Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Han Chuan menatap tajam ke arah pedang-pedang yang mengelilinginya, matanya bergerak cepat mengamati setiap celah di antara lintasan serangan.“Bagaimana ini, aku harus mencari cara,” batinnya, saat tekanan energi spiritual dari keempat pedang itu semakin kuat dan menusuk kulitnya.
Di saat Han Chuan masih berpikir, orang yang menyerangnya langsung menggerakkan tangannya. Keempat pedang yang melayang di udara bergetar keras, lalu melesat bersamaan ke arah Han Chuan dengan suara siulan tajam yang memecah udara.
Han Chuan yang melihat pedang-pedang itu melesat ke arahnya langsung menggenggam pedangnya dengan erat. Otot lengannya menegang, dan energi spiritual di tubuhnya bergejolak hebat.
“Teknik rahasia Lukisan Dalam Pedang, Tebasan Musim Gugur,” ucap Han Chuan dengan suara rendah namun tegas.
Berbeda dari teknik yang sebelumnya ia gunakan untuk menebas lurus, kali ini Han Chuan memutar tubuhnya seperti gasing. Tubuhnya berputar sangat cepat, sementara pedang di tangannya memercikkan petir biru yang menyambar-nyambar. Setiap benturan terdengar suara dentingan logam yang keras, saat pedangnya menangkis semua pedang yang melesat ke arahnya. Gelombang energi spiritual menyebar ke sekeliling, yang membuat dedaunan beterbangan.
Setelah berhasil menghalau semua pedang itu, Han Chuan langsung melesat ke arah orang yang mengendalikan serangan. Tanpa memberi kesempatan sedikit pun untuk bereaksi, Han Chuan mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat. Suara tebasan terdengar jelas, dan kepala orang tersebut langsung terpisah dari tubuhnya, darah muncrat dan berceceran ke tanah.
“Hemm, Sekte Iblis Langit. Ingin menghadangku? Hemm, percuma kalian terlalu lemah untuk ku” gumam Han Chuan dingin.
Ia berbalik, lalu mengayunkan pedangnya sekali lagi untuk membersihkan darah yang menempel di bilah pedang. Setelah itu, pedang tersebut dimasukkan kembali ke dalam sarungnya dengan suara gesekan pelan. Matanya menyapu sekeliling dengan waspada.“Sepertinya tidak ada apa-apa lagi di sini,” ucapnya tenang.
Han Chuan kemudian membuka peta dan menatap arah tujuan menuju inti iblis terakhir, penentu kemenangan dari konferensi pemburu iblis. Setelah memperhatikannya sejenak, ia menutup peta itu kembali. Tanpa ragu, Han Chuan langsung melesat dengan Teknik gerakan guntur miliknya ke arah tujuan, meninggalkan jejak petir yang menyambar di belakangnya.
Sementara itu, di sebuah gua yang gelap dan dalam, terdapat seekor ular raksasa dengan tubuh yang sangat besar. Matanya berwarna merah menyala, memancarkan cahaya dingin yang mengerikan. Ular itu sedang menyerap energi spiritual yang terus mengalir ke arahnya tanpa henti. Aliran energi tersebut berputar seperti arus kabut, tersedot masuk ke dalam tubuhnya melalui mulut dan sisiknya. Ia tidak berhenti sama sekali, terus mengisap energi itu dengan rakus. Di sekelilingnya, gua tersebut dipenuhi bangkai iblis yang sudah tidak lagi utuh, sebagian besar tubuh mereka telah hancur dan tercabik karena dimakan olehnya.
Kembali ke Han Chuan, ia masih berlari mengikuti arah peta yang terbuka di tangannya. Tanpa disadari, ia menabrak sesuatu di depan dirinya dengan keras. Tubuhnya terpental sedikit ke belakang, membuatnya terhuyung sambil memegang kepalanya.“Aduhh, siapa yang menaruh batu di sini,” gumamnya sambil meringis kesakitan dan terus mengelus kepalanya.
Setelah beberapa saat, ia berhenti mengusap kepalanya dan mengangkat pandangannya ke depan. Saat melihat apa yang berada di hadapannya, wajahnya langsung berubah terkejut.
“Hah, altar? Siapa yang meletakkan altar di sini,” gumamnya pelan.
Han Chuan pun mendekat perlahan. Begitu berada lebih dekat, ia bisa merasakan gelombang energi spiritual yang terpancar dari altar tersebut, berdenyut samar namun terasa jelas menekan tubuhnya.“Energinya hampir sama seperti energi dari murid Sekte Iblis Langit,” ucapnya pelan sambil memegang dagunya.
“Apa jangan-jangan ini memang ulah mereka,” batinnya, lalu ia menoleh dan memperhatikan sekeliling dengan waspada.
