Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.
Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
"Brian, Leo bukan pembunuh kakakmu," ucap Arumi sambil terisak. "Bagaimana bisa Leo sekejam itu?" ucapnya lagi dengan suara bergetar.
Brian terdiam. Dia hanya memeluk Arumi erat, mencium puncak kepala wanita itu sambil memejamkan mata. Dia berusaha keras menahan amarah yang bergejolak saat kenyataan pahit itu menghantam kesadarannya.
Tangisan Arumi terdengar begitu pilu di telinganya. Namun, saat Brian hendak membopongnya menuju kamar, tubuh Arumi tiba-tiba lunglai, wanita itu langsung pingsan. Tanpa kepanikan yang tampak di wajahnya, meski hatinya berkecamuk, Brian menggendongnya menuju kamar.
Setibanya di sana, Brian menyelimuti Arumi dengan hati-hati lalu meminta pelayan untuk menjaganya. Setelah itu, dia melangkah lebar keluar kamar menuju sebuah ruangan khusus yang tersembunyi di dalam mansion.
Dia membuka pintu rahasia itu, berjalan cepat menuju lemari penyimpanan senjata, lalu menyambar sebuah pistol. Setelah mengisi peluru, Brian menembak ke papan sasaran di depannya bertubi-tubi hingga peluru habis. Suara dentuman memenuhi ruangan itu sebelum akhirnya dia berteriak frustrasi.
Brian terduduk di lantai sambil memegang senjatanya, keringat dan air mata luruh bersamaan.
Brengsek! Bisa-bisanya aku menikahinya, padahal keluarganya yang membunuh kakakku, batinnya penuh amarah.
...***...
Sudah dua hari berlalu sejak insiden penembakan Dona. Gadis muda cantik itu akhirnya dijemput oleh Papinya untuk kembali ke New York dengan pengawalan yang sangat ketat. Sementara itu, Maminya, Tante Widia, masih berada di Dubai.
Suasana di dalam mansion terasa begitu dingin. Sejak Arumi pingsan malam itu. Brian tidak lagi tidur di kamar mereka, ia memilih pergi ke apartemen untuk menenangkan diri. Sudah seminggu Brian pergi tanpa kabar seolah sengaja menghindari Arumi. Hati Brian masih terguncang setelah mendengar pengakuan Hendra dan Frans bahwa Leo, sepupu Arumi sendiri adalah orang yang telah membunuh Adrian. Sedangkan dia malah menerima Arumi menjadi istrinya.
Di sisi lain, Arumi menunggu dengan resah karena Brian sama sekali tidak bisa dihubungi. Ia terus bertanya kepada Hendra dan Frans, namun jawaban mereka selalu sama. 'Tuan Muda pasti akan kembali.'
Tengah malam, karena rasa hampa yang tak tertahankan, Arumi berjalan menyusuri lorong menuju kamar mendiang suaminya, Adrian. Ia memasuki ruangan itu, menyentuh permukaan kasur yang dingin, lalu duduk terdiam di sana. Kesunyian itu pecah saat setetes air mata membasahi pipinya.
"Adrian, kekasih hatiku..." gumamnya lirih sebelum akhirnya tangisnya pecah tersedu-sedu.
Bibi Astrid, yang diam-diam ditugaskan oleh Brian untuk menjaga Arumi, hanya bisa menyaksikan dari kejauhan. Ia menyeka air matanya sendiri, lalu beranjak pergi, membiarkan nyonya mudanya menghabiskan waktu di kamar kenangan tersebut. Arumi kemudian merebahkan tubuhnya sambil memandang foto Adrian di atas meja. Melihat wajah di foto itu tersenyum, ia pun ikut tersenyum getir. Perlahan, matanya terpejam karena kelelahan, meski bibirnya masih mengigaukan satu kata sebelum benar-benar terlelap, "...maaf."
Keesokan paginya, Arumi terbangun. Matanya menatap sekeliling ruangan yang dulu ia tempati bersama Adrian. Entah mengapa, di kamar ini ia merasa jauh lebih tenang tanpa harus cemas memikirkan Brian yang entah pergi ke mana meninggalkannya.
"Aku di sini karena mu, Adrian. Aku bertahan karena sudah menerimanya. Tapi aku bingung... aku harus bagaimana? Bisakah kau menuntunnya agar datang padaku?" ucap Arumi pelan pada bingkai foto itu.
Ia mengambil bantal Adrian, memeluknya sebentar untuk mencari kekuatan, lalu bangkit dari tempat tidur. Saat berjalan keluar menyusuri lorong mansion, langkah kakinya tiba-tiba terhenti di depan foto Brian. Arumi membuang napas kasar sambil memejamkan mata sejenak, seolah ada beban berat yang menghimpitnya, sebelum akhirnya ia melanjutkan langkah menuju kamarnya.
