Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Malam berdarah 2
Jarak antara rombongan Arion dan gerbang megah istana tinggal ratusan meter.
Di atas tembok tinggi, ratusan pemanah elit Beast telah menarik busur mereka.
Dengan satu komando teriakan dari atas, langit malam yang gelap mendadak tertutup oleh ribuan anak panah yang meluncur deras bak hujan badai menuju pasukan kecil Arion.
Namun, Arion tidak berhenti.
la bahkan tidak mendongak.
Arion menarik pedang hitamnya perlahan dari sarungnya.
Begitu bilah itu terhunus sepenuhnya, udara di sekitar mereka mendadak menjadi berat dan statis.
Arion mulai melepaskan energinya-bukan secara bertahap, melainkan sebuah ledakan mana yang murni.
Aura ungu yang pekat dan berpendar tajam membungkus tubuhnya, memancar ke langit seolah menantang rembulan.
Tanpa perlu saling memerintah, ketiga ajudan bergerak membentuk formasi pelindung.
Dalam sekejap, Sebas, Liora, dan Hanz bergerak membentuk formasi pelindung di sekitar Arion.
Liora bergerak seperti kilatan cahaya, belatinya menangkis puluhan anak panah dalam satu kedipan mata.
Hanz menggunakan kapak raksasanya untuk menciptakan gelombang angin yang membelokkan arah proyektil, sementara Sebas dengan tenang menggunakan sihir penghalang yang menghancurkan sisa anak panah menjadi serpihan kayu sebelum sempat mendekat.
Mereka bertiga melakukan semua itu dengan satu tujuan: memberikan panggung tanpa gangguan bagi tuan mereka untuk menunjukkan kembali pemandangan legendaris dari masa kejayaannya.
Arion terus melangkah, konsentrasinya terpusat sepenuhnya pada pedang di tangannya.
Energi ungu itu kini terkonsentrasi di ujung bilah pedang, bergetar hebat hingga menciptakan suara berdengung yang menyakitkan telinga.
Lalu, tanpa teriakan, tanpa gerakan berlebihan, Arion mengayunkan pedangnya secara vertikal-sebuah tebasan sederhana dari atas ke bawah.
BOOM!
Energi yang terkumpul itu meledak keluar bukan sebagai tebasan biasa, melainkan berubah menjadi bilah energi ungu raksasa yang tingginya mencapai puluhan meter.
Tebasan itu membelah tanah dengan suara yang memekakkan telinga, menciptakan parit dalam yang memanjang dengan kecepatan kilat menuju gerbang utama.
Gerbang besi raksasa yang konon tak tertembus selama berabad-abad itu terbelah menjadi dua layaknya kertas basah.
Namun serangan itu tidak berhenti di sana. Bilah energi itu terus melesat masuk ke halaman istana, menghantam barisan pasukan Beast yang sedang bersiaga di balik gerbang.
Hening sejenak.
Lalu, pemandangan mengerikan muncul.
Tanah terbelah, gerbang hancur, dan setiap prajurit Beast yang berada di jalur tebasan itu... terbelah menjadi dua dengan presisi yang mengerikan.
Darah dan puing-puing bangunan beterbangan di udara saat tekanan angin dari tebasan itu menyapu sisa-sisa pasukan yang masih hidup.
Ketiga ajudannya berhenti sejenak, menatap kehancuran itu dengan reaksi yang beragam.
"Hanya gerbang dan barisan depannya saja yang hancur..." gumam Hanz sambil menyandarkan kapak besarnya di bahu.
la menghela napas panjang, matanya menatap jalur kehancuran itu dengan sisa ngeri.
"Ini belum seperti dulu." Liora, yang biasanya paling berisik, hanya terdiam dengan mata yang meredup.
la menyeka noda darah di pipinya.
"Kau benar, Hanz. Jika ini terjadi sewaktu masa kejayaannya... tebasan tadi tidak akan berhenti di gerbang itu."
