Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 — Jangan Tinggalkan Aku
Lorong rumah sakit malam itu terasa dingin dan sunyi.
Alya berlari panik mengikuti arah yang diberikan perawat tadi. Napasnya memburu, sementara air mata terus jatuh tanpa bisa ia tahan.
Dadanya terasa sesak.
Pikirannya kacau.
Ia takut.
Sangat takut.
Begitu tiba di depan ruang IGD, Alya langsung melihat beberapa pria berpakaian hitam berdiri di sana. Mereka adalah orang-orang yang tadi menjemput Reno.
Salah satu dari mereka menatap Alya sedikit terkejut.
“Anda Alya?”
“Reno mana?” suara Alya gemetar. “Dia gimana?”
Pria itu terlihat ragu sesaat sebelum akhirnya menjawab,
“Pak Reno masih ditangani dokter.”
Kaki Alya langsung melemas.
Ia duduk perlahan di kursi lorong sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Baru beberapa jam lalu Reno masih tersenyum di depannya.
Masih menggodanya di dalam mobil.
Masih bilang semuanya akan baik-baik saja.
Tapi sekarang…
Pria itu berada di balik pintu ruang darurat.
Dan Alya baru sadar satu hal yang paling menakutkan.Ia tidak siap kehilangan Reno.
Tak lama kemudian, ibu Reno datang bersama ayahnya.Tatapan wanita itu langsung tertuju pada Alya yang duduk dengan mata merah.
Ekspresinya berubah dingin.
“Kamu kenapa ada di sini?”
Alya buru-buru berdiri.
“Saya”
“Bukankah semua masalah ini mulai sejak Reno dekat denganmu?”
Kalimat itu langsung menghantam hati Alya.
“Apa maksud Tante?”
“Ayah Reno marah besar malam ini karena hubungan kalian.” Wanita itu menatap Alya tajam. “Kalau Reno tidak keras kepala membelamu, mungkin dia tidak akan keluar rumah dalam keadaan emosi.”
Alya langsung terdiam.
Dadanya terasa semakin sesak.
Ia tahu kecelakaan itu bukan salahnya sepenuhnya.
Tapi ucapan ibu Reno berhasil membuat rasa bersalah tumbuh di dalam dirinya.
“Sudah cukup, Ma.”
Suara lemah itu tiba-tiba terdengar dari belakang.
Semua orang langsung menoleh.
Reno berdiri di depan pintu IGD dengan luka kecil di pelipis dan lengannya diperban. Wajahnya pucat, tetapi matanya langsung mencari Alya.
“Reno!” Alya refleks menghampirinya cepat.
Pria itu sedikit tersenyum melihat mata Alya yang sembab.
“Kamu nangis?”
Alya langsung memukul pelan dada Reno dengan emosi campur lega.
“Bodoh! Kamu bikin aku takut!”
Reno meringis kecil karena pukulan itu mengenai lengannya yang cedera.
“Sakit…”
Alya langsung panik. “Eh, maaf! Aku lupa kamu luka.”
Melihat kepanikan Alya, Reno justru tertawa pelan.
Dan itu membuat kedua orang tuanya terdiam.
Karena sudah lama sekali mereka tidak melihat Reno tersenyum setulus itu.
“Aku nggak apa-apa,” bisik Reno lembut. “Mobilku ditabrak dari samping. Untung nggak parah.”
Air mata Alya kembali jatuh tanpa bisa ditahan.
Dan tanpa sadar, ia langsung memeluk Reno erat.
“Aku kira aku kehilangan kamu…”
Kalimat itu membuat Reno membeku sesaat.
Lalu perlahan, pria itu membalas pelukan Alya dengan sangat hati-hati.
Tatapannya melembut penuh rasa sayang.
“Aku di sini,” gumamnya lirih dekat telinga Alya. “Aku nggak akan pergi.”
Deg.
Jantung Alya langsung berdebar kacau.
Sementara di belakang mereka, ayah Reno menatap pemandangan itu dengan wajah tidak suka.
Namun berbeda dengan suaminya…
Ibu Reno justru diam memandangi Alya cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya, wanita itu mulai melihat sesuatu di mata Alya.Ketulusan yang tidak pernah ia temukan pada perempuan lain di sekitar Reno.Setelah dokter memastikan kondisi Reno tidak berbahaya, pria itu dipindahkan ke ruang rawat VIP untuk observasi semalam.
