NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benar-Benar Bodoh!

Pintu apartemen Arga tertutup rapat tepat di belakang punggung Rhea. Dan baru beberapa detik setelah itu, gadis itu langsung melangkah cepat menjauh, bergegas menuju arah lift dengan napas yang masih berantakan hebat.

Kepalanya rasanya benar-benar kosong.

Tidak, bukan kosong...malah terlalu penuh dengan bermacam-macam perasaan hingga ia sendiri bingung harus memilah yang mana lebih dulu.

Sepanjang jalan menyusuri lorong apartemen yang sepi itu, Rhea terus memeluk erat tasnya di dada, seolah itu adalah satu-satunya benda yang bisa menjadi pegangan saat ini. Wajahnya masih terasa panas membara, rasa itu bahkan menjalar sampai ke belakang telinga dan lehernya.

Astaga... barusan apa sih itu?

Begitu pintu lift terbuka, Rhea langsung melangkah masuk dengan tergesa-gesa, lalu menekan tombol lantai basement tanpa pikir panjang. Pintu lift kembali menutup perlahan, memisahkannya dari lorong luar, dan saat suasana di dalam kotak besi itu benar-benar hening...Rhea langsung menangkupkan kedua tangannya ke wajah sendiri.

"Astaga..."

Ia membungkuk sedikit, rambutnya ia acak-acak pelan dengan frustrasi.

"Pak Arga bener-bener gila..."

Jantungnya sejak tadi masih berdetak terlalu cepat, berpacu kencang sampai membuat dadanya terasa sesak dan nyeri sendiri.

Bayangan kejadian beberapa menit yang lalu terus terputar berulang-ulang di kepalanya tanpa izin, seolah menjadi rekaman yang tak mau berhenti. Tatapan mata Arga yang dalam. Sentuhan jemarinya di pipi yang begitu lembut. Dan...ciu man itu.

Rhea langsung mendesis pelan, lalu memukul-mukul dinding lift di sampingnya menggunakan punggung tangan sendiri.

"Mana ada orang habis mabuk terus sembarangan nyium orang... dasar!," gerutunya pelan, namun wajahnya justru semakin memanas sendiri.

"Ck... astaga..."

Belum sempat pikiran kacau itu reda, lift akhirnya sampai di lantai basement. Begitu pintu terbuka, Rhea langsung melangkah keluar cepat, berjalan menuju mobilnya dengan langkah terburu-buru seolah ada yang mengejar.

Namun bahkan saat sudah berdiri di depan mobilnya sendiri, tangannya masih terasa sedikit gemetar saat berusaha memasukkan kunci ke lubang pintu.

Brak.

Suara pintu tertutup cukup keras saat Rhea masuk ke dalam mobil. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi pengemudi sambil mengembuskan napas panjang yang tertahan sejak tadi.

Hening. Beberapa detik gadis itu hanya duduk diam, menatap lurus ke arah kaca depan yang gelap.

Lalu perlahan, seolah ada gerakan yang berjalan sendiri, tangannya terangkat kembali. Jari telunjuk dan jari tengahnya menyentuh bibirnya sendiri dengan sangat pelan, seolah masih bisa merasakan sisa sentuhan hangat tadi.

Dan detik berikutnya...

"Akkkhhh..."

Rhea langsung menjatuhkan kepalanya ke setir mobil dengan lembut, lalu mengerang frustrasi di sana.

"Besok aku harus gimana coba..."

Ia memejamkan mata rapat-rapat, tangannya kembali mengacak rambutnya sendiri dengan kasar karena bingung.

"Mana mungkin aku bisa lihat muka dia biasa aja lagi setelah kejadian tadi... ah, sial."

Namun beberapa detik kemudian, suara erangannya perlahan menghilang, berganti dengan kebisuan yang lain.

Rhea diam sendiri di sana.

Tanpa ia minta, bayangan wajah Arga kembali muncul jelas di kepalanya. Cara pria itu menatapnya tadi. Nada suara berat dan seraknya. Dan kalimat yang sempat terucap begitu nyata:

"Akhir-akhir ini kamu membuatku susah berpikir dengan benar."

