NovelToon NovelToon
Rebut Saja Suamiku

Rebut Saja Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:72k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Aku Bayar DP-nya, Tapi Kamu Bayar Belanjaannya, Mas.

Siang itu, matahari Jakarta bersinar terik, menyoroti jalan menuju kehancuran finansial Arga yang semakin dekat. Mitsubishi Pajero Sport hitamnya melaju perlahan memasuki area parkir Grand Indonesia.

Di balik kemudi, wajah Arga terlihat cerah. Beban pikiran tentang uang sejenak terangkat karena janji manis Nadinta bahwa dia akan membelikan baju baru sebagai hadiah.

Arga merasa strateginya berhasil: mengalah sedikit soal konsep foto prewedding untuk mendapatkan keuntungan belanja yang lebih besar. Kemudian membuat Nadinta membayar DP untuk foto Pre-wedding.

Arga memarkirkan mobilnya di area valet. Dia melemparkan kunci ke petugas dengan gaya santai, merasa dompetnya aman hari ini.

"Yuk, Mas," ajak Nadinta riang, membuka pintu mobil.

Mereka berjalan masuk ke dalam mall yang dingin. Aroma parfum mahal dan AC sentral langsung menyambut mereka.

"Kita langsung ke butik baju aja ya, Mas. Aku udah list beberapa toko yang bagus," kata Nadinta sambil menggandeng lengan Arga.

"Siap, Bos. Aku ngikut aja," jawab Arga sambil tersenyum lebar.

Mereka masuk ke sebuah department store kelas atas. Nadinta berjalan di depan, langkahnya ringan. Dia berhenti di rak kemeja pria berbahan linen Italia.

"Mas, coba lihat ini. Warnanya sage green, bagus banget buat kulit Mas," ujar Nadinta, menempelkan kemeja itu ke dada Arga.

"Harganya lumayan sih, satu setengah juta. Tapi kan aku yang bayarin, jadi ambil aja."

Arga tersenyum lebar. "Serius, Din? Mahal lho."

"Nggak apa-apa, Mas. Sekali-sekali," kata Nadinta enteng. Dia mengambil dua warna sekaligus.

"Yang navy juga bagus. Ambil dua ya?"

"Boleh," jawab Arga, menahan senyum lebar.

Mereka berpindah ke rak celana. Nadinta memilihkan celana chino premium seharga dua juta. Lalu ke bagian sepatu, Nadinta memilihkan loafer kulit seharga empat juta. Arga menurut saja, menikmati peran sebagai boneka yang didandani.

Setelah puas memilihkan untuk Arga, Nadinta beralih ke bagian wanita.

"Mas, aku juga mau beli dress baru ya? Biar serasi sama kemeja Mas," izin Nadinta. "Sekalian sama aksesorisnya."

"Ambil aja, Sayang. Ambil yang paling cantik," kata Arga royal, masih berpikir bahwa semua itu akan ditanggung oleh uang Nadinta.

Nadinta mengambil tiga potong dress sutra, sebuah syal cashmere, dan beberapa aksesoris anting. Wanita itu melemparkan seluruh barang-barangnya ke keranjang belanja yang dibawa oleh Arga, memimpin perjalanan mereka berdua dengan langkah yang berani.

Satu toko ke toko yang lain, perjalanan yang semula terasa menyenangkan mulai terasa menyiksa bagi Arga. Tumpukan belanjaan di tangan pria itu semakin tinggi dan berat.

"Udah semua?" tanya Arga saat Nadinta berhenti memilih. Wajahnya tampak begitu letih.

Nadinta tampak hening sejenak, jari telunjuknya menekan bibir bagian bawah, memberi gestur seolah ia sedang berpikir.

"Kayanya udah, Mas. Yuk, bayar," ajak Nadinta.

Akhirnya.

Arga bernapas lega.

Mereka berjalan menuju kasir utama. Antrean cukup panjang siang itu. Arga berdiri santai di belakang Nadinta sambil memegang semua barang, bersiul pelan mengikuti lagu yang diputar di toko. Dia merasa hidupnya sempurna.

Detik demi detik, menit demi menit berlalu, akhirnya giliran mereka tiba.

"Selamat siang, Kak. Silakan," sapa kasir ramah.

Arga meletakkan tumpukan baju itu di meja kasir. "Semuanya ya, Mbak."

Kasir mulai memindai barcode satu per satu. Beep. Beep. Beep.

Angka di layar kasir terus bertambah dengan cepat.

2 Juta... 5 Juta... 8 Juta...

Arga melihat angka itu dengan santai. Bukan uang dia ini, pikirnya.

"Totalnya sembilan juta empat ratus lima puluh ribu rupiah, Kak," ucap kasir sambil tersenyum.

Rp 9.450.000.

Nadinta, yang berdiri di depan meja kasir, membuka tas tangannya. Dia merogoh ke dalam, mencari dompetnya.

Satu detik. Dua detik.

Gerakan tangan Nadinta mulai terlihat panik. Dia mengeluarkan dompet kosmetik, tisu, kunci apartemen, tapi tidak ada dompet panjang yang keluar.

