Fiora Gabriela adalah definisi nyata dari kesempurnaan. Sebagai putri tunggal dari dinasti bisnis raksasa, kecantikan dan kekuasaannya adalah mutlak. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia taklukkan: hati Galang Dirgantara, pria dingin yang menjadi tunangannya demi aliansi bisnis keluarga mereka.
Bagi Galang, Fiora hanyalah wanita arogan yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang. Ia menutup hati rapat-rapat, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mira—seorang gadis dari kalangan bawah dengan hidup penuh kemalangan. Sosok Mira yang rapuh membangkitkan sisi protektif Galang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Galang mulai berpaling, membiarkan rasa iba itu tumbuh menjadi cinta yang mengancam status Fiora.
Namun, Galang lupa satu hal. Fiora Gabriela bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan menangis dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Roller Coaster Cinta di Ruang Galang
Keesokan paginya, suasana kantor Dirgantara Group mendadak riuh. Fiora melangkah masuk didampingi Mamanya dengan penampilan yang sangat manis, jauh dari kesan angkuh seperti biasanya.
"Makasih ya, Mama," ucap Fiora manja sambil mencium tangan ibunya. Mama Fiora, yang sudah diberitahu rahasia "amnesia palsu" semalam, hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat totalitas akting putrinya.
"Nak Galang, Tante titip Fiora ya. Tolong dijaga pelan-pelan, ingat dia masih bingung," pesan Mama Fiora pada Galang yang sudah menunggu dengan wajah cemas.
"Iya, Tante. Galang akan jaga Fiora dengan baik," jawab Galang mantap. Tak lama kemudian, Mama Fiora pun pergi meninggalkan mereka.
Galang baru saja hendak membuka suara untuk menyapa, namun tiba-tiba Fiora menghambur memeluk erat tubuh Galang di depan para karyawan yang sedang berlalu-lalang. Tidak sampai di situ, Fiora berjinjit dan MENCIUM PIPI GALANG dengan mesra.
Galang mematung seketika. Jantungnya berdegup kencang hingga ia lupa cara bernapas. "F-Fiora... kamu kenapa? Bukannya kemarin kamu takut sekali dan bilang saya menyeramkan?" tanya Galang dengan suara yang sangat gugup.
Fiora tidak menjawab. Ia tetap memeluk lengan Galang dengan posesif sambil melirik ke arah pintu ruangan Galang. Di sana, Mira berdiri mematung dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca menyaksikan adegan tersebut.
"Aku nggak tahu kenapa, Pak Bos... tiba-tiba aku ngerasa kamu itu pahlawan aku," bisik Fiora cukup keras agar suaranya menggema di koridor. Ia memberikan senyum kemenangan yang sangat tipis kepada Mira yang sedang menahan tangis.
Para karyawan yang melihat kejadian itu langsung berbisik heboh. "Wah, Cece Fiora amnesia malah jadi makin berani ya! Pak Galang langsung mati kutu!"
Galang yang masih bingung hanya bisa pasrah lengannya digandeng erat oleh Fiora. Sementara Mira, dengan hati yang hancur, segera masuk ke ruangan dan menutup pintu dengan cepat. Fiora tertawa dalam hati, 'Gimana, Mira? Masih mau main drama asisten malang? Sekarang hadapi tunangan "amnesia" yang nggak tahu malu ini!'
Tak berselang lama setelah aksi cium pipi yang mengejutkan itu, ekspresi wajah Fiora mendadak berubah drastis. Ia melepaskan pelukannya dengan kasar dan mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi, seolah baru saja menyadari bahwa ia menyentuh seorang monster.
"Waaaa! Tolong! Dia jahat! Dia jahat banget!" teriak Fiora histeris sembari berlari ke arah kerumunan staf administrasi.
Para karyawan wanita yang memang sudah sayang pada Fiora langsung sigap pasang badan dan memeluknya. "Tenang Cece, tenang... Pak Galang nggak akan macam-macam kok," ucap mereka menenangkan, sambil memberikan tatapan menghakimi pada bos mereka sendiri.
"Hahhhh... gadis ini benar-benar..." batin Galang frustasi sembari memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Ia benar-benar bingung dengan perubahan sikap Fiora yang seperti roller coaster.
"Bawa dia ke ruangan saya! Dan jangan ada yang masuk ke dalam kecuali Mira!" tegas Galang dengan suara baritonnya yang tidak ingin dibantah . Ia merasa hanya Mira yang bisa membantunya menenangkan situasi karena Mira adalah asisten pribadinya.
Mendengar nama Mira disebut, Fiora yang sedang menyembunyikan wajahnya di bahu salah satu karyawan langsung membatin dengan geram, "Mira lagi, Mira lagi! Emang dasar kulkas dua pintu nggak peka! Padahal gue udah kasih 'service' ciuman, malah tetep aja nyari si debu itu!"
Fiora akhirnya dituntun masuk ke dalam ruangan Galang dengan pengawalan para karyawan, sementara Mira mengikuti dari belakang dengan wajah yang mencoba terlihat prihatin, meski di dalam hati ia merasa menang karena Galang tetap memanggilnya di saat genting [2].
