Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29 - Sudah Cocok
"Oh iya, Bunda. Mila nggak perlu ikut bahas?" tanya Mila sangsi.
"Enggak, Mil. Kamu di sini aja, bantu jaga kakak iparmu," jawab Oma dengan nada yang tak terbantahkan.
Para orang tua pun berpamitan. Namun, suasana menjadi sedikit riuh saat Levian tiba-tiba menangis dan memeluk kaki Valen, menolak untuk pulang. Melihat abangnya menangis, Leshia pun ikut-ikutan terisak karena tak mau berpisah dari Levian. Setelah diyakinkan oleh Valen, akhirnya Tante Lesti merelakan kedua anaknya tinggal bersama keponakannya itu.
Mereka semua kini berkumpul di dalam kamar rawat VVIP yang luas tersebut. Robi masih setia duduk di sisi ranjang, menyuapi April potongan buah dengan sangat telaten. April, meski tampak lelah, memancarkan aura kebahagiaan yang berbeda sejak tahu ada nyawa lain di rahimnya. Tasya dan Mutia duduk santai di sofa, sementara Dokter Naldy baru saja masuk setelah mendengar kabar heboh tentang rencana pertunangan sahabatnya.
"Makasih ya, Mil, Len... kalian sudah ikut panik tadi," ucap April lemah namun tersenyum tulus.
"Kita yang makasih, Kak," balas Mila sambil duduk di kursi sebelah ranjang, masih mendekap Leshia yang mulai tenang. "Kabar dari calon bayi Kakak benar-benar jadi penyelamat buat aku dan Kak Valen. Oma kayaknya langsung luluh gara-gara mau punya cicit."
Robi terkekeh, ia meletakkan mangkuk buahnya. "Gue juga kaget, Mil. Tadi gue pikir Oma bakal marah karena kita bikin heboh di rumah. Eh, malah kalian yang 'ditembak' suruh tunangan lusa. Lo siap nggak, Len? Mental lo aman?"
Valen tersenyum tipis, ia bersandar di tembok dengan gaya maskulinnya sambil menggendong Levian yang mulai mengantuk di pundaknya. "Selama targetnya adalah Mila, gue selalu siap, Bi."
"Kalian berdua pun sudah cocok nih bawa anak," celetuk Naldy sambil memeriksa infus April. Matanya melirik jenaka ke arah Valen dan Mila yang masing-masing sedang menggendong anak kecil. "Vibes-nya udah bukan tunangan lagi, tapi kayak pasutri muda yang lagi nunggu giliran imunisasi."
Wajah Mila seketika memerah sampai ke telinga. "Dokter Naldy! Jangan mulai deh."
"Tapi serius, Mil," sela Tasya dari sofa. "Persiapan dua hari itu nggak main-main. Kamu udah kepikiran mau pakai kebaya warna apa? Atau mau tema outdoor di kebun rumah?"
Mila menghela napas panjang, ia melirik Valen yang hanya membalasnya dengan senyuman tenang. "Jujur, kepalaku masih kosong, Sya. Aku baru aja mau napas lega karena sidang lulus, eh sekarang sudah harus siap-siap ganti status."
"Jangan dipikirin pusingnya," sahut Mutia menyemangati. "Kita berdua siap jadi seksi sibuk. Pokoknya kamu tinggal duduk manis, tahu-tahu cincin sudah melingkar di jari."
April memegang tangan Mila lembut. "Mil, dengerin aku. Jangan jadikan ini beban seperti skripsi kemarin ya? Jalani saja pelan-pelan. Valen itu orangnya perfeksionis, dia nggak akan biarkan acara kamu berantakan."
Valen menatap Mila dengan tatapan yang sangat dalam, seolah memberikan janji bisu bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Betul kata April. Besok pagi, setelah Dokter Naldy kasih izin April pulang, aku akan jemput kamu. Kita cari cincin yang paling sederhana tapi paling bermakna buat kamu. Oke?"
Mila akhirnya tersenyum kecil dan mengangguk. "Oke, Kak."
Di tengah obrolan hangat itu, Levian yang berada di gendongan Valen tiba-tiba mengigau kecil, "Om Valen... jangan lupa es krimnya..." membuat seisi ruangan pecah dalam tawa yang ringan. Di balik putihnya dinding rumah sakit, malam itu terasa jauh lebih indah dari hari-hari sebelumnya.
Suasana di dalam kamar rawat April perlahan mulai mencair. Naldy, setelah memastikan tetesan infus April mengalir dengan tepat, kembali memeriksa data di tablet medisnya.
"Kabar baik, Bi," ucap Naldy sambil menoleh ke arah Robi. "Kondisi April membaik lebih cepat dari perkiraan gue. Jadi, nggak perlu nunggu besok pagi. Malam ini kalau obat penguatnya sudah masuk semua dan mualnya benar-benar reda, dia sudah boleh pulang. Tapi ingat, syaratnya mutlak: April nggak boleh capek sama sekali. Urusan persiapan tunangan lusa, dia cuma boleh jadi penonton."
_______
Ditunggu part selanjutnya ya Guys
Love you All ❤️