SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. KETAHUAN
Ruangan itu kembali sunyi setelah pintu tertutup.
Sunyi yang bukan jenis tenang, melainkan sunyi yang berdenyut, seperti udara sebelum badai.
Celina berdiri tegak, namun bahunya sedikit menegang, seolah seluruh tubuhnya bersiap menahan sesuatu yang tak terlihat.
Theo berdiri di hadapannya.
Jarak mereka terlalu dekat untuk disebut profesional, terlalu jauh untuk disebut intim. Namun di antara mereka, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada keduanya.
Rahasia.
"Bicara sekarang sebelum aku kehilangan kesabaranku," perintah Theo dengan nada setajam pisau.
"Aku mengaku kalau aku memiliki tujuan masuk ke perusahaan ini. Aku tidak masuk ke Morelli Corporation tanpa alasan," ucap Celina akhirnya.
Suara gadis itu tidak bergetar. Itu justru yang membuat Theo berhenti bergerak.
Theo memandangi Celina seolah baru pertama kali benar-benar melihatnya. Bukan sebagai office girl yang kerap mondar-mandir dengan berkas di tangan. Bukan sebagai gadis yang terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang sering terjebak konflik kantor.
Tapi sebagai seseorang yang menyembunyikan sesuatu.
"Lalu apa alasanmu?" tanya Theo pelan, namun nada suaranya tajam.
Celina menarik napas. Kali ini lebih dalam. "Aku masuk ke sini karena sebuah tujuan tentu saja."
Alis Theo sedikit terangkat. "Dan tujuan itu?"
Celina mengangkat wajahnya, menatap langsung ke mata Theo. Tatapan yang tidak menantang, tidak memohon, melainkan jujur dengan caranya sendiri.
"Aku bukan dari Helix Dynamic, jadi kau tidak perlu khawatir soal aku mata-mata atau orang yang bekerja untuk Helix," konfirmasi Celina pertama kali untuk melunturkan kecurigaan Theo, mengingat hubungan Morelli dan Helix amat sangat tidak bagus.
Nama Helix membuat rahang Theo mengeras.
Helix Dynamic.
Musuh lama Morelli Corporation. Perusahaan yang berkali-kali mencoba menjatuhkan Morelli, baik lewat pasar gelap teknologi maupun perang informasi yang kotor.
Theo mendekat satu langkah. "Jangan bermain kata denganku, Celina."
Theo mengangkat tangannya, jemarinya menyentuh dagu Celina, bukan kasar, tapi tegas. Seolah ingin memastikan bahwa gadis di depannya nyata, bukan ilusi yang dibangun dengan kepolosan palsu.
"Kalau kau bukan dari Helix, lalu siapa yang menyuruhmu datang ke sini?" tanya Theo.
Celina tidak langsung menjawab.
Sentuhan Theo membuat napasnya sedikit tertahan, namun ia tidak mundur. Matanya tetap menatap Theo, seakan tahu bahwa satu langkah mundur saja akan menghilangkan kepercayaan tipis yang sedang berdiri di antara mereka.
"Aku datang karena tugasku adalah menyelidiki sesuatu yang berkaitan dengan Morelli Corporation," ucapnya akhirnya.
Theo menyipitkan mata. "Menyelidiki? Siapa yang memberimu hak untuk menyelidiki perusahaanku? Katakan kau dari mana?"
Celina menggeleng pelan. "Aku tidak bisa mengatakan aku berasal dari mana," katanya jujur.
"Kenapa tidak?" tuntut Theo.
"Dan untuk saat ini ... akan lebih baik jika kau memang tidak tahu," kata Celina tegas.
Jawaban itu membuat tangan Theo sedikit mengencang di dagunya.
"Itu bukan jawaban yang ingin kudengar," kata Theo.
"Aku tahu. Tapi aku bukan musuhmu," balas Celina.
Theo terkekeh kecil, dingin, tanpa humor. "Setiap orang yang menyembunyikan identitasnya selalu berkata begitu."
Celina menelan ludah, lalu berkata dengan suara lebih rendah, lebih serius, "Aku tidak berada di pihak musuh ... kecuali jika Morelli Corporation terbukti melakukan hal yang sedang kucurigai."
Ruangan itu seakan membeku.
Theo melepaskan dagu Celina dan mundur setengah langkah, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, antara terkejut, marah, dan sesuatu yang lebih dalam.
"Jadi sekarang kau mengancamku?" tanya Theo.
"Tidak," jawab Celina cepat. Aku menyampaikan batasan."
Theo mendengus pelan, lalu menyilangkan tangan di depan dada.
"Kau dari kepolisian?" tanya Theo tiba-tiba.
Celina langsung menggeleng. "Bukan."
"Intelijen? Pemerintahan?" tanya Theo lagi.
Gelengan kembali Celina berikan.
"Jadi kau siapa?" Suara Theo terdengar kesal sekarang.
"Seorang gadis yang datang ke Morelli, menyamar sebagai pegawai biasa, menyimpan identitas, dan berbicara tentang kecurigaan ilegal?" suara Theo meninggi sedikit. "Kau mengira aku bodoh?"
Celina tetap berdiri di tempatnya. "Aku tidak meremehkanmu, Mr. Morelli. Justru karena itulah aku tidak bisa menyebutkan darimana aku berasal. Karena akan cukup berbahaya."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Theo menatap Celina lama. Terlalu lama.
Lalu pria itu menjauh satu langkah lagi, mengusap wajahnya dengan telapak tangan, kemudian bertanya dengan nada yang lebih terkontrol, seolah mencoba meluruskan sesuatu yang bengkok di kepalanya.
"Baik. Jadi biar kuperjelas." Theo menatap Celina lagi. "Kau datang ke sini. Menyamar sebagai gadis biasa. Dengan tujuan tertentu. Sekarang katakan padaku. Apa tujuanmu itu?"
