kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tembok Ratapan di Pesisir
Segera setelah kapal-kapal yang compang-camping itu bersandar di bawah bayang-bayang Jembatan Kesombongan, Ratu Layla tidak memberikan kata sambutan yang hangat. Alih-alih demikian, puluhan tabib istana berpakaian serba hitam diperintahkan turun ke dermaga. Mereka bergerak cepat, membawa tandu dan berbagai ramuan beraroma tajam untuk menyembuhkan Panglima Delta yang tubuhnya dipenuhi lebam kebiruan, serta Penasehat yang luka bahunya masih mengeluarkan uap hitam akibat sihir tanah Atlantis. Para prajurit Minotaur dan Centaur yang tersisa ditarik ke barak-barak khusus di mana para tabib bekerja siang dan malam, menjahit daging yang robek dan menetralkan racun air yang meresap ke dalam tulang mereka. Kesunyian istana pecah oleh erangan kesakitan, namun Layla tidak peduli; baginya, mereka harus segera sembuh hanya agar bisa bertempur kembali.
Sementara para prajurit dirawat, ratusan budak baru yang baru saja ditangkap dari pinggiran Atlantis langsung dihadapkan pada kenyataan yang lebih buruk dari kematian. Tanpa waktu untuk memulihkan diri dari perjalanan laut yang melelahkan, Ratu Layla memerintahkan proyek konstruksi raksasa yang belum pernah ada sebelumnya: pembangunan benteng pertahanan di sepanjang garis pesisir kerajaan.
Para budak dipaksa memecah batu-batu granit hitam dan menyusunnya menjadi dinding tebal yang membentang bermil-mil jauhnya. Pengawasan dilakukan secara langsung oleh Layla dari atas kudanya, matanya yang dingin mengawasi setiap pergerakan.
Di bawah terik matahari yang membakar dan angin laut yang membawa garam, para budak bekerja dalam siklus yang tidak manusiawi. Siang hari mereka dipaksa mengangkut material berat di bawah cambuk para pengawas yang tidak mengenal ampun, dan di malam hari, mereka bekerja di bawah cahaya obor yang dipasang di sepanjang garis pantai. Tidak ada waktu istirahat; mereka makan sambil bekerja, dan tidur hanya ketika tubuh mereka benar-benar ambruk di atas pasir. Ratu Layla seringkali menggunakan sihir listriknya untuk memicu rasa takut, menyambar udara di atas kepala mereka jika ia merasa ritme pekerjaan melambat.
Memasuki hari-hari berikutnya, kondisi di proyek pembangunan benteng mencapai titik nadir. Kelelahan yang ekstrem, kelaparan, dan tekanan mental yang luar biasa membuat kewarasan para budak mulai runtuh. Banyak dari mereka yang akhirnya memilih jalan pintas untuk mengakhiri penderitaan beberapa sengaja menjatuhkan diri dari puncak menara yang sedang dibangun, sementara yang lain berlari menuju laut yang berombak ganas dengan kaki terikat rantai hingga tenggelam. membuat Ratu Layla merasa geram karena jumlah tenaga kerjanya menyusut drastis
Untuk mempercepat penyelesaian benteng, Layla akhirnya memanggil kekuatan makhluknya yang sedang dalam masa penyembuhan. Naga Api diperintahkan untuk menggunakan napas apinya guna melelehkan logam dan mengeraskan aspal , sementara kawanan Griffon dikerahkan untuk mengangkat balok-balok batu raksasa yang tidak mungkin lagi diangkut oleh para budak yang sekarat.
Dalam waktu delapan hari yang penuh dengan kepulan asap dan jerit kesakitan, benteng pesisir itu akhirnya berdiri dengan angkuh. Dinding-dindingnya yang hitam mengkilap tampak seperti sisik naga yang melindungi kerajaan dari ancaman samudera.
Dari ratusan budak yang dikerahkan di awal proyek, kini hanya tersisa belasan orang saja yang masih mampu berdiri,dengan tubuh yang tinggal tulang berbalut kulit dan mata yang kosong tanpa harapan. Mereka berdiri di tengah kemegahan benteng yang baru selesai, dikelilingi oleh tumpukan mayat rekan-rekan mereka yang belum sempat dikuburkan. Ratu Layla berdiri di atas balkon benteng tertinggi, menatap ke bawah dengan senyum puas.
