NovelToon NovelToon
The Atmaja'S Daughter

The Atmaja'S Daughter

Status: sedang berlangsung
Genre:Satu wanita banyak pria / Enemy to Lovers / Playboy / Tamat
Popularitas:159
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Bintang Anastasya tidak pernah menyangka lulus SMA berarti harus menyerahkan kebebasannya. Atas perintah sang Ayah, ia harus kuliah di luar kota dan—yang paling buruk—tinggal di kediaman keluarga Atmaja. Keluarga konglomerat dengan tiga putra yang memiliki reputasi luar biasa.
Bagi Yudhoyono Atmaja, Bintang adalah permata yang sudah dianggap anak sendiri.
Bagi Andreas (26), sang dokter tampan, Bintang adalah adik perempuan manis yang siap ia manjakan.
Bagi Gading (16), si bungsu, Bintang adalah teman seru untuk membuat keributan di rumah.
Dan bagi Lingga (21), sang senior di kampus, Bintang adalah gangguan yang tak terduga. Sifat Bintang yang blak-blakan dan tingkahnya yang usil mengusik ketenangan Lingga. Ia bertekad membuat Bintang jera dan tidak betah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siying, Iki Pingin Mikin Mi Krimis!

"DASAR KUCING GARONG MESUM!" teriak Bintang dengan suara melengking.

Tanpa menunggu jawaban atau serangan balasan, Bintang langsung melesat lari menaiki tangga secepat kilat. Suara langkah kakinya terdengar gaduh di koridor lantai dua sebelum akhirnya...

BRAKKK!

Pintu kamar Bintang dibanting sangat keras dan langsung terdengar bunyi kunci yang diputar dua kali dari dalam.

Di bawah, Lingga masih berdiri mematung. Ia menatap ponsel Bintang yang tertinggal di tangannya, lalu perlahan menyentuh bibirnya sendiri. Jantungnya yang tadi berdetak karena emosi, kini berdetak karena alasan yang berbeda.

"Sial," gumam Lingga pelan sambil mengacak rambutnya frustrasi. "Kenapa gue jadi deg-degan begini, sih?"

Sementara di dalam kamar, Bintang menyandarkan punggungnya di pintu dengan jantung yang rasanya mau meledak. "Bego banget lo, Bintang! Kenapa bisa kena lagi sih!" gerutunya sambil membenamkan wajah di bantal, berusaha melupakan kejadian gila yang baru saja ia alami di malam yang semakin larut ini.

Lingga melangkah menuju kamarnya dengan perasaan campur aduk, menyisakan keheningan di koridor lantai dua mansion Atmaja malam itu.

Keesokan Paginya

Bintang turun dengan langkah ragu. Di meja makan, pemandangan langka tersaji. Biasanya kursi di sebelah Andreas kosong, tapi pagi ini Lingga sudah duduk manis di sana sambil menyesap kopinya.

Tumben banget ini Kucing Garong udah nongol, batin Bintang heran.

"Selamat pagi Mas Andreas, Gading..." Bintang menjeda kalimatnya sejenak, lalu melirik Lingga dengan malas, "...dan Kak Lingga." Ia menyebut nama itu dengan nada yang sangat terpaksa, teringat kejadian "ancaman" dan insiden bibir semalam.

"Pagi, Bintang," sahut Andreas dengan senyum teduhnya yang selalu menenangkan.

"Nih, HP lo. Ketinggalan di bawah semalam," ucap Lingga datar sambil menyodorkan ponsel Bintang di atas meja. Matanya sempat melirik Bintang sekilas, tapi ia segera membuang muka saat menyadari wajah gadis itu kembali memerah.

"Oh, iya. Makasih," jawab Bintang singkat sambil menyambar ponselnya.

"Bintang, maaf ya, hari ini Mas Andre nggak bisa barengin kamu ke kampus," ujar Andreas merasa tidak enak. "Mas mau ke rumah teman Mas dulu ada urusan penting, jadi nggak lewat jalur kampus kamu pagi ini."

Bintang baru saja ingin membuka mulut untuk bilang kalau dia bisa naik ojek online, tapi suara berat di sebelahnya lebih dulu memotong.

"Bareng gue aja. Gue bawa mobil," sahut Lingga tanpa menoleh, fokus pada roti bakarnya. "Lo kasih tahu temen lo itu si Mery, biar gue jemput sekalian. Gue nggak mau denger ada drama ban kempes atau telat lagi hari ini."

Bintang melongo. Ini orang beneran kesambet apa gimana?

Andreas tersenyum lega mendengar inisiatif adiknya. "Nah, bagus kalau begitu. Jadi Mas nggak kepikiran kamu berangkat sendiri."

"Tapi Kak—"

"Setengah tujuh di mobil. Telat semenit, gue tinggal," potong Lingga tegas, lalu beranjak dari kursi dan meninggalkan ruang makan tanpa menunggu jawaban.

Bintang hanya bisa mendengus kencang. "Mas Andre, dia beneran manusia atau jelmaan singa sih? Galak banget!"

Gading yang sejak tadi asyik makan sereal pun terkekeh. "Bukan singa, Mbak. Itu namanya 'Singa yang lagi cari muka' di depan korbannya."

"Diem lo, Gading!" seru Bintang malu, sementara di dalam hatinya ia mulai was-was membayangkan harus berada di dalam mobil yang sama dengan Lingga setelah kejadian gila tadi malam.

