NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:979
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 : Menyabotase kematian?

Suasana hening itu kian menekan, meski sosok Victoria telah lama menghilang dari pandangan. Ia masih terpaku di tempat, sampai akhirnya seorang wanita bersetelan putih datang menghampiri. Di tangannya, nampan kecil berisi suntikan dan obat-obatan bergetar halus mengikuti langkahnya.

“Tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan, suaranya lembut namun sedikit bergetar.

Asisten pria segera menanggapi, memberi jawaban tenang. “Kami diperintahkan langsung oleh presiden untuk memeriksa kematian dokter Mily. Namun, kami tersesat saat mencari ruang manajer.”

Raut wajah perawat itu berubah. Sekilas keterkejutan terlihat, lalu senyum tipis menghiasi bibirnya ketika pandangannya jatuh pada pria di belakang asisten. Tinggi, berwibawa, dengan tatapan yang begitu tegas, ia tampak berbeda dari kebanyakan orang.

“Apakah… Anda detektif yang diminta? Tuan… Alexander Reed?” tanyanya ragu, suara menurun penuh hormat.

Nama itu bukan nama asing bagi mereka yang mengenal dunia kriminal. Namun anehnya, hanya Victoria satu-satunya yang tak mengenal reputasi pria itu.

Perawat itu buru-buru menunduk, senyumnya kaku. “Mari, saya antar ke ruang manajer. Bukan di lantai tujuh, melainkan di lantai sembilan. Lantai tujuh khusus untuk IGD,” jelasnya, lalu melangkah mendahului, memberi jalan bagi ketiga pria di belakangnya.

Lorong yang mereka lalui terasa sunyi. Suara langkah kaki menggema, memantul pada dinding yang jarang dilewati orang. Alexander memperhatikan setiap pintu yang mereka lewati, lorong itu ternyata asrama para dokter.

Pandangan matanya berhenti sejenak pada papan nama *Dr. Emily* di salah satu pintu, diikuti empat nama lain di sekitarnya. Tatapannya dalam, seakan tengah menyimpan sesuatu.

Mereka terus berjalan hingga berhenti di depan sebuah pintu. Perawat itu mengetuk perlahan, lalu membukanya sedikit tanpa masuk. Dari celah pintu, ia menyampaikan pesannya.

“Manajer Henry, tamu Anda sudah tiba.”

Tak ada jawaban, hanya kesunyian yang semakin menegangkan. Hingga akhirnya terdengar suara ketukan kuku di atas meja dari dalam.

“Biarkan mereka masuk.”

Perawat segera membuka pintu lebih lebar, memberi jalan bagi ketiga pria itu. Setelah pintu kembali tertutup, ruang kerja yang dipenuhi tumpukan berkas menyambut mereka.

Di balik meja, seorang pria berusia tiga puluhan duduk dengan wajah muram. Ekspresinya jelas menunjukkan tekanan yang berat. Begitu melihat tamunya, ia bangkit dengan terburu-buru.

“Tuan Reed, maaf membuat Anda datang jauh-jauh. Padahal Anda sedang bertugas di luar negeri,” ucap Manajer Henry, nada suaranya sarat penyesalan.

Alexander menanggapi singkat, suaranya mantap. “Tidak masalah. Jika ini perintah presiden, jelas bukan persoalan kecil.”

Henry mengulurkan tangan, mempersilakan mereka duduk. Ia menuangkan teh yang sudah tersaji ke dalam cangkir kecil, lalu menyerahkannya dengan sopan.

“Apakah Anda sudah mendengar kabar tentang dokter Mily?” tanya Henry hati-hati, membuka percakapan.

“Sudah,” jawab Alexander sambil menatapnya tajam. “Tapi bukankah pihak rumah sakit menyebutkan kalau itu hanya kecelakaan?”

Henry terdiam. Wajahnya tegang, lalu ia menggeleng perlahan. “Tidak… ini bukan kecelakaan. Tahun ini sudah dua kali terjadi kasus serupa.”

Salah satu asisten Alexander mencondongkan tubuh, penasaran. “Maksud Anda?”

Henry menarik napas panjang, suaranya berat. “Bulan lalu, seorang dokter juga ditemukan tewas di ruang kerjanya. Hasil pemeriksaan menyebutkan serangan jantung. Tapi… yang membuat saya gelisah, kematian itu dan kematian dokter Mily terjadi di tanggal yang sama, bahkan hari yang sama.”

Alexander menajamkan tatapan. “Jadi menurut Anda, ada yang menyabotase kematian mereka?”

“Saya tak bisa bilang begitu, tanpa bukti.” Henry menunduk, jemarinya bergetar di atas meja. Ia hanya bisa bergeleng pelan, membiarkan ketegangan semakin membungkus ruangan itu.

“Jangan khawatir, kami akan selidiki.” Suara Alexander terdengar mantap saat ia bangkit dari sofa, sikapnya seolah menandai akhir pertemuan.

Melihatnya berdiri, Manager Henry buru-buru ikut bangkit. Tatapannya penuh kegelisahan, lalu ia mendekat sedikit dan berbisik, seakan takut dinding pun bisa mendengar.

“Tapi… Tuan Reed… bisakah Anda menyelidikinya tanpa seorang pun mengetahui? Baik perawat, pasien, atau bahkan dokter lain?” Suaranya lirih, lebih seperti permohonan daripada perintah.

Alexander terdiam. Dahi pria itu berkerut, tatapannya kosong beberapa detik, seolah mencoba menimbang sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan.

Hening yang tercipta membuat salah satu asistennya menengahi, memberi kepastian dengan nada tenang. “Jangan khawatir, Manager Henry. Kami akan berhati-hati.”

Henry mengembuskan napas lega. “T-terima kasih…” katanya pelan, suaranya nyaris menghilang.

Itulah kata terakhir yang menggema di ruangan itu sebelum Alexander bersama dua asistennya melangkah keluar. Ekspresi pria itu tetap tegas, namun di balik matanya ada bayangan berat, kalimat Henry terus berputar, meninggalkan keganjilan yang sulit ia abaikan.

Belum sempat pikirannya mereda, kejutan lain datang. Baru saja ia menutup pintu, tubuh kecil seorang gadis berlari kencang dan menabraknya. Dentuman itu membuat nampan di tangannya terlepas, botol obat dan suntikan kecil berhamburan di lantai.

Alexander menunduk refleks. “Kau lagi!!” serunya, menahan kesal.

Di hadapannya, Victoria terduduk di lantai. Wajahnya meringis menahan sakit, satu tangannya meraba kepala yang terbentur, sementara matanya menatap Alexander dengan sorot kebingungan, meski tubuhnya masih gemetar.

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!