NovelToon NovelToon
Better Half

Better Half

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: fei yuu

Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Zahra Malika Demir

Derap langkah kaki Murat menggema di sepanjang lorong Rumah Sakit. Matanya dengan awas memperhatikan setiap angka yang tertera disetiap pintu. Langkahnya berhenti didepan pintu yang bernomer 10.

Murat melangkah masuk. Ternyata didalam ada 4 bed, dan hanya dua yang terisi. Dia melangkah mencari bed istrinya. Ternyata bed Hanna berada dipojokan dekat dengan jendela besar.

Terlihat disana ibunya sedang duduk menelepon seseorang. Dia tidak sadar dengan kedatangan putranya. Hanna yang melihat suaminya tampak sumringah.

Murat hanya melihat Hanna datar. "Dimana Bayi kita?". Pertanyaan biasa tapi membuat hati Hanna sangat kecewa. Tidak ada ucapan sayang atau ungkapan cinta yang biasanya seorang suami lakukan setelah melihat perjuangan istrinya melahirkan.

Senyum Hanna surut. " Sebentar lagi, perawat akan mengantarnya kesini". Suaranya sedikit bergetar menahan kecewa dan tangis.

Murat hanya melihat Hanna tanpa ingin membelai ataupun mencium istrinya. Hanna menunduk mencoba agar bisa menyembunyikan air matanya yang mulai turun.

"Dari mana kamu?" Suara Ny Amel mengagetkan sepasang suami istri itu. Murat melihat ibunya terkejut, sedangkan Hanna berpaling mencoba untuk menghapus air matanya.

"Aku sibuk mah dan kebetulan hari ini ada pekerjaan penting". Jawabnya dengan acuh. Ny Amel tau putranya berbohong. Sepenting apa pekerjaannya hingga mengabaikan istrinya yang akan melahirkan.

Banyak kata yang Ingin Ny Amel tumpahkan, tetapi dia sadar diri, disana bukan hanya ada anak dan menantunya saja. Tetapi ada orang lain yang mungkin akan terganggu. Jadi Ny Amel hanya melotot melihat Murat yang acuh dengan intimidasinya.

Suara roda berderit mendekat kearah mereka. Suasana tegang sedikit mencair, ketiga orang itu bersamaan menoleh melihat suster Nindi mendorong box baby kearah mereka.

Ketiga orang dewasa itu tampak sumringah. "Halo Bu Hanna, bagaimana apa sudah lebih baik?" suster Nindi bertanya dengan perhatian yang membuat hati Hanna menghangat.

"Sudah suster, memang masih terasa ngilu tapi aku baik suster". Suara lembut Hanna menyadarkan Murat. Seharusnya tadi dia bertanya keadaan istrinya.

Tetapi karena tidak sabar untuk melihat bayi kecilnya Murat mengabaikan kondisi istrinya itu. Murat berdehem dan menjadi salah tingkah akan kesalahannya.

"Tetapi sebelum itu bayinya harus di Adzan kan dulu yah bu". Suster Nindi mengingatkan karena dia melihat ada pria dewasa disana yang sudah pasti ayah si bayi pikirnya.

Suster Nindi memberikan bayi mungil itu pada sang ayah. Murat yang menerima bayi itu terharu, meskipun ini yang kedua kalinya dia mengadzankan bayi. Tetapi perasaan terharunya tak bisa disembunyikan.

Murat melihat bayi cantik itu dengan seksama. Wajah putri kecilnya perpaduan antara wajahnya dan istrinya. Tetapi lebih dominan wajahnya.

"Sudah pak". Suster Nindi mengambil bayi itu untuk segera diberi Asi oleh ibunya. Ada perasaan kehilangan yang dirasakan Murat, setelah bayinya berpindah tangan.

" Bagaimana bu Hanna, apa siap untuk menyusui bayi cantiknya?" Lagi suster Nindi bertanya sambil menimang nimang bayi cantik itu. Hanna mengangguk dengan semangat. Matanya berkaca kaca.

kedua tangannya direntangkan untuk menerima baby kecilnya. " siap suster". Suster Nindi mendekat dan menyimpan baby cantik itu didada nya.

Mulut bayi cantik itu terbuka dan kepala kecilnya bergerak susah payah untuk mencari sumber kehidupannya. Hanna yang melihat itu terharu dan tanpa terasa air matanya mengalir.

