Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
ThorneNet Secure – Divisi R&D
Pagi itu, ruang rapat dipenuhi teknisi dan kepala tim pengembangan. Semua mata tertuju pada satu hal yang tidak biasa, prototipe alat pengendali rumah pintar yang masuk dari jalur independen, tanpa sponsor, tanpa afiliasi, dan… terlalu canggih untuk disebut “proyek rumahan.”
“Dia menolak video call?” tanya Alexander, suaranya tetap tenang.
Ava mengangguk. “Ya, Sir. Kami sudah mencoba menjadwalkan dua kali. Tapi dia hanya menjawab lewat email.”
Alexander menarik napas dalam-dalam, lalu menatap layar besar di depannya. Di sana terpampang salinan email terakhir dari Leo Arden.
From: Leo S. Arden
To: R&D@thornenet.secure
Terima kasih atas minat Anda pada alat saya.
Maaf, saya tidak menerima panggilan video atau pertemuan langsung.
Saya ingin menjaga privasi demi alasan keluarga.
Jika Anda tertarik dengan prototipe saya, saya bersedia memberikan lisensi penuh dengan syarat:
Semua komunikasi dilakukan melalui email.
Tidak ada permintaan identitas pribadi.
Saya akan mengatur pembaruan firmware dan kontrol pusat secara remote.
Hormat saya,
Leo Arden
Alexander menatap email itu lama.
Tidak ada jejak IP, tidak ada wajah, tidak ada suara.
Hanya kecerdasan. Dan batas.
“Bagaimana reaksinya saat tahu kita tertarik bekerja sama?” tanya Alexander lagi.
Ava tersenyum tipis. “Dia hanya membalas: ‘Kita mulai dengan proyek kecil dulu.’ Dan mengirim sketsa sistem pengunci keamanan suara bertenaga AI.”
Alexander tersenyum samar. Jarang.
“Beritahu tim legal. Kita akan kerja sama. Kirimkan kontrak dengan nama ‘Leo Arden’, sesuai syaratnya.”
“Tanpa identitas?”
“Tanpa identitas.”
Ava terdiam sesaat, lalu bertanya, “Sir... Anda yakin ini bukan jebakan atau penipuan?”
Alexander menatap kembali ke prototipe kecil di mejanya. Sudah diuji. Tidak ada lubang. Tidak ada cacat. Hanya... kejeniusan bersih.
“Tidak. Ini bukan penipuan. Ini… potensi.”
---
Sementara itu…
Di kamar kecil apartemen mereka, Leon menyalakan monitornya dan membaca balasan resmi dari kantor pusat ThorneNet:
Kami menyetujui syarat kerjasama. Kontrak akan dikirim hari ini. Kami menantikan proyek awal dari Anda, Mr. Arden.
Leon menyandarkan punggung ke kursi. Di mejanya tergeletak cetak biru dari dua alat selanjutnya, chip pengenalan pola suara dan perangkat pemetaan suhu ruangan berbasis penggerak akustik.
Ia menatap layar dengan sorot tenang, lalu tersenyum tipis.
“Terima kasih, Papa,” bisiknya.
“Karena percaya padaku…
…tanpa tahu aku siapa.”
Leon tidak akan membiarkan siapa pun tahu identitas aslinya.
Bukan sekarang.
Mungkin tidak pernah.
---
Di kantor pusat…
Alexander berdiri di balik kaca, menatap langit Antwerpen yang kelabu.
Dia tak tahu siapa Leo Arden sebenarnya.
Tapi dia tahu satu hal dengan pasti.
Anak itu jenius.
Dan anak itu…sedang dalam pencarian teratas di semua perusahaan pengembangan sistem.
***
Hari itu, langit Antwerpen mendung seperti biasa. Elena tengah menyusun ulang dokumen presentasi saat Alexander keluar dari ruangannya dengan ekspresi serius.