...***...
Satu bulan berlalu. Karena didera perasaan bingung dan rindu, Arumi bersiap-siap untuk mendatangi kantor Aditama. Ia mengenakan dress abu-abu selutut dan merias wajahnya agar terlihat segar sebelum bertemu Brian.
Arumi tahu bahwa Brian butuh waktu untuk menerima kenyataan pahit bahwa Leo telah menghilangkan nyawa Adrian. Kini, sepupunya itu telah menghilang bagai ditelan bumi, entah ke mana.
Arumi turun ke lantai bawah dengan senyum terkembang, menyapa Bibi Astrid dan para pelayan lainnya.
"Wah, Nyonya Muda cantik sekali. Anda mau ke mana?" tanya Bibi Astrid kagum.
"Aku mau memberikan kejutan untuk Brian, Bibi. Kemarin aku sempat bertemu Frans, katanya Brian sudah ada di kantor. Dia baru pulang dari Dubai untuk urusan bisnis menyusul Tante Widia beberapa minggu yang lalu," ucap Arumi ceria.
Bibi Astrid tersenyum lalu mengelus lembut bahu Arumi. "Ya sudah, hati-hati ya, Nyonya."
"Iya, Bibi. Aku pergi dulu!"
Arumi melangkah pergi dengan riang. Namun, Bibi Astrid hanya terdiam terpaku. Entah kenapa, melihat punggung wanita itu yang menjauh, perasaan Bibi mendadak tidak tenang.
Sedangkan di dalam ruangannya, Brian tengah sibuk memeriksa berkas laporan keuangan bersama Frans. Konsentrasi mereka seketika teralih oleh suara ketukan pintu.
"Maaf Tuan, ada tamu yang ingin bertemu," ucap sekretaris Brian setengah kepalanya melongok kedalam.
"Siapa?" tanya Brian singkat.
"Nona Maria, Tuan," jawab sekretaris itu sopan.
"Persilakan dia masuk. Dan tahan siapa pun yang datang ingin menemui ku hari ini," perintah Brian tegas.
"Baik, Tuan."
Frans melirik Brian dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia merasa miris melihat tuan mudanya yang dalam sekejap berubah. Brian seolah sedang mengkhianati istrinya sendiri, hanya karena wanita itu sering datang sebagai teman curhat.
"Hai, Brian," sapa Maria yang kini sudah berdiri di ambang pintu. Ia membawa tas berisi makanan yang Frans duga akan mereka santap bersama.
"Sampai di sini saja, Frans. Tunda semua jadwal untuk hari ini," titah Brian tanpa ragu.
Tak ada jawaban dari Frans. Ia hanya mengangguk singkat, lalu menunduk hormat sebelum melangkah keluar, meninggalkan Brian dan wanita itu berdua saja.
Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan, Arumi tak henti-hentinya tersenyum. Tatapannya sesekali jatuh pada kantong plastik berisi es krim kesukaan Brian yang ia jaga agar tidak mencair. Ia membuang jauh-jauh egonya, ia merasa mungkin dirinyalah yang harus tahu diri untuk mengalah dan menemui suaminya lebih dulu demi memperbaiki hubungan mereka.
Namun, suasana di dalam ruangan Brian justru berbanding terbalik. Brian menyambut Maria dengan hangat, mereka tenggelam dalam obrolan ringan yang diselingi tawa. Hingga tiba-tiba, sebuah kalimat keluar dari bibir Maria dan menghentikan tawa Brian seketika.
"Brian, aku menyukaimu. Aku rela menjadi simpananmu, atau bahkan istri keduamu."
Brian tertegun. Ia perlahan meletakkan sendok makan yang sedang dipegangnya, lalu bangkit berdiri dari sofa dengan kaku.
"Tolong, Brian... kau tahu sendiri dulu kita saling suka. Kau sangat tahu itu," desah Maria penuh harap.
Tanpa aba-aba, Maria berhambur memeluk Brian. Karena terkejut dan tidak siap, Brian secara refleks menangkap pinggang Maria agar wanita itu tidak jatuh. Namun, posisi mereka justru terlihat sangat intim, seolah Brian sedang memeluk Maria dengan mesra.
Tepat pada detik yang menyakitkan itu, pintu ruangan terbuka. Hendra mematung di ambang pintu, sementara di sampingnya, Arumi berdiri kaku. Senyum yang tadi ia bawa dari rumah lenyap tak berbekas. Ia hanya diam membisu, menatap pemandangan di depannya dengan tatapan kosong, sementara es krim di tangannya perlahan mulai meleleh sama hancurnya dengan perasaannya saat itu.