NovelToon NovelToon
Aku Bukan Milik Langit

Aku Bukan Milik Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.

Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.

Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.

Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Nama yang Dihapus

Dahulu, Desa Du Hua Cun adalah simfoni dari warna hijau yang bersahaja.

Bukan hijau hutan belantara yang buas, melainkan hijau yang tunduk pada ritme alam. Ladang-ladang membentang mengikuti lekuk bumi, dipisahkan oleh parit-parit kecil di mana air mengalir jernih, menyingkap batuan kali yang berkilau tertimpa cahaya fajar. Di sana, qi alam tidak membusuk ataupun memberontak, ia mengalir tenang, menyatu dengan setiap tarikan napas penduduknya.

Di tepian sungai itulah, Yan Shuhua menghabiskan masa kecilnya.

Saat itu ia baru berusia delapan tahun. Lututnya sering kali berhias luka lecet akibat terjatuh, namun tangannya yang mungil tak pernah melepaskan belati kayu berujung tumpul. Di hadapannya, seorang pria paruh baya berdiri dengan wibawa yang tenang. Yan Wei, ayahnya, tidak mengenakan jubah kebesaran sekte manapun. Pakaiannya sederhana, usang di bagian lengan, namun matanya menyimpan kedalaman telaga.

“Jangan menantang arusnya,” ucap Yan Wei dengan lembut.

Ia membelai pergelangan tangan putrinya, merasakan denyut energi yang masih prematur. “Qi-mu tumbuh dengan anggun, Shuhua. Jika kau memaksanya meledak, wadahmu akan pecah sebelum ia sempat mengeras.”

Shuhua kecil menggigit bibir, matanya yang bulat menatap sang ayah dengan cemas. “Tapi Ayah… jika aku lambat, bagaimana aku bisa melindungi keluarga kita?”

Yan Wei tidak menjawab dengan kata-kata muluk. Ia berlutut, meraup segenggam pasir basah dari tepi sungai, lalu membiarkan butiran itu meluncur di sela jemarinya. “Pasir tidak memiliki kekuatan untuk menghancurkan batu,” jelasnya pelan. “Namun, ia bisa menyusup ke mata, ke celah baju besi, hingga ke luka yang paling dalam.” Ia tersenyum tipis. “Qi-mu bersifat laten. Ia tidak menghantam, Shuhua. Ia menyusup.”

Di sudut lain, ibunya, Shu Lan, tengah meramu herbal di atas batu datar. Aroma pahit bercampur segar memenuhi udara. “Racun bukanlah sekadar alat pembunuh, Sayang,” ujar Shu Lan tanpa menoleh. “Racun adalah koreksi. Alam telah menetapkan hukum sebab-akibat, kita hanya mempercepat kedatangannya.”

Shuhua menyimpan setiap nasihat itu seperti bara api kecil di dalam dadanya. Desa itu adalah surga tanpa kasta, tanpa kompetisi berdarah, dan tanpa mandat langit yang mencekik.

Sampai akhirnya, panji-panji emas Paviliun Tianyuan muncul di garis cakrawala.

Tiga hari setelah kemunculan itu, kedamaian Du Hua Cun dicabik-cabik oleh dekrit resmi. Pajak qi, redistribusi tanah, dan pengalihan aliran meridian bumi demi kepentingan pusat. Yan Wei berdiri di garis depan, suaranya menggelegar menantang ketidakadilan. “Qi alam bukan komoditas mandat! Tanah ini tidak untuk diperdagangkan!”

Namun, keberanian tak selalu menang melawan tirani.

Malam itu, langit seolah runtuh. Sebuah Domain Tekanan turun tanpa peringatan, membekukan udara hingga sekeras dinding baja. Shuhua melihat segalanya dari balik lumbung yang mulai dijilat api. Ia melihat ayahnya berdiri tegak, meski urat lehernya menonjol menahan beban yang tak terlihat.

Seorang pengawas Paviliun mengangkat tangan. Dengan satu gerakan keji, qi di dalam tubuh Yan Wei ditarik paksa keluar.

Tubuh ayahnya kejang, wajahnya mengering dalam hitungan detik, dan cahayanya padam. Ambruk tanpa suara. Tanpa kehormatan.