Saat Han Chuan hendak mengamati lebih lanjut, tiba-tiba sebuah jimat melesat ke arahnya dengan cepat. Matanya membelalak, dan ia langsung mundur ke belakang. Jimat itu meledak tepat di tempat ia berdiri sebelumnya, menghasilkan suara ledakan keras dan gelombang energi yang menyebar ke sekitarnya.
Han Chuan segera mengalihkan pandangannya ke arah hutan. Dari balik pepohonan, terlihat sebuah bayangan berjalan ke arahnya sambil memegang beberapa kertas jimat di tangan. Melihat itu, Han Chuan langsung bersiap. Ia menggeser sedikit pedangnya dengan ibu jarinya, bersiap menariknya kapan saja.
“Ternyata kau yang membangun altar ini ya,” tanya sosok tersebut dengan suara datar, meski wujudnya masih terlihat samar.
Han Chuan mengangkat alisnya, ekspresinya penuh kewaspadaan.“Apa maksudmu,” balasnya singkat.
Saat sosok itu melangkah lebih dekat dan wujudnya terlihat jelas, mata Han Chuan langsung menyempit.
“Ling Shura,” ucap Han Chuan dengan nada dingin.
Ling Shura pun menatapnya tajam.
“Han Chuan,” balasnya.
Keduanya berdiri saling berhadapan, aura energi spiritual mereka mulai saling menekan, membuat udara di sekitar terasa berat dan menegangkan.
“Kau yang membangun altar ini,” ucap mereka berdua secara bersamaan.
“Hei, jangan menuduhku,” ucap mereka secara bersamaan sekali lagi.
Han Chuan menghela napas panjang lalu menatapnya.
“Sudah, sudah. Itu bukan aku yang membangunnya. Kemungkinan besar ini ulah murid Sekte Iblis Langit,” ucap Han Chuan sambil menatap altar di sampingnya.
Ling Shura yang mendengar penjelasan Han Chuan tampak sedikit terkejut. Ia pun melangkah mendekat.
“Hemm, bagaimana kau tahu ini ulah murid Sekte Iblis Langit,” tanya Ling Shura untuk memastikan perkataan Han Chuan.
“Aku merasakan energi yang terpancar dari altar ini mirip dengan energi murid Sekte Iblis Langit yang aku bunuh baru-baru ini,” jawab Han Chuan.
Ling Shura hanya mengangguk pelan tanda paham. Ia memperhatikan Han Chuan yang melangkah mendekat ke arah altar di depannya. Han Chuan berdiri tepat di depan altar tersebut, lalu mencabut pedangnya dari sarung. Dengan satu ayunan kuat, bilah pedang itu memancarkan energi spiritual yang tajam. Tebasan tersebut langsung membelah altar dengan sangat rapi. Altar itu hancur berkeping-keping, energi hitam di dalamnya bergetar hebat, lalu perlahan menghilang ke udara.
Han Chuan menatap bekas altar itu sesaat, lalu menyapu pandangannya ke sekeliling.
“Aku tadi membuka teknik mata. Aku kasih nama Mata Langit saja,” batinnya pelan.
Ia langsung memejamkan mata.
“Mata Langit,” gumamnya tegas.
Saat matanya terbuka kembali, pandangannya langsung berubah. Ia bisa merasakan sisa energi dari altar tersebut dengan sangat jelas. Bahkan, ia dapat melihat aliran energi spiritual yang tersisa, mengalir seperti garis samar dan mengarah ke suatu tempat di kejauhan.“Berkat mata ini, aku bisa melihat jejak energi dengan sangat jelas,” batinnya.
Han Chuan segera mengambil peta dari kantong ruang miliknya dan membukanya.“Hemm, sepertinya arahnya sama,” gumamnya.
Ia menyimpan kembali peta itu lalu menoleh ke arah Ling Shura yang sejak tadi terus memperhatikannya.“Kau mau ke mana lagi,” tanya Ling Shura dengan rasa penasaran.
“Aku akan membunuh iblis yang akan menjadi penentuan kemenangan dari konferensi pemburu iblis,” jawab Han Chuan.
Begitu selesai berbicara, Han Chuan langsung menggunakan gerakan guntur miliknya. Tubuhnya melesat dengan kecepatan tinggi, meninggalkan jejak kilatan energi di tanah, sambil tetap mengaktifkan teknik Mata Langit untuk mengikuti jejak energi yang baru saja ia lihat.
Ling Shura yang mendengar perkataan Han Chuan langsung berteriak keras.“Wee, itu jatahku,” teriaknya.
Han Chuan yang mendengar teriakan itu hanya tersenyum tipis.
“Siapa cepat, dia dapat,” balasnya, lalu melesat semakin jauh.
Ling Shura menatap kepergian Han Chuan dengan mata terbelalak, jelas terkejut oleh kecepatan yang baru saja ia lihat.