NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NASIHAT TARI

Tak membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di rumah Tari, sahabat sejak dari mereka SMA dulu, hanya memakan sepuluh menit dengan berjalan kaki, akhirnya Salma tiba di sebuah rumah yang kini nampak berbeda dari beberapa tahun yang lalu.

Tari pernah tak bisa di kabari, ketika ia tak bisa diganggu oleh siapapun, termasuk sahabatnya sendiri. Rumahnya sedang dalam proses renovasi, membuat suasana kacau dan penuh debu. Sejak pagi hingga malam, ia harus membantu keluarganya beres-beres—memindahkan perabot, membersihkan sisa material bangunan, hingga memastikan segala sesuatu tertata kembali. Dan, di tengah kelelahan itu, yang Salma lihat sekarang adalah rumah sederhana namun nyaman dan lebih tertata.

"Sal. Lo udah dateng." Sambut gadis berambut pirang itu mendadak sudah muncul di ambang pintu. Tidak mengejutkan, namun cukup membuat Salma berpaling dari arah pekarangan rumah yang cantik dan terawat.

"Eh, Tar. Baru aja mau ketuk pintu."

Tari melempar senyum. "Kita ngobrol di sana aja, Yuk!" Katanya, sambil menunjuk ke sebuah gazebo kecil dekat dengan sisi kolam ikan. Tidak besar, tapi nampak nyaman.

Salma mengangguk. "Boleh."

"Ya udah lo tunggu di sana dulu ya, gue siapin cemilan dulu. Kebetulan nyokap sama abang gue belum balik, jadi di rumah dari tadi apa-apa gue sendiri yang kerjain."

"Sorry gue jadi repotin lo."

Tari menggeleng. "Enggak, bukan gitu. Gue sedikit curhat aja, hehe. Yang mau curhat banyak sekarang kan, lo!"

Salma mendengus, "Nyebelin lo!"

Tari menyengir. "Tunggu bentar, ya!"

Salma berbalik begitu Tari kembali masuk ke dalam rumahnya. Langkahnya kemudian menyusuri jalan setapak, telapak kakinya menginjak kerikil-kerikil kecil yang berderak pelan di bawah pijakan.

Ia berjalan menuju gazebo di sudut halaman, tubuhnya melambat seiring pandangannya terangkat menatap langit senja yang mulai berpendar jingga keemasan. Cahaya lembut itu seharusnya ia nikmati bersama Randi sambil berbagi cerita ringan, tawa singkat, atau sekadar duduk berdampingan dalam diam. Namun kini, hanya angin sore yang menemani, membawa rasa sepi yang perlahan mengendap di hatinya.

Begitu Salma duduk di tepi gazebo, terdengar derit kayu yang lirih, seolah ikut mengeluhkan beban yang menimpa. Papan-papan itu bergetar pelan di bawah berat tubuhnya, menyatu dengan hembusan angin sore. Saat itu juga, Tari datang sambil membawa sebuah nampan berisi dua cangkir minuman dan beberapa keping kue yang ia taruh di dekat mereka.

"Gue udah nyiapin ini sejak lo nelpon, habisin ya!" Kata Tari sambil menempatkan bokongnya di samping Salma. Sementara, satu tangannya mengambil minuman itu untuk sahabatnya.

Salma segera menyambut minuman dingin itu lalu meneguknya perlahan. Rasa manis dan segarnya perlahan meredam rasa sesak di dada.

"Kenapa lo bisa ada di Kafe Arta?" Tanya Tari. "Sal... Kafe itu tuh bukan cuma jauh dari jarak rumah lo, tapi beuh.... mahal banget menunya. Gue kan yang paling tahu salary dan selera lo!"

"Tar, please deh gak usah buat gue makin emosi!"

"Hehe bercanda!" Tari menyengir. "Bercanda sesuai realita!"

Salma berpaling sesaat, "Terserah!" Gumamnya. "Gue tadinya udah janjian sama Randi di kafe itu."

"Wait!" Tari memposisikan duduknya lebih nyaman. "Jadi lo masih ada hubungan sama si Randi-Randi itu?"

Salma mengangguk.

"Setelah tahu dia punya cewek lain?!"

Lagi, Salma mengangguk.

"Lo jadi gak nurutin apa saran gue kemaren-kemaren?!"

Salma membisu.

"Ya ampun, Sal.... lo tuh bego bodo atau kebangetan si!" Celetuk Tari setengah emosi. "Kalau gue jadi lo... gue udah minta putus sama dia! Gue gak mau jadi cewek yang gampang banget di duain!"

"Iya, gue tahu..." Sambar Salma. "Tapi..."

"Lo udah cinta sama dia!" Potong Tari cepat. "Antara cinta buta sama terlalu dalam buat lo kasih cinta sama dia!"

Salma menggeleng. "Gue gak cinta buta, Tar. Gue udah janji sama diri gue sendiri... kalau gue punya pacar, gue gak akan pernah merasa kesal marah atau apapun itu pada pasangan gue sendiri, gue gak mau buat dia kecewa sama kemarahan gue."

Tari menggeleng. "Tapi dia udah ngecewain lo, Sal! Lo berhak kesal... marah, apalagi buat keputusan sepihak demi kebaikan lo!"

Salma berpaling memandang langit sejenak, "Gue... pengen ngebuktiin kalau gue adalah yang terbaik dari cewek itu."

Tari menggeleng beku.

"Dia bilang... siapapun di antara gue dan cewek itu yang siap bertahan, itu yang terbaik buat dia. Dan, gue pengen ngebuktiin sejauh mana dan sampai mana ini akan berakhir. Yang jelas... gue akan tetap berjuang, nunjukkin ke dia kalau gue—"

"Capek, Sal!" Potong Tari lagi. "Lo bakalan capek kalau terus-terusan kayak gini. Gue tahu lo gak pernah yang namanya pacaran, makanya lo gak tahu gimana cara lo ngadepin sebuah hubungan. Sal... cinta itu bukan ajang perlombaan siapa yang paling kuat atau bertahan. Tapi saling!"

Salma membisu dan menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya dari dunia yang kini seakan menghakiminya oleh pernyataan Tari sekarang.

"Oke, lo gak mau jadi cewek manja sama pacar lo, gak mau jadi cewek yang apapun sedikit-sedikit kesel marah kecewa sama pacar lo karena kurang bersyukur udah punya pasangan... tapi semua itu ada batasnya, Sal." Beber Tari. "Ya gue cuma kasihan aja sama lo. Gue kan sahabat lo sejak SMA... gue udah tahu gimana kehidupan percintaan lo, ya kan... tapi lo pikir aja sama logika, lo punya barang kesukaan, nih... terus, barang lo di rebut atau diminta bagi dua sama orang lain. Gimana perasaan lo?"

Salma menelan saliva. "Y-Ya gue gak mau."

Tari menjentikkan jari. "Nah, ibarat itu. Dan sekarang... lo masih mau mertahanin barang yang udah di bagi dua sama orang lain? Kan masih ada barang yang lain?"

"Tapi, gue..."

"Udah lepasin aja! Masih ada banyak kok cowok yang mau sama lo. Cuma waktunya aja yang belum nemuin lo sama jodoh lo." Sambar Tari lagi. "Lo tuh cantik, pendidik, guru...! Pasti ada, lah... jodoh yang tepat buat lo. Si Randi...?"

Tari mendesis pahit dengan gelengan di kepala. "So'kegantengan banget si dia direbutin sama dua cewek. Pede tingkat lebih dari dewa!" Celetuknya sambil melahap satu keping kue ke mulutnya.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!