Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Panik
Keesokan harinya setelah Ameera meninggalkan rumah. Kehebohan terjadi di rumah itu. Sepanjang malam Caleb masih berharap Ameera akan pulang. Caleb tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya kalau Ameera, istrinya tidak pulang.
Akibat terus memikirkan bagaimana cara membujuk Ameera agar mau kembali ke rumah. Meskipun dia sendiri belum tahu dimana keberadaan anak dan istrinya. Membuat Caleb begadang sepanjang malam, sehingga keesokan harinya kesiangan.
"Caleb!" teriakan Bu Rina dari dalam kamar mengagetkannya yang tengah membuat sarapan. Spontan, Caleb berlari ke kamar ibunya meninggalkan kompor yang masih menyala.
"Ada apa, Bu, teriak-teriak!" serunya kesal.
"Ibu mau mandi, dari kemarin sore Ibu belum mandi. Eh, itu bau apa? Kamu lagi masak apa, Cal?" aroma telur dadar yang gosong menguar begitu kuat hingga tercium sampai ke kamar ibunya.
Caleb terlonjak kaget menyadari keteledorannya. Secepat kilat dia berlari ke dapur berusaha menyelamatkan telur dadar itu.
"Sial! Benar-benar, sial!" makinya saat melihat telur dadar untuk sarapannya sudah hitam karena gosong. Buru-buru dia mematikan api kompor. Kepulan asap memenuhi ruang dapur membuatnya terbatuk.
"Caleb, Ibu lapar. Kamu lagi masak apa? Ya, ampun, Cal, kamu mau buat rumah ini terbakar ya." seru Bu Rina terbatuk-batuk karena asap.
"Ini semua gara-gara, Ibu. Caleb tadi lagi masak sarapan. Lalu, ibu teriak-teriak memanggilku. Nah, begini jadinya." sentaknya kesal. Untuk memasak ulang hanya dua butir telur itu yang ditemukannya di kulkas.
"Coba kalau Ameera tidak pergi, semua ini tidak akan terjadi." guman Bu Rina geram. Membuat Caleb semakin emosi.
"Ame lagi, lagi-lagi Ame! Biar saja perempuan sial itu pergi dari rumah ini!" Caleb melemparkan kain lap di tangannya ke atas meja makan mendengar ucapan ibunya.
Disaat hatinya kesal dan emosinya memuncak belum lagi rasa panik yang melanda, ibunya malah mengingatkannya tentang istrinya yang minggat.
"Bu, kalau ibu mau sarapan, sarapan saja. Aku sudah telat mau ke kantor." seru Caleb bergegas menuju kamar.
"Apa? Kamu menyuruh Ibu sarapan dengan telur gosong!" beliak Bu Rina.
"Kalau Ibu doyan. Lagian Ibu yang pegang uang." sahut Caleb datar.
"Tapi Ibu mau mandi, Cal. Badan Ibu sudah gerah dari kemarin sore gak mandi." protes Bu Rina.
"Bu, Aku udah telat mau ke kantor. Mana mau ada rapat pertemuan lagi. Aku tidak sempat lagi mengurus, Ibu." Caleb mengambil benda pipih dari kantong piyamanya. Menekan nomor menghubungi adiknya.
"Bu, Jenni akan datang membantu ibu setelah mengantar si kembar sekolah," ucap Caleb lantas bergegas ke kamarnya tanpa memberi kesempatan ibunya lagi ketika mau protes.
Belum beberapa hari Ameera pergi, kekacauan sudah melanda rumah ini. Selama ini semua berjalan lancar berkat tangan istrinya yang mengatur semuanya.
Makin kesini makin membuat sesak hati Caleb, mengingat perlakuannya dan keluarganya yang tidak menghargai pengorbanan istrinya.
Hari pertama setelah istrinya minggat segalanya menjadi kacau. Entah dimana keberadaan anak istrinya saat ini. Semua temannya sudah ia hubungi siapa tau ada yang melihat keberadaan anak dan istrinya, tapi nihil.
Nanti sepulang kantor dia akan mencobĺa mendatangi panti asuhan tempat istrinya dulu. Hanya panti asuhan itu satu-satunya tempat yang Caleb ketahui sebagai keluarga, Ameera.