Saat Bintang hendak membuka pintu penumpang belakang, suara berat Lingga langsung menginterupsi langkahnya.

"Lo di depan aja. Lo kira gue supir lo?" ketus Lingga tanpa menoleh, tangannya tetap siaga di kemudi.

Bintang menghela napas panjang, mencoba menahan kekesalannya sepagi ini. "Iya, iya! Sensitif amat sih," gerutunya sambil berpindah duduk di kursi samping kemudi.

Suasana di dalam mobil mendadak canggung. Bintang teringat kejadian gila tadi malam yang terus berputar di otaknya. Dengan keberanian yang dikumpulkan, ia berdehem pelan. "Oh ya, Kak... soal kejadian semalam, gue minta maaf ya. Soal cium Kak Ling—"

"Sssttt! Diem lu!" potong Lingga cepat. Wajahnya menegang dan telinganya mendadak memerah. Ia tidak ingin pembicaraan itu berlanjut, apalagi di ruang sempit seperti ini.

Bintang hanya bisa memutar bola matanya malas. Dih, dia yang mulai, dia yang panik, batinnya dongkol.

Mobil terus melaju hingga sampai di depan kosan Mery. Sahabat Bintang itu sudah menunggu di pinggir jalan dan segera masuk ke kursi belakang. "Pagi, Kak Lingga! Pagi, Bin!" sapa Mery ceria.

Namun, sebelum mobil kembali melaju, Lingga melirik Bintang dengan tatapan memerintah. "Bintang, sekarang lo pindah ke belakang bareng Mery. Gue mau jemput Dea sekalian."

Bintang tersentak, rasa tidak terima langsung memuncak. "Loh? Tadi katanya gue bukan majikan, sekarang malah disuruh pindah?"

"Nggak usah banyak protes. Lo tahu kan Dea orangnya gimana kalau liat lo duduk di sini?" ucap Lingga dengan nada yang tidak ingin dibantah.

Bintang mendengus kencang, benar-benar merasa dipermainkan. "Iya, iya! Bawel! Pilih kasih banget sih jadi orang!" seru Bintang sambil membanting pintu dan pindah ke jok belakang bersama Mery yang hanya bisa menatapnya dengan pandangan kasihan sekaligus bingung.

"Sabar, Bin... asisten harus tahu tempat," bisik Mery mencoba menenangkan, sementara mobil Lingga mulai meluncur menuju rumah Dea. Kehidupan kampus dan drama asisten pribadi ini sepertinya akan menjadi sangat berat bagi Bintang hari ini.

Dea membuka pintu depan dengan gaya anggun yang dibuat-buat. Begitu melihat Bintang dan Mery di jok belakang, ia tersenyum miring. "Oh, asisten gue nebeng juga ya? Bagus deh, jadi nggak usah repot-repot nungguin lo di gerbang nanti," ucap Dea tanpa dosa.

Bintang mengepalkan tangannya kuat-kuat di pangkuan. Rasanya ia ingin sekali menonjok mulut Dea detik itu juga. Nebeng pala lo peang! Ini mobil kakak gue, eh... kakak angkat gue! batin Bintang murka.

Dea kemudian berbalik, menatap Lingga dengan tatapan manja yang menurut Bintang sangat berlebihan. "Sayang, nanti malem ajakin aku nonton dong. Aku pengen banget ngedate sambil nonton film romantis yang baru rilis itu," rengek Dea sambil mengelus lengan Lingga.

Bintang yang mendengar itu merasa perutnya mual karena jijik. Ia melirik Mery yang juga tampak menahan tawa sekaligus enek. Tak mau kalah, jiwa tengil Bintang pun bangkit. Ia sengaja membelai bahu Mery dengan gerakan yang sangat didramatisir, lalu menirukan suara manja Dea dengan nada yang dibuat-buat sangat cempreng.

"Siyingg... Iki pingin mikin mi krimis Ding, biwi nggik? Kili nggik biwi, iki nggis nih, hiyek!" ucap Bintang sambil berpura-pura mengelap air mata palsu.

Mery langsung membekap mulutnya agar tawanya tidak meledak di dalam mobil. "Aduh, siyinggg... jangan nggis dong, nanti Iki kasih kerupuk ya," balas Mery ikut-ikutan berakting.

Wajah Dea seketika berubah merah padam. Ia menoleh ke belakang dengan tatapan tajam. "Maksud lo apa, Bintang?! Lo ngeledek gue?!"

Bintang memasang wajah polos paling menyebalkan sedunia. "Loh? Kak Dea ngerasa ya? Enggak kok, aku cuma lagi latihan teater sama Mery buat tugas prodi nanti. Iya kan, Mer?"

"Iya, Kak. Maaf ya kalau suaranya mirip," tambah Mery sambil menunduk menahan tawa.

Lingga yang sejak tadi hanya diam, mendadak berdehem keras untuk menutupi senyum tipis yang hampir lolos dari bibirnya. Ia melirik dari spion tengah, menatap Bintang yang sedang memberikan tatapan kemenangan padanya.

"Diem kalian. Udah mau sampai kampus," ketus Lingga dingin, meskipun dalam hati ia merasa suasana pagi ini jadi jauh lebih tidak membosankan berkat tingkah konyol asisten pribadinya itu.

Sambil melajukan mobilnya menuju gedung Administrasi Bisnis, Lingga merasa bahwa hidup dengan adanya Bintang di sekitarnya adalah sebuah tantangan mental yang sangat nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!