NovelToon NovelToon
In Umbra Penitentiae

In Umbra Penitentiae

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:836
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.

Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.

Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 Rumah Kecil yang Hangat

Pagi hari di rumah kecil itu selalu terasa hangat.

Sinar matahari masuk melewati jendela dapur, menyinari seorang wanita yang sedang sibuk memasak sambil sesekali bersenandung pelan. Aroma nasi goreng dan mentega memenuhi seluruh rumah sederhana tersebut.

Rumah itu tidak besar.

Hanya memiliki empat kamar tidur dengan ruang tengah sederhana dan halaman belakang yang tidak terlalu luas. Namun di halaman kecil itulah Ana menanam berbagai bunga favoritnya. Mawar putih, lavender, hingga bunga matahari kecil yang selalu ia rawat sendiri setiap pagi.

Dulu… memiliki rumah seperti ini hanyalah mimpi bagi Dariela Atlanna Zavira Raespati.

Rumah yang tenang.

Hangat.

Dan terasa hidup.

“Morning, Mima cantik!”

Suara penuh semangat membuat Ana menoleh sambil tertawa kecil.

Dylan baru saja masuk ke dapur dengan rambut acak-acakan dan seragam sekolah yang masih belum rapi.

“Sekarang sarapan apa nih?” tanyanya semangat sambil langsung duduk di kursi makan.

Ana yang sedang membalik telur dadar langsung tersenyum gemas.

“Hai sayang.”

Wanita itu memindahkan nasi goreng ke piring lalu berkata dengan nada bercanda,

“Nasi goreng spesial buat yang spesial.”

Dylan langsung memegang dada dramatis.

“Ah… Mima cantik bisa aja nih.”

Ana hanya tertawa kecil melihat tingkah putranya itu.

Tak lama kemudian, langkah pelan terdengar dari arah tangga.

Sabine muncul dengan wajah setengah mengantuk dan rambut yang masih berantakan. Gadis itu bahkan masih memeluk boneka kecilnya sambil berjalan malas menuju meja makan.

“Morning…” ucapnya tanpa semangat.

Dylan langsung terkekeh melihat wajah adiknya.

“Ya ampun, tuan putri masih ngantuk ya?”

Tangannya refleks mencubit pipi Sabine gemas.

“Ih, Abang!” Sabine langsung menepis tangan Dylan. “Sakit tau! Jangan cubit-cubit!”

Dylan malah tertawa puas.

“Udah, jangan berantem pagi-pagi.” Ana menggeleng pasrah sambil meletakkan minuman di meja. “Ayo makan dulu nanti telat sekolah.”

Akhirnya mereka mulai sarapan bersama.

Meski diwarnai ocehan Dylan dan omelan Sabine, suasana meja makan tetap terasa hangat. Ana sesekali bertanya tentang tugas sekolah mereka, sementara Dylan sibuk bercerita soal pertandingan basket minggu depan yang membuat Sabine beberapa kali menutup telinganya karena terlalu berisik.

Dan Ana hanya bisa tersenyum melihat semuanya.

Karena kebahagiaan sederhana seperti ini dulu tidak pernah ia miliki.

Tak terasa waktu berjalan cepat.

Dylan dan Sabine segera berdiri sambil membawa tas sekolah masing-masing.

“Mima, kami sekolah dulu ya!” ujar Dylan semangat sebelum mencium pipi Ana cepat.

Sabine ikut memeluk pinggang wanita itu manja.

“Bye, Mima.”

“Hati-hati di jalan, sayang.” Ana mengusap kepala mereka satu per satu dengan lembut.

Setelah pintu rumah tertutup dan suara langkah mereka menghilang, rumah itu kembali sunyi.

Ana berdiri beberapa detik di ruang makan sambil memandang kursi-kursi yang kini kosong. Senyum kecil masih ada di wajahnya.

Lalu ia mulai membereskan meja sarapan sendirian.

Piring dicuci.

Meja dibersihkan.

Dan dapur kembali rapi seperti semula.

Jam dinding menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh pagi.

Sebentar lagi Ana harus membuka toko kuenya seperti biasa pukul sembilan.

Ana kemudian berjalan ke halaman belakang sambil membawa secangkir teh hangat. Matanya menatap bunga-bunga yang mulai bermekaran terkena sinar pagi.

Pelan-pelan jemarinya menyentuh kelopak mawar putih favoritnya.

“Cantik ya…” bisiknya kecil sambil tersenyum tipis.

Tidak ada yang tahu kalau wanita setenang itu pernah hidup dalam keluarga penuh luka dan kebencian.

Tidak ada yang tahu kalau nama asli Ana pernah begitu dikenal di kalangan keluarga elite Jakarta.

Dan Ana berharap… semua itu tetap menjadi masa lalu.

Namun jauh di sisi lain kota, seseorang sedang memandangi foto lama seorang gadis berseragam sekolah dengan tatapan tidak percaya.

Foto Dariela Atlanna Zavira Raespati.

Yang selama lima belas tahun terakhir dianggap sudah menghilang dari kehidupan mereka.

1
Agus Tina
bagus ceritanya ...
wulaniii: makasih kak like dan komen yah 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!