andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
“Ayah, aku lapar,” ucap Andika.
Sebenarnya aku sudah selesai dengan laporanku. Namun kalau aku terlihat menganggur, pasti akan muncul rentetan pertanyaan yang tidak ingin kuhadapi. Aku berdiri dan melirik jam. Jarumnya menunjukkan pukul 17.20.
“Di seberang ada resto baru,” kataku. “Makan di rooftop, ya.”
Tidak ada jawaban, hanya anggukan kecil.
Aku melangkah keluar dari polsek, menyeberang menuju restoran baru yang sedang viral. Tinggi badanku dan Andika kini hampir sama. Dunia terasa berjalan terlalu cepat. Rasanya baru kemarin aku menggendongnya, sekarang jangankan kugendong, menggenggam tangannya saat menyeberang jalan pun dia enggan.
Kami masuk ke gedung pertokoan dan naik lift ke lantai lima.
“Bagaimana kalau habis ini Ayah antar kamu ke Oma Nina?” tanyaku. Oma Nina adalah ibu pantiku.
“Yah, jangan khawatirkan istirahatku,” jawabnya datar. “Situasi sedang panik, ya?”
Aku menghela napas panjang. Aneh, aku polisi, tapi justru dia yang terdengar lebih waspada.
“Habis makan nanti Ayah antar,” kataku lagi.
Dia tidak menjawab. Penolakan yang jelas.
Aku duduk di kursi dekat pinggir rooftop. Senja terlihat indah, matahari perlahan tenggelam di balik gedung-gedung tinggi. Pemandangan yang tenang, bertolak belakang dengan pikiranku.
Seorang pramusaji datang membawa menu. Andika memesan nasi goreng dan jus alpukat. Aku memperhatikannya. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi. Seolah pikirannya tidak berada di tempat ini.
“Yah,” katanya akhirnya, “Alex dari SMP Nusantara Global, bukan?”
Aku menghela napas. Di kepala anakku, ternyata bukan soal makanan atau permainan. Yang berputar justru teka-teki pembunuhan berantai.
“Iya,” jawabku. “Dia pernah sekolah di SMP Nusantara Global. Tapi kelas tiga pindah ke SMP Cendikia.”
Wajah Andika tampak sedikit antusias.
“Berarti ini balas dendam,” gumamnya. “Dan kejadiannya lima tahun lalu.”
“Apa maksud kamu?” tanyaku.
“Yah,” katanya pelan, “apa para korban dulu tukang perundung?”
Entah kenapa, aku malah mengangguk. Dari hasil wawancara, Alex dan Doni memang dikenal suka melakukan perundungan.
“Ayah harus ke SMP Nusantara Global,” ucap Andika mantap.
Aku hendak menjawab, tapi pramusaji datang menyajikan makanan. Aku menatap piring di depanku, lalu menoleh ke jam tanganku.
Pukul 17.47.
Andika makan dengan lahap. Ada rasa lega yang menyusup di dadaku. Setidaknya dia masih bisa menikmati makanan, meski pikirannya dipenuhi teka-teki yang seharusnya tidak menjadi bebannya. Aku memperhatikannya diam-diam, berharap momen sederhana ini cukup untuk menariknya kembali menjadi anak seusianya.
Jam tanganku menunjukkan pukul 17.55. Andika sudah menyelesaikan makanannya. Dia menyesap jus mangga perlahan.
“Tinggal lima menit lagi, Yah,” ucapnya datar. “Dan kita tidak berusaha keras mengungkap hal ini.”
Aku meletakkan sendok. Menatap wajahnya yang tanpa ekspresi.
“Nak, itu bukan tugas kamu.”
“Ya. Andai saja ada petugas yang lebih waspada, mungkin aku tidak perlu khawatir.”
Kata khawatir terdengar janggal keluar dari mulutnya. Wajahnya tetap tenang, seolah sedang membicarakan hal remeh.
“Jangan bicara seperti itu,” kataku menahan emosi. “Semua bukti mengarah pada bunuh diri, bukan pembunuhan.”
Andika menatap lurus ke depan.
“Yah, di film yang aku tonton, pelaku pembunuhan selalu memulai rencana dengan merekayasa bukti. Apa Ayah tidak curiga? Bunuh diri mereka terlalu sempurna, seolah memang harus terekam kamera. Padahal kalau mau bunuh diri, mereka bisa melakukannya di rumah. Dan yang paling penting, dua orang ini tidak punya alasan kuat untuk mengakhiri hidup.”
Aku terdiam.
Jarum jam bergerak pelan.
17.59.
Aku membuka mulut untuk menjawab, ketika tiba-tiba seorang anak lelaki berjalan melewati meja kami. Dia menoleh ke arahku, tersenyum singkat, lalu berlari menuju pembatas gedung.
Semua terjadi terlalu cepat.
Tanpa ragu, tanpa teriakan, tubuh kecil itu melompat dari lantai lima.
Aku berdiri terpaku. Tanganku gemetar saat menoleh ke jam tangan.
Pukul 18.00.
Beberapa detik setelah tubuh itu melayang turun, rooftop lantai lima berubah menjadi neraka kecil. Teriakan pecah dari segala arah.
