Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal yang Tidak Pernah Ia Katakan
Pagi itu tidak membawa tanda apa pun.
Tidak ada ancaman, tidak ada pesan lanjutan. Dunia tampak kembali ke ritmenya—dan justru di situlah Matteo merasa paling gelisah. Ia tahu pola: ketika sesuatu terlalu tenang, itu berarti kebenaran sedang mencari waktu.
Carmela menyibukkan diri dengan membaca laporan. Ia tampak fokus, tenang, seolah badai beberapa hari lalu sudah menjadi bagian dari kebiasaan. Matteo mengamati dari jauh—bukan karena curiga, melainkan karena ia sedang mengumpulkan keberanian.
“Carmela,” panggilnya.
Nada itu membuat Carmela menoleh. Ada sesuatu yang berbeda. Matteo jarang memanggil namanya tanpa embel-embel atau jeda bercanda.
“Ada apa?” tanya Carmela.
Matteo berdiri. “Ada hal yang harus kau dengar. Dari aku. Sekarang.”
Carmela menutup berkas. “Baik.”
Tidak ada desakan. Tidak ada penghalang. Ia tahu momen itu datang dengan harga.
Mereka memilih ruang kecil di belakang vila—ruang yang jarang dipakai, dindingnya polos, jendelanya menghadap kebun. Tempat yang tidak menyimpan gema keputusan lama.
Matteo menutup pintu, lalu berdiri diam. Tangannya mengepal, lalu terbuka. Ia menarik napas panjang.
“Aku tidak selalu seperti yang kau lihat,” katanya.
Carmela duduk, sikapnya terbuka. “Aku tidak pernah berpikir kau sederhana.”
Matteo tersenyum pahit. “Aku lebih buruk dari yang kau kira.”
Carmela tidak menyela. Ia menunggu—dan itu, bagi Matteo, adalah bentuk keberanian yang paling murni.
“Ada satu keputusan di masa lalu,” lanjut Matteo. “Keputusan yang menyelamatkanku… dengan mengorbankan orang lain.”
Carmela mengernyit. “Siapa?”
Matteo menatap jendela. “Seseorang yang mencintaiku. Bukan sebagai pasangan. Sebagai keluarga.”
Nama itu akhirnya keluar—pelan, hampir tenggelam oleh napasnya sendiri.
Lucia.
“Dia bukan darah,” kata Matteo. “Tapi dia membesarkanku ketika dunia terlalu keras. Ketika aku belum punya apa-apa selain amarah.”
Carmela merasakan sesuatu mengencang di dadanya. “Apa yang terjadi?”
Matteo menutup mata. “Aku memilih jalan yang membuatku naik. Cepat. Kotor. Dan aku tahu… itu akan menyeretnya.”
“Dan kau tetap memilihnya,” kata Carmela, bukan tuduhan—pengakuan.
Matteo mengangguk. “Aku pikir aku bisa mengendalikan dampaknya. Aku salah.”
Lucia tidak mati.
Itulah bagian yang paling kejam—ia hidup dengan konsekuensinya. Kehilangan pekerjaan, reputasi tercemar, namanya terikat pada jaringan yang tidak ia pahami. Matteo membersihkan jejaknya sendiri, tapi tidak cukup cepat untuk menyelamatkannya dari stigma.
“Aku mengirim uang,” kata Matteo. “Aku menjaga jarak agar dia tidak diseret lebih jauh.”
“Dan kau tidak pernah meminta maaf,” kata Carmela lembut.
Matteo membuka mata. “Aku takut. Takut jika aku kembali, aku harus mengakui bahwa kesuksesanku dibangun di atas pengorbanannya.”
Carmela terdiam lama. Ia memproses bukan hanya cerita—melainkan keberanian mengatakannya.
“Kenapa sekarang?” tanya Carmela akhirnya.
Matteo menatapnya. “Karena dunia sedang menekanmu untuk jujur. Dan aku tidak bisa berdiri di sisimu… sambil menyembunyikan kebenaran yang sama beratnya.”
Carmela menghela napas. “Apa yang kau inginkan dariku?”
Matteo ragu. “Aku ingin kau tahu semuanya. Sebelum kau memutuskan… apakah aku masih layak bersamamu.”
Nama Lucia muncul kembali sore itu—bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai kehadiran.
Ia datang dengan pesan singkat: Aku di kota. Aku ingin bicara. Bukan untuk menuntut. Untuk menutup.
Matteo menatap layar ponsel seperti seseorang menatap cermin yang retak.
Carmela berdiri di sampingnya. “Kau akan menemuinya.”
Bukan perintah. Keputusan.
Matteo mengangguk. “Aku tidak ingin kau ikut.”
Carmela menatapnya. “Aku tidak ingin bersembunyi.”
Mereka bertemu di tempat yang netral—sebuah taman kota, bangku kayu di bawah pohon tua. Lucia duduk lebih dulu. Rambutnya disisir rapi, pakaiannya sederhana. Matanya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang pernah kehilangan banyak hal.
