NovelToon NovelToon
ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Dokter / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.

Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.

Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERITA BURUK DARI KAMPUNG

Suara dering ponsel yang tiba-tiba membuat Evan terkejut dari fokusnya saat sedang mengerjakan soal latihan ujian masuk perguruan tinggi. Ia mengambil ponsel dengan cepat dan melihat nama ibu nya muncul di layar – biasanya ibu hanya menghubunginya saat ada hal penting, terutama di jam pelajaran.

"Dek, cepat pulang kampung ya..." suara ibu nya bergetar dan penuh kesedihan saat Evan menjawab panggilan. "Kakek Darmo sakit parah – dia tiba-tiba jatuh pingsan tadi pagi dan tidak bisa bangun lagi. Dokter dari puskesmas sudah datang dan bilang kondisinya tidak stabil..."

Kata-kata ibu nya terdengar seperti guntur di telinga Evan. Tanpa berpikir panjang, ia segera berdiri dan meminta izin kepada guru yang sedang mengajar untuk pulang lebih awal. Semua teman sekelas termasuk Rina melihatnya dengan wajah penuh kekhawatiran saat Evan mengambil tas nya dan berlari keluar dari kelas dengan cepat.

Perjalanan pulang ke kampung terasa sangat lama bagi Evan. Ia terus melihat jam di pergelangannya dan berdoa dalam hati agar Kakek Darmo tetap kuat menunggu nya. Ketika bis akhirnya memasuki kampung Cibuntu, Evan langsung turun dan berlari secepat mungkin menuju rumah Kakek Darmo, menyusuri jalan sawah yang sudah ia kenal sejak kecil dengan langkah yang tergesa-gesa.

Ketika sampai di halaman rumah Kakek Darmo, Evan menemukan beberapa tetangga dan anggota keluarga sudah berkumpul di sana dengan wajah yang penuh kesedihan dan kekhawatiran. Ia berlari masuk ke dalam rumah dan menemukan Kakek Darmo terbaring tak berdaya di atas tikar yang diletakkan di lantai kamarnya, dengan wajah yang sangat pucat dan napas yang tersengal-sengal. Ibu nya dan beberapa tetangga wanita sedang merawat nya dengan penuh perhatian.

"Kakek..." bisik Evan dengan suara yang hampir tidak terdengar, mendekati tempat tidur Kakek Darmo dengan hati-hati. Tangannya gemetar saat menyentuh tangan leluhurnya yang sudah dingin dan kurus.

Kakek Darmo sedikit membuka mata ketika merasakan sentuhan Evan. Matanya yang biasanya ceria dan penuh kebijaksanaan kini terlihat lelah dan lemah, namun masih ada sedikit kilauan ketika melihat cucu kesayangannya datang.

"Evan... kamu sudah datang ya..." suara Kakek Darmo sangat lemah, namun tetap jelas terdengar di dalam kamarnya yang sunyi. Ia menggerakkan jari nya dengan perlahan untuk menggenggam tangan Evan. "Aku sudah menunggu kamu..."

Evan merasa air mata mulai mengalir deras di pipinya. Ia menekan wajahnya dengan tangan untuk mencoba menahan emosinya, namun tidak berhasil. "Kenapa kamu tidak memberitahu aku kalau kamu tidak enak badan, Kakek? Aku pasti akan segera pulang membantu kamu..."

Kakek Darmo tersenyum lembut, mengocok kepalanya perlahan. "Aku tidak ingin mengganggumu, cucu... kamu sedang sibuk belajar untuk masa depanmu. Itu adalah hal yang paling penting bagiku..."

Ia menarik napas dengan susah payah sebelum melanjutkan. "Dokter bilang aku sudah tua dan tubuhku sudah tidak kuat lagi menghadapi penyakit ini... tapi aku tidak takut, Evan. Yang aku khawatirkan adalah warisan kita – ilmu beladiri dan pengobatan tradisional yang telah kita pelajari bersama ini."

Evan menggenggam tangan Kakek Darmo dengan erat, meneteskan air mata di atas tangan leluhurnya. "Jangan bilang seperti itu, Kakek. Kamu pasti akan sembuh – kita akan berusaha semaksimal mungkin. Aku bisa menggunakan ilmu yang kamu ajarkan padaku untuk membantu menyembuhkanmu kan?"

Kakek Darmo mengangguk perlahan namun kemudian menggelengkan kepalanya dengan lembut. "Aku sudah terlalu tua, cucu... tubuhku sudah tidak bisa lagi menerima pengobatan apa pun, baik tradisional maupun modern. Ini adalah bagian dari alam kehidupan – setiap orang pasti akan sampai pada titik ini suatu hari nanti."

Ia melihat ke arah sudut kamar di mana terdapat sebuah kotak kayu besar yang sudah ia kenal baik – kotak yang menyimpan barang-barang penting dari warisan leluhur mereka. "Sekarang aku ingin kamu mengambil kotak itu dan membukanya. Ada sesuatu yang harus aku berikan padamu sebelum waktu ku habis."

Evan segera mengambil kotak kayu itu dengan hati-hati dan membukanya di sisi tempat tidur Kakek Darmo. Di dalamnya terdapat sebuah keris kecil dengan ukiran yang sangat indah pada gagangnya, beberapa gulungan kain sutra tua yang belum pernah ia lihat sebelumnya, dan sebuah surat yang tertulis dengan tangan Kakek Darmo sendiri.