Fiora benar-benar totalitas dalam perannya. Begitu sampai di dalam ruangan, ia langsung merangkak dan bersembunyi di bawah meja kerja Galang. Tubuhnya gemetar hebat (tentu saja ini hanya akting), sementara matanya melirik tajam ke arah kaki Mira yang berdiri di dekat sana.
"Aku takut... aku takut! Galang, suruh pergi! Asistenmu itu wajahnya menyeramkan seperti kuntilanak! Rambutnya panjang, mukanya pucat, aku takut dia makan aku!" teriak Fiora dari bawah meja dengan suara yang dibuat melengking ketakutan.
Galang yang sedang berdiri di balik mejanya langsung hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia menoleh ke arah Mira yang kini wajahnya benar-benar pucat—bukan karena takut, tapi karena menahan malu dan amarah karena dihina sebagai hantu untuk kedua kalinya di depan Galang.
"Iya, iya, tenang Fiora. Jangan teriak-teriak begitu," ucap Galang frustrasi. Ia tidak tega melihat Fiora yang "sakit" ketakutan seperti itu. Galang akhirnya menoleh ke arah Mira dengan tatapan tidak enak hati.
"Mira... tolong kamu keluar dulu ya. Sepertinya kehadiranmu membuat kondisi Fiora tidak stabil," perintah Galang dengan nada menyesal.
Mira menggigit bibir bawahnya, matanya mulai berkaca-kaca (jurus andalannya). "B-baik, Pak... saya permisi."
Saat Mira berbalik dan melangkah menuju pintu dengan lesu, Fiora sedikit menyembulkan kepalanya dari bawah meja. Tanpa terlihat oleh Galang, Fiora menjulurkan lidahnya dan mengejek Mira.
"Wleeee!" Fiora membuat muka mengejek yang sangat menyebalkan.
Mira yang melihat itu langsung membelalak kaget. Ia ingin mengadu, tapi Fiora sudah kembali masuk ke bawah meja dan merengek lagi. "Galang... hantunya sudah pergi belum? Aku takut!"
"Sudah, sudah pergi. Keluar sekarang, Fio. Di bawah meja itu kotor," bujuk Galang sambil mengulurkan tangannya ke bawah meja.
Di dalam hatinya, Fiora tertawa kemenangan. Skor 2-0 buat gue, Mira! Selamat menikmati julukan baru sebagai kuntilanak kantor! batin Fiora puas. hari ini, Fiora resmi menguasai wilayah kekuasaan Galang kembali.
"Sekarang gue beneran kaya orang gila deh. Padahal aslinya gue cantik dan elegan begini," batin Fiora sambil menghela napas, meratapi nasib dandanannya yang sedikit berantakan gara-gara ngumpet di bawah meja.
Fiora pun bangkit dengan gaya yang masih diusahakan terlihat "bingung" dan duduk di sofa panjang ruang kerja Galang. Ia menatap tumpukan berkas di meja Galang dengan tatapan rindu. "Astaga, bosen banget! Gue pengen kerja, pengen pegang laporan keuangan," keluh Fiora dalam hati.
Melihat Fiora yang hanya diam melamun, Galang menghampirinya. "Kamu bosan, Fio?" tanya Galang dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya.
Fiora mendongak, matanya mengerjap polos. "Iiya..."
"Terus kamu mau apa biar nggak bosan?" tanya Galang lagi.
Karena pikirannya sedang melayang, Fiora menjawab spontan tanpa saringan, "Mau Bapak aja!"
Seketika suasana ruangan menjadi hening. Fiora langsung mematung, jantungnya serasa mau copot. "Aduuh, bisa ketahuan kalau begini! Gue harusnya kan amnesia, mana ada orang amnesia malah ngegombal!" batin Fiora panik setengah mati.
Galang menyipitkan matanya, ia melangkah satu langkah lebih dekat hingga bayangannya menutupi tubuh Fiora. "Mau saya?" tanya Galang penuh selidik dengan suara bariton yang berat. "Maksud kamu apa, Fiora? Kamu ingat sesuatu?"
Fiora segera memutar otaknya yang jenius itu. Ia langsung memasang wajah sedih dan menunjuk-nunjuk jas Galang. "Maksudnya... mau Bapak... eh, mau Paman jagain aku! Aku takut sendirian, jangan panggil kuntilanak tadi lagi!" kilah Fiora sambil berpura-pura gemetar lagi.
Galang menghela napas, rasa curiganya sedikit luntur namun ia tetap merasa ada yang aneh. Ia duduk di samping Fiora—tapi tetap memberi jarak. "Saya bukan Paman kamu, Fiora. Saya tunangan kamu."
"Tunangan itu apa? Bisa dimakan?" tanya Fiora dengan wajah paling polos sedunia, padahal di dalam hati ia tertawa geli melihat wajah Galang yang frustrasi. hari ini, Fiora benar-benar sedang berada di puncak performa aktingnya.