Chaterine berdiri diam, mengamati suaminya mencium kekasih SMA-nya, Moana, di pesta ulang tahun pernikahan mereka yang ke-2. Meskipun sudah diyakinkan, Chaterine tak bisa menghilangkan perasaan bahwa kehadiran Moana mengancam pernikahannya. Terjebak dan tercekik, Catherine mendambakan kebebasan, bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Namun Tuhan ternyata punya rencana lain untuk Chaterine. Takdir ikut turun tangan ketika ia bertemu dengan Christian, mafia terkuat di Negara Rusia. Christian menawarkan balas dendam kepada Moana dan suaminya dengan imbalan menjadi simpanannya selama setahun. Saat Chaterine bergulat dengan tawaran berbahaya ini, ia tertarik pada Christian yang misterius. Akankah ia menyetujui kontrak tersebut, dan apa yang akan terjadi seiring ketertarikannya pada Christian semakin kuat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon omen_getih72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Bibir Christian yang tegas namun lembut bagaikan dosa. Dengan lidahnya, ia mendesak Catherine untuk membuka mulutnya, dan wanita itu pun membukanya seperti bunga yang mekar menyambut sinar matahari di pagi hari.
Ia memasukkan lidahnya ke dalam mulut Catherine dan ia membiarkannya mendominasi karena itu terasa alami.
Tangan Catherine menyentuh kulit dadanya yang telanjang, dan terdengar suara gemuruh dari sana.
Ketika tangannya menyentuh leher Christian lebih dalam, tempat seharusnya tanda pasangan berada, pria itu hampir kehilangan kendali dan menekan Catherine lebih dalam di kasur, menggeram dan menggesekkan batangnya yang keras ke arah wanita itu.
Di antara semua ciuman dan isapan, Catherine bersumpah ia bisa merasakan giginya yang tajam menggesek kulitnya.
Rasa ngeri menjalar di tulang belakangnya, tetapi ia tidak mendorongnya karena dirinya tidak bisa.
Catherine tidak tahu perubahan macam apa yang sedang terjadi di dunianya, tetapi ia ingin ini terus berlanjut.
Seolah tahu apa yang ada dalam pikirannya, Christian menghujani pipi Catherine dengan ciuman dan beralih ke leher di mana seharusnya tandanya berada. Dan ketika ia mengigit kecil di sana, Catherine menjerit, menjambak rambutnya. Panas menggenang di perutnya.
Tepat saat itu, pintu tiba-tiba terbuka. Catherine membeku di bawah tubuh Christian dan, sambil menggeram, Christian menoleh ke belakang untuk melihat siapa orang itu.
Catherine mendorong Christian menjauh dan duduk di tempat tidur menatap Kate, yang sedang menyeringai.
Arnold dan Francis mengintip dari belakang.
Christian menggerutu, benci karena Catherine mendorongnya. Dengan alis berkerut, ia melotot ke arah Kate dan yang lainnya karena telah merusak momennya.
Sementara Catherine tersipu begitu dalam hingga ia pikir warna kulitnya akan berubah menjadi merah selamanya.
Kate menepuk dada dengan tangannya dan mencibir, "Lihat itu. Kakak laki-lakiku dan sahabatku." Ia menyikut Arnold. "Apa yang akan dikatakan Tuan kamu tentang ini, Arnold?"
Francis terkekeh saat dia menutup pintu di belakang mereka dan masuk ke dalam.
"Kapan kamu akan berhenti dengan kebiasaan menerobos masuk ke kamar seseorang begitu saja, Kate?" tanya Christian dengan nada kesal.
Catherine bangkit dari tempat tidur dan menyadari bahwa Christian dan dirinya memiliki kelopak mawar yang menempel di pakaian dan kulit mereka.
Ia tidak tahu tentang dirinya sendiri, tetapi ia ingin mencabut semua kelopak mawar dari kulit Christian engan lidahnya.
Sial. Dari mana pikiran-pikiran ini muncul?
"Yah, seharusnya kamu mengunci pintu dari dalam," balasnya. "Lagipula, aku ke sini untuk mengingatkanmu bahwa kita harus berangkat ke kantor pengacara dalam dua jam."
"Dan mengapa orang-orang tolol ini bersamamu?" tanyanya sambil mengerutkan kening pada Arnold dan Francis.
Christian telah bergeser ke sandaran ranjang dan membuat dirinya nyaman, dengan lengannya menopang kepalanya.
Sudah saat untuk Catherine memberitahunya tentang Arnold. "Tuan Christian, Arnold mungkin seorang pelatih di keluarga Archer, tapi dia akan menjadi asisten pribadiku kedepannya."
"Benarkah?" kali ini, Christian benar-benar mengamati Arnold dengan penuh intimidasi. "Dan mengapa begitu?"
Catherine bangkit dari tempat tidur. "Arnold adalah putra asisten pribadi Ayahku, jadi wajar saja jika dia akan menjadi asistenku saat aku mendapatkan kekuasaanku kembali."
