Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto
"Bismillahirrahmanirrahim.
Pada hari ini, kita akan melaksanakan akad nikah antara saudari Winda Wulandari binti Arman Wijaya dengan saudara Dirga Setiawan Winata bin Bramanta Adi Winata," ucap penghulu dengan suara khidmat.
Arman mengeratkan genggamannya pada tangan Dirga. Wajahnya tegas, suaranya mantap.
"Saya nikahkan engkau, Dirga Setiawan Winata bin Bramanta Adi Winata, dengan anak kandung saya, Winda Wulandari binti Arman Wijaya, dengan mahar berupa cincin emas dan uang sebesar lima ratus juta rupiah, dibayar tunai."
Tanpa ragu, dalam satu tarikan napas, Dirga menjawab,
"Saya terima nikahnya Winda Wulandari binti Arman Wijaya dengan mahar tersebut, dibayar tunai."
Lancar. Tegas. Tanpa getar.
Winda menunduk. Dadanya terasa sesak saat namanya disebut—diikatkan pada seorang pria yang jelas tak menyukainya.
Ia tak percaya semua ini nyata. Namun, jauh di sudut hatinya, ada perasaan kecil yang berani tumbuh.
Karena pria yang kini sah menjadi suaminya adalah lelaki yang pernah, dan mungkin masih, sangat ia cintai. Lelaki yang begitu sulit ia lupakan.
"Bagaimana para saksi? Apakah sah?" tanya penghulu sambil menoleh ke arah para saksi dari kedua keluarga.
"Sah!" jawab mereka serempak. suara "Sah" yang di ikuti dengan suara tepuk tangan bergema di ruangan itu.
"Alhamdulillah. Akad nikah dinyatakan sah," ujar penghulu, tersenyum ramah.
Winda mengangkat wajahnya, menoleh ke arah Dirga.
Pria itu diam.
Hari ini, ia resmi menjadi istri Dirga—bukan karena cinta, melainkan karena perjodohan yang dipaksakan.
Tangan-tangan terangkat. Doa dipanjatkan.
Winda ikut menangkupkan jemarinya. Bibirnya diam. Ia tak tahu doa mana yang masih pantas ia minta hari ini. Tapi ada satu harapan kecil yang tak mampu ia pendam.
Ya Allah… tolong bantu Winda memenangkan hati Dirga
bisiknya dalam hati, lalu mengusap wajahnya perlahan.
Pulpen berpindah tangan.
Tinta hitam menegaskan sesuatu yang tak bisa dihapus.
Namanya kini berdampingan dengan nama Dirga—resmi, namun terasa asing.
Winda mengulurkan tangan untuk menyalami suaminya. Namun sebelum Dirga menyentuh jemarinya, suara penghulu terdengar, dan tangan pria itu justru menjabat tangan sang penghulu.
"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga hidup rukun dan bersama sampai maut memisahkan," ucap penghulu sambil tersenyum.
"Terima kasih atas ucapannya, Pak," jawab Dirga. Bibirnya terangkat sedikit—bukan senyum bahagia, melainkan senyum yang dipaksakan.
Winda tersenyum lebar.
"Terima kasih, Pak," ucapnya lembut, setelah lama terdiam.
Dirga melirik sinis ke arahnya. Winda menyadarinya, lalu menoleh. Mata mereka bertemu.
Alih-alih gentar, Winda justru tersenyum lebih lebar.
"Hihi…"
Dua perasaan yang bertolak belakang.
Dirga tak menyukainya, namun Winda memilih percaya bahwa mungkin Tuhan memang menakdirkan mereka bersama.
Dan Winda merasa diberi kesempatan—kesempatan untuk membuat Dirga mencintainya.
Barisan tangan mulai terulur. Winda bangkit, menunduk, menyalami satu per satu dengan senyum yang tertata. Ia tersenyum ramah setiap seseorang menyalami nya dan mengucapkan kata kata Selamat.
Acara berlanjut sesuai susunan.
Dan di akhir acara mereka berfoto bersama keluarga.
Saat mengambil foto mereka berdua. Seperti yang Dirga inginkan—hanya berdiri. Dekat, tapi tanpa sentuhan apa pun.
Malam harinya, Winda duduk di kamar yang disiapkan khusus untuknya.
Bukan kamar pengantin.
Mereka tidur terpisah, tak seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Ia teringat percakapan itu saat ia melangkah masuk kerumah besar milik Dirga. Ia melihat sekeliling rumah itu. berbeda dengan rumah yang ia tinggali bersama orang tuanya. hanya rumah kontrakan kecil.
"Kita tidur terpisah," Ucap Dirga singkat yang sedari tadi berada beberapa meter di belakang Winda.
Winda menoleh kebelakang menatap Dirga
"Tapi kita sudah sah menjadi suami dan istri. kita seharusnya tidur di satu kamar."