"Ada apa dengan Ibu, Bang?" ucap Jenni yang datang dengan wajah cemas. Mereka berpapasan di pintu gerbang. Saat Caleb menelponnya tadi, seolah telah terjadi sesuatu yang gawat pada ibunya. Makanya dia bergegas datang. Bahkan mengantar si kembar sekolah suaminya yang melakukan
"Ibu baik-baik saja tapi butuh bantuanmu saat ini. Cepatlah masuk, abang sudah telat ke kantor." Caleb bergegas masuk ke mobil sebelum adiknya bertanya lebih banyak lagi yang akan menyita waktunya.
Jenni segera memarkir sepeda motornya, bergegas menemui ibunya karena penasaran.
"Bu, Ibu ...." Teriak Jenni memanggil ibunya. Jenni melihat ke kamar ibunya. Bu Rina yang tengah duduk di atas kursi roda menatap Jenni lega.
"Akhirnya kamu datang, Jen. Tolong mandikan Ibu, Nak."
"Lho, Ibu belum mandi, ya? Mana Ameera, kok telat memandikan Ibu." Jenni mengibas hidungnya karena mencium aroma tak sedap dari ibunya.
"Ameera, sudah pergi dari rumah ini sejak kemarin."
"Apa! Ame pergi? Maksud Ibu Ame diusir dari rumah ini?" decak Jenni menyesali keputusan itu. Padahal tenaga Ameera sangat dibutuhkan untuk merawat ibunya yang lumpuh.
"Bukan, Ame pergi atas kemauannya."
"Lha, kenapa Ibu izinkan. Lantas siapa yang akan merawat Ibu. Belum sehari saja sudah merepotkan begini." guman Jenni kesal.
"Ini salahnya Caleb. Ame memergoki abangmu itu selingkuh. Itu sebabnya dia nekat pergi dari rumah ini."
"Dasar bodoh! Tidak bisa menjaga rahasia sendiri," maki Jenni menyesali kecerobohan abangnya. Lalu dia mendorong kursi roda ibunya ke kamar mandi.
"Huek ... Huek ...." Jenni tidak bisa menahan rasa mual dan akhirnya muntah saat membersihkan tubuh ibunya. Aroma tidak sedap menguar dari diapers ibunya. Melihat Jenni yang muntah saat membersihkan kotorannya membuat hati Bu Rina tersinggung.
Padahal menantunya, selama ini tidak pernah mengeluh apa-apa dan merawatnya dengan baik. Namun, putrinya sendiri belum sehari merawatnya sudah jijik dan tidak bisa menjaga perasaannya.
"Kamu jijik ya sama, Ibu. Ame tidak pernah sekalipun mengeluh saat merawat Ibu." dengus Bu Rina.
"Duh, Ibu. Siapa juga yang tahan dengan aroma itu." Jenni berkilah.
"Setidaknya kamu bisa jaga perasaan Ibu. Ibu juga tidak ingin terbelenggu di atas kursi roda ini. Kamu yang Ibu rawat sejak kecil, semestinya bisa menunjukkan baktimu buat Ibu." Isak Bu Rina.
Baru terasa sekarang betapa menantunya begitu besar pengorbanannya selama ini. Namun, selama ini dia sebagai mertua tidak pernah menghargai menantunya.
Sudah terlambat untuk menyesalinya, setelah kepergian menantunya siapa lagi yang bisa diharapkan untuk merawatnya. Anak yang dilahirkan sendiri sudah memperlihatkan keengganan hati mereka.
"Ah, Ibu kok sensi kali. Jenni benar-benar gak tahan lo. Mending Ibu cari perawat untuk Ibu. Jenni bisa bantu mencarinya. Jenni 'kan sudah punya keluarga. Gak mungkinlah bisa merawat Ibu. Jenni juga sudah repot mengurus keluarga Jenni, Bu."
Bu Rina bisu dalam diam. Setiap kata yang meluncur dari mulut putrinya seperti luncuran beribu jarum menusuk hati dan jantungnya. Bu Rina tidak bisa menahan luncuran air mata di pipinya. Jenni tidak menyadari itu karena sambil memandikan ibunya.
Selesai memandikan ibunya, Jenni mendorong kursi roda ke kamar untuk salin pakaian. Bu Rina diam saja. Beliau yang biasanya banyak bicara seolah mati kutu karena ucapan putrinya.
"Ibu sudah sarapan?" Bu Rina menggeleng. Lidahnya terasa kelu untuk memberi jawaban.
Jenni pergi ke dapur untuk mengambilkan sarapan tapi tidak ada apa-apa di atas meja makan kecuali telur dadar yang telah gosong.
Jenni membuka kulkas dia kaget karena isinya sama sekali tidak ada.
***