Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dongeng di Atas Arus Terbalik
Getek bambu itu meluncur mulus membelah arus sungai yang semakin deras. Sekar duduk memeluk lutut di bagian tengah perahu, menatap punggung Simbah yang tegap meski usianya mungkin sudah kepala tujuh. Di kiri dan kanan mereka, pemandangan kota Yogyakarta terlihat surealis. Jembatan-jembatan gantung dipenuhi orang-orang yang menonton air dengan tatapan kosong, sementara di kejauhan, sirine ambulan meraung-raung tiada henti.
Anehnya, meski arus sungai Code mengamuk, perahu getek ini stabil. Tidak berguncang, tidak terombang-ambing. Seolah ada lapisan tak kasat mata di bawah bilah-bilah bambu yang melindunginya dari gejolak air.
"Nduk, kamu tahu kenapa air laut rasanya asin?" tanya Simbah tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka. Ia tidak menoleh, matanya tetap lurus ke depan, ke arah Gunung Merapi yang kini terlihat semakin jelas dan... berasap. Asapnya bukan kelabu, tapi putih bersih.
Sekar mengerjap, sedikit bingung dengan pertanyaan yang terdengar seperti teka-teki anak TK itu. "Karena... kandungan mineral dan garam, Mbah?" jawabnya ragu, menggunakan logika pelajaran IPA yang pernah ia pelajari.
Simbah tertawa kekeh. "Itu jawaban orang sekolahan. Jawaban orang tanah beda lagi."
Simbah mencelupkan dayung kayunya ke dalam air, tapi tidak mendayung. Ia hanya membiarkan dayung itu terseret arus, seolah sedang merasakan denyut nadi sungai.
"Air laut asin karena dia menyimpan semua keringat dan air mata sejarah," lanjut Simbah, suaranya memberat. "Dulu, ribuan tahun lalu, ada raja-raja yang merasa dunia ini terlalu sempit. Mereka berlayar, menancapkan bendera, mengklaim tanah yang bukan miliknya. Keangkuhan mereka itu... rasanya asin."
Sekar terdiam. Ia teringat ucapan Eyang Sumi semalam. Amis arogansi.
"Mbah... apa Mbah tahu soal 'tamu' itu?" tanya Sekar memberanikan diri.
Simbah menoleh sedikit, ujung bibirnya terangkat membentuk senyum misterius di bawah naungan caping. "Tamu yang datang tanpa diundang, biasanya pulang membawa malu, Nduk. Apalagi kalau tuan rumahnya pendiam tapi 'galak'."
Tiba-tiba, perahu mereka berguncang hebat. Bukan karena arus, tapi karena sesuatu menabrak bagian bawah getek.
BUM!
Sekar mempekik, mencengkeram bambu erat-erat. Dari sisi kiri perahu, sebuah tangan bersisik biru pucat muncul, mencengkeram pinggiran bambu. Kuku-kukunya panjang dan hitam, menancap dalam ke batang bambu hingga retak.
Makhluk itu mengangkat kepalanya dari dalam air. Wajahnya mengerikan—campuran antara manusia dan ikan hiu. Matanya hitam pekat tanpa pupil, mulutnya penuh gigi runcing yang tidak beraturan. Ia mendesis ke arah Sekar, bau napasnya seperti bangkai paus yang membusuk.
Itu salah satu prajurit Poseidon.
Sekar mundur, jantungnya berpacu liar. Cincin di jarinya menyengat lagi, kali ini rasanya sakit sekali, seolah memperingatkan bahaya maut yang ada di depan mata. Makhluk itu sepertinya bisa mencium keberadaan cincin itu meskipun Sekar sudah menyembunyikan auranya.
"Mbah!" teriak Sekar.
Tapi Simbah tidak panik. Ia bahkan tidak berdiri. Dengan gerakan santai yang hampir terlihat malas, Simbah mengambil dayung kayunya.
"Hush. Jangan nakal," gumam Simbah pelan.
THAK!
Simbah memukulkan dayung kayunya tepat di kepala makhluk itu. Pukulannya terlihat pelan, seperti orang memukul lalat, tapi efeknya luar biasa.
Terdengar suara tulang retak yang nyaring. Makhluk itu menjerit—suara yang melengking tinggi seperti lumba-lumba yang sekarat—lalu terlempar kembali ke dalam air. Air sungai di sekitar mereka berubah warna menjadi biru gelap sejenak, darah makhluk itu, sebelum kembali bening.
Sekar melongo. Dayung itu... dayung kayu biasa. Tapi di tangan Simbah, rasanya seperti gada besi.
"Mbah... Mbah siapa sebenarnya?" tanya Sekar, kali ini dengan nada penuh hormat dan waspada.