"Lho?" gumam Nadinta.

"Kenapa, Din?" tanya Arga, masih tenang.

"Dompet aku..." Nadinta menoleh pada Arga, wajahnya pucat pasi. "Dompet aku nggak ada, Mas."

"Hah? Coba cari lagi. Nyelip kali," kata Arga, mulai merasa tidak enak.

"Udah aku cari! Nggak ada!" suara Nadinta mulai bergetar panik. "Ya ampun... jangan-jangan jatuh di mobil pas aku ambil lipbalm tadi?"

Kasir menatap mereka menunggu. Orang-orang di antrean belakang mulai menjulurkan leher, mendesah tidak sabar.

"Mbak, sebentar ya. Saya cek ke mobil dulu," kata Nadinta pada kasir, lalu menoleh ke Arga dengan wajah sangat cemas.

"Mas, aku cari dulu di sekitar mobil ya? Mungkin jatuh di sana..."

Arga berdecih kesal. "Yaudah buruan. Aku tunggu sini."

"Oke. Jagain barangnya ya!"

Nadinta mengangguk, lalu berbalik dan berjalan cepat keluar toko, meninggalkan Arga sendirian di depan kasir bersama tumpukan belanjaan yang belum dibayar.

Arga berdiri kaku. Dia tersenyum canggung pada kasir.

"Sebentar ya, Mbak. Dompetnya ketinggalan," kata Arga.

Kasir mengangguk sopan, meski wajahnya mulai terlihat lelah. Antrean di belakang makin panjang.

Satu menit berlalu. Tiga menit. Lima menit.

Arga mulai gelisah. Dia mengecek ponselnya. Tidak ada kabar dari Nadinta.

"Mas, masih lama?" tanya seorang ibu-ibu di antrean belakang dengan nada ketus.

"Sebentar, Bu. Lagi diambil," jawab Arga, keringat dingin mulai menetes.

Arga merasa tertekan. Dengan tangan yang gemetar, pria itu mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan pada Nadinta dengan segera.

Berdering...

Arga melihat status pada panggilan pertama. Berdering memang, namun tak diangkat. Menyadari hal itu, Arga langsung melakukan panggilan ulang.

Memanggil...

Namun, kali ini status panggilannya berubah. Yang semula berdering menjadi memanggil. Menandakan bahwa kemungkinan orang di seberang sana telah menonaktifkan perangkatnya untuk sementara.

Nadin sialan!

Dia merogoh sakunya, mengambil dompet kulit cokelat kesayangannya. Dia tahu, saat ini rekeningnya kosong. Kartu kreditnya mati. Ketika dompetnya dibuka, Arga semakin menciut.

Hanya ada satu lembar uang seratus ribu rupiah, uang yang rencananya akan dia gunakan untuk membeli makan siang nanti.

Dia menatap kasir yang menatapnya dengan tatapan menuntut.

"Jadi gimana, Pak? Mau dibayar sekarang atau saya batalkan?"

Arga menelan ludah. Wajahnya merah padam. Dia tidak bisa bilang "saya tidak punya uang" di depan antrean panjang ini. Dia sudah terlanjur bergaya necis dengan baju branded-nya.

"Ehm... sebentar, Mbak. Saya... saya telepon dulu," Arga mundur dari kasir, membiarkan orang lain maju. Dia berdiri di pojokan toko dengan tangan gemetar.

Dia mencoba menelepon Nadinta sekali. Kali ini, masih tidak diangkat.

"Sialan!" umpat Arga.

Dia tidak punya pilihan lain. Dia butuh uang sekarang juga untuk menyelamatkan mukanya. Dia tidak bisa keluar dari toko ini tanpa membawa belanjaan itu, atau dia akan terlihat seperti penipu.

Arga membuka kontak ponselnya. Hanya ada satu orang yang mungkin punya uang cash atau limit kartu kredit yang bisa dia pinjam saat ini.

Maya.

Dengan harga diri yang hancur lebur, Arga menekan tombol panggil.

"Halo, May?" suara Arga bergetar.

"Halo, Beb? Kenapa? Tumben nelpon siang-siang," suara Maya terdengar riang, mungkin sedang di salon.

"May... tolongin aku. Urgent banget," bisik Arga, menutup mulutnya dengan tangan agar tidak didengar orang. "Kamu... kamu bisa transferin aku uang nggak? Atau... kamu lagi di mana? Bisa ke Grand Indonesia sekarang?"

"Hah? Uang? Berapa?" nada suara Maya berubah waspada. "Kamu kenapa? Kecopetan?"

"Bukan... aku lagi belanja baju buat... buat acara kantor," bohong Arga, tidak berani bilang baju prewed.

"Dompet aku ketinggalan, kartuku error semua. Aku butuh 10 juta. Please, May. Malu banget aku ditahan di kasir."

Hening sejenak di seberang sana.

"Sepuluh juta? Gila kamu, Ga! Aku mana ada uang segitu cash sekarang? Uang arisan udah aku pake belanja kosmetik kemarin!"

