Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.
“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”
“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”
“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”
“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”
“Namanya juga pelacur!”
Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.
Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.
Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.
“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Junia 2
Surabaya, 2017
Tahun berganti dengan cepat. Dan tanpa disadari Junia sudah duduk di bangku kelas 2 SMA—setahun lagi ia akan lulus dan masuk perguruan tinggi impiannya. Selama sepuluh tahun sejak kakek Junia diantar ke rumah itu, ia tidak pernah lagi pergi dari sana. Johan tidak pernah lagi menjemputnya. Namun Pram tidak mempermasalahkan hal itu karena ia bisa mengurus ayahnya dengan baik.
Pria tua itu memiliki kamar sendiri di samping kamar Junia. Ia menghabiskan pagi dengan membaca Al-Qur’an, siang menonton berita, lalu sore hari duduk di teras sambil memperhatikan burung-burung di pohon jambu.
Meski sudah beranjak dewasa—Junia masih suka duduk di samping kakeknya. Ia suka mendengarkan kakeknya bercerita tentang masa mudanya, tentang pasar yang ramai saat ia masih berdagang, tentang sepeda onthel yang dulu ia kayuh ke mana-mana. Cerita-cerita yang bagi Junia terdengar seperti dongeng versi dunia nyata.
Johan dan keluarganya masih sering berkunjung di akhir pekan, mereka hanya datang sebentar lalu pulang sebelum sore. Namun Johan terkadang datang sendiri dan setiap Johan datang sendirian—Junia tau, pamannya itu pasti akan meminta sesuatu pada ayahnya.
“Sudah berapa banyak Johan pinjam uang kamu, Mas?”
Junia yang sedang sibuk mengerjakan PRnya berhenti sesaat saat mendengar ucapan ibunya itu. Ia sudah menduganya, kedatangan Johan tadi pasti untuk meminjam uang. Ah, dia memang beban terberat dalam hidup Pram.
“Dia cuma minjam uang sejuta kok, Dek.” Ayah mengaduk kopinya.
“Sejuta?” Mahira menghela napas berat. “Sudah sepuluh tahun sejak Johan pertama kali berutang, Mas. Apa dia pernah membayar utangnya sebelum berutang lagi?” tanya Mahira.
“Dia sedang kesulitan, Dek. Mas tidak bisa menolak permintaan dia karena dia satu-satunya saudara yang Mas punya. Bapak juga bilang Mas harus bersabar menghadapi Johan,” jelas Pram.
“Tapi kamu mau terus bersabar sampai kapan, Mas. Sampai kapan kamu mau memanjakan Johan?” Mahira mendesah kasar. “Johan sudah dewasa, Mas. Dia memiliki tanggung jawab atas istri, anak dan dirinya sendiri. Kamu nggak bisa terus-terusan kasihan sama dia. Kapan dia dewasanya kalau gitu.”
“Tadi dia janji akan berubah kok, Dek. Dia bilang akan berhenti berj—”
“Kamu percaya?” Mahira memotong ucapan suaminya. “Sejak sepuluh tahun lalu dia menjanjikan hal yang sama, Mas. Tapi apa?” Mahira menghentikan kalimatnya.
“Dia masih tetap berjudi, mabuk dan berhutang sana-sini. Risma juga sama saja. Dia melakukan penggelapan uang arisan di desanya sampai rumah peninggalan Ibu dan Bapak harus dijual. Kamu nggak lupa kejadian itu kan, Mas?” tanya Mahira panjang lebar.
“Mas cuma nggak tega liat Johan kesulitan, Dek.”
“Kesulitan itu dia sendiri yang buat, Mas. Bukan tugas kamu untuk buat hidup dia senang. Dia udah jual semua aset dia dan sekarang nggak punya apapun lagi. Utangnya masih menumpuk dan utang ke kamu… berapa total semua utang yang belum dia bayar sepersenpun itu?” tanya Mahira.
“250 juta…” lirih Pram.
Mahira memijat pelipisnya. “Cukup ya, Mas. Aku nggak masalah kamu bantu saudara dan keluarga kamu tapi kali ini cukup! Kamu udah bantu dia terlalu banyak dan nggak ada hasilnya sama sekali.”
Pram menarik napas kasar. “Aku akan tegas ke Johan, dek. Tadi terakhir kali aku kasih dia uang.” ucap Pram akhirnya.
“Kamu janji?” tanya Mahira.
“Janji.”