Simbah kembali meletakkan dayungnya di pangkuan. Ia merogoh saku kemeja lusuhnya, mengeluarkan lintingan rokok klobot baru. "Simbah cuma orang tua yang suka main air, Nduk. Dulu... dulu sekali, Simbah pernah janji sama Kanjeng Ratu buat jaga pintu belakang kalau-kalau ada maling masuk lewat selokan."
Ia menyalakan rokoknya dengan korek api kayu. Asap rokoknya berbau kemenyan yang sangat kuat, seketika menetralkan bau amis yang ditinggalkan makhluk tadi.
"Kita sudah dekat, Nduk," kata Simbah, menunjuk ke depan dengan dagunya.
Sekar mengikuti arah pandang Simbah. Mereka sudah melewati ring road utara. Pemandangan kota yang padat sudah berganti menjadi sawah-sawah dan pepohonan rimbun di daerah Sleman.
Tapi ada yang salah dengan sawah-sawah itu.
Padi-padi yang seharusnya mulai menguning, kini berubah warna menjadi kristal garam. Putih berkilauan di bawah langit mendung. Petani-petani berdiri di pinggir pematang, menangis melihat panen mereka berubah menjadi tiang-tiang garam yang keras.
Poseidon tidak hanya membawa air. Dia membawa kutukan tanah mati. Dia mengubah tanah subur Jawa menjadi ladang garam yang tandus, seperti dia menghukum kota-kota di Yunani kuno yang menolak menyembahnya.
"Dia ingin membuat kita kelaparan," bisik Sekar, matanya ngeri melihat hamparan sawah kristal itu.
"Dia ingin membuat kita putus asa," koreksi Simbah. "Tapi dia lupa, orang Jawa itu nrimo ing pandum tapi kandel kulite. Makin digencet, makin jadi beton."
Perahu getek itu mulai melambat. Arus sungai di sini tidak sederas di kota, tapi airnya terasa lebih panas. Uap tipis mulai terlihat mengepul dari permukaan air.
"Turun di sini, Nduk," kata Simbah saat perahu menepi di bawah jembatan tua yang terbuat dari batu bata merah. Di atas jembatan itu, ada sebuah bangunan kecil seperti gardu pandang zaman Belanda yang sudah terbengkalai.
"Ini pertemuan Kali Opak dan Oya?" tanya Sekar sambil melompat turun ke tanah yang becek.
"Kurang lebih," jawab Simbah. Ia tetap duduk di perahunya. "Simbah cuma bisa antar sampai sini. Tugas Simbah jaga sungai, bukan naik gunung. Tulang tua ini nggak kuat nanjak."
Sekar menatap orang tua itu. Ia ingin berterima kasih, ingin bertanya lebih banyak, tapi ia tahu waktunya sempit.
"Terima kasih, Mbah," ucap Sekar tulus.
Simbah mengangguk. "Hati-hati, Nduk. Cincin itu... itu bukan cuma buat sembunyi. Itu kunci. Kalau kamu bingung, tanya sama batunya."
Sebelum Sekar sempat bertanya maksudnya, Simbah sudah mendorong perahunya kembali ke tengah sungai. Anehnya, kali ini perahu itu bergerak melawan arus lagi, tapi bukan menuju gunung, melainkan kembali ke kota. Kembali ke pusat kekacauan.
"Dasar anak muda zaman sekarang, dikasih tahu malah bengong," samar-samar terdengar gerutuan Simbah sebelum sosoknya hilang ditelan kabut sungai.
Sekar berdiri sendirian di pinggir sungai yang berasap. Di depannya, jalan setapak menuju pintu air lama tertutup semak belukar berduri.
Ia menatap cincin di jarinya. Batu hijau itu berdenyut lagi. Tanya sama batunya.
Sekar mengangkat tangannya, mendekatkan cincin itu ke bibirnya. "Tunjukkan jalan," bisiknya ragu.
Tidak ada suara jawaban. Tapi tiba-tiba, semak belukar di depannya bergerak sendiri. Duri-durinya menyusut masuk ke dalam batang, daun-daunnya menyibak ke samping, membuka jalan setapak yang lurus menuju bangunan tua itu.
Dan dari arah bangunan itu, Sekar mendengar suara gemuruh air terjun. Tapi suaranya aneh. Seperti ada orang yang sedang... bernyanyi?
Nyanyian seriosa yang indah, namun nadanya membuat telinga sakit. Nyanyian Siren.
Sekar meneguk ludah. Ia melangkah masuk ke dalam jalan setapak itu. Musuh sudah menunggu di pos berikutnya. Dan kali ini, dia tidak punya Simbah yang bisa memukul kepala monster dengan dayung.