Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang Tidak Bisa Dijelaskan
Udara di dalam rumah selalu terasa hangat dan tenang belakangan ini, namun ada satu hal baru yang membuat suasana itu terasa lebih hidup, lebih manis, dan penuh ketegangan yang menyenangkan. Sejak hari rahasia foto-foto itu terungkap, senjata andalan baru milik Farzhan Ibrahim resmi diaktifkan. Senjata yang paling mematikan, paling ampuh, dan sama sekali tidak membutuhkan tenaga fisik sedikit pun: Tatapan matanya.
Farzhan kini memiliki kebiasaan baru yang sangat khas. Setiap kali bertemu dengan Vira, entah itu saat sedang duduk bersama di meja makan, berpapasan di lorong rumah, atau bahkan saat Vira sedang sibuk bergerak ke sana kemari membereskan rumah, Farzhan akan berhenti sejenak dari apa pun yang sedang dilakukannya.
Ia tidak akan marah atau menegur dengan nada tinggi.
Ia tidak akan menyindir atau mengucapkan kata-kata yang membuat salah tingkah.
Ia bahkan tidak akan berbicara banyak atau bertanya ini-itu.
Ia hanya akan... MENATAP.
Dan tatapan itu... sungguh aneh sekali, sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Di balik sorot matanya yang tajam, dingin, dan dalam itu, tersimpan banyak hal. Ada kekaguman yang begitu besar di sana. Ada rasa sayang yang meluap-luap hingga hampir tumpah keluar. Ada rasa bangga yang melambung tinggi memiliki wanita itu. Ada juga sedikit godaan nakal yang tersembunyi di sudut matanya, yang selalu membuat jantung siapa saja yang ditatapnya berdegup kencang tak beraturan. Pandangan matanya itu seakan bisa menembus kulit, menembus dinding pertahanan diri, dan masuk langsung sampai ke dalam jiwa Vira.
Saat Sarapan Pagi
Cahaya matahari pagi masuk menyinari meja makan, menerangi uap hangat yang mengepul dari cangkir teh dan kopi. Suasana hening dan damai. Vira sedang asyik mengoleskan selai stroberi ke atas permukaan roti panggang yang renyah. Gerakannya tenang dan fokus, hingga tiba-tiba ia merasakan ada beban berat yang sedang mengawasinya dari jarak dekat.
Hati kecilnya berbisik: Ada yang salah... ada yang sedang menatapku.
Ia perlahan mengangkat kepala, menoleh ke arah seberang meja.
JRENG!
Benar saja. Farzhan sudah menatapnya sedari tadi. Pria itu duduk dengan sikap tegap namun santai, sikunya bertumpu di atas meja, dagunya ditopang oleh tangan besarnya, dan kedua matanya menatap Vira lekat-lekat, tajam, tanpa berkedip sedikit pun. Di sudut bibirnya, terukir senyum tipis yang misterius, dingin namun sangat menggoda dan memabukkan.
"K-Kenapa... menatap seperti itu?" tanya Vira gugup, tangannya yang memegang pisau selai langsung berhenti bergerak. Ia menelan ludah susah payah. "Ada... ada sisa selai yang menempel di pipiku ya? Atau ada yang kotor?"
Farzhan tidak menjawab langsung. Ia hanya menggeleng pelan sekali, tatapannya justru makin dalam dan makin lekat, seolah sedang mengamati benda paling indah di dunia.
"Tidak," jawabnya pelan, suaranya rendah dan tenang. "Kamu cantik. Aku hanya ingin melihatmu."
DUG!
Jantung Vira langsung berdetak kencang tak karuan, rasanya mau melompat keluar dari rongga dada. Wajahnya memerah seketika, merambat panas naik ke telinga dan leher.
"I-iya... terima kasih," jawabnya terbata-bata, suaranya nyaris tak terdengar. "Makanlah sana... nanti rotinya jadi dingin, rasanya tidak enak."
Vira buru-buru menunduk kembali, memasukkan roti ke mulutnya dengan tergesa, berusaha menyembunyikan wajah merahnya. Tapi ia tidak berani mengangkat wajah lagi. Rasanya panas sekali, rasanya geli, rasanya persis seperti disetrum arus listrik halus tapi terus-menerus di sekujur tubuhnya.
Sore Hari
Sinar matahari sore berwarna keemasan, menyinari ruang tamu yang bersih dan rapi. Vira sedang sibuk menyapu lantai, gerakannya lincah dan ringan, membuat suasana rumah makin terasa nyaman. Namun, lagi-lagi ia merasakan sensasi yang sama: punggungnya terasa panas, seolah diterangi sorotan lampu sorot yang tajam.
Ia berhenti menyapu, lalu menoleh ke belakang.
Farzhan duduk santai di sofa besar sambil memegang lembaran koran. Namun... koran itu terbalik posisinya! Bagian teks dan gambar menghadap ke bawah, sementara bagian kosong menghadap ke atas. Matanya sama sekali tidak fokus ke kertas di tangannya itu, melainkan fokus penuh, tajam, dan lekat ke arah Vira.
"Zhan! Korannya terbalik, lho!" seru Vira, mencoba mengalihkan perhatian agar rasa gugupnya sedikit berkurang.
