NovelToon NovelToon
Conquer Me

Conquer Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Romansa / Bad Boy
Popularitas:165k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.

Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.

Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?

Conquer me ~》Taklukan aku....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 🩷 First kiss

"Hm, oke." Namun reaksi yang diberikan justru menggidikan pundaknya acuh tak acuh seraya matanya berpaling ke arah kolam.

Oke, Nara mengangguk, "siapa tau lagi butuh temen lari pagi...bisa mampir, kita keliling komplek bareng." Nara beranjak dari sana membuat Dea meliriknya sekilas memastikan Nara pergi, namun saat pandangan Nara menoleh padanya lagi, gadis itu kembali mengalihkan pandangan ke kolam.

/

"De!" panggil Gibran usil ke arah rumahnya, Yap! Rumah Gibran memang berada tepat berhadapan dengan rumah sebelah Dea.

Sore itu, Dea hanya sedang tak sengaja keluar membukakan gerbang dengan baju piyama Doraemon miliknya plus kacamata bulat yang nampak menggemaskan, sosok Dea yang berbeda dari ia sewaktu sekolah. Dea versi mundur 5 tahun ke belakang sepertinya.

"Mau kemana Lo?!" tanya Dea saat Gibran dengan pakaian casualnya mengeluarkan motor.

"Dea?!" kini wajah Dea meringis melihat ibu Gibran, "eh, tante Silvi...mau kemana tante?" Dea celingukan ke kanan dan kiri refleks, menghampiri Gibran dan ibunya itu, "ke depan, beli cemilan."

"Oh," angguknya mundur saat Gibran semakin mundur dan melihatnya dengan wajah konyolnya, memancing Dea untuk membalasnya, ajeb-ajeb? Gumaman bibirnya tanpa bersuara. Dea menggeleng sambil meringis, lagi sesek.

Gibran mengangguk mengiyakan, oke.

"Udah ma? De awas...dahh.." pintanya dan tante Silvi pamit pada Dea.

Dea menatap kepergian Gibran. Bahkan Gibran, tidak mampu membuat Dea terbuka seluruhnya, termasuk pemuda itu yang tak pernah merasa curiga atau bertanya tentang masa lalu Dea, hanya sebatas penyakit asma Dea saja yang ia tau, itupun karena ketidaksengajaan saat para ibu-ibu arisan.

Rifal, entah angin apa yang membawa langkahnya malam ini menuju sebuah club malam. Ia tau saat ini weekend, padahal tempat ini sama sekali bukan tujuannya. Tapi seolah hatinya terlalu penasaran untuk tak memastikan barang sebentar saja. Kalau, gerombolan remaja yang beberapa kali ia lihat itu, adalah mereka yang ia kenal....memastikan jika gadis itu, cukup aneh untuk datang ke tempat yang dipenuhi oleh asap rokok, padahal gelagatnya seperti sedang menghindari.

Caranya meminum cocktail pun cukup dibilang cupu. Bahkan seringnya menghindari. *Nakal Lo tanggung*.

Benar, Rifal beberapa kali bertemu dengan Dea cs yang sering datang kesini untuk menghibur diri di akhir pekan. Dan orang yang paling menarik perhatiannya siapa lagi jika bukan, Deanada Kharisma si gadis girl band katanya.

Dea tau, sepagi ini di weekend pula Inggrid sudah pasti belum bangun. Sementara dirinya, berhubung ia merasa belakangan ini asmanya sering kambuh, Dea memilih untuk kembali melakukan olahraga ringan demi melatih kembali pernafasannya. Berlari kecil keliling komplek. Seharusnya sih berenang, demi memperkuat paru-paru.

Mas Elok menggaruk kepalanya yang masih berwajah bantal, "mau kemana tuh pagi-pagi?" tanya nya melihat Dea sudah dengan stelan legging, kaos dan sepatunya, "ya kalii mau kartinian..."

Papa tersenyum, "tumben."

"Ya ngga apa-apa, lagi pengen aja..."

"Asmanya sering kambuh ngga?" tanya papa, Dea mengangguk dan memperlihatkan inhaler di tangannya yang sudah botol ketiga dan hampir habis, "masih ada 1."

"Ya udah ntar beli lagi, jangan jogging jauh-jauh!" pinta papa diokei Dea dengan mengangkat jempolnya.

Ia memulai paginya dengan menghirup nafas panjang di luar pagar, lalu melakukan peregangan kecil. Ia memulai ayunan larinya seraya menghela nafas teratur.

Sejak lama ia menyimpan lukanya sendiri, meski imbasnya ia seperti membunuh diri sendiri secara perlahan.

