NovelToon NovelToon
Cadar Sang Pendosa

Cadar Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Cintamanis / Balas Dendam / PSK / Konflik etika
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadiaa Azarine

Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.

“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”

“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”

“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”

“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”

“Namanya juga pelacur!”

Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.

Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.

Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.

“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebusukan Keluarga

Jam menunjukkan pukul 01.20 tengah malam. Junia mengucek matanya sambil menguap malas. Ia terbangun karena merasa tenggorokannya sangat kering. Dengan langkah yang masih setengah mengantuk, Junia menuju dapur.

Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara obrolan paman dan bibinya dari ruang tengah, tempat biasanya mereka menonton atau bermain PS. Kamar Junia ada diujung lorong gelap, berbaris rapi dengan kamar si kembar. Jadi, jika ingin ke dapur ia harus melewati ruang tengah. Entah kenapa, alih-alih berjalan santai melewati ruang tamu untuk menuju dapur Junia spontan bersembunyi di balik dinding, tepat di depan jalan masuk ke ruang tengah yang tanpa pintu.

“HAHAHA bodoh banget! Tonjok aja!” seru Johan heboh saat menonton film action hollywood itu.

Sementara Risma hanya duduk di samping suaminya sambil memakan camilan.

“Kenapa aku sembunyi, ya?” Junia heran dengan sikapnya sendiri. Namun saat ia akan melanjutkan langkahnya, kakinya kembali terhenti saat mendengar bibinya itu menyebut namanya.

“Abang! Mau sampai kapan keponakan kamu itu terus numpang di sini?” tanya Risma.

“Kamu mau mulai pertengkaran lagi, ya?” Johan mendengus sebal. “Aku kan udah bilang, kita nggak bisa ngusir dia. Kamu lupa? Kita beli rumah ini karena aset Bang Pram yang aku jual diem-diem.”

Degh

Jantung junia berdebar keras saat mendengar ucapan pamannya itu. Aset ayahnya dijual oleh pamannya? Apa maksudnya? Junia ingin segera keluar dari persembunyiannya untuk mempertanyakan ucapan pamannya itu. Namun nyalinya menciut, sebab ia berhadapan dengan dua manusia dewasa sedangkan ia hanyalah anak kecil.

Junia juga tau jika manusia dewasa bisa menjadi kejam jika menyangkut tentang uang. Bagaimana jika nanti mereka malah membunuhnya? Ketakutan itu membuat tubuh Junia bergetar dan membuatnya menahan napas, takut jika mereka menyadari keberadaannya.

“Harusnya kamu taruh aja dia di panti asuhan. Kenapa malah dibawa ke sini, sih? Jadi beban tau nggak! Lagian dia juga udah nggak berguna dan aset ayahnya udah habis kamu jualin kan,” ucap Risma.

“Tapi masa kamu tega banget sama anak kecil yatim piatu itu? Hidup kita udah membaik berkat harta dia, lho.” Johan menghela napas kasar. “Biar aja dia di sini, setidaknya sampai lulus SMA. Setelah lulus nanti kita pikirkan lagi.”

“Sadar dong, Bang. Kamu yang paling jahat di sini. Bisa-bisanya kepikiran manipulasi warisan keponakan sendiri di hari kematian abangnya.” Risma menggelengkan kepalanya.

“Tapi kamu senang kan bisa menikmati hartanya Mas Pram, Dek.” Johan terkekeh kecil. “Lagian Junia nggak akan pernah tau kalau sebenarnya ayahnya nggak punya utang. Bang Pram juga aneh, nggak minta pengacara ngurus asetnya kalau suatu saat dia mati.” Johan terbahak.

“Mana dia tau kalau bakal mati, Bang!” Risma menyahuti.

Junia mengepalkan tangannya mendengar obrolan kejam itu. Perlahan ia mundur lalu kembali ke kamarnya. Rasa hausnya mendadak hilang saat mendengar ucapan kejam dari kedua manusia dewasa yang masih bisa disebut keluarganya itu.

