NovelToon NovelToon
Sahabat

Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

besti

Setelah pulang dari pantai, Dewi tidak bisa berhenti memikirkan tatapan menggoda Devi kepada Bintang. Meskipun dia telah memaafkan Devi di pantai, rasa curiga dan sedikit kemarahan mulai tumbuh di dalam hatinya. Dia merasa bahwa Devi tidak hanya sekadar tertarik dengan Bintang, namun mungkin ada perasaan yang lebih dalam yang dia sembunyikan.

Di rumahnya bersama Bintang, Dewi seringkali melihat Bintang yang masih membicarakan tentang Devi dengan nada yang ramah. “Mbak Devi memang ceria dan menyenangkan ya sayang,” ucap Bintang satu hari ketika mereka sedang makan malam bersama. Dewi hanya mengangguk dengan wajah yang sedikit murung dan tidak menjawab.

Rasa curiga tersebut semakin tumbuh ketika Dewi menemukan pesan singkat dari Devi di telepon genggam Bintang yang tidak sengaja terbuka. Pesannya cukup sederhana, “Halo mas Bintang, bagaimana kabarmu? Semoga hari mu menyenangkan ya :)”, namun bagi Dewi, pesan tersebut terasa seperti ada makna tersembunyi di dalamnya.

Dewi mulai merenungkan berbagai cara untuk menguji apakah Devi benar-benar memiliki perasaan terhadap Bintang atau hanya sekadar ingin bermain-main. Akhirnya, dia membuat keputusan yang cukup ekstrem. Dia akan mengerjai Devi dengan cara yang tidak menyakitkan namun cukup untuk membuat Devi menyadari kesalahannya dan berhenti mengganggu hubungan dia dengan Bintang.

Dia mulai merencanakan segala sesuatu dengan hati-hati. Dia akan menunggu saat yang tepat untuk melaksanakan rencananya, saat Devi sedang tidak menyadari dan sedang berada di kost Rohita. Dia tidak ingin melakukan hal yang terlalu berbahaya atau menyakitkan Devi secara fisik, namun cukup untuk memberikan pelajaran yang berharga agar Devi tidak mengulangi kesalahannya lagi.

Pada malam harinya, Dewi bertemu dengan Rohita untuk memberitahu tentang rencananya. Rohita sedikit terkejut namun juga memahami perasaan Dewi. “Aku tidak menyetujui tindakan yang menyakitkan Devi ya Dewi, tapi aku mengerti kalau kamu merasa tidak nyaman,” ucap Rohita dengan suara lembut. Dewi mengangguk dan menjawab, “Jangan khawatir Kak, aku tidak akan menyakitinya. Aku hanya ingin memberikan pelajaran agar dia tidak mengganggu hubungan kita lagi.”

Pada malam harinya, Devi datang mengunjungi kost Rohita karena merasa kesepian dan ingin berbincang dengan teman-temannya. Setelah mereka berbincang sebentar dan menikmati teh hangat yang dibuat Rohita, Devi merasa sangat lelah dan memutuskan untuk tidur sebentar di kamar Rohita.

Rohita pergi ke kamar mandi untuk mengambil sesuatu, sementara Dewi yang sudah menunggu kesempatan ini mulai melaksanakan rencananya. Dia telah menyiapkan seekor tikus mati yang dia temukan di belakang kost beberapa hari yang lalu dan menyimpannya dengan aman di dalam kotak kecil. Dengan hati-hati dan cepat, dia meletakkan tikus mati tersebut di atas dada Devi yang sedang tidur lelap dengan selimut menutupi badannya.

Setelah itu, Dewi membangunkan Devi dengan cara yang sedikit kasar. “Devi! Devi bangun cepat!” serunya dengan suara yang cukup tinggi. Devi terkejut dan langsung membuka matanya, kemudian merasakan sesuatu yang dingin dan tidak biasa di atas dadanya. Dia perlahan mengangkat tangannya untuk menyentuhnya, dan ketika dia menyadari bahwa itu adalah seekor tikus mati, dia langsung menjerit dengan suara yang sangat keras dan tinggi.

“AAAAHHHH! ADA TIKUS DI DADAKU!” teriakan Devi sangat keras sehingga membuat Rohita yang sedang di kamar mandi keluar dengan cepat. Devi langsung melompat dari tempat tidur dan mulai melompat-lompat dengan ketakutan, sambil menangis dan mengusap-usap dada nya dengan cepat. “Itu darimana ya?! Tolong buang dia jauh-jauh!” serunya dengan suara yang gemetar karena ketakutan.