"Benarkah?" Farzhan baru sadar, ia membetulkan posisi koran itu perlahan, namun matanya masih tidak mau lepas sedikit pun dari sosok istrinya. "Oh iya ya. Tapi tidak apa-apa. Yang penting pemandangan di depanku ini sudah sangat jelas dan bagus sekali."
"Pemandangan apa sih yang kamu maksud?" tanya Vira, meski hatinya sudah tahu jawabannya.
"Pemandangan istriku yang sedang sibuk bekerja menjadi wanita cantik yang rajin," jawab Farzhan santai, nada bicaranya tetap datar dan dingin, namun makian dan kata-katanya begitu manis hingga menusuk langsung ke hati.
Vira tidak sanggup lagi. Ia langsung berlari kecil masuk ke dapur sambil menekan dadanya yang berdegup kencang.
"Ya Tuhan... laki-laki ini! Mengatakan apa saja sih dia! Bikin jantung rasanya mau lepas terus!" gerutunya pelan di dalam keheningan dapur.
Efek dari tatapan "yang tidak bisa dijelaskan" ini ternyata sangat parah bagi kondisi jantung dan ketenangan jiwa Vira.
Setiap kali mata mereka bertemu, setiap kali sorot mata tajam itu menembusnya, Vira pasti akan merasakan gejala yang sama persis:
- Jantung berdetak DUG DUG DUG sekeras irama genderang perang yang dipukul bertubi-tubi.
- Wajah terasa panas membara, persis seperti orang yang sedang demam tinggi.
- Kedua kaki terasa lemas sekali, seakan tidak bertulang dan sulit menopang tubuh.
- Otak menjadi kosong melompong, buntu, dan sama sekali tidak bisa berpikir jernih.
"Z-Zhan... aku mau ke kamar dulu ya..." kata Vira terbata-bata, mencoba kabur saat Farzhan mulai berjalan mendekat dengan tatapan mematikan itu.
"Mau ke mana?" Farzhan malah terus melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga hanya berjarak satu jengkal saja. "Obrolan kita belum selesai, kan?"
"E-eh... ada pekerjaan! Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan!" Vira mundur selangkah, Farzhan maju selangkah. Permainan tarik ulur yang lucu dan manis.
"Pekerjaan apa? Atau... kamu takut?" goda Farzhan, matanya berbinar nakal namun tetap mempertahankan ketenangan dinginnya. "Takut menatap mataku?"
"E-TIDAK! Siapa yang takut!" bantah Vira berani-berani, mendongakkan kepala mencoba terlihat tegar, lalu memaksakan diri menatap balik mata Farzhan. Tapi tidak sampai tiga detik...
JENG JENG JENG
Vira langsung menyerah dan kalah telak! Ia buru-buru menundukkan wajah lagi, malunya naik berkali-kali lipat rasanya.
"Hahaha..." Farzhan tertawa renyah melihat tingkah polah istrinya yang polos itu. Ia akhirnya mengangkat tangannya perlahan, lalu menyentuh pipi Vira dengan lembut menggunakan punggung jarinya. Sentuhan hangat itu membuat seluruh tubuh Vira terpaku diam di tempat.
"Aku hanya mau bilang sesuatu..." bisik Farzhan pelan, suaranya rendah, berat, dan sangat seksi tepat di depan wajah Vira.
"Sekarang aku sudah mengerti rasanya. Mengerti kenapa kamu bisa senyum-senyum sendiri saat melihat fotoku. Soalnya aku juga... aku sama sekali tidak pernah merasa puas menatap wajahmu. Semakin dilihat, semakin ingin dilihat terus-menerus."
..............................
DEG!
Dunia serasa berhenti berputar sejenak. Vira rasanya mau pingsan tepat di tempat berdiri.
Jadi... tatapan aneh itu? Tatapan dingin namun penuh kekaguman itu? Tatapan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata itu? Itu semua ternyata adalah bentuk rasa sayang yang terlalu besar, rasa cinta yang terlalu melimpah, hingga tidak cukup lagi jika hanya diungkapkan lewat kata-kata. Harus disampaikan lewat mata, lewat pandangan, lewat perasaan yang mendalam.
Farzhan perlahan melepaskan sentuhannya, lalu berjalan pergi dengan senyum puas dan bangga yang tersungging di bibirnya.
"Sudah, lanjutkan pekerjaanmu ya. Jangan dipikirkan hal-hal yang aneh-aneh," katanya santai seolah tidak baru saja membuat jantung istrinya hampir meledak.
Vira masih berdiri mematung di tempatnya, tangannya perlahan menyentuh pipi yang masih terasa hangat bekas sentuhan suaminya. Matanya menerawang ke arah kepergian Farzhan.
"Ya Tuhan... laki-laki ini... bahaya sekali..." gumam Vira pelan, sambil tersenyum sendiri meski pipinya masih merah padam. "Tatapannya itu lho... bikin aku rasanya mau meleleh menjadi air begitu saja."
Dan sejak saat itu, perang bintang di rumah besar itu resmi dimulai. Farzhan senang menatap lekat-lekat dengan tatapan mematikannya itu, sementara Vira diam-diam senang dipandangi, meski selalu berakhir dengan salah tingkah hebat dan panik sendiri.