Celina terdiam.
Wajah gadis itu menunduk sedikit, jemarinya saling bertaut di depan tubuhnya. Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, keraguan terlihat jelas di wajahnya.
"Aku tidak bisa berkata banyak," kata Celina akhirnya. "Tujuanku cukup rahasia."
Theo menghela napas kasar. "Rahasia lagi."
"Tapi aku bisa mengatakan satu hal," lanjut Celina.
"Ini ada hubungannya dengan kegiatan ilegal."
Kata itu menggema di kepala Theo.
Ilegal.
"Apa?" Nada suara Theo berubah. Lebih rendah. Lebih berbahaya.
"Nama Morelli sempat terdengar berkaitan dengan hal ini," lanjut Celina pelan.
"Apa yang kau katakan barusan? Hal ilegal apa yang kau maksud?" Theo melangkah mendekat lagi, jarak mereka kembali menyempit. "Morelli tidak bermain di wilayah ilegal. Jangan menuduh sembarangan," sambungnya marah.
Celina mengangkat wajahnya. Itu yang sedang kucari tahu. Aku tidak datang dengan kesimpulan. Aku datang dengan kecurigaan."
"Kecurigaan tentang apa?" tanya Theo.
"Tentang manusia dan teknologi yang dibuat oleh Morelli," jawab Celina.
Kalimat itu membuat Theo terdiam. "Teknologi yang dibuat Morelli?"
Wajah Theo menegang.
Untuk sepersekian detik, Celina melihat sesuatu melintas di mata pria itu, sesuatu yang terlalu cepat untuk disebut pasti, tapi cukup jelas untuk membuat dadanya menghangat dengan firasat buruk.
Theo mendekat lagi.
Tangannya kembali terangkat, jemarinya menyentuh dagu Celina untuk kedua kalinya, kali ini lebih dalam, lebih menuntut.
"Keributan kemarin. Yang melibatkan divisi keuangan, divisi IT, dan menyeret namamu. Apa itu juga bagian dari rencanamu?" Theo menatap Celina tajam.
Celina langsung menggeleng, kali ini lebih cepat.
"Tidak," jawab Celina tanpa ragu. "Hari itu murni kesialanku."
Theo menyipitkan mata. "Kau berada di tempat yang salah. Di waktu yang salah?"
"Ya, dan itu menyebalkan," jawab Celina tegas. "Aku tidak merekayasa kekacauan itu. Karena aku hanya menyelidiki tapi aku justru jadi kambing hitam."
Theo terdiam.
Lalu pria bertanya satu hal, dengan nada yang tiba-tiba berubah.
"Jawab satu pertanyaan ini," ujar Theo.
Celina mengangkat wajahnya.
"Apa kau lahir dan besar dari kalangan atas?" tanya Theo serius.
Celina terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. "Iya," jawabnya.
Theo menutup mata sejenak. Tangannya menyuruk ke rambutnya sendiri, mengacaknya seolah ingin mengusir frustrasi yang tiba-tiba menekan dadanya.
"Gadis dari kalangan atas. Punya tujuan rahasia. Masuk ke Morelli sebagai office girl dan bekerja kasar?" Theo tertawa kecil—pahit.
Celina menatap Theo, tahu kalau hal itu terdengar aneh.
"Dan kau pikir aku akan mempercayaimu begitu saja?" tuntut Theo.
Celina tidak menjawab.
Theo mendekat lagi, kali ini tanpa kata-kata. Tangannya terangkat, memegang wajah Celina, kedua pipinya, memaksanya menatap lurus ke matanya.
"Katanya sedikit," ucap Theo pelan, namun nadanya mengandung tekanan. "Tapi kau selalu berhenti di titik terpenting."
Celina bisa merasakan detak jantungnya sendiri.
"Siapa kau sebenarnya, Celina?"
Dan tepat ketika pertanyaan itu melayang di udara ....
Pintu ruangan terbuka.
Suara engsel pintu terdengar nyaring di tengah ketegangan yang belum sempat pecah.
"Theo?" Suara Aiden terdengar pertama.
Disusul dua suara lain yang sangat dikenali.
"Theo?! Eh-"
"Brother?"
Theo dan Celina spontan menoleh ke arah pintu.
Di ambang pintu berdiri Aiden, dengan ekspresi terkejut yang langsung berubah menjadi salah paham.
Di belakangnya, Lucy dan Leo, adik kembar Theo kini membeku di tempat.
Pandangan mereka langsung tertuju pada tangan Theo ...
Yang masih memegang wajah Celina.
Dan pada jarak mereka yang terlalu dekat untuk dijelaskan dengan mudah.
Sunyi kembali jatuh.
Namun kali ini, sunyi itu sarat dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Hening menggantung, tebal dan canggung.
"Uhm ...," Leo berdehem. "Kurasa kami datang di waktu yang salah."
Lucy melangkah satu langkah masuk, menatap Celina dari ujung kepala hingga kaki.
"Wow! Kakakku ternyata sudah besar, dia sudah tahu cara dekat dengan perempuan!" seru Lucy.
Celina tersentak dan segera menepis tangan Theo, melangkah menjauh dengan wajah memanas, entah karena marah atau malu.
Theo berdehem, rahangnya mengeras. "Ini tidak seperti yang kalian pikirkan."
Aiden menatap Theo tajam. "Dari sudut pandang mana pun, kelihatannya sangat jelas."
Keheningan kembali jatuh.
"Aku akan telepon Mama!" seru Lucy.
"No!" Theo panik.
Begitu pula dengan Celina yang tidak tahu harus apa dengan situasi yang jelas memicu kesalahpahaman.
semoga gak terlambat menyelamatkan twins
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️