—
Sebulan Kemudian
Junia merebahkan tubuhnya di atas sofa. Baju seragam pramuka masih melekat di tubuhnya. Hari ini ia sangat lelah usai mengikuti kegiatan pramuka. Suara deru motor berhenti tepat di depan pagar rumah membuat ia mengintip lewat jendela ruang tamu. Hanya butuh satu detik untuk mengenali jaket lusuh dan helm tanpa visor itu.
Johan. Dia datang lagi dan Junia bisa menebak kalau pria itu pasti akan meminta uang pada ayahnya. “Menyebalkan!” gerutu Junia.
Junia menghela napas pelan, lalu mundur sedikit. Sudah lama ia paham — kedatangan paman biasanya tidak membawa kabar baik. Tapi sejujurnya Junia penasaran, apakah ayahnya akan menepati janjinya pada ibunya?
Johan masuk dengan langkah ragu. Aroma rokok menempel di bajunya, bercampur dengan bau bensin. Usianya sebenarnya belum terlalu tua, tapi wajahnya penuh garis lelah dan sorot matanya seperti orang yang sudah kalah terlalu dini dalam hidup.
Pram duduk berhadapan dengannya di ruang tamu. “Bagaimana kabarmu?” tanya Pram basa-basi. “Kenapa tidak datang membawa anak-anak?”
“Anak-anak masih sekolah, Bang.” sahut Johan.
“Lain kali, datanglah sama anak-anak…” ucap Pram.
“Iya bang…” lirih Johan. “Bang… aku mau ngomong sesuatu…” ujarnya akhirnya.
“Ada apa?” tanya Pram singkat.
Johan tersenyum kecut. “Begini bang… tokoku sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Aku bangkrut dan butuh uang.”
Hening beberapa detik. Helaan napas berat terdengar dari mulut Pram. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Johan. Tapi sejujurnya ia berharap Johan akan mengatakan hal yang berbeda tadi.
Johan akhirnya kembali membuka suara, “Aku mau minta bantuan lagi, Bang…. beneran bakal aku balikin.”
Pram kembali menghela napas berat. “Kau kalah judi lagi, kan?” tebaknya.
Johan menggaruk tengkuknya. “Aku kepepet, Bang. Aku butuh uang banyak dengan proses yang cepat.”
“Sudah berapa total hutangmu padaku, Han?” tanya Pram.
“Dua ratus lima puluh juta…” jawab Johan lirih.
Pram menatap Johan lama—seperti sedang menghitung semua tahun yang sudah lewat. “Semua utangmu sudah lunas,” lanjut Pram dengan tenang.
Johan mendongak. “Maksudmu?”
“Uang itu sudah tidak perlu kau kembalikan,” jelas Pram. “Utangmu sudah aku anggap lunas dan ini terakhir kalinya aku membantumu, Han. Aku tidak bisa membantumu soal uang lagi!”
Johan berkedip. “ Terus sekarang?”
“Sekarang aku tidak ikut campur lagi,” ujar Pram dengan nada datar. “Aku tidak bisa meminjami kau uang lagi, aku hanya bisa membantu melunasi separuh utangmu. Dan mulai hari ini, aku tidak ikut di dalam masalahmu lagi.”
Johan terdiam. Jarinya menekan-nekan lutut dengan gelisah.
“Bang… jadi… aku—”
“Tidak,” potong Pram. “Bukan karena aku tidak sayang. Justru karena aku ingin kamu belajar bertanggung jawab pada hidupmu sendiri.”
Kalimat itu membuat ruang tamu mendadak sangat hening. Bahkan suara jam dinding terdengar jelas. Pram menaruh dua lembar uang seratus ribuan di atas meja lalu beranjak dari ruang tamu.
“Ambil uang itu untuk membeli bensin. Ini kali terakhir aku memberimu uang. Kedepannya tidak akan pernah ada lagi!” ujar Pram sebelum akhirnya pergi meninggalkan Johan.
Johan akhirnya berdiri pelan. Wajahnya terlihat tersinggung, tapi juga tampak malu. “Kalau begitu… ya sudah. Maaf kalau ngerepotin selama ini.” ucap Johan yang tak lagi bisa didengar oleh Pram.
“Aku pamit, Mbak…” Johan berpamitan pada Mahira. Motor tuanya pun melaju pelan meninggalkan gerimis di luar pagar.
Sejak saat itu Johan tidak pernah datang lagi ke rumah Pram. Bahkan untuk sekedar mengunjungi ayahnya.
***
Bersambung…
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.