NovelToon NovelToon
Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Arsip Hati: Karena Fisika Nggak Sebercanda Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Ketos / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Romantis
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.


Tokoh Utama:

Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.

Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembur di Perpustakaan dan Teror Shinta yang Terakhir

Jika ada kompetisi untuk menentukan siapa manusia paling sibuk di muka bumi, Arlan pasti akan memenangkan medali emas, perak, sekaligus perunggu. Sejak keputusan Kepala Sekolah kemarin, Arlan praktis "pindah domisili" ke perpustakaan sekolah. Meja besar di pojok ruangan sudah penuh dengan tumpukan berkas, tiga buah laptop yang menyala bersamaan, dan sekitar lima gelas sisa kopi hitam yang sudah dingin.

Pak Bagus, sang pengawal, masih setia duduk di kursi kayu dekat pintu. Bedanya, sekarang Pak Bagus tidak lagi menatap Arlan dengan curiga. Dia justru sesekali terlihat membantu Arlan merapikan kertas yang berceceran atau sekadar membelikan air mineral dingin. Sepertinya, drama "Tikus Akreditasi" kemarin diam-diam membuat Pak Bagus menaruh rasa hormat pada keteguhan hati Arlan.

"Den Arlan, ini sudah jam delapan malam. Apa tidak sebaiknya kita pulang dulu?" tanya Pak Bagus dengan suara beratnya yang kini terdengar lebih lembut.

Arlan tidak menoleh dari layar laptop. Jarinya menari lincah di atas keyboard. "Sedikit lagi, Pak. Kalau bab anggaran ini tidak selesai malam ini, besok grafik perkembangannya tidak akan sinkron dengan data prestasi siswa."

Tiba-tiba, pintu perpustakaan terbuka sedikit. Sebuah kepala muncul dari celah pintu—itu Ghea. Dia memakai jaket hoodie kebesaran dan membawa bungkusan plastik yang aromanya langsung memenuhi ruangan: sate ayam bumbu kacang.

"Misi penyelamatan gizi dimulai!" bisik Ghea sambil mengendap-endap masuk.

Pak Bagus hanya berdehem pelan, lalu pura-pura tidak melihat dengan cara membalikkan badannya ke arah rak buku ensiklopedia. Ghea memberikan jempol pada Pak Bagus, lalu segera mendekati meja Arlan.

"Robot, makan dulu. Nanti kalau otak lo panas terus berasap, gue nggak tahu cara mademinnya," kata Ghea sambil menaruh sate di atas tumpukan map (untungnya Arlan sigap menggeser map itu sebelum kena bumbu kacang).

Arlan menghela napas, menyandarkan punggungnya yang pegal ke kursi. Dia menatap Ghea dengan mata yang merah karena kurang tidur. "Ghe, lo kok masih di sini? Bukannya gerbang sekolah sudah dikunci?"

"Gue punya koneksi sama Pak Satpam lewat sogokan rokok sama kopi sachet, Ar. Tenang aja," Ghea nyengir. "Lagian, asisten macam apa gue kalau biarin bosnya kelaparan pas lagi berjuang demi masa depan?"

Mereka makan sate bersama di tengah kesunyian perpustakaan yang remang-remang. Suasana ini terasa sangat intim dan tenang, kontras dengan tekanan yang mereka hadapi.

"Ar," panggil Ghea pelan. "Gue liat Shinta makin aneh akhir-akhir ini. Tadi di kelas, dia diem banget tapi matanya kayak lagi ngerencanain buat ngebom sekolah."

Arlan terhenti sejenak saat hendak menyuap satenya. "Dia tertekan, Ghe. Posisinya sebagai 'anak emas' di mata bokap gue mulai goyah. Dan dia tipe orang yang nggak suka kalah."

"Tapi lo harus hati-hati. Firasat gue bilang, dia nggak bakal tinggal diam liat lo berhasil nyelesain laporan ini tepat waktu."

Firasat Ghea terbukti benar. Keesokan harinya, saat Arlan sedang dipanggil Kepala Sekolah untuk presentasi awal, perpustakaan dalam keadaan kosong selama lima menit karena Pak Bagus pergi ke toilet.

