NovelToon NovelToon
Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak ditepi sungai

Di tengah riuhnya candaan Rayyan dan teman-teman lainnya, mata tajam Langit menangkap sosok yang sangat ia kenali dari kejauhan.

Seorang gadis dengan seragam rapi dan kerudung putih yang melambai ditiup angin, sedang mengayuh sepeda di jalur khusus santri putri.

"Senja!" teriak Langit spontan tanpa mempedulikan tatapan heran santri-santri di sekitarnya.

Ia langsung berdiri di atas pedal sepedanya, mengayuh dengan sekuat tenaga seolah sedang berada di lintasan balap. "Senja, tungguin!"

Mendengar suara yang sangat familiar itu, Senja menoleh. Senyumnya langsung mengembang, rasa lelah akibat mengayuh sepeda seketika sirna. Ia memberikan kode kepada dua temannya agar jalan duluan.

"Kalian duluan saja ya, aku mau pelan-pelan," ucap Senja. Teman-temannya hanya bersorak menggoda namun tetap melaju ke depan.

Kini, Langit sudah berada di samping Senja. Napasnya sedikit terengah-engah, namun matanya memancarkan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.

Mereka mengayuh sepeda berdampingan dengan kecepatan yang sangat santai, sengaja agar waktu menuju sekolah terasa lebih lama.

"Gimana semalam? Bisa tidur nggak?" tanya Langit sambil terus menatap wajah Senja dari samping.

Senja tertawa kecil, sedikit malu untuk mengaku. "Jujur... kasurnya kerasa keras banget, Langit. Nggak ada yang berisik mengigau atau narik-narik selimut aku."

"Sama," sahut Langit cepat.

"Rayyan sampai ngeledek saya bucin gara-gara saya nggak berhenti guling-guling di kasur. Ternyata tidur di asrama itu ujian terberat setelah ujian matematika."

Senja menoleh, menatap Langit dengan pandangan rindu yang dalam. "Satu bulan kemarin kita bareng terus, sekarang rasanya aneh ya harus pisah gedung begini."

"Nggak apa-apa," Langit mencoba menghibur istrinya, meski ia sendiri merasa sesak.

"Yang penting setiap pagi saya masih bisa lihat kamu begini. Ternyata naik sepeda bareng begini lebih asik daripada naik motor. Saya jadi punya waktu lebih lama buat lihat wajah kamu."

Senja merona merah.

"Bisa aja ya mulutnya kalau lagi rindu."

Mereka terus mengayuh perlahan di bawah naungan pohon-pohon rindang. Di jalanan setapak menuju madrasah itu, mereka saling bertukar cerita tentang kejadian di asrama semalam, melepaskan rasa rindu yang sempat menumpuk, meski hanya melalui obrolan ringan di atas sepeda tua.

Sesampainya di area parkir sepeda madrasah yang mulai ramai, Langit dan Senja menuntun sepeda mereka masing-masing menuju barisan yang ditentukan.

Suasana riuh rendah dengan suara obrolan santri lain, namun bagi Langit, dunia seolah hanya berputar di sekitar Senja.

Sebelum Senja sempat melangkah menuju barisan santri putri, Langit menahan ujung stang sepeda istrinya. "Sebentar," bisiknya.

Langit merogoh saku seragamnya, lalu dengan gerakan cepat yang sangat lihai—agar tidak terlihat oleh mata-mata pengurus keamanan madrasah—ia menyelipkan sebuah cokelat kecil yang dibungkus kertas cokelat ke dalam keranjang sepeda Senja, tepat di bawah tas sekolahnya.

Senja tertegun. "Langit, kamu dapat dari mana? Kan nggak boleh jajan keluar?"

Langit mengedipkan sebelah matanya, kembali ke mode "bad boy" yang cerdik. "Tadi malam saya titip Rayyan pas dia keluar buat keperluan pondok. Itu buat kamu, kalau nanti di kelas kamu ngantuk atau pusing mikirin saya terus, dimakan ya."

Senja menahan senyumnya, tangannya meraba cokelat di balik tasnya.

"Terima kasih ya. Kamu... jangan bolos lagi kayak kemarin."

"Iya, tuan putri. Hari ini saya bakal jadi santri teladan biar bisa cepet-cepet pulang dan lihat kamu lagi di jalan ini," janji Langit.

Mereka berdiri terpaku sejenak, saling tatap dengan binar kerinduan yang belum tuntas, hingga suara bel masuk madrasah berbunyi nyaring memecah suasana.

"Sana masuk," kata Langit pelan.

Senja mengangguk, namun sebelum benar-benar pergi, ia membisikkan sesuatu yang membuat Langit mematung di tempat.

"Aku juga kangen kamu semalam, Langit. Sangat kangen."

Senja langsung berlari kecil menuju barisannya tanpa menoleh lagi, meninggalkan Langit yang berdiri dengan senyum lebar yang tak bisa hilang dari wajahnya.

Rayyan yang baru saja memarkir sepedanya di kejauhan langsung berteriak, "Woy, Langit! Mau berdiri di situ sampai lulus? Masuk!"

