Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.
Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.
Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CANDU HUJAN
Mesin motor telah mati setibanya Putra berhasil membawa Salma pulang. Tubuh mereka basah kuyup, pakaiannya terasa dingin saat menempel di kulit, rambut Salma juga meneteskan air tanpa henti.
Sudah hampir setengah jam, hujan justru semakin deras, mengguyur atap rumah dengan suara riuh yang memecah sunyi petang.
Putra kemudian turun lebih dulu, menahan napas sejenak sebelum melepas helmnya. Ia menoleh pada Salma yang tak lama ikut beringsut dari motornya, kedua tangannya gemetar entah karena dingin atau sisa perjalanan yang menegangkan.
"Jadi ini rumah Ibu?" Tanya Putra membaurkan pandangannya ke sebuah rumah minimalis lantai dua.
"Iya." Angguk Salma sambil merogoh sesuatu dari dalam tasnya.
Tanpa Salma sadari, Putra mulai mengamatinya ketika ia berbalik berjalan menuju pintu. Langkahnya pelan, sedikit ragu. Pakaian yang masih basah melekat di tubuhnya, kainnya tampak lebih gelap dan berat oleh air hujan. Siluet tubuhnya samar terbentuk, bukan dengan kesan mengundang, melainkan rapuh—menunjukkan betapa dingin dan lelahnya ia setelah perjalanan panjang tadi.
Rambutnya yang basah menempel di leher dan punggung, air menetes mengikuti garis kain yang kusut. Setiap geraknya terlihat canggung, seolah ia hanya ingin segera masuk dan terlepas dari rasa dingin yang menggigil diam-diam.
Begitu pintu rumah terbuka, Salma justru terdiam. Kepalanya dipenuhi kebingungan yang tiba-tiba menyeruak. Haruskah ia mempersilakan murid satu ini untuk masuk? Putra adalah laki-laki—dan ia tahu betul bagaimana pandangan orang-orang di sekitar. Satu langkah yang keliru bisa berubah menjadi bahan bisik-bisik tetangga, menjadi fitnah yang tak pernah ia minta.
Namun di sisi lain, matanya menangkap sosok Putra yang berdiri canggung di ambang pintu. Bahunya sedikit terangkat menahan dingin, tanpa jaket, seragamnya masih meneteskan air, bibirnya tampak pucat. Anak itu jelas kedinginan. Hujan di luar masih deras, angin menyusup tajam, seolah tak memberi pilihan selain segera berteduh.
"Putra, ayo masuk." Kata Salma kemudian. "Kamu gak mungkin hujan-hujanan sampai rumah."
"Udah terlanjur basah, Bu." Jawab Putra.
Salma membisu.
"Kalau gitu... aku pulang dulu ya, Bu."
"Tu-Tunggu!" Serah Salma kemudian. "Besok ada ulangan Ibu. Setidaknya... Ibu pinjamkan jaket atau kemeja suami Ibu yang pas buat kamu pakai sementara. Ibu gak mau kamu sakit. Kamu udah repot-repot anterin Ibu pulang."
"Tenang, Bu. Lagipula rumah Ibu sama rumah aku searah, kok."
"Ya tapi tetap aja Ibu gak enak udah ngerepotin kamu. Diam-diam kamu kedinginan juga, kan?"
"Hehe sedikit, Bu." Jawab Putra sambil menggaruk tengkuknya yang basah, tersenyum kecil seolah ingin mengecilkan keadaan.
Salma menarik napas dalam, lalu dihembuskan perlahan. “Masuk sebentar saja,” Lanjutnya lagi sambil membuka pintu lebih lebar. “Sekadar mengeringkan badan. Habis itu kamu pulang.”
Putra tampak ragu sejenak, lalu mengangguk patuh. "Ya udah, Bu."
Salma melangkah lebih dulu ke dalam, mengambil handuk cadangan dan meletakkannya di kursi. Hujan di luar masih menderu, sementara di dalam rumah, keheningan terasa canggung—dipenuhi kesadaran akan batas yang harus tetap dijaga, meski rasa peduli tak bisa sepenuhnya disangkal.
