NovelToon NovelToon
Apakah Itu Kamu?

Apakah Itu Kamu?

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / Selingkuh / Janda / Romansa / Berondong
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Belum Usai

Livia terdiam cukup lama, membiarkan aroma manis kue yang baru matang menjadi satu-satunya jembatan di antara keheningan mereka. Ia menatap Ayub—pemuda yang telah berulangkali mempertaruhkan nyawa demi dirinya, yang berdiri dengan luka yang belum sepenuhnya kering di bahu, namun dengan sorot mata yang begitu berani menawarkan masa depan.

"Ayub," suara Livia akhirnya memecah kesunyian, lembut namun bergetar. "Selama ini, aku hidup dalam kebohongan yang dibungkus kemewahan. Saat semuanya hancur, kamu adalah satu-satunya kenyataan yang membuatku tetap waras."

Ayub menahan napas, tangannya terkepal di samping tubuhnya, menunggu vonis yang akan keluar dari bibir wanita itu.

Livia melangkah mendekat, perlahan menyentuh lengan Ayub. "Aku tidak bisa menjanjikan cinta yang sempurna dalam semalam. Hatiku masih memiliki banyak retakan, Ayub. Tapi jika kamu bersedia berjalan perlahan bersamaku, membantu aku mengumpulkan kepingan itu satu per satu... maka jawabannya adalah iya. Aku ingin mencoba bersamamu."

Seketika, beban berat yang menghimpit dada Ayub luruh. Ia tidak melompat kegirangan, melainkan mengembuskan napas panjang penuh kelegaan. Ia meraih tangan Livia, mengecup punggung tangannya dengan penuh hormat. "Terima kasih, Mbak. Saya tidak butuh kesempurnaan. Saya hanya butuh kesempatan untuk membuktikan bahwa tidak semua laki-laki akan meninggalkan luka."

Di tengah dapur yang sederhana itu, sebuah janji baru terukir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di ujung kota yang lain, sang iblis sedang merajut jaring-jaring tipu daya yang jauh lebih halus.

****

Di ruang konsultasi Rumah Sakit Jiwa, Sheila Nandhita duduk dengan posisi yang sangat anggun. Rambutnya yang biasanya kusut kini telah disisir rapi. Ia mengenakan baju pasien yang bersih, dan yang paling mengejutkan adalah matanya; tidak ada lagi kilat kegilaan yang liar. Sorot matanya kini tampak sayu, tenang, dan penuh penyesalan yang tampak sangat nyata.

"Dokter Kusno," suara Sheila terdengar lirih, hampir seperti bisikan seorang pendosa yang sedang bertaubat. "Saya melihat kembali apa yang saya lakukan... dan saya merasa sangat jijik pada diri saya sendiri. Darah itu, teriakan itu... apakah itu benar-benar saya?"

Dokter Kusno menyesuaikan letak kacamatanya, mengamati lembar catatan medis Sheila. "Kamu menunjukkan kemajuan yang sangat pesat dalam tiga hari terakhir, Sheila. Tidak ada lagi episode manik, dan kamu mulai kooperatif dengan pengobatan."

Sheila menunduk, membiarkan setetes air mata jatuh tepat di punggung tangannya—sebuah akting yang telah ia latih berjam-jam di depan cermin kecil selnya. "Saya ingin sembuh, Dok. Saya rindu melihat matahari tanpa terhalang jeruji besi bangsal isolasi ini. Di sini terlalu gelap... suara-suara di kepala saya perlahan hilang, tapi tembok ini membuat saya merasa tercekik."

Ia mendongak, menatap Dokter Kusno dengan tatapan memohon yang menyayat hati. "Bolehkah saya dipindahkan ke Bangsal Flamboyan? Saya ingin bersosialisasi. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa menjadi manusia lagi sebelum saya menjalani sisa hukuman saya di penjara nanti."

Dokter Kusno ragu sejenak. Bangsal Flamboyan adalah bangsal dengan pengamanan longgar, di mana pasien boleh berjalan-jalan di taman dan akses pengunjung lebih mudah. Namun, melihat "ketenangan" Sheila, sang dokter mulai goyah.

"Kita akan observasi satu malam lagi, Sheila. Jika stabil, besok pagi kamu akan dipindahkan," putus sang dokter.

Sheila mengangguk santun, namun saat ia berbalik menuju selnya, sebuah senyum tipis—hanya sepersekian milimeter—terukir di sudut bibirnya. Sebuah senyum kemenangan.

