"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ratu yang Menjadi Babu di Sel Nomor 4
Dinding beton yang dingin dan lembap menjadi saksi bisu runtuhnya harga diri seorang Raya. Tak ada lagi ranjang empuk, tak ada lagi pendingin ruangan, dan yang paling menyakitkan bagi Raya—tak ada lagi cermin untuk mengagumi kecantikan yang selama ini ia agung-agungkan.
Di sel nomor 4 Lapas Wanita, Raya bukan lagi seorang istri simpanan yang dipuja Setya. Di sini, ia hanyalah seorang narapidana baru dengan status pembakar gudang yang dianggap amatir oleh penghuni lainnya.
Pagi itu, saat lonceng berbunyi nyaring memecah kesunyian lapas, Raya mencoba menarik selimut tipisnya yang bau apek. Tubuhnya terasa remuk karena semalaman ia hanya bisa tidur di atas lantai semen yang hanya beralaskan tikar pandan yang sudah robek.
"Bangun! Jangan sok jadi tuan putri di sini!" sebuah tendangan mendarat tepat di betis Raya.
Raya tersentak dan menjerit kecil. Di depannya berdiri seorang wanita bertubuh gempal dengan tato naga yang melingkar di lengan kirinya. Namanya adalah Mbak Lastri, kepala suku di sel nomor 4 yang sudah mendekam selama lima tahun karena kasus penggelapan uang.
"Maaf, Mbak ... saya masih ngantuk," rintih Raya dengan suara serak.
"Ngantuk katamu? Lihat itu, tumpukan baju kotor teman-teman satu sel sudah menunggu! Kamu anak baru, jadi tugasmu hari ini adalah mencuci semua baju ini, menyikat lantai kamar mandi, dan memastikan tidak ada satu pun kecoak yang berani lewat!" bentak Lastri sambil melemparkan sekeranjang penuh pakaian kusam ke arah wajah Raya.
Raya menangis sesenggukan. "Saya tidak pernah mencuci baju pakai tangan, Mbak. Di rumah biasanya ada Mas Setya yang bantu, atau saya ke laundry..."
Mendengar kata Setya, Lastri dan tiga penghuni sel lainnya tertawa terpingkal-pingkal. Tawa mereka terdengar seperti suara gagak yang mengerikan di telinga Raya.
"Setya? Suamimu yang sekarang jadi tukang sikat toilet di gudang mantan istrinya itu? Hah! Dia saja tidak sanggup beli sabun buat dirinya sendiri, apalagi mau bayar laundry buat kamu!" ejek salah satu narapidana kurus yang bertugas di bagian dapur.
Raya tertegun. Berita tentang Setya yang kembali bekerja sebagai staf kebersihan di gudang Arumi ternyata sudah sampai ke telinga para penghuni lapas melalui selentingan kabar dari pembesuk. Hati Raya terasa seperti dihantam palu godam.
"Mas Setya ... kerja jadi tukang toilet?" gumam Raya tak percaya. Ia merasa dikhianati. Ia rela melakukan pembakaran demi mereka berdua, tapi suaminya justru kembali menjilat kaki Arumi.
"Sudah! Jangan banyak melamun! Cepat bawa baju-baju itu ke area cuci!" Lastri menarik rambut Raya hingga wanita itu berdiri dengan paksa.
Di area cuci yang becek dan bau busuk karena saluran air yang tersumbat, Raya mulai mengucek pakaian satu per satu. Tangannya yang dulu halus dan selalu ia rawat dengan krim mahal, kini mulai memerah dan melepuh karena terkena deterjen bubuk yang kasar. Air matanya terus mengalir, jatuh ke dalam bak cucian, bercampur dengan air sabun yang keruh.
Setiap kali ia mengucek baju, wajah Arumi selalu muncul di benaknya. Ia membayangkan Arumi yang mungkin saat ini sedang duduk di kantor ber-AC, menyesap kopi mahal, dan memberikan perintah kepada Setya—suaminya yang ia rebut dengan susah payah.
"Aku benci kamu, Arumi! Aku benci!" teriak Raya dalam hati.
Penderitaan Raya tidak berhenti di sana. Saat jam makan siang tiba, ia harus mengantre panjang untuk mendapatkan jatah nasi cadong yang keras dengan lauk ikan asin kecil yang sudah bau. Raya menatap piring plastiknya dengan jijik.