Akhirnya bayi mungil itu mendapatkan apa yang dia cari. Hati Hanna menghangat, dia tersenyum bahagia. Tangan kecil itu menggenggam telunjuk ibunya.

"Ayo makan yang banyak sayang". Suara lembut Hanna memecahkan keheningan. Meskipun sedikit ngilu karena untuk pertama kalinya dia menyusui bayi, tetapi hatinya sangat bahagia. sambil menyusui Hanna mencium ciumi tangan mungil itu.

Ada perasaan yang tidak biasa yang Murat rasakan ketika melihat Hanna menyusui bayi mereka.

Dia teringat dulu Zahra sama sekali tidak mau menyusui bayinya. Zahra takut tubuhnya akan berubah karena menyusui, padahal Murat sudah membujuknya dengan segala cara.

Tetapi pada akhirnya Murat mengalah, Keanu tetap mendapatkan Asi meskipun tidak secara langsung.

Tetapi saat ini yang dia lihat, Hanna tidak peduli. Istrinya dengan penuh kasih menyusui putri kecil mereka dengan bahagia.

Murat mengalihkan perhatiannya. Dia tidak mau terbuai oleh pesona Hanna yang membuat dirinya membandingkan Zahra dengan istrinya sekarang.

"Baik bu Hanna, saya tinggal dulu. Nanti satu jam lagi saya kesini yah bu". Suster Nindi pun meninggalkan ruangan yang ditempati oleh Hanna.

Setelah cukup lama akhirnya baby kecil itu kenyang dan tertidur pulas. Hanna menimang nimang bayi mungilnya.

"Biar aku pindahkan". Tegas Murat, di ambilnya bayi kecil itu dengan perlahan dari gendongan istrinya. Ditimang timang dengan sayang.

Ny Amel mendekat untuk melihat cucu keduanya. Cucu perempuannya sangat cantik perpaduan wajah putranya dan istrinya.

"Kalian akan memberi nama apa pada bayi cantik ini?". Ny Amel bertanya sambil menggenggam tangan mungil itu.

"Zahra Malika Demir". Tegas Murat. Degh... Hati Hanna menclos ada perasaan yang sangat sakit yang tidak bisa digambarkan. itu adalah nama dari sahabatnya, mendiang istri Murat. Tanpa terasa air mata mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.

Ny Amel yang mendengar itu terkejut. Apa anaknya sudah gila menamai putri kecilnya dengan nama mendiang istrinya.

"Mamah tidak suka, ganti yang lain!" tegas Ny Amel. "Tidak mah, putri kecilku lahir ditanggal yang sama dengan kekasih hatiku". Ada jeda pada obrolan mereka.

"Mungkin itu takdir Tuhan agar aku selalu mengingat cintaku". Hati Hanna bagai diremas remas. Dia yang berjuang setengah mati untuk melahirkan putrinya. Tetapi apa yang dia dapat sungguh menyakitkan.

Ny Amel yang melihat menantunya tidak tega. " Kamu tidak bisa memutuskan sendiri nama itu. Hanna juga mungkin punya nama yang sudah dipersiapkan untuk putri kecilnya".

Ny Amel mengingatkan putranya agar lebih peka bahwa bukan hanya dia yang berhak menentukan nama putrinya. Disana ada istrinya yang lebih berhak.

"Aku yakin Hanna pun setuju, bukankah itu nama sahabat sejatinya kan". Murat menatap Hanna dengan tegas. Pria itu tidak peduli meskipun istrinya kini sedang menangis dalam diam.

Hanna hanya diam tidak mengiyakan atau menolak. " Sudah simpan dulu baby cantik ini, biar dia tidur nyaman". Ny Amel mencoba mencairkan suasana.

" Baiklah" Murat menyimpan bayi kecilnya. " Aku keluar dulu". Murat keluar tanpa menghiraukan istri dan ibunya.

Ny Amel yang melihat putranya hanya menggeleng gelengkan kepala. " Mamah keluar dulu". Suara Ny Amel datar.

Setelah kepergian kedua orang itu Hanna menepuk nepuk dadanya dan menangis tanpa suara " Kuatkan aku Tuhan".

1
Nurjannah Rajja
Semoga istrimu diambil Halil, kamu jahat sih, jadi kudoakan yg terburuk buat kamu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!