Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paragon Ravensland
“Ya?” katanya. Dia memperhatikanku seperti orang asing.
Padahal … aku kenal dia. Dia juga kenal aku. Kita bahkan sudah delapan minggu bertemu.
Masa dia bisa lupa sama wajah pembuat onar seperti aku begini?
“Ada yang pingin aku omongin!” paparku.
Dia tampak gelisah.
Tanganku masuk ke saku. Meraba gantungan kunci pink, senjata imut yang telinganya berbentuk duri plastik tajam. Pas banget buat menusuk leher orang.
“Kita mau ngomongin apa?” tanyanya balik.
Ada yang salah sama dia.
Kenapa dia enggak sadar kalau ini aku?
“Aku boleh masuk, Audy?”
“Gimana—gimana ... kamu tahu nama aku?”
“Terpampang besar di meja resepsionis kamu,” jawabku sambil memperagakan pose dia saat sedang bekerja.
Seketika wajahnya berubah.
“Oh ... kamu harusnya enggak ada di sini. Kalau mau reschedule janji terapi, kamu bisa—”
Dia mulai menutup pintu. Tapi aku langsung selipkan kakiku.
“Aku enggak mau reschedule apa pun. Aku cuma mau ngobrol.”
Ya Tuhan, kenapa membunuh orang sesulit ini, sih?
“Apa-apaan ini!” bentaknya sambil membanting pintu. Dia langsung mendorongku sekeras itu. Aku terjungkal ke belakang, punggungku menabrak dinding.
Oke.
Ini bisa masuk ke pembelaan diri, kan?
Ya … kecuali di pengadilan, pembelaan diri tuh cuma valid kalau kita pakai kekerasan yang wajar. Menangkis ataupun menghajar balik.
Dan aku yakin membela diri dengan menyedot darah di lehernya, itu bakal kelihatan enggak rasional buat kebanyakan orang.
Tapi, ya sudah lah.
Aku kepalkan tangan. Gantungan kunci pink aku yang imut itu siap banget buat dijadikan senjata dadakan. Senyumku sudah menyengir lebih lebar, air liur pun hampir menetes.
Sial, aku benar-benar mau melakukan ini?
Otakku masih enggak bisa menerima kalau ini nyata. Kalau aku yang ini, benar-benar akan membunuh orang. Lenganku saja sudah siap bergerak buat menyabet.
“ROWENAAAA!” terdengar teriakan, suaranya kasar.
Dr. Darcel muncul dari balik tangga, menembus kegelapan seperti hantu. Seketika, aku pun bengong.
Bagaimana caranya dia bisa muncul secepat itu?
Kok dia tahu persis aku ada di mana?
Oh, iya.
Dia tahu rumah Audy.
Pantas.
Aku gertakkan gigi. Niat untuk membunuhnya pun malah semakin menjadi. Aku merangsek maju, menahan amarah agar tetangga enggak keluar memperhatikanku. Mata Audy langsung membesar melihatku maju dengan sesuatu di tangan.
Darcel mengumpat, terus tangannya langsung merebut pergelanganku. Aku pun terkejut, tubuhku seperti dipaku.
Dia cepat dan kuat banget. Tubuhnya menutupi pandanganku dari Audy, dan aroma dia … ah sial.
“Masuk, kunci pintu, dan lupain ini!” Aku dengar dia bilang ke Audy.
Beberapa detik kemudian pintu menutup rapat dan suara pintu terkunci pun terdengar jelas.
“Dia selalu segampang itu nurut sama kamu, ya?” celetukku. “Kalian berdua pacaran?”
Darcel cuma mengeluh sambil menenteng pergelanganku ke tempat parkir. Aku pelototi tangan dia yang memegangiku.
“Kamu enggak seharusnya bunuh resepsionisku!” katanya akhirnya. “Dan enggak, aku enggak tidur sama dia.”
Aku mencoba baca suaranya.
Marah?
Kesal?
Enggak.
Dia sama sekali kayak enggak peduli. Apa jangan-jangan dia mau cut aku sebagai klien?
Itu bakal membuatku makin susah bertemu dia.
“Kamu mau ngelaporin aku? Sejam lagi aku pasti udah masuk penjara karena pelanggaran pertama, terus ditambah yang ini—”
“Nothing happened,” kata Darcel. Dia tarik aku ke mobil dan menjepit tubuhku ke mobil. Logamnya panas banget di punggungku. Dia lepas pergelangan tanganku, membuat tanganku lemas.
“Apa?” Aku tatap dia.
“Enggak ada yang terjadi. Yang aku lihat, dia cuma dorong kamu. Itu pun enggak penting karena kalian berdua enggak bakal melapor. Dia bakal lupa, dan kamu enggak bakal ngulangin lagi!”
“Hah? Dia lupa gara-gara kamu yang nyuruh?” tanyaku. Dia memandangku lama, tatapan ungunya membuatku enggak nyaman. Ini pertama kalinya aku melihat dia di luar kantor.
Dan aku suka.
“Aku senang kamu ngechat aku, Rowena.” Suaranya melembut. Aku suka banget sama suara lembutnya. Tapi aku penasaran bagaimana suaranya kalau lagi marah. Mungkin aku bakal suka itu juga.