"Tapi setiap kali melihatnya, aku selalu merasa beruntung berada di belakang pedang itu, bukan di depannya." Sementara Sebas, ia hanya merapikan sarung tangannya yang bahkan tidak kotor sedikit pun, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Keindahan yang sangat efisien.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia."
Di tengah debu yang mengepul dan aroma besi dari darah yang tumpah, Arion menyarungkan kembali pedangnya. Matanya menatap lurus ke dalam istana yang kini terbuka lebar tanpa pertahanan.
"Hancurkan..."
Halaman depan istana Kerajaan Beast yang sangat luas-yang biasanya menjadi simbol kemegahan dan kekuatan militer para prajurit binatang-kini tak lebih dari sebuah ladang pembantaian yang kacau.
Gerbang utama yang telah hancur berkeping-keping akibat tebasan Arion memberikan akses terbuka bagi pasukan Black Knight untuk menerobos masuk tanpa hambatan berarti.
Ratusan pasukan Beast yang awalnya berbaris rapi kini kocar-kacir.
Formasi mereka hancur, moral mereka runtuh melihat gerbang legendaris mereka terbelah layaknya kertas. Di bawah cahaya bulan yang dingin, bayangan zirah hitam Black Knight bergerak maju dengan presisi yang mengerikan, menekan sisa-sisa pertahanan ksatria Beast hingga ke sudut-sudut halaman luas tersebut. Sementara kekacauan meletus di luar, suasana di dalam kamar pribadi Raja Beast terasa sangat kontras.
Kesunyian di dalam sana mendadak pecah ketika Putri Valerica mendobrak pintu dengan napas yang memburu.
Di belakangnya, beberapa pasukan elit dan seorang Komandan Beast bersiaga dengan senjata terhunus.
"Cepat! Angkat tubuh Ayahanda!" perintah Valerica tajam. "Jika benteng depan runtuh, orang tua ini adalah satu-satunya kartu as kita!"
Valerica adalah wanita yang licik.
la tahu betul sifat adiknya, Elara.
Meskipun ia menduga Arion mungkin tidak akan peduli sedikit pun jika raja terbunuh, ia sangat peka terhadap dinamika hubungan manusia.
Jika Elara-yang kini telah menjadi bagian penting bagi Arion- memohon untuk menyelamatkan nyawa ayahnya, Arion pasti akan menurutinya.
Valerica berencana menjadikan ayahnya sendiri sebagai sandera untuk menahan gerak maju sang Pangeran Terbuang.
Namun, saat tangan para prajurit elit hendak menyentuh ranjang sang Raja, sebuah suara rendah dan dingin bergema dari kegelapan sudut ruangan.
"Satu langkah lagi... dan kau tidak akan pernah melihat matahari terbit, Tuan Putri."
Sesosok bayangan memadat di samping ranjang.
Nyx muncul, berdiri dengan tenang dalam balutan jubah hitamnya.
Aura yang ia pancarkan sangat tipis namun menusuk, seolah-olah kematian itu sendiri sedang berdiri di sana.
Keberadaannya menjadi dinding penghalang yang mustahil ditembus oleh Valerica.
Melihat kemunculan Nyx yang tiba-tiba dari kegelapan, para ksatria elit Beast secara insting langsung membentuk formasi pagar betis untuk melindungi Putri Valerica.
Di barisan paling depan, sang Komandan menggeram rendah, otot-otot lengannya menegang saat ia menodongkan senjata ke arah bayangan itu.
"Tuan Putri, mundur lah!" teriak Komandan itu tanpa mengalihkan pandangan.
la adalah seorang pejuang berpengalaman; ia tahu betul bahwa melawan sosok yang mampu menyelinap tanpa terdeteksi di ruangannya sendiri bukanlah perkara mudah.
Bertarung sambil melindungi orang lain di ruangan sesempit ini hanya akan menjadi bunuh diri.
Nyx hanya berdiri tegak, memutar belati hitamnya dengan gerakan yang sangat santai, seolah-olah pasukan elit di depannya tak lebih dari sekadar pajangan dinding.
Bersambung .....