NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3_PERNIKAHAN TANPA RASA

Hari itu datang terlalu cepat.

Nayla berdiri di depan cermin kamarnya dengan gaun putih sederhana yang dipinjamkan oleh tante jauhnya. Tidak ada payet, tidak ada ekor panjang, tidak ada riasan tebal seperti pengantin di televisi. Hanya kain polos, make up tipis, dan wajah pucat yang berusaha terlihat tenang.

Tangannya gemetar.

"Jadi ini hari pernikahanku". batinnya.

"Bukan karena cinta. Bukan karena pilihan".

Di ruang tamu rumah kecilnya, beberapa kursi disusun rapi. Tidak banyak tamu. Hanya keluarga inti, penghulu, dan dua orang dari pihak keluarga Mahendra. Semua terasa cepat, sunyi, dan asing.

Berbeda jauh dengan gedung megah yang Nayla bayangkan akan menjadi tempat pernikahan keluarga konglomerat.

Dan Azka?

Ia datang tepat waktu. Mengenakan setelan hitam rapi, wajahnya datar, tanpa senyum. Bahkan sejak menginjakkan kaki di rumah Nayla, tatapannya tidak pernah benar-benar mencari Nayla.

Seolah-olah gadis yang akan menjadi istrinya hanyalah formalitas.

“Nayla,” panggil ibunya lembut.

Nayla menarik napas panjang, lalu melangkah keluar kamar.

Untuk sesaat, mata Azka terangkat. Bukan kagum. Bukan terkejut. Hanya, berhenti.

Gaun putih itu membuat Nayla terlihat rapuh. Terlalu sederhana untuk dunia Azka. Terlalu nyata.

Azka segera memalingkan wajahnya. “Mulai saja,” ucapnya dingin.

Nayla menggigit bibir bagian dalam. Dadanya terasa nyeri, tapi ia menegakkan bahu. Kalau hari ini ia harus menjadi istri seseorang yang bahkan tidak menginginkannya, setidaknya ia tidak akan terlihat lemah.

Akad nikah berlangsung singkat.

Ijab kabul diucapkan Azka dengan suara tegas, tanpa ragu, tanpa getar. Sempurna. Seolah ia sedang menandatangani kontrak bisnis.

“Sah.”

Kata itu menggema di ruangan kecil itu. Nayla menunduk, air matanya jatuh tanpa suara. Ia kini sah menjadi istri Azka Mahendra.

Namun tidak ada tepuk tangan. Tidak ada senyum bahagia. Tidak ada pelukan. Bahkan setelah akad selesai, Azka hanya berdiri, merapikan jasnya.

“Selesai?” tanyanya.

Penghulu mengangguk, agak kikuk. “Selesai.”

Azka melangkah keluar rumah tanpa menoleh.

Seorang pelayan Mahendra menghampiri Nayla. “Nyonya muda, silakan ikut kami.”

Kata nyonya muda terdengar asing. Nayla mengangguk pelan, menyalami orang tuanya dengan mata berkaca-kaca.

“Ibu… Ayah…” suaranya bergetar.

Ibunya memeluk Nayla erat. “Kamu kuat.”

Nayla berharap itu benar.

***

Mobil yang membawa mereka melaju dalam keheningan. Nayla duduk di kursi belakang, berjarak dengan Azka. Tangan mereka tidak bersentuhan. Tidak ada obrolan. Hanya suara mesin dan detak jantung Nayla yang tidak karuan.

Setelah beberapa menit, Azka akhirnya membuka suara.

“Kita perlu bicara.”

Nayla menoleh perlahan. “Iya.”

“Pernikahan ini hanya formalitas,” ucap Azka tanpa menatapnya. “Jangan salah paham.”

Nayla mengangguk. “Aku tahu.”

“Kita masih sekolah. Pernikahan ini harus dirahasiakan. Di sekolah, kita tidak saling mengenal,” lanjut Azka. “Tidak ada sapaan. Tidak ada perhatian.”

Nayla menggenggam ujung gaunnya. “Baik.”

“Tidak ada yang boleh tahu,” tegas Azka. “Kalau sampai bocor, aku tidak akan bertanggung jawab.”

“Yang tahu hanya keluarga,” jawab Nayla pelan.

“Dan kepala sekolah,” tambah Azka. “Dia omku.”

Nayla terdiam. “Aku mengerti.”

Azka akhirnya menoleh, menatap Nayla dengan sorot tajam. “Dan satu hal lagi.”

“Apa?”

“Jangan berharap aku akan bersikap seperti suami.”

Kalimat itu jatuh telak.

Nayla memaksa bibirnya tersenyum tipis. “Aku tidak berharap apa pun.”

Azka menatapnya beberapa detik, lalu kembali menatap jalan. “Bagus.”

***

Rumah Mahendra terasa semakin dingin malam itu.

Kamar Nayla sudah disiapkan, di ujung koridor, terpisah dari kamar Azka. Sebuah pesan yang sangat jelas.

Pelayan mengantar Nayla masuk. “Ini kamar Anda.”

Nayla mengangguk. “Terima kasih.”

Begitu pintu tertutup, Nayla menjatuhkan diri ke atas ranjang. Gaun putihnya masih melekat, tapi tubuhnya terasa lelah luar biasa. Ia memandangi langit-langit.

"Aku menikah… tapi sendirian".

Tak lama, ketukan terdengar. Azka masuk tanpa menunggu jawaban. “Ada aturan,” ucapnya singkat.

Nayla bangkit duduk. “Aturan?”

“Kita tinggal serumah, tapi tidak perlu banyak interaksi. Jangan masuk kamarku. Jangan ikut campur urusanku. Dan jangan bawa perasaan.”

Nayla tersenyum pahit. “Kamu tenang aja. Aku tidak akan.”

Azka mengangguk puas. “Bagus.”

Ia berbalik pergi, tapi berhenti di ambang pintu. “Oh ya,” tambahnya tanpa menoleh. “Besok kita tetap sekolah seperti biasa.”

Nayla terdiam. “Besok?”

“Tidak ada cuti pengantin,” jawab Azka dingin. “Ini bukan pernikahan sungguhan.”

Pintu tertutup.

Nayla menatap pintu itu lama. Air matanya akhirnya jatuh bebas.

***

Di kamar lain, Azka berdiri di depan jendela. Lampu kota terlihat seperti biasa, tapi dadanya terasa aneh.

Ia mengendurkan dasi, mengusap wajahnya kasar. Ini hanya pernikahan di atas kertas, yakinnya. Namun entah kenapa, bayangan Nayla dengan gaun putih dan mata berkaca-kaca terus muncul.

Azka menggeleng. “Tidak penting.”

Kemudian ia mematikan lampu.

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!