Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Abi melangkah masuk ke dalam rumah dengan tatapan mata yang sudah mati rasa.
Ia tidak lagi melihat Genata sebagai istri yang harus ia lindungi, melainkan sebagai beban masa lalu yang telah menghancurkan masa depannya bersama Liana.
Di ruang tengah, Genata masih berada di antara tumpukan perlengkapan bayi yang tadi berantakan.
Melihat Abi datang, ia segera menghampiri dengan wajah cemas.
"Mas, bagaimana kondisi Liana? Apa bayi itu—"
"Berhenti bicara tentang bayi itu, Genata!" Abi memotong dengan suara rendah yang sangat mengancam.
Ia merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah map yang sudah ia siapkan. Ia melemparkannya ke atas meja.
"Ini surat cerai kita. Tanda tangani dan pergi dari rumah ini sekarang juga."
Genata mematung. Wajahnya pucat pasi, lalu berubah menjadi tawa histeris yang menakutkan.
"Kamu bercanda, kan? Mas, ingat perjanjian kita! Kamu menikahinya karena permintaanku! Kamu menjadikannya mesin untuk anak kita karena aku tidak bisa memberimu keturunan! Kita sudah sepakat, Mas!"
"Perjanjian itu sudah mati saat kamu mencoba membunuh ibu dari anakku secara mental!" bentak Abi.
"Aku tidak peduli lagi pada perjanjian gila itu. Aku sudah cukup menjadi pengecut selama ini. Sekarang, pilihannya hanya dua: kamu pergi secara baik-baik, atau aku panggil polisi atas tuduhan kekerasan dan tekanan psikis terhadap Liana!"
"Mas, kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Aku istrimu!" Genata menjerit, ia berlutut dan memeluk kaki Abi, menangis meraung-raung.
Abi tidak bergeming. Ia menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar.
Hatinya sudah membatu. Ia melepaskan cengkeraman tangan Genata dari kakinya dengan dingin.
"Kamu bukan lagi istriku sejak aku melihat Liana tergantung di ruangan itu," ucap Abi tajam.
Tanpa mempedulikan teriakan histeris Genata yang memenuhi rumah, Abi melangkah menuju kamar utama.
Ia mengambil koper, memasukkan beberapa pakaian ganti untuk dirinya, lalu beralih ke kamar Liana.
Dengan tangan gemetar, ia mengemasi pakaian-pakaian Liana, parfum mawar kesukaannya, dan bantal yang biasa Liana gunakan.
Ia ingin Liana merasa memiliki "rumah" saat terbangun nanti, bukan di ruangan ICU yang dingin.
Abi keluar dari kamar sambil menenteng koper, melewati Genata yang masih terduduk lemas di lantai sambil merobek-robek kertas di sekitarnya.
"Bi Ijah, tolong pastikan wanita ini keluar dari rumah saya dalam satu jam. Jika tidak, hubungi keamanan," perintah Abi kepada asisten rumah tangganya sebelum melangkah keluar menuju mobilnya.
Tujuannya sekarang hanya satu yaitu kembali ke rumah sakit, bersimpuh di kaki Liana, dan membuktikan bahwa ia benar-benar telah membuang dunianya yang lama demi menebus nyawa Liana.
Setelah melewati masa kritis di ICU, perawat akhirnya memindahkan Liana ke ruang perawatan biasa.
Suasana kamar itu jauh lebih tenang, namun aura kesedihan masih kental menyelimuti sosok Liana yang kini tampak begitu rapuh.
"Nyonya Liana, kami akan melepaskan ikatan di tangan Anda sekarang," ujar seorang perawat dengan nada lembut namun tegas.
"Tapi tolong, berjanjilah pada kami untuk tidak melakukan hal itu lagi. Pikirkan kesehatan Anda dan janin Anda."
Liana hanya menganggukkan kepalanya pelan. Tatapannya kosong, terpaku pada dahan pohon di luar jendela yang bergoyang ditiup angin.
Baginya, tangan yang tidak terikat bukan berarti ia merasa bebas; jiwanya masih terasa terpenjara dalam rasa sakit yang tidak berujung.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Abi masuk dengan langkah yang lebih tenang namun penuh beban.
Ia membawa tas berisi pakaian ganti dan sebuah map cokelat.
