Di masa depan, ketika perang telah membakar Bumi hingga tak tersisa lagi kehidupan, Rudy adalah seorang jenderal perang, pemegang kendali tertinggi kecerdasan buatan dan armada pemusnah umat manusia. Ia menang dalam perang terakhir, namun kehilangan segalanya.
Sebuah insiden ruang-waktu menyeret Rudy ribuan tahun ke masa lalu, ke era ketika dunia belum mengenal teknologi dan keadilan, ia membawa kekuatan yang cukup untuk menaklukkan segalanya, namun ia memilih jalan lain.
Tanpa merebut tahta, Rudy menantang tirani, melindungi yang lemah, dan membentuk dunia agar tak mengulangi kehancuran yang pernah ia lihat. Di tengah konflik dan kekuasaan, ia menemukan cinta, hidup sebagai manusia, lalu menghilang bersama waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adam Erlangga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Beberapa saat kemudian, Rudy mengemasi barangnya dari dalam kapal Atlas bersama Rachel. Beberapa pakaian dan makanan di angkut menggunakan robot troli.
Lalu, Rudy hanya membawa 3 Axiom, satu Axiom di berikan kepada Rachel. Dan semua persenjataannya di pasang ke satelit.
Ia hanya meninggalkan satu senjata di tangannya, senjata lares jarak jauh. Atlas pun di terbangkan kembali ke kapal induk.
DREEEEE.
Rudy dan Rachel menyaksikan kepergian Atlas dari bawah sana.
"Dia benar-benar terbang." kata Rachel terkejut.
"Dia harus kembali ke induknya, karena aku sudah tidak membutuhkannya."
"Jadi, harus kemana kita sekarang.? apa hanya tinggal di dalam tenda itu.?"
"Kita pulang ke rumah, kau akan terkejut melihatnya."
"Uhm" sahut Rachel dengan tersenyum.
Mereka berdua pun berjalan menuruni bukit bersama dengan robot troli dan di kawal oleh 3 Axiom.
....
Beberapa saat kemudian, mereka pun melihat air terjun di depan sana.
"Wah, ternyata ada tempat seperti ini." kata Rachel
"Ya, aku sudah memetakannya. Jaraknya juga lebih dekat dengan istana kan.? kau bisa pulang pergi dengan cepat."
"Em, kau masih ingin aku pergi ke istana.?"
"Itu semua pilihanmu, aku tidak berhak memutuskannya."
"Hmm, tapi hatimu menginginkan aku pergi kesana kan.?"
"Rachel, memang awalnya aku ingin begitu. Tapi melihat diagnosis trauma yang kau alami, aku tau, kau tidak ingin kembali lagi. Kau hanya ingin bebas kan, hidup sederhana dan bahagia."
"Aku hanya ingin bersamamu sekarang. Aku tidak menginginkan hal lainnya."
"Baiklah, mulai sekarang, aku adalah milikmu, dan kau juga milikku. Siapapun yang membuatmu menderita adalah musuhku."
"Aku seperti mengendalikan seluruh dunia. Nasib dunia ada di tanganku sekarang." sahut Rachel tersenyum.
"Yup, jadi kau harus hati-hati menggunakannya."
"Hihi, aku hanya mengikutimu saja. Mulai sekarang, apapun yang kau inginkan aku akan turuti. Semuanya."
"Hm? benarkah.?"
"Uhm, meskipun kau menyuruhku untuk masuk kedalam neraka, aku akan pergi kesana."
Rudy pun menghentikan langkahnya.
"Ada apa.?" sahut Rachel.
"Rachel, kau sudah tau tujuanku kan.? Apa kau mau merubah dunia ini bersamaku.?"
Rachel pun tersenyum. Lalu ia mendekat
"Meski dunia ini hancur sekalipun, aku hanya ingin tetap bersamamu."
Rudy pun tersenyum, "Sepakat."
"Sepakat" sahut Rachel tersenyum.
....
Beberapa saat kemudian, Mereka berdua pun sampai di depan rumah mereka. Ornamen rumah masa depan, dengan lampu yang menyala di mana-mana.
Bahkan ruangannya terang berwarna putih. Di depannya, sebuah balkon luas yang memiliki pemandangan air terjun.
"Wah, ini luar biasa. Baru kali ini aku melihat arsitektur rumah seperti ini."
"Apa kau suka.?"
"Ya, aku suka. aku senang sekali, aku ingin tinggal disini."
"Mulai sekarang rumah ini jadi milikmu."
Rachel pun mendekati Rudy. "Tidak, rumah ini adalah milik kita bersama."
"Ah, oke. Milik kita."
Rachel pun langsung pergi dengan tersenyum. ia melihat banyak sekali perabotan modern, kursi meja, lampu, hiasan, lukisan, perabotan dapur, dan masih banyak lainnya.
....
Di dapur.
Rudy sedang mengajari Rachel menggunakan semua alat disana.