“Dia lompat!”
“Ya Tuhan, ada yang jatuh!”
“Panggil bantuan!”
Kursi-kursi diseret kasar. Piring dan gelas berjatuhan, pecahannya berserakan di lantai. Seorang wanita menjerit histeris sambil menutup wajahnya. Beberapa pengunjung mundur tergesa, menjauh dari pembatas gedung seolah takut ikut terseret jatuh.
Aku berdiri di lantai lima, tepat beberapa langkah dari pembatas. Dari atas, aku melihat tubuh itu tergeletak di halaman gedung, tak bergerak. Jaraknya jauh, tapi aku tahu apa yang kulihat. Dadaku terasa sesak, napasku pendek-pendek.
“Ambulans!” teriakku. “Telepon ambulans sekarang!”
Beberapa orang panik merogoh ponsel. Ada yang tangannya gemetar sampai tak bisa menekan layar. Seorang pria terduduk lemas, wajahnya pucat. Di sudut rooftop, seseorang muntah sambil terisak.
Aku berbalik mencari Andika. Dia masih berdiri di dekat meja, tubuhnya kaku. Matanya menatap lurus ke arah pembatas gedung, tanpa berkedip.
“Andika,” panggilku sambil mendekat. Aku memegang bahunya. “Jangan lihat.”
Dia menurut saat kutarik sedikit menjauh, tapi ekspresinya tetap datar. Dingin. Terlalu tenang untuk anak seusianya.
Pelayan-pelayan berlarian panik memanggil manajer. Beberapa pengunjung berteriak agar orang-orang berhenti merekam, tapi sebagian tetap mengangkat ponsel mereka. Suara rana terdengar bertubi-tubi di tengah kekacauan.
Tanganku gemetar saat merogoh saku mencari ponsel. Naluri sebagai polisi mengambil alih, meski kakiku terasa lemas. Aku masih berdiri di lantai lima, menatap ke bawah, ke titik di mana tubuh itu tergeletak.
Dan dari tempat inilah aku menyadari satu hal dengan jelas.
Kode 18.00 bukan dugaan.
Itu jadwal.
Aku menggenggam tangan Andika dan segera menuruni tangga darurat. Langkah kami cepat, hampir berlari. Sesampainya di lantai dasar, kerumunan sudah mengelilingi tubuh korban yang bersimbah darah.
“Nak, jangan ke mana-mana. Kamu di pos itu,” ucapku tegas sambil menunjuk pos keamanan gedung.
Aku menerobos kerumunan dan mengangkat lencana.
“Saya polisi. Semua menjauh sekarang,” perintahku.
Beberapa orang mundur dengan enggan.
“Kasi pembatas di area ini,” kataku pada petugas keamanan.
Security segera mengambil tali pembatas dan mulai mensterilkan lokasi. Beberapa pengunjung dihalau agar tidak mendekat dan berhenti merekam.
Aku mengambil ponsel dan menghubungi Lukman. Panggilan belum tersambung ketika suara sirene mendekat. Lokasi gedung yang berseberangan dengan polsek membuat rekan-rekanku tiba dengan cepat.
Beberapa anggota langsung menyebar, mengamankan area. Lukman menghampiriku dan menyerahkan sarung tangan serta masker.
“Sterilkan lokasi. Jangan ada yang ambil gambar kecuali petugas,” ucapku.
Rina sigap menjauhkan para pengunjung yang masih mencoba mendekat.
“Foto area,” perintahku.
Lukman segera membidik beberapa sudut dengan kamera.
Aku mendekati korban. Seorang anak laki-laki, perkiraan usia lima belas tahun. Dari pakaian, sepatu, dan jam tangan yang masih melekat, jelas dia berasal dari keluarga berada.
Mataku langsung tertuju ke lehernya.
Tidak ada kode 172.
Yang terukir justru angka lain.
1710900.
Dengan teliti aku memeriksa tubuh itu. Setiap detail kupaksa masuk ke ingatan. Beberapa menit lalu, anak ini tersenyum padaku sebelum melompat. Tidak ada raut putus asa, tidak ada wajah frustrasi. Seolah mengakhiri hidup justru adalah kebahagiaannya.
Pikiran itu membuat tengkukku meremang.
“Ayah,” terdengar suara di belakangku, “dia juga pernah sekolah di SMP Nusantara Global.”
Aku mendongak.
Andika berdiri beberapa langkah dariku, menggenggam sebuah dompet. Aku langsung mengenalinya. Dompet korban.
Dadaku seketika sesak. Ini berbahaya. Dia menyentuh barang bukti tanpa sarung tangan, tanpa perlindungan apa pun.
“Dika!” bentakku refleks.
Kepalaku berdenyut keras. Bukan hanya karena situasi, tapi karena anakku sendiri baru saja melanggar semua prosedur yang selama ini kupegang teguh. Sebagai polisi. Sebagai ayah.
“Taruh sekarang,” kataku menahan amarah. “Jangan sentuh apa pun.”
Andika menatapku, tetap dengan wajah datarnya. Namun kali ini ada sesuatu di matanya. Bukan takut. Bukan menyesal. Melainkan keyakinan.
“Ayah harus lihat ini,” katanya pelan.