"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan
“Tunggu...” suara Radit terdengar di belakangnya. Berat. Serak. Tapi tegas.
Rania menoleh. Ia melihat Radit berusaha berdiri dari sofa, tubuhnya masih limbung.
Satu tangannya bertumpu di meja, yang lain terulur… menahan Rania.
“Radit, kamu butuh istirahat—”
“Aku istirahat… kalau kamu di sini.”
Ia mencoba tetap sadar meski kepalanya berputar.
Langkahnya gontai, hampir jatuh. Tapi ia tetap memaksa mendekat. Lengan Rania pun ditariknya pelan, tidak kasar, tapi cukup kuat untuk menahan.
“Temani aku malam ini. Aku janji, enggak macam-macam.”
Rania terpaku. Hatinya bergetar, karena pria itu terdengar… rapuh.
“Radit…” Rania menggigit bibir. “Ini enggak seharusnya.”
“Aku cuma butuh seseorang di sebelahku. Aku cuma butuh kamu malam ini, Rania. Enggak lebih.”
Matanya yang berat karena alkohol menatap langsung ke dalam matanya.
“Kalau besok aku mati... aku mau kamu tahu satu hal.”
Rania mengerutkan alis. “Jangan ngomong aneh-aneh.”
Radit tertawa pelan, miris. “Aku serius. Aku siap lakuin apapun. Asal kamu tetap di sisiku. Kalau sesuatu terjadi... biar dunia tahu kamu perempuan yang kupilih.”
Rania membeku.
“Berhenti...” bisiknya. “Jangan ngomong kayak gitu, aku… aku takut.”
Radit mengerang pelan, lalu jatuh duduk kembali di sofa. Tangannya meremas rambut sendiri.
“Aku enggak tahu kenapa kamu bikin aku gila. Kamu mau lihat isi hatiku? Belah aja dada ini, Ran! Buka semua isinya! Pasti kamu bakal lihat nama kamu di mana-mana!”
Suasana sunyi sesaat.
Degup jantung Rania berdetak lebih keras.
Ia menggenggam ujung cardigan yang ia kenakan, ragu... tapi tak tega juga pergi.
“Kalau aku tetap di sini, kamu harus janji.”
Radit mendongak.
“Jangan bahas soal nikah lagi. Enggak malam ini. Enggak saat kamu mabuk dan kacau.”
Radit mengangguk cepat, seperti anak kecil yang takut ditinggal.
“Oke. Aku enggak akan bahas. Sumpah. Aku cuma... pengen kamu di sini.”
Akhirnya, Rania pun berjalan kembali ke sofa, duduk di ujung, dengan jarak yang masih aman.
“Ran…” katanya, pelan, nyaris seperti bisikan.
“Kalau hidup bisa aku pilih ulang… aku bakal milih hidup bareng kamu.”
Rania yang duduk tak jauh darinya, terdiam.
Ia tidak menanggapi. Ia hanya menunggu, membiarkan Radit melanjutkan ocehannya.
“Bayangin deh… kita punya rumah kecil di pinggir kota. Nggak perlu istana. Cukup yang ada kebun… ada pohon jeruk, ada bunga matahari yang kamu suka…”
Ia tertawa kecil.
“Pagi-pagi kamu masak… aku nyapu. Terus Aira main di halaman. Kita punya anak, dua aja cukup.”
Rania tersenyum pilu. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan. Ia tahu itu bukan pernyataan sadar, tapi tetap saja menyentuh.
“Kita nggak perlu bisnis. Nggak perlu saham. Nggak perlu keluarga yang nyuruh ini itu.”
Radit menghela napas, masih menatap langit-langit.
“Cuma aku… kamu… dan dunia kecil kita sendiri.”
Rania perlahan membuka mulutnya.
“Kalau kamu mau… kenapa enggak lakuin?”
Radit terdiam. Lalu dengan suara nyaris tenggelam, ia menjawab,
“…karena aku nggak bisa.”
Rania menoleh cepat. “Kenapa?”
Ia berharap jawaban. Bahkan siap menerima apapun…
Tapi detik itu juga, Radit telah tertidur.
Rania menunduk, menatapnya lama.
“Kenapa kamu harus pilih aku…” bisiknya.
Ia berdiri perlahan, lalu mengambil selimut dari dalam kamar dan menyelimuti tubuh Radit hingga rapat.
Setelah memastikan pria itu benar-benar tidur, Rania bergerak.
Dengan sabar, ia memunguti botol-botol minuman yang kosong, mengelap meja dari remahan, menyapu lantai, bahkan mengatur ulang bantal dan gorden agar ruangan lebih nyaman.
Setelah itu, ia masuk ke dapur kecil.
Memasak nasi dan sup sederhana, menyiapkan air putih di meja, dan meletakkan catatan kecil berisi tulisan tangan:
“Makan yang benar. Besok kamu harus sehat dan waras.”
Lalu ia membuka lemari pakaian Radit yang berantakan, memilih satu stel kemeja bersih, celana panjang, dan jas kasual yang bisa digunakan Radit untuk esok hari.
Semua ia letakkan rapi di kursi dekat sofa.
Sebelum pulang, ia kembali mendekat.
Menatap Radit yang masih tertidur pulas. Nafasnya tenang.
Rania menyentuh punggung tangannya sebentar.
Diam-diam ia berdoa… semoga pria itu baik-baik saja.
Dan dengan langkah pelan, ia pergi tanpa suara.
Meninggalkan pria itu sendirian di sana.
