NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Bertani / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.

Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.

Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mau Sampai Kapan

Matahari merayap turun, menciptakan bayang-bayang panjang yang seolah ingin menelan gubuk reyot di lereng bukit itu.

Sore itu, suasana di kediaman Eyang Marsinah terasa panas, bukan karena cuaca, melainkan karena amarah yang tertahan.

Rendi masih meringkuk di kamarnya, menolak keluar sejak "insiden DNA" pagi tadi.

Pemuda yang biasanya garang itu kini ciut nyalinya, seperti ayam jago yang kalah sabung dan kehilangan tajinya.

"Dasar laki-laki tidak berguna! Digertak anak bau kencur saja langsung demam!" semprot Bibi Mirna sambil membanting kipas anyamannya ke meja.

Di hadapannya, Eyang Marsinah duduk dengan wajah kaku.

Gurat-gurat tua di wajahnya semakin dalam, membentuk peta kekejaman yang tak terucap.

"Sudah, Mirna. Marah-marah tidak akan membuat tanah itu jadi milik kita," suara Eyang Marsinah terdengar serak dan berat.

Wanita tua itu menatap ke arah jendela, memandang jauh ke arah gubuk Rahayu yang kini tampak lebih 'hidup' dengan tanaman-tanaman hijau di sekelilingnya.

"Kekerasan fisik tidak mempan. Rendi terlalu bodoh untuk main halus," gumam Eyang Marsinah.

Matanya menyipit, memancarkan kilatan licik.

"Kalau pintunya baja, jangan didobrak. Tapi cari siapa yang memegang kuncinya."

Mirna mengerutkan kening. "Maksud Ibu? Si Sekar itu kuncinya, dan dia keras kepala setengah mati."

"Bukan Sekar," Eyang Marsinah menggeleng pelan.

Bibir tipisnya menyunggingkan senyum miring.

"Tapi ibunya. Rahayu."

Rahayu Ningsih. Wanita desa yang lugu, bodoh, dan haus akan pengakuan.

Wanita yang seumur hidupnya merangkak di kaki keluarga Adhiwijaya, memohon secuil kasih sayang yang tak pernah diberikan.

"Rahayu itu hatinya lembek seperti bubur. Dia masih bermimpi dianggap menantu yang baik olehku," cibir Eyang Marsinah.

"Dekati dia. Manis-maniskan dia. Buat dia merasa kita akhirnya menerimanya kembali."

Mirna mulai paham.

Senyum licik perlahan merekah di wajahnya yang penuh polesan bedak tebal.

"Dan setelah dia luluh... kita minta dia ambilkan 'cairan rahasia' itu?"

"Tepat," Eyang Marsinah mengangguk. "Bilang saja itu demi kebaikan keluarga. Demi Radityo."

Dia akan melakukan apa saja kalau kau membawa nama suaminya."

Sore itu, angin berhembus pelan membawa aroma tanah kering yang khas.

Di gubuk bambu, Sekar Wening sedang berbaring di dipan kayunya.

Matanya terpejam, napasnya teratur.

Bagi orang awam, dia terlihat sedang tidur siang karena kelelahan mengurus kebun.

Namun, kesadaran Profesor Sekar sedang tidak ada di sana.

Dia berada di dalam Ruang Spasial.

Di dunia berdimensi lain itu, Sekar sedang sibuk memanen bets kedua kangkung darat yang tumbuh dengan kecepatan abnormal.

Tangannya cekatan memotong batang-batang hijau yang segar dan renyah.

Meski tubuh fisiknya di dunia nyata diam, namun sebagian kecil insting kewaspadaannya tetap aktif.

Seperti radar yang dipasang dalam mode standby.

Di luar gubuk, Rahayu sedang menyapu halaman ketika sebuah suara yang tak disangka-sangka memanggilnya.

"Mbakayu... Mbak Rahayu..."

Rahayu terlonjak kaget. Sapu lidinya nyaris terlepas.

Dia menoleh dan melihat Bibi Mirna berdiri di depan pagar tanaman beluntas.

Bukan dengan wajah sinis seperti biasa, melainkan dengan senyum lebar yang memamerkan deretan giginya.

Di tangannya, Mirna menenteng rantang susun berwarna lurik.

"Dik Mirna?" suara Rahayu bergetar, antara percaya dan takut. "Ada apa... ada perlu sama Sekar?"

Mirna membuka pagar itu sendiri, melangkah masuk dengan gaya anggun yang dibuat-buat.

"Oalah, Mbakayu ini kok curigaan tho? Masak adik ipar mau main ke rumah kakaknya sendiri tidak boleh?"

Mirna meletakkan rantang itu di atas meja kayu reyot di teras.