Mama, papa, mas Elok, mas Huda, tak pernah tau jika dulu ia adalah korban bully, mereka juga tak pernah tau jika kini ia adalah korban-pelaku.

Ia memang egois, merasa cukup pintar bisa mengatasi semuanya sendiri, lihatlah imbasnya sekarang? Jika sudah begini ia harus bagaimana?

Nafasnya mulai terasa pendek, lantas Dea menghentikan langkahnya dan segera menghirup inhaler yang seharusnya ia hemat-hemat.

Dea duduk, menggeleng mengenyahkan segala pikiran yang sejak tadi membuatnya lelah berpikir.

"Dea," panggil seseorang dengan suara lirihnya membuat Dea buru-buru menyembunyikan inhaler di bawah pahanya.

"Jogging juga? Bareng?" tawar Nara. Bagaimanapun mereka pernah dekat, pernah bersama meski akhirnya Nara memutuskan untuk menjauhi circle komplek ini.

Ada senyum yang Nara tawarkan, namun Dea... ekspresi wajahnya masih sama pada Nara, sebab memang ia masih kesal dengan beberapa kejadian belakangan ini.

Nara yang menjauh dan lebih memilih MIPA 3, Nara yang justru jadian dengan Rama menolak Willy, dan kini rumor yang beredar Nara yang disukai Kenzie dimana Inggrid menyukai Kenzie.

"Ngga usah so akrab, Ra...inget, lo yang pilih buat jauhin kita?" Dea memberikan jarak, ketika Nara duduk di sampingnya.

"Sorry. Tapi gue ngga pernah punya maksud buat jelek atau mutus silaturahmi sama siapapun. Cuma memang----" Nara menghela nafasnya seperti sedang berpikir, haruskah ia bicara.

"Berteman itu bukankah mencari kenyamanan? Dan passion, cara kalian bermain itu ngga masuk di gue. Gue kaya lagi jadi orang lain yang ngga gue kenal...gue kaya lagi, jadi sosok Nara yang----entahlah, sorry lagi-lagi. Pribadi yang jahat." jujurnya lolos begitu saja dari mulut Nara yang langsung terasa menembus ke jantung Dea.

"Bukan berarti karena kasus rivalitas kalian sama anak-anak MIPA 3, terus kasus Mita kemarin, gue jadi benci kalian. Karena perseteruan kalian jauh sebelum gue datang, benar?"

"Gue masih anggap Lo temen. Kapanpun Lo butuh, kapanpun Lo mau cerita, jalan bareng gue tetep welcome kok, De..."

Dea berulang kali menghela nafasnya, kentara betul ada sesuatu yang sangat membebaninya selama ini dan hari ini, hal itu sudah berada di ambang batas.

Dea hanya mendengus geli mendengarnya, lantas tangannya meraih inhaler dari bawah paha, dan beranjak..."gue duluan." Dea melanjutkan lagi langkahnya, sedikit cepat agar Nara tak mencoba menyusulnya.

Ucapan Nara pagi itu memang tidak sengaja dan refleks ia ucapkan, namun pernah ia rasakan juga bahkan sampai detik ini, *jadi orang lain yang ngga gue kenal*, *pribadi yang jahat*. *Temen*. Bahkan berhari-hari setelah itu, Dea merasa fase denial itu semakin intens, ia selalu menyangkal...

**Jovanka**

*Les bareng*?

Senyum Dea terbit, meski kemudian ada hati mencelos. Jovanka, pemuda itu tak jua menyatakan cinta seperti harapan Dea.

Oke, Dea akan memastikan hal itu hari ini. Kalau Jovanka tak mau menyatakan perasaannya maka ia yang akan duluan.

Siang itu, Jovanka menjemputnya ke sekolah demi berangkat bersama ke tempat les yang sama.

Dea sempat melihat anak-anak MIPA 3 sedang berkerumun di warung babeh, seperti biasa...ia merotasi bola matanya. Entah penyerbuan apa lagi yang akan dilakukan. Entah siapa lagi yang akan mereka ajak tawuran.

"De, ntar mampir sebentar ke rumah sakit ya, gue mau ketemu sama kakak gue disana." Suaranya beradu dengan angin, Dea mengangguk, "oh oke. Kakak kamu dokter?"

Jovanka mengangguk, "dokter obgyn." Jawabnya membuat Dea kembali mengangguk.

Tak lama untuk sampai di rumah sakit, Dea diajak masuk oleh Jovanka ke dalam. Keadaan rumah sakit sehari-harinya ya ramai oleh pasien dan keluarga, bukti jika manusia sakit setiap harinya akan terus ada.

Langkahnya yang mengikuti Jovanka semakin masuk ke dalam melewati pintu depan, resepsionis, meja loket, dan ruang tunggu.