"Aku akan di kamar sebelah." balas Dirga tegas. Tidak ada nada marah, hanya keputusan "Dan kau tidur di kamar tamu."
Lanjutnya lalu melangkah pergi ke kamar tidurnya meninggalkan Winda sendiri di ruang tamu dengan pikirannya. Ia menutup pintu di belakang nya dengan kasar, dengar maksud ia jelas tidak menyukai kehadiran Winda dirumah nya.
"huft.." Winda menghela nafas berat.
Ia menghempaskan dirinya di atas kasur yang empuk dengan ukuran yang cukup besar.
"Dia masih tidak menyukai ku.. Kau harus semangat Winda. Kau harus yakin kau bisa. pasti bisa." ucap winda pada diri sendiri.
ia teringat foto itu. ia bangkit dari kasur nya untuk mengambil foto pernikahan yang sudah di cetak dan di bingkai rapi tergeletak di meja samping tempat tidur nya.
Ia menatap foto pernikahan mereka. Wajahnya sendiri tersenyum bahagia, sementara Dirga berdiri tegak menatap kamera—tatapannya dingin, wajahnya datar, tanpa senyum.
Winda bangkit. Ia membawa foto itu ke ruang tamu, memalu paku perlahan, lalu memajangnya di dinding.
"Sedang apa?"
Suara itu memecah keheningan.
Winda menoleh. Bibi Sumi berdiri di belakangnya. Bibi Sumi adalah pembantu rumah yang sudah lama mengurus rumah besar itu saat Dirga pergi bekerja.
"Ah, Bibi. Ini sedang memajang foto," ucap Winda ramah.
"Kenapa Nyonya tidak bilang? Saya bisa bantu."
"Tidak apa-apa, Bi. Sudah selesai kok," jawab Winda sambil tersenyum, lalu turun dari kursi dan menatap foto itu dengan puas.
Pintu kamar berderit terbuka.
Dirga keluar. Begitu matanya menangkap foto di dinding, suaranya meninggi,
"Sumi!"
"Iya, Pak." Bibi Sumi segera menghampiri Dirga dengan terburu buru karena mendengar nada yang jelas akan marah.
"Siapa yang memajang foto ini di sini?"
tanya Dirga dengan raut wajah yang tampak kesal.
"Nyonya Winda, Pak." jawab Sumi gugup.
Rahang Dirga mengeras.
"Wanita itu." gerutunya kesal. "Panggil dia ke sini."
Tak lama, Bibi Sumi datang menjemput Winda. Ia segera menghampiri Dirga.
"Ada apa kau memanggilku?" tanya Winda pelan.
"Ambil foto ini. Jangan pajang di sini." jari telunjuknya menunjuk ke arah foto yang di pajang itu.
Winda terdiam. "Kenapa? Itu foto kita berdua."
"Aku tidak mau orang-orang melihat foto itu. Ambil. Kalau kau mau memajangnya, pajang saja di kamar mu."
"Tapi—"
"Ambil."
"Tidak."
"Aku bilang ambil."
"Aku bilang. Ti. DAK!"
kesabaran dirga habis dengan mudah mendengar penolakan Winda yang keras kepala. Ia sendiri mengambil bingkai foto itu dengan mudah tanpa memanjat kursi. lalu membawanya keluar rumah "Kalau begitu buang saja." ucap Dirga dingin.
"Apa?! DIRGA!!" Teriak Winda mengejar Dirga.
Langkah nya terburu buru, dadanya terasa sesak. Napasnya naik turun, pandangannya mulai kabur oleh air mata yang dipaksa bertahan. Tapi jarak di antara mereka tak pernah benar-benar mengecil.
Dirga berhenti di halaman.
Dalam satu gerakan singkat, bingkai itu melayang dari tangannya.
Prang!
Suara kaca pecah menghantam telinga Winda—terlalu keras, terlalu menyakitkan.
Ia berhenti. Kakinya gemetar.
Bingkai itu tergeletak di atas rumput, kacanya hancur, foto di dalamnya retak dan terlipat. Winda menatapnya tanpa berkedip. Dadanya terasa perih, seolah ada sesuatu yang runtuh pelan-pelan di dalam dirinya.
Air mata akhirnya jatuh.
Satu.
Lalu menyusul yang lain.
"Kenapa… sampai segininya?"bisiknya, hampir tak terdengar.
Dirga sudah berjalan pergi. Ia masuk ke dalam rumah tanpa menoleh sedikit pun, tanpa melihat Winda yang berdiri terpaku di belakangnya.
Winda perlahan berjongkok di halaman. Tangannya gemetar saat ingin meraih sisa bingkai itu, lalu berhenti di udara. Isaknya tertahan, dadanya naik turun tidak beraturan.
Ia menunduk.
Dan di situlah, untuk pertama kalinya malam itu, Winda membiarkan dirinya menangis—tanpa suara.
dalem bnggt sehhh
Winda muka tembok ga sih ini