Langit tertawa, menyampirkan tasnya di bahu dengan semangat baru. Rasa kantuk akibat tidak tidur semalam hilang seketika, berganti dengan energi yang meluap-luap hanya karena satu kalimat singkat dari Senja.

Bel istirahat berbunyi, dan seperti sudah direncanakan di dalam kepalanya, Langit tidak membuang waktu sedetik pun.

Ia langsung melesat keluar dari kelas dua belas, menuruni tangga dengan langkah lebar menuju gedung kelas sepuluh tempat Senja berada.

Senja yang baru saja merapikan bukunya menatap ke arah pintu dan matanya langsung berbinar saat melihat sosok jangkung suaminya berdiri di sana.

Tidak ada lagi rasa enggan atau canggung seperti hari-hari sebelumnya. Senja segera menghampiri Langit dengan senyum yang merekah.

"Lama ya nunggunya?" tanya Langit sambil menatap wajah Senja yang tampak lebih segar daripada tadi pagi.

"Nggak kok, baru juga bel," jawab Senja manis.

Mereka berjalan beriringan menuju kantin. Sesampainya di sana, Langit langsung mengambil posisi duduk di samping Senja, sangat rapat hingga bahu mereka bersentuhan, seolah ingin membayar tuntas waktu yang terbuang karena harus pisah asrama.

Di depan mereka, sahabat-sahabat Senja sudah duduk menunggu, sementara Rayyan mengambil tempat di samping Langit.

Suasana kantin yang riuh menjadi latar belakang obrolan mereka yang seru. Rayyan terus-menerus melontarkan banyolan tentang betapa "mengenaskannya" kondisi Langit di asrama semalam, yang disambut tawa oleh teman-teman Senja.

"Kalian harus lihat muka Langit tadi malam, bener-bener kayak orang kehilangan arah!" seru Rayyan sambil menyuap siomay-nya.

Langit hanya mendengus, namun tangannya diam-diam meraih jemari Senja di bawah meja, menggenggamnya erat.

Senja hanya bisa menunduk malu namun tidak melepaskan genggaman itu.

Mereka makan sambil terus bercanda, sesekali Langit menjahili Senja dengan mengambil sayuran di piringnya, yang dibalas Senja dengan cubitan kecil di lengan.

Waktu terasa berjalan begitu cepat hingga bel tanda masuk kelas kembali bergema. Dengan berat hati, mereka bangkit dari kursi kantin.

Seperti protokol tidak tertulis, Langit kembali menuntun Senja menuju kelasnya lebih dulu.

Di depan pintu kelas Senja, Langit berhenti sejenak.

"Belajar yang rajin. Jangan kangen terus, nanti fokusnya hilang," goda Langit sambil mengacak pelan puncak kepala Senja.

"Kamu yang kangen terus!" balas Senja sambil menjulurkan lidah.

Setelah memastikan Senja masuk ke kelas, barulah Langit berbalik menuju kelasnya sendiri dengan perasaan yang jauh lebih ringan.

Rasa rindu yang sempat menyesakkan kini sedikit terobati, setidaknya sampai jam pulang sekolah nanti.

Mereka memarkirkan sepeda di bawah pohon rindang dan menuruni jalan setapak kecil menuju bibir sungai.

Suasana di sana begitu tenang, hanya ada suara gemericik air jernih yang mengalir di atas bebatuan dan kicauan burung sore.

Langit memegang tangan Senja dengan sangat erat, menuntunnya melewati bagian jalan yang berlumut.

"Hati-hati, licin," bisiknya protektif. Sesampainya di tepi, mereka melepas alas kaki, merasakan sensasi dingin tanah dan bebatuan yang menyentuh kulit kaki.

Langit menggandeng Senja menuju sebuah batu besar yang menjorok ke tengah sungai.

Mereka duduk bersisian di sana, membiarkan kaki mereka terendam di dalam air sungai yang sangat jernih dan menyegarkan.

"Dingin ya?" tanya Langit sambil menoleh.

"Seger banget!" jawab Senja riang. Namun, keceriaan itu berubah menjadi jeritan kecil saat Langit tiba-tiba memercikkan air ke wajahnya.

"Langit! Basah tahu!"

Senja tidak mau kalah. Ia meraup air dengan kedua tangannya dan membalas serangan Langit.

Keduanya akhirnya terlibat perang air kecil, tertawa lepas hingga seragam dan wajah mereka basah kuyup oleh percikan air sungai.

Tawa itu perlahan mereda saat Langit berhenti dan menatap Senja. Tangannya yang basah bergerak naik, mengusap butiran air yang mengalir di pipi Senja dengan gerakan yang sangat lembut dan pelan.

Sentuhan itu membuat napas Senja tertahan, dadanya berdebar kencang hingga terasa menyesakkan.

Wajah Langit mulai mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Senja bisa merasakan hembusan napas Langit yang hangat di kulit wajahnya yang dingin.

Secara refleks, Senja memejamkan matanya rapat-rapat saat bibir Langit mendarat dengan lembut di bibirnya.