Jauh ke dalam lagi, ruangan-ruangan dokter spesialis dan seperti station nurse, hingga sampai di koridor dengan isian yang didominasi perempuan, hamil...

"Tunggu disini, sebentar."

Dea mengangguk sambil celingukan, "ngga lama kan, ya?"

Jovanka tersenyum, "engga."

Pandangannya yang semula menatap punggung Jovanka kini mulai mengedar sibuk menghabiskan ruang dan waktu. Cukup nyaman diantara rentang waktu 10 menitnya... tiba-tiba tangannya ditarik seseorang dengan kencang hingga praktis badannya yang tanpa aba-aba itu ikut tertarik.

Dea dapat melihat itu, ia melihat siapa yang menariknya. Dengan gerakan cepat ia menarik-narik tangannya yang cengkraman di tangannya justru semakin mengerat berjalan ke arah koridor yang cukup sepi, "lepass!"

Dea berhasil melepas tangannya atau Rifal yang memang sengaja melepas tangan Dea, dengan senyum menyeringai dan sorot mata itu....

"Lo ngapain di depan ruang obgyn? Mau 4borsii, hm?" see, benarkan tebakannya, lelaki ini memang menganggap yang tidak-tidak padanya, sorot matanya itu, senyumnya ...Rifal memang memandangnya sehina itu.

Dea melotot menatap Rifal benci.

"Cewek kaya Lo, emang sih ngga diragukan lagi sih nakalnya, boleh dong gue coba....berapa bayaran Lo? Perjam---per malam?"

Tangan Dea mengerat dalam kepalan, dan

PLAKK! Ia menampar Rifal keras dengan mata yang sudah berkaca-kaca, "catat di otak dangkal Lo itu. Gue emang sering wara-wiri cari hiburan ke club malam. Tapi gue tau batasan!"

Namun penjelasan itu tak meredakan apapun, Rifal justru kembali mendengus sumbang, "jangan salahkan siapapun kalo mulai sekarang gue lebih suka gangguin Lo, karena Lo dan teman-teman Lo duluan yang ganggu MIPA 3...ganggu keluarga MIPA 3, maka urusan Lo sama gue, ngga akan pernah gue lepas."

*Dughh*!

Rifal mendesak Dea, membuat punggung gadis itu menabrak tembok, lalu hal yang membuat Dea semakin melotot tak percaya adalah...

Rifal memajukan wajahnya dan meraih rahang Dea, hanya sepersekian detik saja kedua belahan bibir pemuda dengan kata-kata tajam penuh umpatan itu mencium bibirnya.

.

.

.

1
La Harida
suka bangat. hampir semua karya teh sin udah aku baca
Farani Masykur
Dea ngomong dong ma om Fal terusterang apa alasannya om Fal tuh sensian orangnya maklum dia miskin kasih sayang
Farani Masykur
gaskeun lah Dee nanti kalau gk kamu trima tantrum om om caemnya toh kamu jg ada rasa kan ma dia
Farani Masykur
widih om Fal kayak induk singa kehilangan anaknya ketika harga dirinya tercolek
dea harus bangga atau sedih ya dapat cinta brutal dr bedboy
sweet escape
🥹🥹🥹🥹🥹
sweet escape
Kl kamu jujur mungkin om fal bisa ikut k jogja🤭
sweet escape
Kurangnya dea itu selalu memendam masalahny sendiri , semoga nanti bisa belajar sharing masalah ke rifal ya
sweet escape
🥹🥹🥹🥹🥹🥹
sweet escape
Semoga seblm dea ke jogja kalian udah sama sama atau palinng nggak dalam keadaan baikan ya
sweet escape
Om fal nanti dea takut iniiiii liat berdi kamu kelepasan begini
sweet escape
Duh lah om si pujaan hati mau ke jogjaaaaa
sweet escape
Ooooo salah sekali jawabanmu kisanat krn ada yg kecewaaaaaa
sweet escape
Omgggggg d tembak tembak dorrrrrrr hatinya
sweet escape
Bagus deee jgn mau di bully lg
sweet escape
🤣🤣🤣melatih jantung dea kalo sering begini wkwkwk
sweet escape
Baru tau ya mah kalo papah dibantah omongannya jadi nekat🤭🤭🤭
sweet escape
Oalaah ing kamu ternyata mau jagain temen kamu dr sakit hati🥰
sweet escape
Haruskah dea meminta pertolongan wkwkwk om fal mengamuk mau begal cewek cantik
sweet escape
Wkwkw taaaaamatlah sudaaaaaah🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sweet escape
Hahaha tetangga pada kaget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!