***
Pagi menyusup pelan ke balik tirai tipis jendela apartemen Radit. Sinar matahari hangat menyinari permukaan sofa yang berantakan, menyusuri lekuk-lekuk ruangan yang semalam kacau oleh amarah dan mabuk.
Radit menggeliat pelan di atas sofa. Kepalanya berat, tenggorokannya kering, dan dahinya berdenyut seperti dipukul benda tumpul.
“Aduh…” erangnya serak, sambil menekan pelipis sendiri.
Ia perlahan duduk. Matanya menyapu ruangan.
Rapi. Terlalu rapi untuk seseorang yang semalam mabuk berat dan tak sanggup berdiri tegak.
Di meja ada gelas air putih yang masih dingin, sepiring nasi dan sup yang sudah tak hangat, dan selembar catatan tulisan tangan.
Radit meraihnya dengan mata menyipit.
“Makan yang benar. Besok kamu harus sehat dan waras.”
Matanya membulat. “Rania…?”
Ia terdiam sesaat, mencoba mengingat.
Potongan-potongan memori mulai menyusup:
Wajah Rania yang muncul di ambang pintu.
Tangan lembutnya yang menopang bahu Radit.
Dan… sesaat sebelum ia tertidur, ia bilang…
“Kalau hidup bisa aku pilih ulang… aku bakal milih hidup bareng kamu.”
Radit langsung memukul dahinya pelan, beberapa kali.
“Bodoh! Aduh, Radit, kamu ngomong apa lagi semalam, hah?!”
Ia mendesah panjang, meremas rambutnya sendiri.
“Jangan bilang… aku sampai ngomongin rumah di pinggir kota? Anak dua? Kebun bunga matahari? Aaaarrgh!”
Ia jatuh terduduk ke sofa sambil menatap langit-langit.
Separuh ingin tertawa, separuh ingin hilang dari dunia.
Tapi matanya kembali menatap meja.
Makanan. Air putih. Catatan.
Dan, baju bersih yang sudah disiapkan dengan rapi di kursi.
Hatinya mencelos.
Pelan-pelan ia berdiri, lalu melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka. Beberapa saat kemudian, dengan baju yang sudah dikenakan, rambut setengah basah, dan ekspresi lebih waras, Radit berdiri di depan kaca sambil menatap dirinya sendiri.
“Kamu bego banget, Dit…” gumamnya.
Tapi tak ada nada menyesal.
Yang ada justru ketakutan.
Takut… kalau perasaan yang semalam ia ucapkan bukan cuma karena mabuk. Tapi karena itu memang benar.
Ponselnya bergetar.
Radit menoleh. Layar menampilkan nama yang membuat tubuhnya kaku.
"Papa."
Ia menarik napas dalam.
Pagi baru dimulai. Tapi pilihan-pilihan sulit itu, belum selesai.
Dengan tangan setengah gemetar, Radit mengangkatnya dan menempelkan ke telinga.
“Halo, Pa…”
Radit sudah siap dimarahi habis-habisan seperti biasanya. Tapi yang menyambut justru… nada bicara yang tenang. Terlalu tenang.
“Akhirnya kamu angkat juga. Apa kamu masih sibuk, Radit?”
“Enggak, Pa. Aku… udah lenggang.”
Ada jeda. Radit menunggu makian, tapi tak kunjung datang. Justru, suara papanya terdengar lebih datar, bahkan terkesan puas.
"Syukurlah. Karena aku ingin segera bertemu calon istrimu.”
Radit menegakkan tubuhnya, seolah baru saja tersambar petir.
“Apa, Pa?”
“Jangan pura-pura bodoh. Aku sudah bicara dengannya semalam. Suaranya tenang, penuh sopan santun, dan dia bisa meyakinkanku kalau kamu akan baik-baik saja.”
Radit membeku.
Semalam? Bicara? Sama siapa?
“Kamu benar, Dit. Dia beda dari perempuan-perempuan yang sebelumnya kamu dekati. Kalau dia memang perempuan pilihanmu… aku akan berikan semua hakmu. Saham, aset, perusahaan—semuanya akan jatuh ke tanganmu secepat mungkin.”
Radit masih tak bisa bicara. Otaknya memutar ulang semua kejadian semalam.
Mabuk… lalu tidur… lalu—telepon?
“Tunggu, Pa… maksud Papa, semalam… dia yang angkat teleponku?”
“Dia bicara dengan meyakinkan, Radit. Penuh kasih, tapi tetap tegas. Aku tidak tahu kenapa dia bisa bersamamu malam itu, tapi satu hal yang pasti: aku percaya padanya.”
Deg. Deg. Deg.
Radit bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
“Aku ingin kalian makan malam bersama di rumah akhir pekan ini. Aku dan Mamamu ingin bertemu langsung dengannya. Siapkan semuanya.”
“Pa… aku—”
“Jangan mengelak. Kamu sudah membuatku percaya. Sekarang tinggal kamu buktikan.”
Klik.
Sambungan diputuskan tanpa aba-aba.
Radit menjatuhkan ponsel ke meja.
Ia duduk kembali di sofa, mata menatap kosong ke depan.
“Apa yang barusan terjadi?”
Tangannya terangkat, mengusap wajah kasar-keras, seolah berharap ini cuma mimpi. Tapi tidak. Telinganya tidak salah dengar.
Rania. Rania bicara dengan papanya.
Bukan hanya itu…
Dia telah menyelamatkan Radit, dengan diam-diam. Meskipun sesaat.
Radit memejamkan mata, lalu mendesah panjang.
“Kenapa kamu selalu lakuin hal yang bikin aku makin nggak bisa jauh dari kamu, Ran?”