"Ini lho, tadi aku masak gule kambing. Kebetulan Ibu bilang, kasihan Mbak Rahayu dan Sekar jarang makan daging."

Jadi aku disuruh antar ke sini."

Mata Rahayu membelalak. Gule kambing? Dari Eyang Marsinah?

Hati wanita paruh baya itu berdesir hebat.

Seumur-umur menjadi menantu, belum pernah sekalipun ibu mertuanya mengirimkan makanan.

Biasanya, Rahayu yang harus mengirim upeti, itu pun sering dicaci maki rasanya tidak enak.

"I-Ibu yang suruh?" tanya Rahayu, matanya mulai berkaca-kaca.

"Iya, Mbak," Mirna duduk di kursi bambu, lalu menepuk kursi kosong di sebelahnya.

"Sini, duduk dulu. Kita ngobrol sesama perempuan."

Rahayu menurut seperti kerbau dicocok hidung.

Dia duduk dengan ujung kebaya yang diremas-remas gugup.

"Sebenarnya Ibu itu sayang sama Mbak Rahayu," Mirna memulai sandiwaranya.

Suaranya direndahkan, seolah membagi rahasia besar.

"Cuma ya tahu sendiri watak Ibu, gengsinya tinggi. Apalagi Mas Radityo kan sekarang pejabat keraton, jadi Ibu agak keras supaya Mbak Rahayu bisa menyesuaikan diri."

Mendengar nama Radityo disebut, pertahanan Rahayu runtuh seketika.

Air mata kerinduan menetes di pipinya yang tuntas dimakan usia.

"Mas Radit... apa kabar dia, Dik?"

"Mas Radit sehat. Dia sering tanya soal Mbak lho sebenarnya," bohong Mirna tanpa kedip.

"Makanya, Mbak... Ibu dan aku berpikir, sudah saatnya kita berdamai.

Kita ini kan satu keluarga. Darah daging."

Rahayu mengangguk cepat, terisak pelan.

"Iya, Dik. Saya juga maunya begitu. Saya tidak mau musuhan."

Mirna tersenyum, merasa umpannya sudah dimakan.

Dia condong ke depan, menyentuh tangan kasar Rahayu dengan tangannya yang halus terawat.

"Nah, karena itu Mbak... Kita harus saling bantu."

Mirna melirik ke arah pintu gubuk yang tertutup kain gorden lusuh.

"Sekar itu kan sekarang hebat ya, Mbak. Tanamannya subur-subur. Tapi kami khawatir..."

"Khawatir kenapa?" Rahayu menyeka air matanya.

"Khawatir kalau Sekar jadi sombong dan lupa daratan. Anak muda kalau pegang rahasia sukses sendirian, biasanya jadi angkuh.

Nanti kualat sama orang tua."

Mirna memasang wajah prihatin yang meyakinkan.

"Ibu bilang, demi kebaikan Sekar dan demi mengangkat derajat keluarga Adhiwijaya di mata Mas Radit... sebaiknya rahasia pupuk cair Sekar itu tidak dipegang sendiri."

Rahayu terdiam.

Keningnya berkerut bingung.

"Maksudnya?"

"Mbak Rahayu ambilkan sedikit contoh cairan yang dipakai Sekar itu. Biar nanti Ibu dan saya bantu kembangkan."

Kalau sawah keluarga besar kita subur semua, Mas Radit pasti bangga sekali sama Mbak Rahayu. Bisa-bisa Mbak Rahayu diajak pindah ke kota lagi."

Janji manis itu bagaikan racun yang dibungkus madu.

Pindah ke kota. Berkumpul dengan Radityo. Diakui sebagai istri pejabat.

Itu adalah mimpi Rahayu yang paling liar.

"Tapi... Sekar melarang siapa pun masuk ke kamarnya kalau dia sedang racik obat," cicit Rahayu ragu.

"Justru itu, Mbak!" hasut Mirna. "Sekar itu anak Mbak sendiri. Masa sama Ibu kandungnya pelit?

Itu namanya anak durhaka. Mbak berhak tahu. Mbak berhak ambil demi masa depan kalian."

"Cepat, Mbak. Mumpung Sekar lagi tidur. Ambilkan botol kecil saja.

Nanti aku bawa ke Ibu, Ibu pasti langsung telpon Mas Radit memuji Mbak Rahayu."

Kata-kata 'memuji' dan 'Mas Radit' adalah mantra yang mematikan logika Rahayu.

Dengan gemetar, Rahayu berdiri.

"Sebentar... saya coba lihat," bisiknya.

Rahayu melangkah masuk ke dalam gubuk dengan hati berdebar kencang.

Kakinya terasa berat, seolah ada batu yang menggelayut.