"Ini namanya kompor, dan ini namanya kulkas. Disini ada ventilasi udara untuk membuang asap masakan."
"Ehm oke."
"Kau tinggal menekan ini, lalu ada angka disini. Semakin tinggi angkanya, semakin panas apinya. Kau bisa membaca panduan ini untuk memasak makanan. Banyak resep dan cara penyajian nya."
"Lalu ini namanya Kulkas atau lemari es. Didalamnya sangat dingin, bisa untuk membekukan daging dan mengawetkan bahan makanan. Kau tinggal meletakkan bahan makanannya saja disini, dan mengambilnya kalau kau mau."
Rachel hanya terdiam dan mendengarkan dengan serius.
"Kita ke kamar mandi."
"Ini namanya shower, ketika di tekan akan mengeluarkan air."
CUUR. "Aaauh." sahut Rachel terkejut.
"Dari mana datangnya air ini.?"
"Kau lihat pipa ini, air itu diambil dari air bawah tanah. Ada hukum fisika yang digunakan untuk menggerakkan air ini ke atas, tapi kau akan sulit memahaminya. Intinya, kau hanya perlu tau cara pemakaiannya saja."
"Ah, oke aku paham."
"Lalu, ini adalah pembersih kulit, namanya sabun, saat di gosoknya keseluruh tubuh, dia akan berbusa dan membersihkan bakteri yang menempel di kulit. Lalu ini namanya Shampoo, yang di gunakan untuk melemaskan dan membersihkan rambut. Lalu ini adalah tempat buang air besar, setelah selesai membuangnya disini kau tinggal menekan tombol ini, lalu....
Rudy menjelaskan semua yang ada di dalam rumah itu, Mulai dari dapur, ruang tamu, kamar mandi, kamar tidur, lemari modern, AC, alat kebutuhan sehari-hari, robot pembersih, dan semuanya.
"Ada satu tempat lagi yang ingin aku tunjukkan padamu."
"Tempat apa itu.?"
Ceklek. suara pintu terbuka.
"Ruangan rias."
"Wah, kacanya terlihat jenis sekali, ini kualitas paling tinggi. Di tempatku warnanya ada kuning seperti tembaga."
Rachel pun melihat-lihat ruangan itu sambil tersenyum.
"Aku sebenarnya tidak tau produk apa yang di gunakan perempuan untuk wajahnya, tapi aku menemukan produk kecantikan di Atlas, mungkin itu sisa-sia milik crew perempuan yang di tinggalkan disana."
"Apa maksudmu benda ini.?" kata Rachel sambil memegang lotion
"Benar, jadi kau hanya tinggal membuka tutupnya, lalu sebuah cream keluar dari dalam. Lotion ini untuk melembabkan kulit wajah. Coba saja."
Crut.
"Uuh, apa ini tiba-tiba keluar."
"Jangan di tekan terlalu keras, sedikit saja."
"Ah begitu ya, lalu apa benda ini di taruh di wajah.?"
"Usap kan sedikit demi sedikit hingga merata."
Rachel pun langsung mengusapkan cream di wajahnya.
"Wah, wajahku terlihat makin bersih dan bercahaya, ini benda ajaib."
"Ini namanya lotion cream. Masih banyak stok satu kardus yang aku miliki. Kau tinggal pakai saja, kalau habis, aku bisa memproduksinya ulang. Karena aku punya semua resepnya."
"Kau bisa membuat produk ini.? hebat sekali."
"Ya itu karena ada AI."
Rachel pun langsung meloncat dan merangkul Rudy dari depan.
"Apapun itu, kau sangat hebat." sahutnya sambil tersenyum.
"Mulai sekarang, semuanya adalah milikmu. Mungkin di istana tidak ada barang modern seperti ini, tapi kau sudah menikmati produk ribuan tahun di masa depan."
"Masa depan ya.? aku harap aku bisa bertemu denganmu lagi di masa depan. hihi."
Rudy hanya tersenyum padanya. Lalu bergumam dalam hatinya. "Aku tidak bisa mengatakan padamu, kalau aku sebenarnya dari masa depan. Apapun itu, hidupku sekarang ada di tahun 220, bukan 2.100, jadi perjalanan ku akan di mulai di jaman ini."
"Kau sudah memberikan semuanya padaku, sekarang giliranku. Aku akan pergi ke istana, dan menyelesaikan semua masalah yang ada."
Rachel pun berjalan ke luar.
"Kalau kau mengalami kesulitan, jangan melupakanku. Aku akan membantumu."
"Oke, tapi, apa kau tidak mau masuk istana bersamaku.?"
"Apa boleh.? aku takut semua orang curiga. Lebih baik aku mengawasimu dari sini."
"Hmm, baiklah. Kalau begitu, tunggu kabar dariku."
Rachel pun pergi dari sana menuju Istana. Lalu Rudy duduk di ruang kontrol satelit. Ia bisa melihat Rachel berjalan dari layar monitor.
"Hati-hati dijalan."
....