Setelah benteng selesai berdiri, Ratu Layla menunjukkan sisi kekejamannya yang paling murni. Ia menatap belasan budak yang masih tersisa dengan pandangan jijik,Tanpa keraguan sedikit pun, ia memberikan isyarat kepada Naga Api dan kawanan Griffon yang kelaparan di sekitarnya. "Kalian telah bekerja keras membantu proyekku. Ambillah upah kalian," ucap Layla dengan nada datar. Makhluk-makhluk buas itu langsung menerjang, memburu belasan budak yang tersisa dalam sebuah perjamuan maut yang singkat dan mengerikan.
Beberapa jam setelah pembersihan itu, Layla menemui Panglima Delta di ruang pemulihannya. Sang Panglima tampak sudah jauh lebih baik,. Layla berdiri di hadapannya dengan aura yang menuntut. Tanpa basa-basi, ia memberikan perintah baru. "Benteng kita sudah selesai. Pasukanmu sudah mendapatkan perawatan terbaik. Sekarang, persiapkan armada kembali. Aku ingin kau memimpin serangan kedua ke Atlantis dan membawa kepala Ratu mereka ke hadapanku. Aku tidak menerima kegagalan untuk kedua kalinya," perintahnya dengan mata yang berkilat tajam.
Namun, untuk pertama kalinya Delta tidak langsung memberikan hormat. Ia menatap Ratu Layla dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan. "Yang Mulia," ucap Delta dengan suara berat, "pasukan kita bukan hanya terluka secara fisik, tetapi juga secara mental. Minotaur dan Centaur kehilangan banyak saudara mereka, dan makhluk-makhluk mitologi kita membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar pulih agar bisa terbang dan bertempur dengan efektif. Menyerang Atlantis sekarang, dengan kekuatan mereka yang masih utuh, adalah langkah yang tidak bijaksana. Saya memohon, biarkan kami beristirahat sejenak untuk memulihkan kekuatan sepenuhnya." Suasana di ruangan itu seketika membeku
Malam itu, suasana di istana terasa sangat berat. Panglima Delta, yang merasa tertekan oleh ketegangan dengan sang Ratu, memutuskan untuk berjalan-jalan di taman istana yang sunyi.Di tengah keheningan, ia dikejutkan oleh kehadiran Ratu Layla yang sudah berdiri di dekat kolam air mancur. Alih-alih meluapkan kemarahan seperti sebelumnya, Layla tampak lebih tenang,Ia menatap pantulan bulan di air, lalu menoleh ke arah Delta yang mendekat.
"Katakan padaku yang sebenarnya, Delta," tanya Layla dengan nada rendah. "Apa yang membuatmu begitu ragu? Seberapa besar sebenarnya kekuatan yang dimiliki Atlantis hingga kau, panglima terbaikku, merasa gentar?"
Delta terdiam sejenak, lalu Ia menjelaskan tentang bagaimana sihir tanah Penasehat Atlantis mampu memanipulasi seluruh medan perang, dan bagaimana Naga Tanah serta Hydra mereka bekerja dalam sinergi yang sempurna. Delta menekankan bahwa kekuatan Atlantis bukan hanya pada jumlah, melainkan pada penguasaan mereka terhadap elemen alam yang tidak dimiliki oleh pasukan Atlas saat ini. Layla mendengarkan dengan saksama, menyadari bahwa ia memang membutuhkan kekuatan tambahan yang jauh lebih besar dari sekadar api dan baja.
Setelah percakapan singkat namun padat itu, Layla meninggalkan Delta di taman dan langsung menuju ke menara tempat Penasehat sedang bermeditasi. Penasehat, yang bahunya masih dibalut perban, bangkit memberi hormat. Layla menatapnya dengan penuh rencana. "Sihir petirmu memang kuat, tapi tidak cukup untuk meruntuhkan tembok batu Atlantis. Aku ingat ada legenda tentang makhluk purba yang menguasai badai sejati di puncak tertinggi yang belum terjamah. Pergilah ke sarang Naga Petir. Mintalah bantuannya. Katakan padanya bahwa Ratu Atlas menginginkan kekuatannya untuk menghancurkan kerajaan di bawah laut. Jika kita memiliki Naga Petir di sisi kita, laut dan tanah tidak akan lagi menjadi penghalang bagi ambisiku." Penasehat mengangguk patuh,