"Pake kartu kredit kamu, May. Nanti aku ganti, sumpah. Bulan depan aku ganti lebih. Tolonglah, May. Aku nggak bisa keluar dari sini."

Terdengar helaan napas kasar dari Maya. "Ya ampun, Arga. Kamu tuh ya, gaya doang selangit tapi dompet kosong. Yaudah, aku ke sana. Kebetulan aku lagi di Plaza Indonesia, deket. Tapi awas ya kalau nggak diganti!"

"Iya, May. Makasih banget. Aku tunggu di lobby Arjuna."

Arga mematikan telepon. Dia merasa sangat kecil. Dia harus menunggu selingkuhannya datang untuk menyelamatkannya dari tagihan belanjaan tunangannya.

Arga berjalan keluar toko dengan tangan kosong, meninggalkan belanjaan di kasir dengan alasan "mau ambil uang di ATM". Dia berjalan menuju lobi dengan langkah gontai.

Sementara itu, di lantai atas, di railing kaca yang menghadap ke atrium lobi.

Nadinta berdiri tenang sambil memegang segelas iced coffee. Dia tidak pergi mencari ke sekitar mobil. Dia juga tidak kehilangan dompet. Dompetnya ada di dalam tas, terselip aman di saku rahasia.

Dari ketinggian itu, dia melihat Arga yang sedang berdiri gelisah di lobi, mondar-mandir seperti setrikaan panas. Wajahnya pucat, keringatnya bercucuran.

Nadinta menyesap kopinya, kemudian menatap ponselnya yang telah sepenuhnya dalam kondisi mati daya.

"Kasihan sekali kamu, Mas." gumam Nadinta tanpa rasa kasihan sedikitpun.

Tak lama kemudian, dia melihat Maya datang dengan tergesa-gesa, wajahnya masam. Maya menghampiri Arga, menyerahkan kartu kreditnya dengan kasar, lalu memarahi Arga. Arga terlihat memohon-mohon, menunduk malu.

Nadinta tersenyum miring.

Pemandangan itu jauh lebih memuaskan daripada belanjaan apapun. Arga yang "kaya" kini mengemis pada Maya. Dan Maya yang "matre" kini terpaksa membiayai Arga.

Lingkaran setan mereka sudah sempurna.

Nadinta menyesap kopinya untuk yang terakhir kali.

Satu sama, Mas.

1
Afriyeni
nggak usah mikir cicilan. Entar kamu gadaikan aja semua buat bayarnya termasuk harga dirimu, Arga 🤣
Afriyeni
gak bakalan bisa nolak nih si Arga, Nadinta ikut ngomporin🤭
Afriyeni
Kevin, kamu marketing yg handal. Rayu terus si Arga biar dia jadi beli
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
haha mampus klean, nantikan eksekusi dr nandita 😌
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
mokondo banget si Arga, buaya buntung 🤣
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
drpd emosi mending kau kredit aja mobil baruuu 😌
PrettyDuck
siap2 arga. nanditamu yang manis dan baik hati udah gak ada lagi. yg ini nandita eksekutor /Shhh/
PrettyDuck
darah dingin juga nandita itu 🥲
tapi mungkin dendamnya udah besar banget ya karena arga udah jahat bgt sama dia.
PrettyDuck
gara2 ini ternyata dia jadi mokondo matre 😑
MARDONI
Kalimat terakhirnya bikin MERINDING 😭🔥 “pemicu kehancuran finansial Arga” fix ini bakal meledak. Deg-degan nunggu kelanjutannya, author!
MARDONI
Aduh, opening kantinnya kerasa hidup banget 😭🍽️ aku kayak ikut berdiri di antrean sambil denger suara piring dan tawa karyawan. Gedung Lumina tuh rasanya nyata banget di kepalaku.
Greta Ela🦋🌺
Memang sudah sepantasnya kamu bangkit, Nadin. Orang kayak kamu ini gak pantas dipijak pijak kayak gini
Greta Ela🦋🌺
Beliau ini datang2 malah main nyenggak
Greta Ela🦋🌺
Bagus nih, biar kena imbasnya lo Rudi
Greta Ela🦋🌺
Kenapa ya diperusahaan itu pasti ada aja atasan yang ngeselin kayak gini. Coba dia aja deh yang ngerjain semua full 100%, apakah dia sanggup?
Greta Ela🦋🌺
Syukurlah Nadin gak terjerumus kedalam emosi.
Greta Ela🦋🌺
Good girl, Nadinta.
Greta Ela🦋🌺
Jangan maksakan kayak gitu ga sih. Kalau mau cepat ya kerjakan lah sendiri. Mana nyuruhnya jangan lelet gitu
Greta Ela🦋🌺
Pasti suara sepatunya Tak💸tak💸tak💸
Noname
meski nga tertulis, senyum iblis Nadita tergambar dengan jelas 😈.
dengan ingatan masa lalunya, eksekusinya juga semakin mantap.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!