Ciuman itu terasa begitu tulus dan penuh kerinduan yang terpendam sejak semalam.

Langit melumat bibir istrinya dengan perlahan, seolah sedang menyampaikan semua kata-kata cinta yang tak sempat terucap.

Senja terhanyut, tangannya meremas pundak Langit, membalas ciuman itu dengan perasaan yang sama dalamnya.

Suasana semakin memanas saat Langit mulai mengalihkan ciumannya turun ke leher jenjang Senja.

Sentuhannya yang lembut namun menuntut membuat Senja mendongakkan kepala sedikit, memberikan akses lebih luas bagi suaminya.

Di sana, di antara keteduhan pepohonan dan suara sungai, Langit meninggalkan jejak merah yang samar sebagai tanda kepemilikannya.

Langit kembali menatap mata Senja yang sayu setelah pautan mereka terlepas. Ia mengusap bibir Senja yang sedikit bengkak dengan ibu jarinya.

"Maaf... saya terlalu rindu," bisik Langit serak.

Senja hanya mampu tersenyum malu, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di dada Langit.

Di tepi sungai itu, mereka seolah lupa bahwa waktu terus berjalan dan mereka harus segera kembali ke realita pesantren.

Senja buru-buru merapikan letak kerudungnya, menarik kain putih itu sedikit ke depan untuk memastikan bagian lehernya tertutup rapat.

Jantungnya masih berdegup kencang, dan sensasi hangat dari ciuman Langit seolah masih tertinggal di kulitnya.

"Langit, ini... ini kelihatan nggak?" tanya Senja dengan suara gemetar, menunjuk samar ke arah lehernya yang tertutup kain.

Langit memperhatikan istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa puas, gemas, dan sedikit rasa bersalah. Ia membantu merapikan jarum pentul di kerudung Senja agar posisinya lebih kokoh.

"Enggak, asal kamu jangan terlalu banyak gerak atau narik-narik kerudung. Aman kok."

Mereka segera memakai sepatu dan kembali ke sepeda. Perjalanan pulang menuju pesantren terasa jauh lebih cepat karena mereka diburu waktu.

Begitu sampai di gerbang belakang, mereka berpisah dengan pandangan yang sangat berat.

"Sampai ketemu besok pagi di jalan ini, ya?" bisik Langit. Senja mengangguk cepat lalu bergegas menuju asrama putri.

Begitu masuk ke kamar asrama, Senja langsung disambut oleh dua sahabatnya, Hana dan Laila, yang sedang asyik melipat mukena.

"Loh, Senja? Kok baru balik? Dari mana aja sama Gus Langit?" tanya Hana menyelidik.

"Eh, itu... tadi sepedanya ada kendala sedikit di jalan, jadi mampir sebentar buat benerin," jawab Senja berbohong, ia merasa wajahnya memanas.

Ia segera mengambil handuk dan baju ganti untuk menghindari interogasi lebih lanjut.

Namun, saat Senja sedang berdiri di depan cermin kecil di sudut kamar untuk melepas kerudungnya, Laila tiba-tiba mendekat.

"Senja, itu kerudung kamu kok dipeniti sampai tinggi banget begitu? Kamu nggak gerah? Sini aku bantuin benerin letaknya."

"Jangan!" seru Senja refleks sambil memegangi lehernya, membuat Hana dan Laila terlonjak kaget.

"Kenapa sih? Galak amat," protes Laila heran.

"Enggak, maksudnya... aku mau langsung mandi aja. Gerah banget," kilas Senja sambil buru-buru lari menuju kamar mandi.

1
Miramira Kalapung
Alurnya cerita nya sangat bagus
yuningsih titin: makasih kak semoga suka
total 1 replies
Siti Amyati
akhirnya lanjut kak
kalea rizuky
senja np di buat bloon bgt sih heran
kalea rizuky
senja aja goblok
Siti Amyati
lanjut kak
Siti Amyati
kasihan ujian nya kok senja di lecehin gitu smoga langit ngga lansung ambil keputusan yg bikin berpisah tpi bisa buktiin siapa dalang semuanya
Kurman
👍👍👍
Julidarwati
BHSnya baku x dan g eris sebut nm thor
yuningsih titin: makasih koreksinya dan komentar nya
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
yuningsih titin: siap👍
total 1 replies
yuningsih titin
makasih masukannya kak
ndah_rmdhani0510
Senja yng di gombalin, kok aku yang meleleh🤭
Bulan Benderang
bahasanya masih sedikit kaku kak,🙏🙏
Ai Nurlaela Jm
Karyamu luar biasa kereen Thor, lanjutkan💪
rinn
semangat thor
yuningsih titin: makasih kak
total 1 replies
Dri Andri
lanjut kan berkarya tetap semangat
Dri Andri
lanjutkan thour
Dri Andri
awwsshh ceritanya bikin.... 😁😁😁😁
yuningsih titin
ngga kuat deh langit sama senja romantis banget
ndah_rmdhani0510
Benci apa benci Langit? Ntar kamu bucin lho ama Senja🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!