Christian tidak mengatakan sepatah kata pun, namun ia mengangguk sekali seolah tidak suka jika Catherine menjadi pemimpin keluarganya suatu hari nanti.
"Pokoknya," sela Kate. "Tolong tutup pintunya kalau kalian berdua sedang melakukan sesuatu."
"Jika bukan kita yang melihatnya, situasi ini pasti akan semakin membesar, dan para pelayan pasti sudah menyebarkan rumor bahwa kamu sudah mengandung anak Tuan Christian," balasnya.
"Sialan. Gadis ini terlalu blak-blakan." gumam Catherine seraya berlari ke dalam kamar mandi dan membanting pintu hingga tertutup saat Christian tertawa terbahak-bahak.
"Bukan ide yang buruk." gumam pria itu.
"Sudah saatnya aku memindahkannya ke salah satu kamar utama di rumah besar ini." ucap Kate.
**
**
Dalam waktu dua jam, mereka semua sudah berada di jalan raya menuju tujuan mereka.
Markas besar para pengacara terkenal terletak di timur, sekitar dua jam dari kediaman keluarga Alonzo.
Catherine duduk bersama Christian, sementara Arnold dan Francis bersama Kate.
Catherine bertanya kepada Kate mengapa ia ikut karena itu akan melelahkan baginya, tetapi wanita itu bersikeras, mengatakan bahwa ia butuh waktu untuk memikirkan sesuatu.
Ketika Catherine mendesaknya, Kate tidak menjelaskan lebih lanjut, jadi ia memilih tetap diam.
Catherine yang berada di dalam mobil dan melihat semua berkas kasusnya untuk keseratus kalinya.
Membuat Christian mengambil kertas-kertas itu darinya dan menyimpannya.
"Hentikan," ia menegur Catherine dengan ringan. "Kamu sudah membacanya. Apa lagi yang akan kamu baca?"
Catherine menggerakkan jari-jarinya dengan gugup di pangkuannya sementara rasa takut menggelayuti pikirannya.
"Aku harap para Tetua mempertimbangkan permohonan ini. Ini baru dan belum pernah terjadi, tetapi aku menolak untuk tetap seperti ini."
Christian memegang tangan Catherine. "Aku yakin akan ada satu orang yang akan mempertimbangkan kasusmu. Sekarang, mari kita lanjutkan apa yang kita lakukan tadi pagi." Christian mengusulkan dan menarik Catherine lebih dekat padanya.
"Apa?" Ia hampir melompat. "Kamu tidak mungkin serius!"
"Kamu berharap aku..." Catherine menatap pengemudi itu, tersipu malu.
Namun pria itu terus mengemudi seolah-olah tidak terjadi apa-ара.
Christian menekan tombol di mobil dan sebuah layar muncul. "Apa yang kamu katakan?" tanya si brengsek itu.
Catherine menggertakkan giginya. Sambil merendahkan suaranya, ia berkata, "Kamu berharap aku berhubungan se*s denganmu di dalam mobil?"
Christian mengangkat sebelah alisnya. "Itu kata-katamu, bukan kata-kataku, tapi kenapa tidak? Mobil ini luas. Aku bisa merenggangkan kakimu, menangkup pant*tmu, lalu memasukkan pen*sku ke dalam dirimu."
Mulut Catherine ternganga mendengar kata-katanya yang kotor, tetapi pahanya menegang saat celana dalamnya basah kuyup.
Saat cairannya keluar, lubang hidung Christian melebar seolah menghirup aroma gairah wanita itu.
"Ah, kucing kecilku basah untukku."
"Tidak!" sergah Catherine
Namun, sesaat kemudian, Christian menarik Catherine ke pangkuannya seperti wanita itu boneka tanpa beban, dan meletakkan di pahanya dengan punggung Catherine menempel di dadanya. Sambil mengangkat gaunnya, ia berkata, "Kamu yakin?"
Catherine meraih lengannya untuk menghentikannya, tetapi usahanya sia-sia. Pahanya mulai gemetar karena antisipasi ketika jari-jarinya masuk ke dalam.
Christian meraih celana dal*m Catherine dan ketika tangan itu menyentuh kain, tepat di atas inti tubuh, Catherine merintih.
Christian menarik kain itu, merobeknya. Dengan satu gerakan cepat, ia melepaskan kain tipis itu dan mengantonginya.
Catherine mencoba menjepit pahanya, tetapi Christian melebarkannya lebih jauh dan menjepitnya dengan kakinya.
"Sial!" gerutunya. "Andai aku bisa menjilati semua cairan itu." Ia mendekatkan ibu jarinya ke bagian paling sensitif dan memasukkan satu jarinya ke dalam inti tubuh Catherine.
Pinggul wanita itu bergerak ke arah jarinya.
"Sepertinya kucing kecilku ini sedang sekarat karenaku." Ia kini menambahkan satu jarinya lagi dan mulai memompa.
Masuk dan keluar.
Masuk dan keluar.
*********
*********