Di dalam kamar sempit itu, dia melihat putrinya tertidur pulas di dipan.

Wajah Sekar tampak damai, napasnya halus.

Rahayu menatap wajah anaknya dengan perasaan campur aduk.

Rasa bersalah menusuk dadanya, tapi bayangan senyum Radityo lebih mendominasi pikirannya.

Maafkan Ibu, Nduk. Ini demi Bapakmu. Demi kita bisa jadi keluarga utuh lagi, batin Rahayu mencoba membenarkan tindakannya.

Matanya tertuju pada meja kecil di sudut kamar.

Di sana, ada sebuah botol kaca bekas sirup yang berisi cairan bening.

Sekar selalu membawa botol itu setiap kali hendak menyiram tanaman.

Itu pasti "Formula Rahasia" yang dimaksud Mirna.

Tangan Rahayu yang keriput terulur.

Jari-jarinya gemetar hebat saat menyentuh permukaan kaca yang dingin itu.

Dia menoleh sekilas ke arah Sekar.

Gadis itu tidak bergerak.

Cepat-cepat Rahayu menyambar botol itu dan menyembunyikannya di balik selendang kebayanya.

Dia berbalik dan berjalan keluar dengan langkah terburu-buru, jantungnya berdegup seakan mau meledak.

Di teras, Mirna sudah menunggu dengan mata berbinar tamak.

Dia berdiri, tangannya sudah tengadah tak sabar.

"Mana, Mbak? Dapat?" bisik Mirna antusias.

Rahayu mengeluarkan botol kaca itu dengan ragu.

"Ini... tapi janji ya, Dik. Jangan bilang Sekar saya yang ambil."

"Iya, iya, tenang saja. Sini!" Mirna hampir menyambar botol itu.

Namun, sebelum botol itu berpindah tangan, sebuah tangan lain yang lebih muda dan kuat mencengkeram pergelangan tangan Rahayu.

"Ibu mau kasih apa ke Bibi Mirna?"

Suara itu datar, dingin, dan menusuk tulang sumsum.

Rahayu menjerit kecil, kaget setengah mati.

Botol di tangannya hampir jatuh, tapi tangan itu menahannya dengan kuat.

Sekar Wening berdiri di sana.

Matanya tidak lagi terpejam.

Sorot mata itu tajam, menghunus langsung ke arah Mirna, lalu beralih menatap ibunya dengan kekecewaan yang dalam.

Di dalam benaknya, Profesor Sekar menganalisis situasi ini dengan cepat.

Cognitive Dissonance.

Ibunya mengalami konflik batin hebat antara realitas kekejaman keluarga suaminya dan delusi harapannya sendiri.

Dan dalam keputusasaan itu, ibunya memilih delusi.

Sekar baru saja 'kembali' dari Ruang Spasial saat mendengar suara langkah kaki ibunya yang mencurigakan di kamar.

Dia memutuskan untuk berpura-pura masih tidur, ingin melihat sejauh mana ibunya akan bertindak.

Dan kenyataan ini menyakitkan.

"S-Sekar..." Rahayu tergagap, wajahnya pucat pasi seperti kain kafan. "Ibu... Ibu cuma..."

Sekar mengambil alih botol itu dari tangan ibunya yang lemas.

Dia memegangnya erat.

Lalu dia menatap Mirna yang tampak salah tingkah, namun berusaha tetap angkuh.

"Bibi Mirna," suara Sekar tenang namun penuh penekanan.

"Tadi pagi Rendi sudah saya beri pelajaran soal jejak biologis. Sekarang Bibi mau saya beri pelajaran soal pasal pencurian dan persekongkolan?"

Wajah Mirna memerah padam, campuran antara malu dan marah.

"Heh! Siapa yang mencuri? Ibumu sendiri yang kasih! Lagipula itu harta gono-gini keluarga, hak kami juga tahu!"

Bentak Mirna, suaranya melengking menutupi ketakutan.

"Hak?" Sekar tertawa kecil. Tawa yang kering tanpa rasa humor.

"Sejak kapan keluarga yang membuang kami punya hak atas keringat kami?"

Sekar melangkah maju, mendesak Mirna mundur hingga ke bibir teras.

"Bawa pulang gule kambing ini," tunjuk Sekar pada rantang di meja.

"Kami tidak butuh makanan basi yang dibumbui racun kemunafikan."

"Dan sampaikan ke Eyang Marsinah..."

Sekar mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke bola mata Mirna yang bergetar.

"Jangan pernah jadikan Ibu saya tameng untuk keserakahan kalian.

Sekali lagi saya lihat Bibi memanipulasi kepolosan Ibu saya..."