Rohita melihat tikus mati yang tergeletak di atas tempat tidur dan kemudian melihat wajah Dewi yang sedang tersenyum diam-diam di sudut kamar. Dia langsung menyadari bahwa ini adalah perbuatan Dewi dan segera mendekatinya dengan wajah yang tegas. “Dewi, apa yang kamu lakukan?!” serunya dengan suara yang penuh kemarahan. Namun Dewi hanya terus tersenyum dan kemudian mulai tertawa dengan suara yang cukup keras.

Dewi yang awalnya hanya tersenyum kecil akhirnya tidak bisa menahan diri dan mulai tertawa terbahak-bahak melihat reaksi ketakutan Devi. Dia menggenggam perut nya dan tertawa dengan suara yang cukup keras, seolah-olah melihat sesuatu yang sangat lucu. “Hahaha… kamu melihat wajah mu sendiri tidak? Lucu banget Deh!” teriaknya dengan suara penuh tawa.

Devi yang masih menangis dan merasa ketakutan mulai merasa marah ketika melihat Dewi yang sedang tertawa seperti itu. Dia berhenti melompat-lompat dan kemudian menatap Dewi dengan wajah yang penuh kemarahan. “Kamu melakukan ini bukan?! Kamu sengaja meletakkan tikus mati di dadaku hanya untuk membuat aku ketakutan dan tertawa padaku?!” seru Devi dengan suara yang tinggi dan penuh kemarahan.

Dewi berhenti tertawa dan kemudian menatap Devi dengan wajah yang juga mulai marah. “Iya benar aku yang lakukan! Kamu pantas mendapatkan ini karena kamu terus mengganggu hubungan aku dengan Bintang! Kamu tahu kan dia adalah pacarku tapi kamu tetap saja menggoda dia dengan cara yang tidak pantas!” jawab Dewi dengan suara yang sama tinggi nya, membuat suasana kamar menjadi sangat tegang.

Mereka berdua mulai bertengkar dengan suara yang semakin tinggi, masing-masing menyalahkan yang lain dan tidak mau mengakui kesalahan mereka sendiri. Devi mengatakan bahwa Dewi terlalu cemburu dan tidak memiliki bukti bahwa dia benar-benar memiliki perasaan terhadap Bintang, sementara Dewi mengatakan bahwa Devi sudah melakukan kesalahan berulang kali dan tidak pernah belajar dari kesalahannya.

Rohita yang tidak bisa menahan lagi melihat kedua temannya bertengkar seperti itu segera berteriak dengan suara yang sangat tinggi untuk membuat mereka berhenti. “CUKUP! Kalian berdua sudah cukup membuat keributan!” serunya dengan suara yang penuh kemarahan, membuat Devi dan Dewi langsung diam dan menatap nya dengan wajah yang terkejut.

Rohita kemudian berdiri di tengah mereka berdua dan mulai berbicara dengan suara yang tegas namun penuh perhatian. “Kalian adalah sahabat terbaik satu sama lain kan? Kenapa harus bertengkar seperti ini hanya karena seorang pria? Persahabatan kita jauh lebih berharga daripada apa pun!” ucapnya dengan suara yang penuh emosi, mata nya mulai berkaca-kaca karena melihat kedua temannya yang saling bermusuhan.

Devi dan Dewi mulai merasa bersalah dan menundukkan kepala. Devi adalah yang pertama kali membuka mulut untuk meminta maaf. “Maaf ya Kak Dewi… aku tidak sengaja membuat kamu tidak nyaman dengan cara ku. Aku menyadari bahwa aku telah melakukan kesalahan dan aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” ucapnya dengan suara pelan dan penuh kesalahannya.

Dewi juga merasa bersalah dan segera mendekati Devi untuk memeluk nya. “Maaf juga ya Devi… aku tidak seharusnya melakukan hal yang begitu kejam padamu. Aku hanya terlalu cemburu dan tidak bisa mengontrol emosi ku,” ucapnya dengan suara yang juga penuh kesalahannya. Mereka berdua mulai menangis pelan dan memeluk satu sama lain dengan erat, sementara Rohita berdiri di sisi mereka dengan senyum hangat, merasa sangat lega karena kedua temannya bisa kembali akur dan menyelesaikan masalah mereka dengan baik.