"Kenapa? Nggak selera? Mau makan steak? Mau makan ayam goreng?" tanya Lastri yang duduk di depannya dengan lahap.
"Ini ... ini tidak layak dimakan, Mbak," ucap Raya lirih.
"Kalau nggak mau, buat aku saja!" Lastri merampas piring Raya tanpa sisa.
Raya terpaksa menelan ludah. Perutnya melilit karena lapar, tapi ia benar-benar tidak sanggup menelan makanan itu. Ia teringat bagaimana dulu ia sering membuang-buang makanan yang dibelikan Setya jika ia merasa bosan. Sekarang, sisa nasi di piring orang lain pun terlihat sangat berharga baginya.
Sore harinya, saat waktu kunjungan tiba, Raya menunggu dengan penuh harapan di ruang besuk. Ia yakin Setya akan datang membawakannya makanan enak, pakaian bersih, dan kabar bahwa pengacaranya sudah siap untuk mengeluarkannya.
Malangnya, satu jam berlalu, dua jam berlalu ... hingga jam kunjungan hampir berakhir, sosok Setya tak kunjung muncul. Yang muncul justru adalah Sarah.
Penampilan Sarah pun tidak lebih baik. Ia memakai kerudung yang sudah kusam dan wajah yang tampak sangat lelah.
"Mbak Sarah! Mas Setya mana? Kenapa Mbak yang datang?" tanya Raya histeris saat mereka bertemu di balik kaca pembatas.
Sarah menatap Raya dengan pandangan benci yang tak tertutup-tutupi. "Setya? Jangan harap dia datang, Raya! Dia sibuk membersihkan kotoran di gudang Arumi hanya untuk bisa makan siang! Dia tidak punya uang sepeser pun buat ongkos ke sini!"
"Tapi Mbak ... tolong bilang ke dia, aku nggak tahan di sini! Aku disiksa, Mbak!"
Sarah mendengus sinis. "Disiksa? Kamu pikir aku nggak disiksa? Gara-gara ide gila kamu membakar gudang itu, aku hampir kehilangan pekerjaanku sebagai cuci piring karena bosku takut ikut terseret kasus! Kamu itu pembawa sial, Raya! Sejak Setya menikahimu, keluarga kami hancur lebur!"
"Kok Mbak bicara begitu? Dulu kan Mbak yang dukung aku!"
"Itu dulu saat aku pikir kamu punya banyak simpanan harta! Ternyata kamu cuma wanita tidak tahu diri yang hanya bisa menghabiskan uang! Dengar ya, Raya ... Setya sekarang sudah menyerah. Dia sudah tidak peduli lagi padamu. Dia lebih takut dipecat Arumi daripada takut kamu mati di dalam sini!"
Sarah berdiri, ia bahkan tidak membawakan satu pun biskuit untuk Raya. "Mulai sekarang, jangan cari aku atau Setya lagi. Urus nasibmu sendiri. Anggap saja ini bayaran karena kamu sudah merusak rumah tangga orang lain."
Sarah pergi begitu saja, meninggalkan Raya yang berteriak histeris di ruang besuk. Petugas lapas segera menyeret Raya kembali ke dalam sel karena dianggap mengganggu ketertiban.
Malam itu, di dalam sel yang gelap dan hanya diterangi lampu remang-remang di lorong, Raya meringkuk seperti bola di sudut ruangan. Suara dengkur narapidana lain terdengar sangat mengganggu. Ia memegang perutnya yang perih karena lapar.
Ia baru menyadari sebuah kenyataan yang sangat pahit: Di dunia ini, kecantikan hanya berlaku saat ada uang yang menopangnya. Tanpa uang, tanpa status, ia bukan siapa-siapa. Ia hanyalah seorang narapidana nomor urut sekian yang dilupakan oleh pria yang dulu berjanji akan menjaganya selamanya.
Sementara itu, di tempat lain, Arumi baru saja menyelesaikan makan malam mewahnya bersama Dhanu. Saat ia pulang dan melihat Setya sedang menyapu halaman parkir dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Arumi hanya melewatinya begitu saja dengan mobil mewahnya. Lampu sorot mobilnya menyinari wajah Setya yang kusam, seolah sengaja memperlihatkan jarak yang kini membentang di antara mereka.
Arumi tersenyum di balik kemudinya. Ia tahu, penderitaan Raya di penjara dan kehinaan Setya di gudangnya adalah sebuah simfoni balasan yang sempurna.
mantu baik harusnya dibela