Deg!

Jantung Rhea langsung kembali berdetak aneh, kali ini bukan karena kaget, tapi karena sesuatu yang lain yang sulit ia namakan.

Gadis itu buru-buru menepuk kedua pipinya sendiri dengan pelan, berusaha menyadarkan diri.

"Jangan mikir aneh-aneh, Rhea... itu cuma karena dia mabuk. Cuma karena pengaruh alk0hol. Dia gak sadar," gumamnya meyakinkan diri sendiri.

Tapi sayangnya, semakin ia berusaha mengabaikan, semakin ia berusaha menyangkal...wajah Arga, suara Arga, dan segala sesuatu tentang pria itu justru semakin tak mau keluar dari kepalanya sepanjang malam itu.

...****************...

Sementara itu, suasana apartemen kembali sunyi sepi setelah kepergian Rhea.

Tidak ada lagi suara obrolan, tidak ada lagi kehadiran gadis itu yang entah kenapa selalu mampu membuat ruangan dingin ini terasa lebih hidup.

Arga masih duduk di posisi yang sama persis seperti tadi. Tubuhnya bersandar lelah di sandaran sofa, matanya terpejam rapat seolah berusaha menahan segala kekacauan yang baru saja ia ciptakan sendiri.

Hening.

Hanya terdengar suara samar hembusan angin dari pendingin ruangan, dan denting jam dinding yang berdetak pelan di dinding.

Perlahan Arga membuka matanya. Tatapannya kosong menatap langit-langit ruangan yang remang, sebelum ia mengembuskan napas panjang dan berat... napas yang seolah membawa serta segala penyesalan dan kekalutan di dadanya.

Tangannya terangkat, mengusap wajahnya sendiri dengan kasar, menyisir rambutnya yang sudah berantakan ke belakang, sebelum akhirnya ia menggelengkan kepala pelan sambil tertawa hambar, tertawa meremehkan diri sendiri.

“Bodoh…”

Suara rendahnya terdengar lirih namun nyata di tengah kebisuan ruangan itu.

“Benar-benar bodoh kamu, Arga.”

Bayangan kejadian beberapa menit yang lalu kembali muncul begitu saja, berputar berulang kali di dalam kepalanya tanpa bisa ia hentikan. Wajah Rhea yang terlihat panik dan bingung. Tatapan mata gadis itu yang membelalak tak percaya. Dan...bibirnya yang terasa begitu lembut, begitu hangat saat bersentuhan dengannya tadi.

“Ck…”

Arga langsung mendecih pelan, kepalanya ia sandarkan kembali ke belakang sofa, menatap kosong ke arah lampu gantung yang redup di atas.

“Arga..Arga. Apa mulutmu itu tidak bisa diam…” gumamnya frustrasi, memarahi dirinya sendiri dalam diam.

Harusnya tadi dia diam saja. Harusnya dia hanya mengambilkan barang itu, memberikannya, lalu menyuruh gadis itu pulang tanpa banyak bicara atau menatapnya terlalu lama.

Harusnya dia tidak mengucapkan kalimat-kalimat kacau yang mempertanyakan niat gadis itu, atau mengatakan bahwa Rhea membuatnya sulit berpikir.

Dan yang paling parah...harusnya dia tidak

menci umnya. Itu adalah batas yang seharusnya tak ia lewati, sekalipun ia sedang dipengaruhi alkohol, sekalipun perasaannya sudah terlalu lama ia pendam sendirian.

Namun anehnya, di tengah segala rasa sesal dan kemarahan pada diri sendiri itu, ada satu hal yang membuatnya semakin gila.

Semakin ia mencoba merutuki perbuatannya, semakin ia mencoba menyalahkan keadaan...bayangan wajah Rhea, aroma tubuhnya, dan rasa saat menyentuh gadis itu justru semakin jelas, semakin nyata, dan semakin memenuhi seluruh isi kepalanya malam itu, tak mau kalah dari rasa bersalahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!