Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.
Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.
Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.
Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Sugar Daddy KR
Hari kedua ujian, Vera masih curiga dengan pembayaran SPP Ayu yang bisa terbayar setelah kunjungan mereka di kelab malam.
Vera tidak puas. Ia melirik jam dinding, memastikan pengawas belum masuk. Dengan gerakan cepat, ia membungkuk ke arah Ayu, bibirnya nyaris menyentuh telinga Ayu.
"Jujur padaku, Yu, apakah kamu sudah mendapatkan sugar daddy malam itu?" tanyanya berbisik, suaranya penuh rasa ingin tahu.
Ayu terkejut hingga punggungnya menegang. Ia merasakan darahnya berdesir ke wajah.
"Apa yang kau bicarakan, Vera?" balas Ayu, berusaha menahan suara agar tidak menarik perhatian. Tangannya yang memegang pulpen bergetar.
Tuduhan ini sangat menusuk, apalagi ia tahu sumber uang itu adalah hasil pencurian yang memaksanya masuk ke dalam kontrak mengerikan.
"Oh, jangan munafik. Kau terlihat fresh hari ini, tidak seperti orang yang semalaman mencari uang pinjaman. Dan, voila! Langsung lunas? Cuma ada satu cara cepat untuk gadis kere sepertimu, Yu," Vera menyeringai. "Di mana? Di The Abyss? Katakan padaku, siapa dia? Kau terlihat tegang. Apa sugar daddy-mu galak?"
"Tutup mulutmu, Vera! Ini urusanku!" balas Ayu dengan suara tertahan, menatap Vera tajam. Ia tidak bisa menceritakan yang sebenarnya—bahwa ia baru saja menandatangani masa depannya untuk seorang CEO kaya yang mabuk karena patah hati, dan kini mengancamnya dengan penjara. Itu akan terdengar lebih gila daripada memiliki sugar daddy.
***
Dua minggu telah berlalu. Ujian akhir selesai, dan tak ada lagi alasan bagi Lingga untuk membiarkan Ayu berkeliaran tanpa pengawasan. Ayu telah menandatangani kontrak dan, bagi Lingga, Ayu sekarang adalah aset—atau lebih tepatnya, sebuah bom waktu yang harus ia jaga agar tetap terkunci dan terlihat mahal.
Sore itu, Ayu mengucapkan selamat tinggal pada kosan kecilnya yang beraroma mi instan. Ia tidak memberi tahu ayahnya karena pria itu pun tak pernah perduli padanya.
Ken menjemputnya dan mengantarnya ke apartemen studio mewah di lantai bawah penthouse Lingga.
"Nona Ayu, ini kunci akses Anda. Tuan Lingga sudah mengisi kulkas dan lemari Anda," ujar Ken, nadanya datar. "Semua pakaian di dalam koper ini. Tugas Anda besok pagi: Tepat pukul 08.00, Anda harus sudah berada di Lantai 30, kantor Tuan Lingga. Jangan terlambat."
Ayu tidak punya pilihan selain menerima. Lingga telah membeli semuanya: masa depannya, pakaiannya, dan tempat tinggalnya. Ia harus melaksanakan peran barunya.
Pukul 07.58, Ayu keluar dari lift eksklusif di Lantai 30, kantor Lingga. Ia mengenakan blus sutra navy dan rok pensil hitam yang diberikan Lingga. Pagi ini, ia terlihat jauh lebih profesional, anggun, dan—ini adalah masalahnya—jauh lebih menarik daripada siswi SMA yang panik ia temui di club.
Namun, ia punya satu masalah krusial: sandal jepit karet hijau lumut yang ia bawa dari kosan adalah satu-satunya alas kaki yang ia miliki saat Ken lupa membelikannya sepatu kantor.
Ckiit... Ckiit... Ckiit...
Decitan sandal itu, yang berpadu dengan ritme langkah canggung Ayu, adalah satu-satunya suara selain ketukan keyboard di ruangan Lingga yang hening.
Lingga, yang sedang meninjau laporan keuangan, menoleh. Matanya yang tajam menyapu Ayu dari ujung kepala hingga ke sandal karet yang mencolok.
Jantungnya—yang sudah terlatih dingin menghadapi saham jatuh dan pengkhianatan mitra bisnis—tiba-tiba berdebar sedikit lebih cepat.
Astaga, dia terlihat... elegan, batin Lingga, panik.
Pakaian itu benar-benar cocok. Tapi sandal jepit hijau lumut itu? Dia datang ke perusahaan senilai triliunan Rupiah memakai alas kaki untuk ke pasar!
Ayu, di balutan pakaian barunya, memang terlihat sangat berbeda. Ia terlihat... ayu, sesuai namanya. Bukan hanya Ayu yang manis, tapi Ayu yang memiliki daya tarik yang mengganggu.
Lingga merasakan ada sesuatu yang hangat dan tidak profesional menjalar di dadanya. Tidak. Aku tidak boleh memikirkan hal ini. Dia adalah pencuri kecil yang tahu rahasia terbesarku. Dia hanyalah kontrak yang berjalan.