“Elena. Siapkan diri. Kita akan meeting dengan Direktur BioMatrix di distrik utara,” katanya datar.
“Sekarang, Sir?”
Alexander hanya mengangguk, lalu terus berjalan. Elena pun buru-buru mengambil tablet dan tasnya, mengikuti langkah cepat pria itu tanpa banyak tanya.
Di dalam mobil, suasana hening seperti biasa. Alexander menyetir sendiri. Elena duduk di sebelah, fokus memeriksa ulang agenda di tangannya.
Meeting berjalan lancar, secara teknis. Mereka dijamu di ruang rapat mewah dengan pencahayaan hangat, disuguhi anggur putih ringan dan hidangan kecil. Tapi Alexander hanya menyesap seteguk untuk menghormati tuan rumah. Elena bahkan tidak menyentuh gelasnya.
Yang tidak mereka tahu… minuman itu sudah diracuni, bukan untuk membunuh, tapi untuk mempermalukan.
Dan targetnya jelas Alexander Thorne.
---
Satu jam setelah pertemuan
Dalam perjalanan pulang, Alexander menggenggam erat kemudi. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya, meski suhu dalam mobil sangat sejuk. Dadanya sesak, dan tubuhnya mulai terasa... aneh.
“Elena,” katanya pelan.
“Ya?” Elena menoleh, baru menyadari wajah pria itu sedikit pucat dan rahangnya mengeras.
Alexander melirik ke kaca spion. Sebuah sedan hitam melaju tepat di belakang mereka. Jaraknya terlalu dekat. Tak wajar.
Tatapannya langsung tajam.
“Reporter... atau orang suruhan,” gumamnya. “Ini jebakan.”
“Maksud Anda?” Elena bingung.
Alexander tidak menjawab. Ia langsung menginjak pedal gas dalam-dalam.
Mobil melaju cepat, meliuk di antara jalanan kota, melewati lampu lalu lintas, membuat Elena nyaris kehilangan keseimbangan.
“Tuan Thorne, apa yang Anda lakukan?” seru Elena, mulai panik.
Alexander hanya fokus pada jalan. Tangannya mencengkeram kemudi, tubuhnya mulai panas, jantungnya berdetak keras tak terkendali. Keringat membasahi kerah kemejanya.
“Kalau aku tertangkap dalam kondisi seperti ini...” katanya dalam gumaman, “...dunia akan menuduh lebih dari sekadar kesalahan.”
Mobil di belakang mereka mulai mengecil. Alexander memutar ke jalan kecil, lalu memasuki jalur pribadi menuju sebuah vila tersembunyi di pinggir kota.
Begitu gerbang otomatis terbuka, ia langsung melajukan mobil masuk dan menutupnya rapat. Tak ada satu pun mobil lain yang mengikuti. Mereka aman. Untuk sementara.
---
Di dalam rumah
“Elena, masuklah. Tunggu di ruang tengah,” ucap Alexander pelan, tapi tegas.
Elena menatapnya dengan wajah kebingungan. “Tuan Thorne, ada apa dengan Anda?”
Alexander membuka kancing kemejanya. Matanya mulai merah, napasnya berat. “Tunggu di bawah,” katanya cepat. “Saya butuh... beberapa menit. Jangan ikut.”
Ia berjalan cepat, hampir seperti terhuyung, menuju tangga.
Elena berdiri mematung di depan sofa. Ruangan itu sunyi, elegan, dan hangat. Tapi atmosfernya terasa menekan. Ada sesuatu yang tidak beres.
Ia memandangi tangga tempat Alexander baru saja naik dengan tubuh yang tidak stabil.
Ada sesuatu dalam dirinya yang ingin naik dan memastikan dia baik-baik saja.
Tapi insting lainnya, yang lebih dingin, menyuruhnya diam. Karena pria itu sedang dalam kondisi yang rapuh, dan Elena tahu… Alexander tidak suka terlihat rapuh.
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya