NovelToon NovelToon
SISTEM TAJIR

SISTEM TAJIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Berondong
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Dimas menerima bola servis dan tersenyum puas. Ia merasa jauh lebih nyaman kali ini, seperti tubuhnya sudah menyatu dengan ritme permainan. Pelatihnya yang berbadan gemuk sempat menasihatinya di ruang istirahat tadi, tapi sebagian besar ucapannya hanya lewat di telinga.

Kurasa dia cuma nyuruh aku menghabisi tiga spiker mereka secepat mungkin tanpa kasih mereka satu poin pun, pikir Dimas sambil menarik napas panjang.

Ia berdiri di tepi lapangan voli, di bawah sorotan lampu terang dan sorakan penonton yang memadati tribun. Universitas Indonesia menjadi tuan rumah, dan pertandingan ini adalah laga klasik Universitas Indonesia vs Universitas Dakarta, rival bebuyutan di semua cabang olahraga.

Kalah dari mereka dalam hal akademik sudah biasa, tapi kalah di lapangan voli? Itu aib.

Di bangku cadangan Universitas Dakarta, suasana muram. Tak ada strategi yang bisa menghentikan servis super cepat Dimas, bahkan kapten mereka yang terkenal tangguh pun hanya bisa terdiam.

"Dimassss!"

"Dimas!"

Sorakan dari tribun tuan rumah menggema keras. Semakin lawan ragu-ragu, semakin panas semangat penonton. Bahkan beberapa dosen ikut turun menonton dari tribun VIP untuk melihat fenomena ini.

Dimas berdiri dengan santai di belakang garis servis. Tak ada pemain lawan yang berani menatap matanya. Saat ia menunduk sebentar, pikirannya malah melayang: Nanti pulang beli HP apa ya? Nokia kayaknya awet deh.

Namun begitu peluit berbunyi, fokusnya kembali. Ia melempar bola tinggi, melangkah ke depan, dan memukul dengan ayunan penuh tenaga.

Zwoop!

Bola melesat deras, menukik tajam ke area belakang lawan.

“ACE!” teriak wasit.

“Brengsek…” gumam spiker lawan sambil menendang lantai dengan frustrasi.

Sorakan yang tadi bergemuruh tiba-tiba hening. Semua mata tertuju pada Dimas. Ia menatap ke arah tribun, tersenyum, lalu meletakkan telunjuk di bibirnya tanpa berkata sepatah pun.

“Shhhh…”

Begitu penonton melihat gestur itu, stadion langsung meledak lagi dalam teriakan dan tepuk tangan. Mereka tahu, bintang baru voli kampus sudah lahir.

Meskipun menikmati momen itu, Dimas tahu ia harus segera menuntaskan set ini. Ia masih punya tugas kuliah yang menunggu dan bonus dari “sistem” kalau bisa menyapu bersih pertandingan.

Ia mengambil bola lagi, memantulkannya di lantai, lalu memukul dengan putaran sempurna.

Zwoop!

“ACE!”

Lawan bahkan tak sempat bereaksi.

Ia mengulanginya sekali lagi.

Zwoop!

“ACE!”

“OUT! Universitas Dakarta kalah!”

Jika Universitas Dakarta berhasil merebut satu set lagi, pertandingan akan seri. Dimas tak akan punya kesempatan servis di set penentuan. Tapi semua orang tahu menahan servis Dimas sama saja seperti mencoba menangkap petir dengan tangan kosong.

Pelatih Dakarta memanggil spiker ketiganya, menepuk bahunya, dan berbisik di telinganya sebelum ia masuk lapangan. Spiker kedua sudah berdiri di depan net, wajahnya tegang. Ia pernah menerima smash Dimas di set pertama, dan itu hampir membuat jarinya keseleo.

Peluit berbunyi.

“Servis Universitas Indonesia!”

Dimas memantulkan bola dua kali, lalu melompat tinggi.

WHAAM!

Bola melesat cepat dan menukik tajam di depan libero lawan.

“ACE!” teriak wasit.

“20–16!”

Sorakan pun pecah. Penonton Universitas Indonesia bergetar dengan teriakan serempak.

“Dimassss! Dimassss!”

Dimas menatap lapangan dengan tatapan fokus. Pelatih Henry memberi isyarat jempol dari pinggir lapangan satu poin lagi, dan set ini berakhir.

Spiker kedua lawan bersiap menerima servis berikutnya. Ia menunduk, menarik napas, lalu menegakkan tubuhnya. Tapi begitu Dimas melompat lagi dan memukul bola...

Zwooop!

Bola menukik di antara dua pemain belakang lawan. Mereka bahkan tak sempat bergerak.

“ACE! Point match!”

Skor 24–16. Hanya butuh satu poin terakhir.

Pelatih lawan memanggil time-out singkat, mencoba menenangkan pemainnya. Tapi wajah spiker ketiga yang baru masuk menggantikan libero justru semakin pucat. Pelatih Henry tersenyum kecil, tahu ini akhir permainan.

Dimas kembali ke garis servis. Ia menggenggam bola, memejamkan mata sebentar, lalu tersenyum.

Ia melompat tinggi.

Tangannya memukul bola dengan rotasi sempurna.

WHOOOSH!

Bola meluncur deras ke sisi kiri lapangan.

Spiker lawan mencoba menyelamatkan bola dengan diving tapi gagal. Bola jatuh menyentuh lantai tepat di garis.

“OUT! GAME SET! Universitas Indonesia menang!”

“Whoaaaaah!!”

Sorakan menggelegar.

“Dimasssss!! Dimas MVP!!”

Dimas menatap ke arah tribun, mengangkat telunjuk di depan bibirnya.

“Shhhh…”

Semua penonton semakin menggila, bendera kampus berkibar, dan pelatih Henry langsung berlari ke tengah lapangan, memeluk Dimas erat-erat.

“Cepat keluar lewat belakang, Dim! Penonton udah mulai turun ke lapangan!” katanya sambil menyelipkan kunci mobil Dimas ke tangan Dimas.

Tanpa pikir panjang, Dimas berlari melewati koridor sempit di sisi gedung olahraga, keluar lewat pintu belakang. Dari kejauhan, sorak-sorai dan musik kemenangan masih terdengar bergema.

Ia masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan melaju pelan menjauh dari kampus Universitas.

Setelah beberapa menit, suara sistem muncul.

Tulisan digital itu membuat matanya melebar.

[Misi Selesai. Grade: S — Raih MVP di Pertandingan Voli Mahasiswa]

Hadiah: Rp7.000.000.000 (tujuh miliar rupiah)

1
Rai Rainadus
lanjutkan cerita nya sampai tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!