"Ini keris pusaka yang telah diwariskan selama lebih dari lima generasi," ujar Kakek Darmo dengan suara yang semakin lemah namun tetap jelas. "Ia bukan hanya sebuah senjata melainkan simbol dari tanggung jawab kita untuk melindungi yang lemah dan menjaga kebenaran. Gulungan kain sutra itu berisi catatan-catatan rahasia tentang ilmu yang belum sempat aku ajarkan padamu – termasuk teknik pengobatan untuk penyakit yang lebih kompleks dan gerakan beladiri yang paling mendalam."

Ia mengambil surat dari dalam kotak dan memberikannya kepada Evan. "Surat ini adalah pesanku untukmu, cucu. Di dalamnya aku menjelaskan semua yang kamu butuhkan untuk melestarikan dan mengembangkan warisan kita. Jangan pernah lupa bahwa ilmu ini diberikan bukan untuk diri kita sendiri melainkan untuk membantu orang lain yang membutuhkan."

Kakek Darmo kemudian memanggil semua keluarga dan tetangga yang ada di luar untuk masuk ke dalam kamar. Ia ingin menyampaikan pesan terakhir nya kepada semua orang yang ada di sana.

"Saya ingin kalian semua tahu bahwa Evan adalah penerus yang layak untuk warisan ilmu beladiri dan pengobatan tradisional keluarga kita," ujar Kakek Darmo dengan suara yang sedikit lebih kuat, seolah mengumpulkan semua kekuatan yang tersisa dalam dirinya. "Dia telah membuktikan bahwa dia memiliki hati yang baik dan tanggung jawab yang tinggi untuk menjaga dan mengembangkan ilmu ini. Saya berharap kalian semua akan mendukung dia dalam menjalankan amanah ini."

Semua orang yang hadir mengangguk dengan penuh rasa hormat dan kesedihan. Beberapa di antaranya menangis dengan terdengar, mengingat betapa banyak manfaat yang telah mereka terima dari ilmu yang diajarkan Kakek Darmo selama ini.

Setelah itu, Kakek Darmo meminta agar semua orang keluar dari kamar agar ia bisa berbicara dengan Evan sendirian. Ia menarik Evan lebih dekat dan menatapnya dengan mata yang penuh cinta dan harapan.

"Jangan pernah berhenti belajar, cucu," ujarnya dengan lembut. "Gunakan ilmu yang kamu pelajari dari aku untuk kebaikan dan jangan pernah menyalahgunakannya. Dan ingat – meskipun aku sudah tidak ada di dunia ini, aku akan selalu ada di hatimu dan akan selalu membimbingmu dalam setiap langkah yang kamu ambil."

Ia mengambil kalung batu giok dari lehernya sendiri – kalung yang telah dikenakan oleh semua penerus warisan mereka selama berabad-abad – dan memasangkannya dengan hati-hati di leher Evan, menggantikan kalung kecil yang biasanya dikenakan Evan. "Ini adalah kalung utama dari warisan kita. Ia akan menjadi pengingat bagi kamu tentang siapa kamu dan apa yang kamu yakini. Jaga dengan baik dan teruskan kepada penerus berikutnya ketika waktunya tiba."

Pada jam tiga sore hari itu, Kakek Darmo mengambil napas terakhir nya dengan tenang dan damai di dalam pelukan Evan. Suara azan dari masjid kampung terdengar jelas di luar, seolah menyambut kedatangan roh leluhur yang telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat kampung Cibuntu selama puluhan tahun.

Semua warga kampung berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Kakek Darmo. Mereka menceritakan berbagai cerita tentang bagaimana Kakek Darmo telah membantu mereka dengan ilmu pengobatannya, melindungi mereka dengan keahlian beladirinya, dan memberikan nasihat yang berharga tentang kehidupan. Semua orang tahu bahwa mereka telah kehilangan sosok yang sangat penting dan tidak bisa digantikan.

Evan berdiri di dekat jenazah Kakek Darmo dengan wajah yang penuh kesedihan namun juga penuh tekad. Ia menggenggam kotak kayu yang berisi warisan leluhur dengan erat dan menyadari bahwa tanggung jawab yang sangat besar sekarang telah jatuh di pundaknya. Namun ia juga merasa bahwa Kakek Darmo telah memberinya semua yang dibutuhkan untuk menjalankan amanah tersebut – pengetahuan, kebijaksanaan, dan kekuatan batin yang kuat untuk menghadapi segala tantangan yang akan datang.

Di bawah naungan pohon beringin yang sama tempat mereka selalu berlatih bersama, Evan berjanji dalam hati bahwa ia akan menjaga dan melestarikan warisan yang diberikan Kakek Darmo dengan segenap hati. Ia akan terus belajar dan bekerja keras untuk mewujudkan impian mereka berdua – untuk menggabungkan ilmu tradisional dan modern menjadi satu, dan untuk membantu sebanyak mungkin orang yang membutuhkan. Dan meskipun Kakek Darmo sudah tidak lagi ada di sisinya secara fisik, Evan tahu bahwa leluhurnya akan selalu ada di dalam hatinya dan akan terus membimbingnya dalam setiap langkah perjalanan hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!