Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 PEMBANGUNAN RUMAH BARU
Proses balik nama sertifikat tanah di kantor notaris berjalan tanpa hambatan berarti. Dengan dana segar yang langsung ditransfer penuh oleh Abdul, lahan seluas 600 meter persegi itu kini resmi jatuh ke tangannya. Tanpa menunda waktu, Abdul segera menghubungi Mandor Cak Imron untuk merealisasikan rencana besarnya.
Keesokan harinya, Sesuai dengan desain yang sudah disepakati, lahan tersebut dibagi menjadi dua bagian yang terpisah, sisi kiri akan dibangun sebuah rumah tinggal pribadi yang mewah dan nyaman untuk Orang tuanya, sementara di sisi kanan akan berdiri gedung tempat konveksi satu lantai yang luas dan modern.
Pagi itu, suasana di lokasi lahan baru tampak begitu sibuk. Suara deru mesin ekskavator mini terdengar menderu-deru, meratakan gundukan tanah dan membersihkan sisa-sisa ilalang.
Beberapa truk jungkit bergantian masuk untuk menurunkan tumpukan batu kali, pasir, dan ratusan sak semen. Cak Imron tampak berdiri di tengah lahan sambil memegang papan jalan, sibuk memberikan instruksi kepada belasan kuli bangunannya yang mulai menggali tanah untuk fondasi.
Abdul berjalan mendekat ke arah Cak Imron sambil membawa beberapa bungkus rokok dan air mineral dingin untuk para pekerja.
"Gimana, Cak? Aman semua kan buat hari pertama ini?" tanya Abdul membuka percakapan sambil menyerahkan bungkusan tersebut.
Cak Imron menoleh, lalu menerima bungkusan dari Abdul dengan senyum lebar. "Alhamdulillah aman, Dul. Tanah strukturalnya bagus, gak terlalu gembur, jadi pas digali buat fondasi bisa mantap. Anak-anak juga semangat semua ini kerjanya."
"Syukurlah kalau gitu, Cak. Pokoknya kalau ada bahan yang kurang atau butuh apa-apa, langsung kabarin aku aja. Yang penting pengerjaan rumah sama gedung konveksinya bisa jalan barengan," ucap Abdul.
"Beres, Dul. Kamu tenang aja, urusan struktur bangunan mah udah jadi makanan sehari-hari saya. Sisi kiri buat rumah orang tuamu kita bikin tiangnya agak tinggi ya, biar kelihatan megah dari depan jalan," kata Cak Imron sambil menunjuk ke arah pasak kayu yang sudah ditancapkan sebagai pembatas.
Namun, ketenangan hari pertama proyek tersebut tidak bertahan lama. Menjelang siang, saat sebuah truk berukuran besar yang membawa material bangunan hendak masuk ke area proyek, truk tersebut terpaksa berhenti mendadak di mulut gang masuk lahan. Suara klakson truk yang besar berbunyi beberapa kali, memecah keheningan jalan utama.
Abdul dan Cak Imron yang mendengar suara klakson tersebut langsung saling berpandangan.
"Ada apa itu di depan, Dul? Kok truk molennya gak bisa masuk?" tanya Cak Imron sambil mengernyitkan dahi.
"Biar aku cek dulu, Cak," jawab Abdul, lalu melangkah tergesa-gesa menuju ke arah mulut gang jalan masuk proyek.
Begitu sampai di depan, Abdul mendapati jalan masuk yang semula longgar kini ditutup sepihak. Pemilik rumah yang tepat berada di seberang lahan baru Abdul, seorang pria paruh baya bernama Pak Joni, sengaja menggeser beberapa pot bunga beton berukuran besar dan dua buah jemuran baju dari besi tepat ke bahu jalan umum. Jarak yang tersisa di jalan tersebut kini terlalu sempit untuk dilewati oleh badan truk molen yang besar.
Supir truk molen tampak menyembulkan kepalanya dari balik kaca kemudi dengan wajah kesal. "Mas, ini jalan masuknya ketutupan pot sama jemuran! Gak bakal muat truk saya kalau dipaksa lewat, bisa nyenggol pembatas jalan!"
Di pinggir jalan, Pak Joni sedang berdiri santai sambil memegang selang air, berpura-pura menyiram tanaman hiasnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Cak Imron yang ikut menyusul Abdul langsung naik pitam melihat pemandangan tersebut. "Heh, Pak Joni! Maksudnya apa ini jalan umum kok ditaruhin pot sama jemuran begini? Itu truk semen saya mau lewat bongkar muatan!"
Pak Joni mematikan selang airnya, lalu menatap Cak Imron dan Abdul dengan pandangan sinis sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Ya terserah saya toh, Cak! Ini kan area depan rumah saya sendiri. Lagian, kalian itu kalau bikin proyek mikir-mikir dong! Itu truk material mondar-mandir dari pagi bikin debunya ngebul ke mana-mana. Lihat tuh, baju-baju yang baru dijemur istri saya jadi kotor lagi kena debu semen!" ketus Pak Joni dengan nada tidak senang.
"Ya namanya juga orang lagi ngebangun, Pak! Mana bisa gak ada debu? Nanti juga kalau udah beres dicuci jalannya. Jangan egois begitulah, ini kan jalan umum bukan jalan pribadi bapak!" balas Cak Imron, suaranya mulai meninggi memicu perhatian beberapa pekerja bangunan yang mulai berkumpul di belakangnya.