Setelah itu, mereka berdua duduk bersama dengan Rohita dan mulai berbincang dengan tenang tentang apa yang terjadi. Mereka saling memaafkan dan berjanji untuk selalu menghormati satu sama lain serta tidak akan pernah lagi membiarkan masalah kecil merusak persahabatan mereka yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Rohita memberikan teh hangat kepada mereka berdua dan kemudian mereka menghabiskan sisa malam nya dengan berbincang tentang masa depan dan bagaimana mereka akan selalu menjaga persahabatan mereka dengan baik.

Esok pagi masih belum ada tanda-tanda kedamaian antara Dewi dan Devi. Rohita sudah bangun lebih awal dan sudah berada di kebun, menyiram tanaman yang tumbuh subur di sekitar area kost. Wajahnya tampak lesu, mata masih sedikit merah akibat kurang tidur karena harus menyaksikan pertengkaran kedua temannya semalam. Dia sudah merasa cukup capek menghadapi konflik yang tak kunjung berakhir, pikirannya hanya fokus pada tanah dan tanaman yang dia rawat dengan penuh perhatian.

Tak lama kemudian, Devi datang membawa ember pupuk yang berat di tangannya. Wajahnya masih memerah karena kemarahan yang belum surut, langkahnya terkesan tergesa-gesa saat hendak mendekati bedengan sayuran yang akan dia beri pupuk. Di belakangnya, Dewi juga muncul dengan wadah kecil untuk memanen bayam yang sudah siap panen. Kedua gadis itu sama-sama tidak menyapa satu sama lain, suasana sekitar kebun terasa sangat tegang seperti akan terjadi badai kapan saja.

Saat Devi sedang berjalan melewati Dewi yang sedang menunduk memeriksa akar tanaman, tiba-tiba Dewi mengangkat kaki dan dengan sengaja menendang bagian bawah ember pupuk yang dipegang Devi. Ember itu terguling, pupuk bubuk berwarna coklat kehitaman langsung menyebar ke seluruh lantai tanah kebun dan sebagian menutupi baju serta celana Devi. Tubuh Devi kehilangan keseimbangan, tubuhnya miring ke kanan dan akhirnya terjatuh di atas tumpukan pupuk yang baru saja tumpah.

“Aduh! Kamu sengaja bukan?!” teriak Devi dengan wajah memerah karena marah, matanya menyala seperti bara api saat melihat Dewi yang berdiri di depan dirinya dengan wajah yang tidak menunjukkan rasa menyesal sedikit pun.

Dewi hanya mengangkat bahu dengan nada acuh tak acuh. “Aku tidak sengaja. Kamu saja yang tidak hati-hati jalan,” jawabnya dengan nada yang membuat Devi semakin marah.

Rohita yang melihat kejadian itu hanya berdiri diam di tempatnya, tangan masih memegang selang penyiram air. Dia menghela napas dalam-dalam, mata menunjukkan rasa kelelahan yang luar biasa. Sudah berkali-kali dia melerai pertengkaran mereka, namun tak ada hasilnya. Kali ini, dia merasa sudah cukup dan malas untuk ikut campur lagi. Dia hanya menatap kedua temannya sebentar lalu kembali fokus menyiram tanaman, seolah-olah apa yang terjadi bukan urusannya.

Devi berdiri dengan kesusahan, membersihkan pupuk yang menempel di tubuhnya. Kemarahan di dalam dirinya semakin memuncak. Dia melihat Dewi yang sudah mulai memanen sayur dengan tenang, dan benak dirinya sudah mulai merencanakan cara untuk membalas perlakuan Dewi yang sudah terlalu jauh ini. Rohita tetap tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menyaksikan dari kejauhan sambil mengelus kepalanya yang mulai terasa sakit akibat kegaduhan yang tak pernah berhenti

1
Wida_Ast Jcy
do re mi donk🤭🤭🤭 tiga sahabat dipanggil do re mi hehheh
Wida_Ast Jcy
Saran ya thor dialog dengan narasi ada baiknya dipisah lho. 🙏🙏🙏
Mingyu gf😘
bahasa formal sama bahasa sehari hari jangan di campur
Mingyu gf😘
Jangan terlalu suka kepo dengan orang yang gak di kenal
Anang Anang
lanjut
Dini
mantap
Dini
sangat mengispirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!