantan pemilik sistem telah membuktikan bahwa kekuatan sejati bukan ditemukan dalam menguasai orang lain, melainkan dalam memberikan mereka tujuan hidup yang baru. Dan di bawah perlindungan sang petani legenda, segalanya berjalan dengan perlahan, penuh makna, dan sangat memuaskan.
"Selamat tidur, dunia yang berisik. Terima kasih atas sekolah barunya," bisik angin di sela-sela daun sawi yang hijau subur.
Fajar esok akan membawa keajaiban baru, dan Zhou Ji Ran akan siap menyambutnya dengan cangkir teh di tangan dan ketenangan di jiwa. Kehidupan di Desa Jinan adalah sebuah lagu syukur yang tak akan pernah berakhir, selangkah demi selangkah menuju kebahagiaan yang abadi. Semuanya berjalan sesuai rencana, satu hari pada satu waktu. Kehidupan ini memang benar-benar luar biasa. Tanpa instruksi apa pun, ia telah menemukan rumah yang paling indah di seluruh multisemesta. Dan ia akan memastikan tidak ada yang bisa merusaknya.
gak balik jadi orang2ngan sawah soalnya..🤣🤣