Shinta masuk dengan langkah terburu-buru. Wajahnya terlihat pucat tapi matanya penuh amarah. Dia langsung menuju meja kerja Arlan. Di sana, terletak sebuah flashdisk merah yang berisi seluruh master data laporan akreditasi yang sudah dikerjakan Arlan siang dan malam.

"Kalau laporan ini hilang, kamu nggak punya pilihan selain pulang ke London, Arlan. Dan Ghea akan hancur karena sudah gagal menjaga kamu," gumam Shinta dengan suara gemetar.

Dia mengambil flashdisk itu, tapi saat dia hendak berbalik keluar, dia melihat botol air mineral milik Arlan. Sebuah ide yang lebih jahat muncul. Dia membuka tutup botol itu dan menumpahkannya tepat di atas laptop utama Arlan yang masih dalam keadaan menyala.

Cshhhh... Layar laptop itu berkedip-kedip sebentar, mengeluarkan bunyi klik kecil, lalu mendadak mati total. Layarnya hitam pekat.

Shinta tersenyum puas, lalu segera berlari keluar lewat pintu samping.

Dua menit kemudian, Arlan masuk bersama Pak Bagus. Arlan langsung membeku saat melihat genangan air di mejanya dan laptopnya yang mati. Dia segera memeriksa tasnya. Flashdisk cadangannya juga hilang.

"Laporannya..." Arlan bergumam, suaranya terdengar sangat rapuh.

Pak Bagus langsung siaga. "Ada apa, Den?"

"Laporan itu... semuanya ada di laptop ini dan flashdisk itu. Semuanya hilang, Pak."

Arlan terduduk lemas di kursinya. Untuk pertama kalinya, Ghea melihat sosok Arlan yang bener-bener hancur. Bukan karena dia gagal secara akademik, tapi karena dia merasa usahanya untuk bertahan bersama Ghea baru saja disabotase secara kejam.

Ghea yang baru saja datang membawa cemilan langsung menjatuhkan kantong plastiknya saat melihat kondisi meja itu. "Ar? Kenapa?!"

Arlan cuma bisa menunjuk ke arah laptopnya. Ghea melihat genangan air itu, lalu dia melihat ke arah tempat sampah di pojok ruangan. Dia melihat sesuatu yang mencolok: sebuah pita rambut merah milik Shinta yang tersangkut di pinggiran pintu samping.

"Shinta," desis Ghea. Matanya memancarkan kemarahan yang luar biasa. "Gue nggak akan biarin dia menang kali ini."

Ghea tidak membuang waktu. Dia tahu Shinta belum jauh. Dia menarik tangan Juna yang kebetulan lagi lewat di koridor.

"Jun! Aktifkan mode Intel Siomay level maksimal! Shinta bawa flashdisk Arlan. Dia pasti mau hancurin atau buang itu ke suatu tempat!"

"Beres, Ghe! Gue tadi liat dia lari ke arah kolam ikan belakang sekolah!" seru Juna.

Mereka berdua lari menuju kolam ikan. Benar saja, Shinta berdiri di sana, tangannya sudah bersiap melempar benda merah kecil ke tengah kolam yang dalam.

"SHINTA! BERHENTI!" teriak Ghea.

Shinta menoleh, wajahnya penuh kebencian. "Jangan mendekat, Ghea! Biar benda ini tenggelam bareng sama semua mimpi-mimpi kamu!"

"Shin, lo sadar nggak apa yang lo lakuin?" Ghea mendekat perlahan. "Itu bukan cuma soal nilai Arlan. Itu soal akreditasi sekolah kita! Ribuan murid di sini bakal kena dampaknya kalau laporan itu hilang. Lo mau ego lo ngancurin masa depan orang banyak?"

"Aku nggak peduli! Aku cuma mau Arlan balik jadi Arlan yang dulu! Sebelum kamu datang dan ngerusak semuanya!" teriak Shinta, air matanya mulai jatuh.

"Arlan yang dulu itu robot yang nggak punya nyawa, Shin! Lo suka liat dia menderita? Itu namanya bukan sayang, itu namanya obsesi!" Ghea terus mendekat.

Tiba-tiba, Juna muncul dari arah belakang semak-semak dengan gerakan akrobatik yang aneh (dia terjatuh tapi berhasil menangkap pergelangan tangan Shinta).

"Dapet!" seru Juna.

