Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.
Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.
Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.
Orc.
Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.
Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.
Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.
Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—
The 10th Battalion
Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.
Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The 10th Battalion
“…Ribuan orc.”
Keheningan langsung menyelimuti kamp pengungsi.
Tak ada yang bicara.
Tak ada yang bergerak.
Bahkan suara api unggun terasa terlalu kecil dibanding rasa takut yang tiba-tiba memenuhi udara.
Pria terluka itu jatuh berlutut sambil gemetar.
“Mereka menghancurkan semuanya…”
“Desa… benteng… semua habis…”
Tangannya yang tersisa mencengkeram tanah.
“Ada monster besar juga…”
Wajah para pengungsi langsung pucat total.
Beberapa wanita mulai menangis.
Anak-anak memeluk orang tua mereka.
Dan beberapa tentara yang tersisa terlihat mulai kehilangan semangat.
“Kita selesai…”
“Mana mungkin lawan ribuan…”
“Kerajaan pasti kalah…”
Gerald berdiri diam sambil memikirkan situasi.
Ribuan orc bergerak bersama bukan sekadar kelompok liar.
Itu pasukan.
Dan kalau mereka terus bergerak ke arah sini…
Kamp kecil ini akan musnah dalam hitungan menit.
“Gerald…”
Elias menelan ludah.
“Kita harus gimana?”
Semua mata perlahan tertuju pada Gerald.
Aneh.
Padahal mereka baru mengenalnya sehari.
Namun sekarang…
Semua orang tanpa sadar menunggu jawabannya.
Gerald menghembuskan napas pelan.
Lalu berkata:
“Kita pindah.”
“Hah?”
“Sekarang.”
Salah satu tentara langsung protes.
“Kabur terus gak bakal menyelesaikan apa-apa!”
Gerald menatapnya datar.
“Kalau tetap di sini, kau mati.”
“….”
“Kalau bergerak, minimal masih punya peluang hidup.”
Tidak ada yang bisa membantah.
Karena mereka sendiri tahu…
Kamp ini tidak punya pertahanan.
Tidak punya tembok.
Tidak punya pasukan.
Hanya kumpulan orang lelah yang menunggu mati.
Gerald mulai berjalan ke tengah kamp.
“Semua yang masih bisa bertarung ikut denganku.”
“Yang terluka dan anak-anak di tengah.”
“Jangan ada yang bergerak sendiri.”
Suaranya tenang.
Namun tegas.
Dan anehnya…
Orang-orang mulai bergerak mengikuti perintahnya.
Varn memperhatikan itu sambil tersenyum kecil.
“…Kau sadar tidak?”
Gerald menoleh sedikit.
“Mereka mulai menganggapmu pemimpin.”
“Aku bukan pemimpin.”
“Kalau begitu kenapa semua orang mendengarkanmu?”
Gerald diam.
Ia sendiri tidak tahu.
Mungkin karena sejak hidup di dunia lama…
Dirinya memang selalu berada di medan perang.
Dan orang-orang seperti dirinya…
Sulit berhenti jadi tentara.
Boris tiba-tiba muncul sambil membawa karung makanan besar.
“Aku siap perang.”
“Itu isi makanan semua…” gumam Elias.
“Perut kosong gak bisa perang.”
“…Masuk akal lagi sialan.”
Gerald melihat sekitar cepat.
Jumlah orang di kamp sekarang sekitar lima puluh lebih.
Terlalu banyak untuk bergerak cepat.
Namun terlalu sedikit untuk melawan pasukan orc besar.
Situasi buruk.
Sangat buruk.
Tiba-tiba salah satu mantan tentara mendekat ragu-ragu.
“Kalau boleh tahu…”
“Apa?”
“Kelompok kita ini sebenarnya apa?”
Gerald mengernyit.
“Apa maksudmu?”
“Kita bukan tentara kerajaan.” “Bukan tentara bayaran.” “Bukan juga warga biasa.”
Tentara lain mulai ikut mendengar.
Mereka memang tidak punya identitas.
Hanya kumpulan orang selamat yang bergerak bersama.
Elias mengangkat bahu.
“Kumpulan orang sial mungkin.”
“Cocok,” jawab Boris santai.
“Diam kalian.”
Gerald memandang orang-orang di sekitarnya:
tentara kalah perang
pengungsi
mantan bandit
orang tua
anak muda ketakutan
orang-orang yang dibuang keadaan
Tak ada yang hebat.
Tak ada yang istimewa.
Namun mereka masih hidup.
Dan di dunia seperti ini…
Itu saja sudah cukup.
Lalu Gerald berkata pelan:
“…Batalion.”
“Hah?”
“Kita anggap saja pasukan sementara.”
Varn tertawa kecil.
“Pasukan macam apa isi orang gila begini?”
Boris langsung tersinggung.
“Aku normal.”
“KAU PALING GAK NORMAL!” teriak Elias.
Beberapa orang mulai tertawa kecil lagi.
Dan untuk pertama kalinya sejak invasi dimulai…
Mereka merasa sedikit lebih hidup.
Salah satu mantan tentara tiba-tiba bertanya:
“Kalau batalion… namanya apa?”
Gerald diam beberapa detik.
Entah kenapa…
Sebuah nama muncul begitu saja di kepalanya.
Nama sederhana. Militer. Dan terasa familiar.
“…The 10th Battalion.”
Semua terdiam sesaat.
Elias mengernyit.
“Kenapa sepuluh?”
Gerald mengangkat bahu kecil.
“…Terdengar keren.”
“ALASANNYA ITU DOANG?!”
“Bagus juga,” gumam Varn sambil tersenyum tipis.
Boris malah mengangguk bangga.
“Nama pasukan legendaris.”
“Pasukannya aja masih kayak pengungsi…”
Namun malam itu…
Di tengah dunia yang mulai runtuh—
Sebuah nama lahir.
Nama yang suatu hari nanti akan ditakuti seluruh benua.
The 10th Battalion.