Lingga segera menekan perasaan itu dengan profesionalisme yang keras, tetapi wajahnya sedikit memerah karena upaya keras tersebut.
“Kau serius?” tanya Lingga, suaranya sangat datar, tetapi di baliknya ada upaya keras untuk menutupi debarannya dan rasa absurd melihat perpaduan sutra dan karet.
Ayu menahan napas. "Maaf, Tuan. Saya lupa membeli sepatu yang layak. Tuan Ken lupa—"
“Jangan menyalahkan Ken,” potong Lingga, berusaha mengendalikan kekonyolan situasinya. “Kau bertanggung jawab penuh atas penampilanmu. Apa yang akan dikatakan klien saat melihat asistenku datang ke kantor dengan alas kaki yang membuatku merasa seperti sedang piknik di taman?”
Lingga bangkit. Ia berjalan mengelilingi meja, pandangannya tidak lepas dari sandal jepit hijau lumut Ayu. Ia berjalan perlahan, membuat decitan sandal Ayu berhenti di bawah tatapan intimidasi Lingga.
Dia sangat mengganggu. Tapi kenapa dia harus secantik ini? Ini hanya akan menambah masalah dalam hidupku. Lingga harus segera mengakhiri kekonyolan ini sebelum ia benar-benar membiarkan Ayu menjalankan perintah di kantor dengan alas kaki anti-slip itu.
“Nona Ayu Puspita,” kata Lingga dingin.
“Tugas pertamamu: Protokol Sepatu Mahardika.”
Ia berjalan ke lemari sepatu mewahnya—sebuah lemari kaca tersembunyi yang menyimpan koleksi alas kaki branded mahalnya—dan mengambil sebuah kotak.
"Ini. Ukuran 37. Aku membelinya untuk seorang kolega, tapi dia dipecat sebelum sempat mengambilnya. Untung bagimu," kata Lingga, meletakkan sepatu hak tinggi Italia, berwarna hitam mengkilap, itu di lantai.
“Tugas pertamamu: Buang sandal jepitmu itu ke tempat sampah. Sekarang. Dan pakai sepatu ini,” perintah Lingga.
Ayu, dengan wajah memerah, mencopot sandal karet kesayangannya. Ia berjalan agak pincang ke tempat sampah di sudut dan menjatuhkan sandal itu dengan suara pluk yang menyedihkan.
Ayu kemudian mengganti alas kakinya, tetapi saat mencoba berdiri, ia goyah, kakinya tidak terbiasa dengan hak setinggi itu. Ia refleks mencengkeram lengan Lingga yang berada paling dekat dengannya.
Lingga merasakan sentuhan lembut itu seperti sengatan listrik. Seketika, ia kembali teringat saat Ayu memeluknya erat di suite club malam itu—pelukan orang yang ketakutan. Debaran jantungnya kini terasa nyata, panas, dan tidak profesional.
Lingga segera mendorong bahu Ayu menjauh, hampir tersentak.
“Jaga tanganmu,” geram Lingga, matanya memancarkan peringatan keras. Ia harus menjaga jarak ini demi kewarasan bisnisnya.
“Jangan pernah sentuh aku, kecuali atas perintah langsung. Jelas?”
"Jelas, Tuan," bisik Ayu, wajahnya memerah karena malu dan ketakutan. Ia terlihat seperti kijang kecil yang baru saja dipakaikan sepatu kaca.
Lingga menatapnya lekat. Baiklah, Lingga. Dia hanyalah asisten. Dia hanyalah penjamin rahasiamu.
Lingga mengambil dua lembar post-it dan pulpen.
“Buang sandal jepit itu sudah selesai. Sekarang, Tugas Kedua: Ada dua hal yang paling aku benci. Kau harus mengingatnya.”
Ia menulis dan menyerahkan post-it pertama:
Keterlambatan.
Dan yang kedua, ditulis dengan tekanan lebih keras hingga tintanya hampir robek:
Julukan 'Sugar Daddy Kere'.
"Paham, Ayu?"
Ayu mengangguk. "Paham, Tuan Lingga. Tidak ada sandal jepit, tidak ada keterlambatan, dan tidak ada 'Sugar Daddy Kere'."
"Bagus. Sekarang kau siap bekerja. Tugas pertama mu," Lingga menunjuk ke tumpukan berkas setinggi lutut di sudut ruangan.
"Semua itu harus disusun berdasarkan abjad klien, lalu diringkas menjadi dua lembar laporan sebelum makan siang. Silakan mulai."
Lingga kembali duduk di kursinya, memelototi layar laptopnya, tetapi pikirannya tidak fokus pada angka-angka di layar. Ia fokus pada pantulan Ayu di jendela—seorang gadis yang mengenakan sepatu hak Italia mahal, tetapi tampak kesulitan berjalan, seperti bayi rusa yang baru belajar—dan merupakan satu-satunya orang di dunia yang berani memanggilnya "Sugar Daddy Kere."
Ini akan menjadi neraka. Lingga menghela napas, menolak debaran yang aneh dan tidak diinginkan di dadanya.
Huffftt
Setidaknya, decitan sandal jepit karetnya sudah hilang.
***
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....