****

Sementara itu, di kantornya yang mewah, Attar Pangestu merasa jantungnya berdegup tidak beraturan. Ia baru saja meletakkan pensil gambarnya setelah mencoba fokus pada desain apartemen baru, namun pikirannya terus kembali pada Sheila. Ia mengenal wanita itu lebih dari siapa pun; ia tahu Sheila adalah bunglon yang bisa mengubah warna jiwanya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Tidak mungkin dia menyerah begitu saja," gumam Attar.

Perasaan tidak enak itu begitu kuat hingga ia meraih kunci mobil dan segera menuju Rumah Sakit Jiwa Grogol. Sesampainya di sana, ia langsung menerobos menuju ruangan Dokter Kusno.

"Dokter, saya minta tolong," ucap Attar tanpa basa-basi begitu masuk ke ruangan. "Jangan pindahkan Sheila ke mana pun. Jangan berikan dia kelonggaran sedikit pun."

Dokter Kusno tampak terkejut. "Pak Attar, secara medis, Sheila menunjukkan tanda-tanda remisi yang luar biasa. Dia tenang, kooperatif—"

"Itu bohong!" potong Attar dengan suara yang meninggi. "Sheila adalah manipulator ulung. Dia bisa memalsukan kewarasannya lebih baik daripada siapa pun di dunia ini. Dia sedang merencanakan sesuatu, saya bisa merasakannya. Dia melukai dirinya sendiri kemarin bukan karena ingin mati, tapi karena dia sedang menguji batasan kita!"

Attar mencondongkan tubuhnya ke meja dokter, matanya penuh dengan kecemasan yang mendalam. "Tutup semua akses padanya. Jangan biarkan dia keluar dari isolasi. Jika dia keluar, nyawa Livia dalam bahaya. Nyawa saya dalam bahaya. Dokter tidak tahu betapa gelapnya otak wanita itu saat ia menginginkan sesuatu."

Dokter Kusno menghela napas, merasa dilema antara protokol medis dan peringatan dari orang yang paling mengenal pasiennya. "Saya mengerti kekhawatiran Anda, Pak Attar. Tapi kami juga tidak bisa menahan pasien di isolasi selamanya jika perilakunya membaik secara klinis."

"Maka klinis Anda salah!" Attar memukul meja dengan frustrasi. "Saya peringatkan Anda, Dokter. Jika terjadi sesuatu pada Livia karena kelonggaran yang Anda berikan, saya akan memastikan rumah sakit ini ditutup dan Anda kehilangan izin praktik selamanya!"

****

Malam turun dengan selimut kabut yang dingin. Di Bangsal Isolasi, Sheila sudah mengemasi barang-barangnya yang sedikit ke dalam sebuah tas kecil. Petugas jaga memberikan kabar bahwa pemindahannya ke Bangsal Flamboyan telah disetujui untuk esok pagi, meski ada catatan peringatan keras dari Attar di dalam berkasnya.

Sheila duduk di pinggir ranjang, menatap ke arah jendela kecil yang berterali. Ia tahu Attar baru saja datang. Ia bisa mencium aroma parfum Attar yang sempat tertinggal di lorong tadi.

"Attar... sayangku," desis Sheila, suaranya kembali berubah menjadi nada melengking yang mengerikan namun tertahan. "Kamu mencoba menutup aksesku? Kamu mencoba mengunciku?"

Sheila tertawa tanpa suara, tubuhnya berguncang hebat di tengah kegelapan sel. Ia meraba pergelangan tangannya yang diperban. Di balik perban itu, ia menyembunyikan sebuah kunci kecil yang ia curi dari saku perawat yang ceroboh saat sesi terapi tadi siang—sebuah kunci yang akan membawanya keluar dari neraka ini menuju sasaran akhirnya.

"Livia... Ayub... nikmatilah malam kalian yang manis," gumam Sheila sambil menjilat bibirnya. "Karena besok pagi, saat matahari terbit, aku akan datang sebagai malaikat maut yang tidak pernah kalian duga."

Tawa Sheila akhirnya pecah, tertahan oleh bantal yang ia tekan ke wajahnya agar tidak terdengar penjaga, namun getaran kegilaannya memenuhi seluruh ruangan, menandakan bahwa badai yang lebih besar sedang bersiap untuk meluluhlantakkan segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!