Ibunya menerjang dengan sisa kekuatannya, menyebarkan bubuk racun yang membuat beberapa pengawas membusuk seketika. Namun, sebilah pedang mandat menembus perutnya sebelum ia sempat menyelesaikan serangannya. Qi-nya dijarah hidup-hidup, meninggalkan jeritan yang membeku di udara malam.

Mandat “Hapus Nama” dijatuhkan. Desa Du Hua Cun dihapus dari peta, dari arsip sejarah, dan dari ingatan resmi kekaisaran. Nama Yan menjadi kutukan.

Tahun-tahun berikutnya adalah tarian antara hidup dan mati. Shuhua belajar dari kegagalan dan darahnya sendiri. Setiap kali ia berusaha naik tingkat, wadah qi-nya selalu bocor, sebuah trauma fisik akibat melihat orang tuanya dikosongkan secara paksa. Ia tidak pernah mengalami Qi Deviation yang meledak, namun energinya seolah menolak untuk menetap di tubuh yang merasa tidak aman.

Sampai ia ditemukan oleh Madam Luo di ambang ajalnya.

“Kau masih memiliki sisa napas,” kata wanita berkerudung merah itu. “Itu modal yang cukup di Hongluo.”

Yan Shuhua terkubur, dan Hua’er lahir. Belati kayunya digantikan oleh logam dingin yang haus darah. Dendam menjadi satu-satunya kompas hidupnya. Namun, luka batinnya tetap membuat qi-nya bocor… sampai pemuda bernama Li Shen datang dan melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan orang lain: ia tidak mengambil energinya, ia memberikan perlindungan.

Kuda hitam itu berlari kencang, membelah padang bunga liar yang membentang luas di bawah sinar mentari siang. Angin membawa aroma kebebasan yang terasa asing bagi paru-paru Hua’er. Di belakang pelana, ia melingkarkan lengannya erat-erat di pinggang Li Shen.

“Pegang yang kuat, agar kau tidak terjatuh,” ujar Li Shen, suaranya tenang di tengah derap kaki kuda.

Hua’er tidak menyahut. Ia hanya menenggelamkan wajahnya di punggung Li Shen. Ia bisa merasakan otot-otot kokoh dan kehangatan yang memancar dari pria itu—sebuah tiang sandaran yang tidak goyah oleh badai.

Li Shen tersentak kecil saat merasakan sebuah noda basah yang hangat mulai meresap ke kain bajunya.

Air mata.

Gadis yang biasanya tajam dan sedingin es itu kini hancur dalam diam. Air mata itu bukan karena rasa sakit, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Beban yang ia pikul sejak usia delapan tahun, nama yang telah dihapus oleh dunia, kini telah ia percayakan pada punggung pemuda di depannya.

Di padang bunga yang tak berujung itu, Yan Shuhua tidak lagi melarikan diri. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ia membiarkan dirinya “ada”.

“Terima kasih… Li Shen,” bisik gadis itu, begitu lirih hingga hanya angin dan punggung Li Shen yang bisa mendengarnya.

1
yuzuuu ✌
bau2 istri MC 🤭
yuzuuu ✌
lanjut lanjutt lanjut thor..... suka bngtt 😍
MuhFaza
lanjutt
yuzuuu ✌
wkakaka mampus
yuzuuu ✌
bakal se op apa beliau2 ini 👀
MuhFaza
baguss
MuhFaza
tpikal novel zero to hero
yuzuuu ✌
wakakak 🤣👍
yuzuuu ✌
meskipun menolak pemberian langit tapi nggak mulai dari nol yh,. si Xuan yg kasi secara cuma2 atw karena li Shen membunuh bayangan2 di taixu jadi naik tingkat?
yuzuuu ✌
apakah nanti jadi jodohnya huaer? 👀🤭
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
yuzuuu ✌
🤣/Sob/
yuzuuu ✌
jarang nemu novel yang pembukaannya rapi begini thor. semangat 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
yuzuuu ✌
suka tipe MC sampah begini di awalnya. tinggal jejak dulu thor, lanjutkan 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!