Sekar sengaja menggantung kalimatnya.

Dia mengangkat botol kaca di tangannya, menggoyangkannya pelan.

"...kalian akan melihat sisi lain dari Sekar Wening yang jauh lebih menakutkan daripada hantu penunggu bukit."

Mirna menelan ludah.

Aura dominasi yang dipancarkan gadis 18 tahun ini begitu kuat, seolah dia sedang berhadapan dengan pejabat tinggi, bukan keponakan miskin.

Tanpa bicara apa-apa lagi, Mirna menyambar rantangnya dengan kasar dan bergegas pergi, setengah berlari, meninggalkan debu di halaman.

Suasana kembali hening.

Hanya suara angin yang berdesir di sela-sela bambu.

Sekar berbalik perlahan menghadap ibunya.

Rahayu menunduk dalam, bahunya terguncang hebat.

Isak tangis mulai pecah dari bibirnya.

Dia tidak berani menatap wajah anaknya.

Rasa malu, bersalah, dan ketakutan bercampur menjadi satu.

Sekar tidak langsung marah.

Dia menghela napas panjang, menetralkan emosi manusianya dengan logika profesornya.

Ibunya adalah korban. Korban manipulasi psikologis bertahun-tahun.

Korban sistem patriarki feodal yang menindas.

Tapi korban pun harus dibangunkan, walau dengan cara yang keras.

Sekar meletakkan botol itu kembali ke meja dengan bunyi tak yang tegas.

"Bu," panggil Sekar.

Rahayu masih menangis, menutup wajah dengan kedua tangannya yang kasar.

"Maafkan Ibu, Nduk... Ibu cuma mau Bapakmu..."

"Cukup, Bu," potong Sekar tegas.

"Ibu mau sampai kapan hidup dalam mimpi?"

1
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
hahaha rasakan
Fauziah Daud
luar biasa
Lala Kusumah
intrik terus berlanjut, kuat dan semangat ya Sekar 👍👍👍
lin sya
begitulah klo sekar hdup dgn warga yg gk pinter ilmu percaya takhayul gmpang diadu domba, klo trbukti bikin kapok dan gak ganggu lgi
Luvqaseh😘😘
mak nye pun..bodo amat...
Musdalifa Ifa
bagus Sekar pertahankan sikap tegas mu dan beri pengertian pada ibu mu walaupun itu menyakitkan nya tapi itu lebih baik daripada hidup dalam dunia halu
Leni Ani
lanjut thor,bagus sekar.kalau bapak durjanem mu iku banyak tingkah mintak tolong aja sm mas arya😅😅👍👍
Leni Ani
ndas mu prasitiyo,mana mau sekar sm kamu yg mentelantar kan nya sm ibu nua di gubuk reyo,malah nanti karir mu yg amblas😅😅😅😅👍
gina altira
jgn kasih celah Sekar,, babat habis klo bisa
Leni Ani
mantap sekar jangan mau jd alat uji coba orang lain.lebih baik kamu tambah beli tabah supaya orang tahu kerja keras mu💪💪👍👍
nur
aq kok ksel banget rsane ro ibumu sekar
Leni Ani
😅😅😅😅💪👍
sahabat pena
dia adalah pangeran.
Lala Kusumah
good job Sekar 👍👍👍💪💪💪😍😍😍
lin sya
good sekar bpk durhaka itu anak yang dibuang dan dianggep sial mau dijdiin sapi perah gk tau malu, klo mengusik viralin aj dimajalah koran biar jabatan terancam jd gembel, greget bacanya 🤭
Markuyappang
suka dengan karakter sekar tapi nggak suka dengan karakter ibunya. ibunya terlalu bodoh dan gampang banget ditipu, alasannya selalu ingin jadi keluarga yg utuh tapi nggak pernah ngelihay gimana anaknya berjuang. udah selalu diingetin tapi selalu diulangin trs menerus gak pernah berubah. kirain yg habis nyuri barang anaknya bakalan berubah eh ternyata masih sama aja masih sama sama bodoh, terlalu nurut keluarga laknat itu, terlalu takut, dan terlalu berharap. kenapa gak bisa lihat susahnya anaknya berjuang dan menderitanya anaknyaaa gegara keinginan dia coba. lama lama anak mu sendiri yg pergi gegara sikap bodohmu itu bu rahayuu
Darti abdullah
luar biasa
Leni Ani
cerita nya bagus tapi kebanyaan analisis ngak bagus jg thor,jadi analidis yg banyak cerita pemeran nya sedikit,itu jadi nya cerita pemeran dlm cerita ini kayak kasat mata🙏🏻
INeeTha: Terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Alif
alurnya lambat readher harus sabar membacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!