Dalam pergulatan singkat itu, flashdisk merah itu terlepas dari tangan Shinta, tapi bukannya jatuh ke tangan Ghea, benda itu justru terpental ke arah pinggiran kolam yang licin.

"TIDAK!" Ghea langsung melompat—bukan secara elegan, tapi lebih mirip nangka jatuh—untuk menangkap flashdisk itu sebelum masuk ke air.

Byuurrr!

Ghea tercebur ke kolam ikan yang penuh lumut dan airnya hijau pekat. Tapi, tangannya terangkat tinggi ke udara, memegang erat flashdisk merah itu.

"DAPEEET! AR, GUE DAPET!" teriak Ghea dari dalam kolam, sambil mencoba mengeluarkan ikan mas koki yang terselip di dalam bajunya.

Malam itu, di ruang arsip yang sudah hampir kosong, Arlan sedang mencoba menghidupkan kembali data dari flashdisk tersebut lewat laptop cadangan milik sekolah. Ghea duduk di sampingnya, sudah berganti pakaian dengan kaos olahraga sekolah yang kebesaran, rambutnya masih agak basah dan bau amis kolam.

"Berhasil, Ghe. Datanya masih utuh," ucap Arlan dengan nada sangat lega. Dia menatap Ghea lama, lalu mengambil handuk kecil dan mengeringkan sisa air di telinga Ghea.

"Lo gila ya, Ghe. Kolam itu kan dalem dan banyak lintahnya," kata Arlan, tapi nadanya penuh dengan rasa sayang.

"Demi lo, Ar. Jangankan kolam ikan, masuk ke kandang macan juga gue jabanin asal lo nggak dikirim ke London," jawab Ghea sambil nyengir lebar.

Tiba-tiba, Papa Arlan masuk ke ruangan itu. Beliau sudah mendengar kabar tentang keributan di kolam ikan dan sabotase laporan tersebut. Di belakangnya, Shinta berdiri menunduk dengan wajah sembap, didampingi orang tuanya yang terlihat sangat malu.

Papa Arlan menatap Ghea yang masih bau ikan mas koki, lalu menatap Arlan yang sedang memegang flashdisk merah itu.

"Ayah sudah bicara dengan orang tua Shinta," ucap Papa Arlan berat. "Shinta akan diberikan sanksi berat dari sekolah dan... Ayah tidak akan lagi melibatkan dia dalam urusan keluarga kita."

Papa Arlan berjalan mendekati Ghea. Ghea mendadak kaku, takut kalau aroma amisnya bikin sang calon mertua (eh, maksudnya Papa Arlan) makin benci padanya.

"Ghea," panggil Papa Arlan.

"I-iya, Om? Maaf saya bau amis, tadi ikannya gigit saya duluan..."

Papa Arlan terdiam sejenak, lalu tangannya bergerak mengambil selembar tisu dari sakunya dan memberikannya pada Ghea. "Bersihkan mukamu. Kamu terlihat sangat... berantakan."

Ghea menerima tisu itu dengan bingung.

"Arlan," Papa Arlan beralih ke anaknya. "Selesaikan laporan itu. Ayah beri kamu waktu tambahan dua hari karena sabotase ini. Dan setelah laporan ini selesai... Ayah mau kalian berdua datang ke rumah. Makan malam secara resmi."

Mata Arlan dan Ghea membelalak secara bersamaan. "Makan malam... resmi, Yah?" tanya Arlan seolah tidak percaya.

"Iya. Ayah rasa... Ayah butuh asisten yang bisa berenang di kolam ikan untuk menjaga aset keluarga Hendra yang keras kepala ini," ucap Papa Arlan dengan senyum yang sangat tipis—hampir tidak terlihat, tapi itu adalah sebuah kemenangan besar.

Papa Arlan berjalan keluar, meninggalkan Shinta yang terus menangis. Arlan langsung memeluk Ghea (nggak peduli bau amisnya), dan Juna yang mengintip dari balik pintu langsung teriak, "CIEEE! ASISTEN RESMI NIH YEE! JANGAN LUPA TRAKTIRAN SIOMAY-NYA!"

Malam itu, laporan akreditasi tidak lagi terasa seperti beban. Itu adalah tiket menuju kebebasan mereka.

1
Esti 523
aq vote 1 ya ka ug syemangad
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!