"Li..." bisik Abi sambil duduk di kursi samping ranjang.
"Aku sudah melakukannya. Aku sudah menceraikan Genata. Dia sudah pergi dari rumah, dan aku sudah menyerahkan surat cerainya ke pengacara."
Abi berharap berita itu akan memberikan sedikit binar di mata Liana, atau setidaknya sebuah reaksi. Namun, Liana tetap diam.
Berita tentang perceraian itu baginya hanyalah puing-puing dari sebuah kehancuran yang sudah terlambat untuk diperbaiki.
Seorang pramusiwi masuk membawakan nampan berisi bubur dan segelas air putih.
"Waktunya makan siang, Nyonya," ucapnya ramah.
Abi mengambil alih nampan itu. Ia menyendokkan sedikit bubur dan mendekatkannya ke bibir Liana.
"Makan sedikit ya, Li? Demi bayi kita. Kamu belum makan apa pun sejak kemarin."
Liana perlahan menoleh, menatap sendok itu dengan rasa muak yang mendalam.
Ia tidak membuka mulutnya. Alih-alih makan, ia justru memalingkan wajahnya ke arah berlawanan dan langsung memejamkan matanya dengan rapat, seolah-olah dengan menutup mata, ia bisa melenyapkan sosok Abi dari hadapannya.
"Li, aku mohon, sesendok saja," pinta Abi dengan suara yang bergetar.
Liana tetap bergeming dalam diamnya.
Penolakannya terhadap makanan dan minuman adalah satu-satunya cara yang ia miliki sekarang untuk menunjukkan bahwa ia telah menyerah pada hidup.
Baginya, setiap asupan nutrisi hanya akan memperpanjang penderitaan yang ia rasakan.
Abi meletakkan kembali sendok itu ke piring dengan tangan gemetar.
Ia menyadari bahwa membuang Genata ternyata belum cukup untuk membawa kembali Liana yang dulu.
Ia telah mendapatkan kembali status lajangnya, namun ia telah benar-benar kehilangan jiwa istrinya.
Pintu kamar rawat itu terbuka pelan, Mama Prameswari masuk dengan langkah yang sangat hati-hati.
Ia melihat Abi berdiri di pojok ruangan dengan wajah hancur dan nampan bubur yang masih utuh.
Mama hanya memberikan isyarat agar Abi keluar sejenak, memberikan ruang bagi ibu dan anak itu.
Mama duduk di pinggir ranjang, mengusap helai rambut Liana yang tampak kusam.
Ia mengambil mangkuk bubur yang sudah mendingin itu dan mencoba tersenyum, meski matanya sendiri masih sembab.
"Sayang, lihat Mama," bisik Mama lembut.
"Mama bawakan bubur kesukaanmu. Sedikit saja ya? Dua atau tiga suap saja supaya kamu ada tenaga."
Liana masih tetap memejamkan mata. Napasnya teratur, namun otot wajahnya tampak tegang.
Ia mendengar setiap kata mamanya, namun lidahnya terasa terlalu berat untuk sekadar mengucap satu kata pun.
"Li, Mama tahu hatimu hancur. Mama tahu kamu kecewa pada dunia," lanjut Mama dengan suara yang mulai serak.
"Tapi tolong, jangan hukum dirimu sendiri seperti ini. Kalau kamu tidak makan, kamu akan semakin sakit. Kasihan tubuhmu, Li..."
Mama menyodorkan sendok itu ke depan bibir Liana.
"Satu suap untuk Mama, ya?"
Liana tidak bergerak dan tetap diam seribu bahasa.
Baginya, setiap kata-kata rayuan itu terdengar seperti suara dari kejauhan yang tidak bisa menjangkau dasar hatinya yang sudah membeku.
Diam adalah satu-satunya benteng pertahanan terakhir yang Liana miliki untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar sudah tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan hidup.
Melihat putrinya yang dulu begitu manja dan ceria kini berubah menjadi "patung hidup" yang dingin, air mata Mama Prameswari akhirnya luruh.
Ia meletakkan kembali mangkuk itu ke meja dengan tangan bergetar.
"Li, jangan buat Mama merasa gagal menjaga kamu," isak Mama sambil memeluk tubuh kurus Liana yang tetap kaku.