"Terus … sekarang apa?"
“Kamu pulang dan tidur,” katanya.
Aku mendengus dan melirik sinis. Tapi terus aku sadar ... dia datang, dia turunkan tensi drama ini, dan dia enggak bakal melaporkan aku. Aku langsung menatap matanya, “Cuma itu?”
“Ya, itu aja,” katanya, sembari tersenyum tipis. “Lain kali kabarin aku lebih awal. Biar aku sampai tepat waktu.”
Harusnya enggak ada lain kali. Tapi aku malah bertanya, “Lain kali?” sambil tersenyum.
Kok bisa ya kita kayak lagi flirting, padahal konteksnya percobaan pembunuhan?
Sial.
“Kamu enggak bisa mengubah siapa diri kamu,” kata Darcel.
Aku langsung menengok ke arah lain. Kenapa dia bisa bicara hal-hal kayak begitu?
Kenapa dia bisa terima aku segampang itu?
Sial … aku suka dia.
Aku suka banget.
“Pulang. Makan sesuatu yang masih merah. Mungkin itu bisa nurunin kadar nafsu membunuh kamu,” katanya santai.
“Berhenti,” desisku, mukaku panas seketika.
Aku benci banget bagaimana dia bisa membahas fetish darah aku yang absurd itu, kayak itu hal yang biasa saja. Dia malah tertawa melihat reaksiku.
“Kamu kelihatan lucu kalau kayak gitu,” katanya, dan mataku langsung melebar.
Lucu?
“Enggak,” celetuknya cepat, menyesal sama omongannya sendiri. Dia meringis, menutup mulut dengan tangannya. “Udahlah, pulang. Kamu udah melakukan yang terbaik malam ini, Rowena. Aku bangga karena kamu berani nge-chat aku. Karena kamu ngizinin aku bantu kamu.”
Kata-katanya menyentuhku.
Dia balik badan menuju mobilnya yang masih menyala.
Dia kemari sejauh ini cuma gara-gara aku. Buat menghentikan aku, buat menolongku. Dia bahkan enggak peduli sama Audy, cuma berdiri di samping mobilnya, menunggu sampai aku masuk ke mobilku.
Aku naik ke mobil dan pulang.
Begitu sampai rumah, aku rebahan di kasur, memegangi pergelangan tangan tempat tadi dia sempat menyentuhnya, dan memutar ulang percakapan itu di kepalaku berkali-kali.
Tidur selalu terasa susah buat aku, tiap malam. Tapi malam ini … aku ditemani seseorang yang membuat semuanya terasa berbeda. Aku terbayang bentuk bibirnya, warna matanya. Kata-katanya terus memenuhi kepalaku.
Dia punya banyak kesempatan buat membuangku malam ini kalau dia mau. Tapi dia enggak melakukan itu. Yang dia lakukan cuma … menyelamatkanku dari masalah. Terus dia memujiku.
Sial.
Aku benar-benar suka dia.
Aku ingin bertemu dia lagi. Sekarang juga. Aku penasaran dia tinggal di mana. Dan itu makin membuatku gila karena aku enggak bisa menemukan apa pun tentang dia.
Serius, satu-satunya tempat aku pernah lihat namanya, cuma di dokumen pengadilan. Aku harus mengecek barang-barangnya, menemukan sesuatu, apa pun itu, karena dia tuh terlalu sempurna.
Aku memang suka cowok nakal, tapi dia kebalikannya tipe aku.
Terus kenapa dia?
Kenapa dia senyum dan bilang aku hebat waktu aku berani membuka diri?
Dia dokter terapi yang ditunjuk pengadilan, tapi dia enggak punya website, enggak ada jejak digital. Dan soal Audy itu pun aneh. Dia kayak enggak tahu aku siapa. Dia lagi pakai obat-obatan apa bagaimana, sih?
Aku gelisah, berguling-guling di kasur, lalu buka HP.
Aku cari lagi namanya.
Nihil.
Aku coba lagi dan lagi, berharap ada sedikit info.
Awalnya cuma penasaran, tapi lama-lama berubah jadi obsesi.
Obsesi yang buruk.
Akhirnya aku mulai cari semua klinik psikiatri di daerah situ. Hal pertama yang muncul bahkan mengejutkanku adalah, Paragon Ravensland.
Aku berusaha enggak berpikir terlalu jauh, tapi aku selalu punya firasat aneh, suatu hari aku bakal berakhir di sana. Karena semua orang tertarik sama tempat itu.
Paragon Ravensland sebenarnya bukanlah rumah sakit jiwa.
Itu penjara.
Tempat untuk orang-orang yang dianggap gila dan memiliki jejak kriminal. Orang-orang bilang tempatnya berhantu, bahkan ada rumor kalau pasien-pasiennya saling memakan satu sama lain, alias kanibal.
Dengan bibir tergigit, aku pun mengetik, "Paragon Ravensland Asylum + Dr. Darcel."
Dan aku langsung terbangun dari kasur, terkejut sekali waktu Google memberi satu hasil tepat di paling atas.
Astaga.