Mata Putra lepas sesaat dari Salma. Pandangannya kini membaur, menyapu setiap sudut ruang tamu yang sederhana namun rapi. Aroma hangat rumah itu bercampur dengan bau hujan yang masih melekat di tubuhnya. Pandangannya berhenti pada sebuah bingkai foto di atas lemari kecil—foto pernikahan. Salma tersenyum anggun di sana, berdampingan dengan seorang pria.
“Ibu… sudah nikah ternyata?” Tanya Putra spontan, nadanya polos.
“Iya,” Jawab Salma singkat. “Beberapa tahun yang lalu.”
Salma menoleh sebentar ke arah Putra, lalu melangkah menghampirinya sambil membawa secangkir teh hangat. Ia menyodorkannya dengan hati-hati. “Minumlah dulu. Biar hangat.”
Putra menerima cangkir itu dengan kedua tangan. “Terima kasih, Bu.”
Salma tersenyum tipis, lalu berjalan menuju kamar. “Ibu carikan dulu kemeja suami Ibu. Sudah agak kecil, semoga pas di kamu.”
Putra terkekeh. "Sudah agak kecil, berarti sekarang... suami Ibu udah jadi dugong, ya?" Celetuknya.
"Hush!" Geleng Salma.
"Hehe, bercanda Bu."
Salma menggeleng, ia benar-benar berbalik dan masuk ke dalam kamarnya.
Sementara, Putra hanya tersenyum di sisa tawanya bersama uap teh yang menghangatkan wajahnya. Dan semakin ia lama berdiri di tempatnya, pikirannya justru terasa semakin penuh—antara rasa canggung, hormat, dan kehangatan yang tak biasa ia rasakan di rumah seorang guru.
Beberapa menit kemudian, Salma kembali muncul dari arah kamar. Di tangannya terlipat rapi sebuah kemeja berwarna netral, tampak sudah lama tersimpan namun bersih dan wangi. Langkahnya tenang, meski di balik itu ada sedikit keraguan yang ia sembunyikan.
“Kamu pakai ini dulu,” Ucapnya pelan sambil menyerahkan kemeja itu pada Putra. “Biar bajumu yang basah bisa dilepas.”
"Ngomong-ngomong... suami Ibu ada di rumah? Atau belum pulang? Aku jadi malu kalau terlalu lama di rumah Ibu." Lanjut Putra sambil meletakan teh hangat itu di atas meja kaca dan mengambil kemeja itu dari Salma.
"Suami Ibu lagi di luar kota." Jawab Salma. "Kerja."
Putra mengangguk sambil membulatkan bibirnya membentuk vokal O. Di saat yang sama, tangannya refleks melepas kancing atas kemejanya yang basah.
“Tunggu!” Salma spontan menegur, suaranya meninggi karena kaget. “Kamu mau ganti baju di hadapan Ibu?!”
Putra langsung menghentikan gerakannya, matanya melebar. “Lah… terus di mana, Bu?”
Salma mendengus pelan, lalu menunjuk ke arah samping rumah. “Kamar mandinya di sana!”
“Oh… Ibu gak bilang sih,” Balas Putra jujur, terdengar agak kikuk.
Salma menghela napas panjang, kesalnya muncul bercampur geli. “Ya kamu ngerti dong. Kamu tuh bukan anak TK,” Gertaknya, meski nadanya lebih ke arah menahan emosi daripada benar-benar marah.
Putra tersenyum canggung, cepat-cepat merapikan kembali kancing yang sempat terbuka. “Iya, Bu. Maaf,” Ucapnya lalu bergegas menuju kamar mandi.
Salma menggeleng pelan melihat tingkah muridnya itu. Di satu sisi ia lega karena suasana kembali terkendali, di sisi lain hatinya masih berdebar—ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul saat di hadapannya tadi berdiri sosok Putra. Bukan perasaan yang seharusnya, melainkan kegelisahan samar yang membuatnya cepat-cepat memalingkan wajah, seolah ingin menepis sesuatu yang tak pantas untuk dipikirkan.