"Gak bisa begitu! Pokoknya saya gak mau tahu! Selama debu proyek kalian masih ganggu jemuran istri saya, jalan ini gak bakal saya buka buat truk-truk besar kalian! Cari jalan lain sana!" bentak Pak Joni, bersikeras tidak mau mengalah.
Situasi di mulut gang mulai memanas. Beberapa kuli bangunan Cak Imron sudah bersiap maju untuk menggeser paksa pot-pot bunga tersebut, sementara Pak Joni juga mulai memanggil anak laki-lakinya dari dalam rumah untuk bersiap berdebat.
Melihat kondisi yang mulai tidak kondusif, Abdul segera melangkah ke tengah, berdiri di antara Cak Imron dan Pak Joni untuk meredakan ketegangan. Ia menarik napas dalam-dalam, menjaga kepalanya tetap dingin. Ia sadar, hidup berdampingan di lingkungan baru tidak boleh dimulai dengan permusuhan dengan tetangga dekat.
"Cak Imron, tolong tahan anak-anak dulu, jangan ada yang main otot," bisik Abdul menenangkan mandornya.
Abdul kemudian berbalik menghadap Pak Joni dengan ekspresi wajah yang sopan dan ramah. "Pak Joni, maaf sebelumnya kalau aktivitas proyek kami dari pagi sudah mengganggu kenyamanan keluarga Bapak sama masalah debunya. Kami bener-bener gak ada niat buat bikin repot tetangga sekitar."
Pak Joni agak terkejut melihat sikap Abdul yang justru melunak, alih-alih ikut menantangnya seperti Cak Imron tadi. "Nah, dengerin itu! Harusnya dari awal permisi dulu dong, jangan asal masukin truk besar aja!"
"Iya, Pak, ini murni kelalaian kami yang kurang koordinasi," lanjut Abdul sambil tersenyum. "Begini aja, Pak. Saya paham banget kekhawatiran istri Bapak soal jemuran kain yang kotor kena debu. Sebagai gantinya, gimana kalau sore ini saya belikan terpal penutup khusus berukuran besar untuk area jemuran rumah Bapak? Jadi selama proyek ini berjalan beberapa bulan ke depan, jemuran istri Bapak bakal aman tertutup rapi dari debu jalanan. Nanti biar anak buah Cak Imron yang pasangin sekalian rangka pelindungnya di teras Bapak."
Pak Joni terdiam sejenak. Dahinya yang semula berkerut emosi kini perlahan mengendur. Ia melirik ke arah anak buah Cak Imron, lalu kembali menatap Abdul. Tawaran dari pemuda itu terdengar sangat solutif dan sama sekali tidak merugikan dirinya.
"Terus... soal debu yang di jalan gimana? Bikin batuk kalau sore-sore," tanya Pak Joni, nadanya sudah jauh lebih rendah, meski masih mencoba jual mahal.
"Soal itu, setiap sore setelah jam kerja kuli selesai, saya sudah minta Cak Imron untuk menyiram jalanan depan rumah Bapak pakai air sampai bersih, Pak. Jadi debunya gak bakal terbang ke mana-mana pas malam hari. Gimana, Pak? Biar proyek kami bisa jalan lancar dan kita tetep enak bertetangga," tawar Abdul lagi dengan sangat halus.
Pak Joni berdehem kecil, merasa agak sungkan karena Abdul bersikap sangat dewasa dan menghormatinya. Ia menggaruk lehernya yang tidak gatal lalu menurunkan tangannya dari dada.
"Ya... kalau kamunya tanggung jawab dan mau ngertiin tetangga begitu, saya ya gak bakal nyari ribut, Dul. Sebenarnya saya cuma kesal aja tadi pagi gak ada yang ngomong baik-baik sama saya." Pak Joni menoleh ke arah dalam rumahnya. "Ya sudah, sebentar saya suruh anak saya bantuin geser pot-potnya biar truk semennya bisa masuk."
"Terima kasih banyak ya, Pak Joni. Mohon bantuannya selama beberapa bulan ke depan," ucap Abdul sambil menyalami tangan Pak Joni dengan takzim.
"Iya, sama-sama. Yang penting janji kamu tadi sore ditepatin ya," kata Pak Joni yang kini wajahnya sudah kembali santai dan mulai memindahkan pot bunganya kembali ke pinggir halaman rumahnya bersama sang anak.
Cak Imron menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum kagum menatap Abdul setelah Pak Joni masuk kembali ke rumah. "Hebat kamu, Dul. Kepala dingin begitu emang paling ampuh buat ngadepin orang-orang tipe kayak Pak Joni. Kalau tadi aku turutin emosi, bisa-bisa proyek kita didemo warga satu RT."
Abdul hanya tertawa kecil sambil berjalan kembali ke dalam area lahan, memandu truk molen yang mulai bergerak perlahan memasuki lokasi proyek. "Gak apa-apa, Cak. Uang bisa dicari buat beli terpal, tapi kalau hubungan sama tetangga udah rusak dari awal, ngerjain apa pun di sini pasti gak bakal tenang ke depannya. Yuk, kita fokus cor fondasinya dulu sekarang."