tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan besar, berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.
Tubuhnya ramping, kulitnya agak gelap karena sering terpapar sinar matahari, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang jarang dimiliki anak-anak muda seusianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pertemuan Di Ruang Inti
(Rian sebagai Pemilik & Pemimpin Tunggal)
Kami sampai di ruangan paling bawah, ruang jantung tempat seluruh beban bangunan ini bertumpu. Di sana, di tengah ruangan yang luas dan tinggi, berdiri sosok bertopeng yang kami duga keberadaannya sejak lama Dia dikelilingi puluhan orang dan peralatan sederhana.
Mereka sedang sibuk mencoba mengebor dan memindahkan batu kunci penyangga utama di tengah ruangan.
Sosok itu menoleh mendengar langkah kami, lalu perlahan melepas topengnya. Wajah tua dengan tatapan tajam dan mata yang penuh ambisi, ada kemiripan rupa yang kuat dengan almarhum Ayah Rian.
"Selamat datang, keponakan sayang," ucapnya pada Rian dengan nada mengejek dan sinis yang menusuk hati.
"Aku dengar kau sekarang pemimpin tunggal PT Raka Karya Utama setelah kakakku meninggal dunia. Aku turut berduka... tapi sekaligus heran. Aku dengar kau punya rencana mau membangun 'pusat penelitian' di atas sini. Sangat mulia persis seperti ayahmu, tapi sangat membosankan dan pengecut persis seperti dia juga."
Rian maju selangkah, berdiri tegak tidak gentar sedikit pun, sorot matanya tajam menatap pamannya.
"Paman Dika. Kau masih hidup dan ternyata Bersembunyi di sini. Kau tahu betul struktur tanah dan bangunan di sini tidak boleh diubah sembarangan.
Apa yang kau lakukan ini bisa merobohkan seluruh kawasan ini, menimbulkan longsor besar, dan menelan desa-desa di bawah bukit ini.
PT Raka Karya Utama, perusahaan yang sekarang aku pimpin sepenuhnya, punya tugas turun-temurun untuk menjaga dan memelihara tempat ini agar tetap aman dan stabil. Kau sendiri yang dulu melanggar aturan itu, makanya Ayah mengusirmu."
Dika tertawa keras, suaranya bergema memantul di dinding batu.
"Menjaga? Kalian semua itu cuma penimbun harta yang takut maju! Kau pikir nama 'Karya Utama' di nama perusahaan itu cuma hiasan?
PT Raka Karya Utama didirikan untuk MENYEMPURNAKAN tempat ini, bukan membiarkannya jadi reruntuhan tak berguna! Tempat ini dibangun di atas sumber energi alami yang sangat besar dan kuat. Dulu aku punya rencana brilian: aku mau membangun instalasi penyalur energi di sini, mengubah tempat ini jadi pusat kekuatan yang bisa menggerakkan apa saja, memberi kemakmuran tak terbatas bagi siapa pun yang menguasainya."
Dia menunjuk ke arah retakan-retakan di lantai tempat cahaya aneh memancar keluar dari celah tanah.
"Tapi ayahmu yang kolot dan penakut itu mengusirku! Dia bilang desainku berbahaya. Padahal dia cuma iri dan takut aku lebih hebat darinya! Dan sekarang...
perusahaan besar itu jatuh ke tanganmu, anak kecil yang cuma bisa menuruti aturan kaku. Kau mau membangun 'Proyek Pengamanan Sumber'? Itu namanya pengecut! Itu namanya mengurung kekuatan hebat ini!"
Rian mengangkat dagunya, tangannya menggenggam buku catatan berisi denah konstruksi erat-erat, menunjukkan kewibawaan seorang pemimpin perusahaan.
"Kau salah paham besar, Paman. Proyek Pengamanan Sumber yang akan aku bangun ini... justru itulah rencana asli pendiri perusahaan.
Fungsi bangunan ini adalah untuk MENGURUNG dan MENSTABILKAN energi itu, bukan mengendalikannya sembarangan. Kau yang sudah menyimpang jauh dari tujuan awal perusahaan kita. Kau mau mengubah tempat ini jadi senjata berbahaya, padahal tugasku sebagai pemilik PT Raka Karya Utama adalah menjaganya tetap aman demi semua orang."
Aku (Arka) dan Rina akhirnya paham sepenuhnya sekarang:
- PT RAKA KARYA UTAMA: Perusahaan Konstruksi & Arsitektur, pemilik tunggal dan pemimpinnya adalah Rian (karena Ayahnya sudah meninggal). Punya tugas khusus turun-temurun: merencanakan, membangun, dan menjaga struktur penting ini.
- Rian: Pewaris tunggal, Arsitek Muda, Pemilik Sah Perusahaan. Sudah menyiapkan desain Proyek Pengamanan Sumber untuk dibangun di lokasi ini guna menyelesaikan tugas leluhur.
- Paman Dika: Mantan arsitek jenius tapi berhaluan salah, paman Rian sendiri, ingin mengubah fungsi bangunan itu demi ambisi pribadi dan dendam pada almarhum saudaranya.
"Kau tidak akan menghentikanku, Rian," ancam Dika sambil memberi isyarat pada anak buahnya untuk kembali bekerja. "Aku sudah mulai mengubah fondasinya.
Sebentar lagi keseimbangan tanah di sini akan rusak, dan hanya aku yang tahu cara 'memperbaikinya' dengan desain baruku. Kau dan rencana kecilmu akan hilang bersama reruntuhan ini. Dan lihat nanti... PT Raka Karya Utama akan kembali padaku, tempat yang seharusnya aku pimpin sejak dulu."