Alya tetap berada di sana.
Meski beberapa kali ia bilang ingin pulang, langkahnya selalu berhenti setiap melihat Reno yang masih terlihat lemah.
“Kamu belum tidur dari tadi,” ucap Reno pelan sambil bersandar di ranjang rumah sakit.
“Aku nggak ngantuk.”
“Bohong.” Reno menatap mata Alya yang sembab. “Wajah kamu aja udah capek banget.”
Alya mengalihkan pandangan.
“Aku cuma masih syok.”
Reno terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata lirih,
“Maaf udah bikin kamu takut.”
Kalimat itu justru membuat dada Alya kembali sesak.
“Aku benar-benar takut tadi,” bisiknya pelan. “Pas rumah sakit nelepon… aku pikir…”
Suara Alya berhenti karena tenggorokannya terasa berat.
Reno menatapnya lama.
Dan untuk pertama kalinya, pria itu benar-benar menyadari betapa besar arti dirinya bagi Alya sekarang.
“Alya.”
“Hm?”
“Lihat aku.”
Perlahan Alya mengangkat wajahnya.
Tatapan mereka bertemu dalam diam cukup lama.
“Aku janji bakal hati-hati,” ucap Reno lembut. “Karena sekarang aku punya alasan buat tetap hidup baik-baik.”
Pipi Alya langsung memanas.
Namun sebelum suasana menjadi semakin emosional, pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Ibu Reno masuk sambil membawa beberapa barang dari rumah.
Tatapan wanita itu langsung jatuh pada Alya yang duduk sangat dekat dengan Reno.
Suasana mendadak canggung.
“Alya,” panggil wanita itu pelan.
Alya buru-buru berdiri. “Iya, Tante?”
“Bisa bicara sebentar?”
Reno langsung mengernyit.
“Ma…”
“Nggak lama.”
Alya menatap Reno sebentar sebelum akhirnya mengikuti ibu Reno keluar kamar.
Lorong rumah sakit terasa sunyi malam itu.
Wanita elegan tersebut berdiri diam beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara.
“Kamu benar-benar sayang sama Reno?”
Pertanyaan itu membuat Alya terdiam.
“A-saya…”
“Jawab jujur.”
Alya menggenggam jemarinya sendiri gugup.
Ia ingin menyangkal.
Ingin bilang semua ini hanya kebingungan sementara.
Namun setelah melihat Reno hampir kehilangan nyawanya tadi…
Alya sadar ia tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri.
“Iya,” jawabnya lirih.
Tatapan ibu Reno sedikit berubah.
“Meskipun kamu tahu masa lalu Reno?”
Alya tersenyum kecil pahit.
“Justru saya paling tahu seperti apa Reno dulu.”
Wanita itu terlihat terkejut mendengar jawaban tersebut.
“Aneh ya…” Alya menunduk pelan. “Dulu saya pikir saya bakal benci dia selamanya.”
“Lalu sekarang?”
Mata Alya perlahan berkaca-kaca.
“Sekarang saya malah takut kehilangan dia.”
Suasana kembali hening.
Ibu Reno memperhatikan Alya cukup lama sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan.
“Reno tidak pernah melawan ayahnya sekeras ini sebelumnya,” katanya pelan. “Bahkan demi dirinya sendiri pun tidak.”
Alya terdiam mendengarkan.
“Dia berubah sejak bertemu kamu lagi.”
Kalimat itu membuat hati Alya terasa hangat sekaligus sedih.
Karena tanpa sadar, Reno juga mengubah dirinya sedikit demi sedikit.
“Ayah Reno memang keras,” lanjut wanita itu lirih. “Tapi sebenarnya dia cuma takut Reno salah memilih jalan.”
“Saya mengerti.”
“Namun…” wanita itu menatap Alya dalam, “kalau suatu hari nanti hubungan kalian membuat Reno harus kehilangan semuanya, apa kamu tetap akan bertahan di sisinya?”
Pertanyaan itu membuat Alya membeku.
Karena untuk pertama kalinya…
Ia mulai menyadari cinta Reno mungkin datang dengan harga yang sangat besar.
Dan Alya belum tahu apakah dirinya cukup kuat untuk menghadapi semua itu bersama Reno.Sementara itu, Reno diam-diam mendengar seluruh percakapan mereka dari balik pintu.