“Matteo,” katanya. “Kau menua.”
“Kau juga,” jawab Matteo pelan.
Lucia tersenyum kecil, lalu menatap Carmela. “Dan ini…?”
“Carmela,” jawab Carmela, mengulurkan tangan. “Terima kasih sudah datang.”
Lucia menjabatnya singkat. “Aku tidak datang untuk menguji cintamu.”
Carmela mengangguk. “Aku datang untuk mendengarkan.”
Percakapan itu tidak meledak.
Tidak ada teriakan. Tidak ada tuntutan. Justru di situlah beratnya.
“Aku tidak menyalahkanmu sepenuhnya,” kata Lucia. “Kau masih muda. Kau lapar.”
“Aku salah,” kata Matteo. “Dan aku tahu maaf tidak memperbaiki apa pun.”
Lucia menatapnya lama. “Aku tidak ingin perbaikan. Aku ingin pengakuan.”
Matteo mengangguk. “Aku mengakui.”
“Dan aku ingin kau berhenti membayar rasa bersalah dengan jarak,” lanjut Lucia. “Itu bukan keadilan. Itu pelarian.”
Carmela merasakan getaran halus di udara. Ini bukan tentang masa lalu semata—ini tentang cara Matteo mencintai.
Lucia berdiri. “Aku akan pergi lagi. Tapi aku ingin kau tahu: aku baik-baik saja. Meski bukan karena keputusanmu.”
Matteo menelan ludah. “Terima kasih… karena tidak membenciku.”
Lucia tersenyum samar. “Aku sudah lelah membenci.”
Ia pergi tanpa menoleh.
Malam itu, Carmela dan Matteo pulang tanpa banyak bicara.
Di ruang kerja, Carmela berdiri di depan jendela. “Ada satu hal yang menggangguku,” katanya akhirnya.
Matteo menoleh. “Apa?”
“Kau menyelamatkan orang dengan menjauh,” kata Carmela. “Termasuk aku, kadang-kadang.”
Matteo terdiam.
“Aku butuh tahu,” lanjut Carmela, suaranya stabil. “Jika suatu hari aku jatuh… apakah kau akan menjauh agar aku ‘aman’?”
Pertanyaan itu menghantam tepat sasaran.
Matteo mendekat. “Aku tidak ingin kehilanganmu.”
“Jawab pertanyaanku,” kata Carmela pelan.
Matteo menarik napas. “Dulu, ya. Aku akan menjauh.”
“Dan sekarang?”
Matteo menatap matanya. “Sekarang aku akan tinggal. Bahkan jika itu menyakitkan.”
Carmela mengangguk. “Itu batas pertamaku.”
Matteo menyentuh tangannya. “Aku menerimanya.”
Keputusan Carmela malam itu tidak diumumkan—ia diambil.
Ia memilih menerima Matteo sepenuhnya, tanpa memutihkan masa lalu, tanpa menjadi penyelamat. Ia memilih hubungan yang jujur, meski itu berarti menolak pola lama Matteo yang heroik namun sepi.
“Aku tidak akan menjadi alasanmu lari dari rasa bersalah,” kata Carmela.
Matteo mengangguk. “Dan aku tidak akan menjadikanmu perlindungan.”
Mereka berpelukan—bukan erat, bukan posesif. Setara.
Keesokan paginya, dunia kembali mengetuk.
Satu undangan resmi. Satu rapat mendadak. Satu bisikan yang berubah arah: masa lalu Matteo mulai dibaca ulang oleh pihak-pihak yang ingin menekan Carmela.
Matteo membaca ringkasan itu. “Mereka akan menggunakan Lucia.”
Carmela berdiri di sampingnya. “Tidak. Kita tidak akan membiarkan itu.”
“Bagaimana?”
“Dengan tidak menyangkal,” jawab Carmela. “Dengan menghadapi.”
Matteo menatapnya, ada ketakutan—dan kekaguman. “Itu berbahaya.”
Carmela tersenyum tipis. “Kejujuran selalu begitu.”
Malam turun. Lampu vila menyala satu per satu.
Matteo dan Carmela duduk berdampingan, diam, tangan bertaut. Tidak ada janji besar. Tidak ada sumpah.
Hanya satu kesepakatan yang tak tertulis: mereka akan tetap tinggal, bahkan ketika kebenaran tidak ramah.
“Apakah kau menyesal?” tanya Matteo.
Carmela menggeleng. “Aku memilih dengan mata terbuka.”
Matteo tersenyum kecil. “Aku akan belajar mencintaimu… tanpa melarikan diri.”
Carmela menatapnya. “Aku akan belajar mencintaimu… tanpa mengorbankan diriku.”
Di luar, angin menggerakkan dedaunan. Bukan badai—tapi pertanda perubahan.
Dan jauh di dalam, keduanya tahu: bab berikutnya akan menuntut lebih dari keberanian. Ia akan menuntut keteguhan.