Tak lama, Putra kembali dengan pakaian yang sudah berganti. Kemeja itu tampak pas dikenakannya, rapi meski sederhana. Bahunya terlihat lebih tegap, dan penampilannya kini jauh lebih pantas serta kering dibanding sebelumnya. "Sudah ganti, Bu." Ucapnya pelan.
Salma menelan saliva. "Ma-Mas Erwin." Gumamnya lirih, nyaris tak terdengar, tatapannya kosong sejenak seolah bayangan masa lalu mendadak hadir di benaknya.
“Bu? Bu Salma?” Suara Putra terdengar ragu, memanggilnya pelan.
“Uhm.” Salma tersentak kecil, segera menyadari dirinya telah terlalu jauh melamun. Ia mengedipkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu mengalihkan pandangan.
Detik berikutnya, ia kembali memandang Putra yang kini benar-benar telah ada di hadapannya. Bukan lagi sosok samar di balik hujan dan pakaian basah, melainkan seorang anak muda yang berdiri tenang didepannya.
Salma menghela napas pelan. Pandangannya tertuju pada pakaian Putra, tak berani menatap wajah muridnya itu. "Ke-kerah kamu kurang rapi." Katanya, refleks, jemarinya terangkat, menangkap kerah kemeja itu dan merapikannya.
Sementara itu, Putra yang masih terpaku perlahan menundukkan kepalanya. Pandangannya terangkat sekilas, menangkap wajah sang guru yang terlalu dekat karena gerakan refleks tadi. Waktu seolah berhenti pada jarak yang semestinya tak terjadi—jarak yang membuat napasnya tertahan tanpa ia mengerti sebabnya.
Dadanya berdegup kencang oleh rasa gugup yang mendadak menyesak. Ada aroma samar bunga segar yang tertinggal di tubuh Salma yang masih basah—ringan, menenangkan, dan membuat pikirannya berisik. Ia segera menyadari dirinya berada di situasi yang tak biasa, dan rasa canggung itu menjalar cepat, memaksanya menunduk lebih dalam.
Tanpa disadari, jemari Putra perlahan terangkat. Meraih pinggang Salma, ragu, tapi berhasil melingkari tubuh ramping itu lebih dekat padanya.
Tanpa sempat menolak, Salma tersadar akan gerak refleksnya sendiri. Jemarinya yang semula turun ke arah kancing kemeja Putra yang berhasil dilepasnya, seketika berhenti di udara. Detik itu juga, ia menarik tangannya kembali, seolah tersengat oleh kesadarannya sendiri.
"Ya ampun!" Gumamnya lirih, wajahnya menegang. Ia mundur setapak dan menelan ludah dalam-dalam.
Putra pun ikut tersentak, napasnya tercekat. Ia segera merapikan kemejanya sendiri, menunduk dalam, menyadari situasi yang nyaris keliru. "Ma-Maaf, Bu."
"Ya-Ya udah. Kamu kan udah ganti baju, kamu pulang sekarang, gih!" Kata Salma dengan nada perintah dan penuh ketegasan. Sebuah cara yang ia pilih untuk menutup kegugupan yang masih berdenyut di dadanya.. "Besok ada ulangan. Hapalin materi sampai bab dua!"
Putra tersentak kecil, lalu mengangguk cepat. “Iya, Bu. Siap,” Jawabnya spontan, refleks sebagai murid yang kembali pada posisinya.
Salma mengambil kunci dan membuka pintu, udara petang yang kini sudah menuju malam, terasa lembap dan langsung menyelinap masuk saat kini hujan telah sedikit mereda.
“Terima kasih banyak, Bu,” Ucap Putra sekali lagi sebelum melangkah keluar. “Maaf sudah merepotkan.”
Salma hanya mengangguk singkat. “Hati-hati di jalan.”
****