***

Matahari mulai meninggi. Junia sama sekali belum keluar kamar hingga pukul sepuluh siang. Di hari minggu seperti ini biasanya Junia sudah menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah di jam tujuh pagi. Tapi hari ini, Junia tidak mau lagi melakukannya. Suara bising dari bantingan pintu mulai terdengar, mengusik Junia, meminta gadis itu agar segera mengerjakan tugas-tugasnya. Namun Junia enggan bangun. Ia hanya ingin membuat seluruh penghuni rumah semakin marah padanya.

Junia keluar kamar saat mencium aroma masakan dari arah dapur. Sepertinya bibinya sudah selesai memasak. Sudah waktunya ia keluar dari kamar dan memulai rencananya. Junia bisa melihat bibinya baru saja memindahkan lauk hangat yang baru matang ke dalam mangkuk.

Risma mendengus kesal saat melihat kedatangan Junia. Ia tak berniat menyapa atau menyuruh Junia makan, sebab ia tahu gadis itu tidak akan makan sebelum disuruh.

“Bang Jo! Frans! Friska! Ayo makan!” teriak Risma tanpa menawari Junia. Wanita itu menghentakkan kaki lalu keluar dari dapur.

Junia hanya mengangkat bahu lalu meraih piring, ia memasukkan nasi dan lauknya lalu duduk di meja makan. Ia makan lebih dulu sebelum orang-orang lainnya makan. Bahkan sebelum yang memasak mencipipi masakannya.

“APA-APAN INI?” Friska kaget melihat Junia yang makan dengan lahap. Ia hanya melirik Friska sekilas lalu kembali melanjutkan menikmati makanannya.

“PAPA! MAMA!” Friska berteriak hingga membuat mereka semua berlari menuju dapur.

“Kenapa, Sayang? Apa ada tikus?” tanya Johan khawatir. Sebab ia tahu putrinya itu sangat takut dengan tikus.

“HEH! Beraninya kamu makan duluan sebelum tuan rumah makan?” Risma tampak murka melihat kelakuan Junia. “Kamu baru bangun tidur di jam sepuluh siang, nggak melakukan pekerjaan rumah tapi jadi yang paling pertama menikmati makanan?”

Junia berdecak kesal. “Sialan! Ngerusak nafsu makan aja!” Junia menaruh sendok dengan kasar ke atas meja lalu meneguk air mineral. Ia memutar tubuhnya menatap satu persatu anggota keluarga yang berdiri di hadapannya.

Friska melotot mendengar ucapan Junia. Tangannya langsung menjambak rambut Junia. “Kamu pikir kamu tuan putri di rumah ini, hah?” bentak Friska.

Mulut Junia yang masih terisi penuh oleh air segera menyemburkannya ke wajah Friskan. “Ups sorry…” Junia tertawa kecil.

“Ihh jijik!” Friska berteriak histeris.

“Kamu kenapa Jun? Kenapa bertingkah seperti ini?” tanya Johan.

“Usir aja deh, Pa. Dasar beban!” ujar Frans.

“Kenapa emangnya, Om? Kalian marah-marah karena apa? Aku nggak boleh makan duluan? Apa karena aku nggak ngerjain tugas rumah kayak PEMBANTU seperti biasanya?” tanya Junia. “Bukannya kalian berdua sering ngabisin masakan aku dan biarin aku kelaparan?” Junia menunjuk wajah si kembar.

“Jangan biacara sembarangan!” bentak Risma.

“Bersyukur dong aku nggak jadi buang lauk ini biar kalian kelaparan,” ujar Junia lagi.

“Dasar sinting!” Friska tampak emosi.

“Keponakan kesayangan Papa itu kerasukan kah?” tanya Frans lalu tertawa mengejek.

“Junia! Berhenti bertingkah atau kamu Om usir!” ucap Johan.

“Oke! Aku bakal pergi tapi… balikin dulu uang ayah aku!” Junia tersenyum manis. “Dua ra-tus lima puluh jutaa… balikin uangnya dan aku akan pergi dari rumah ini.” Junia memukul meja dengan keras lalu pergi meninggalkan mereka.

“Kenapa dia bisa tau utang kamu?” tanya Risma, menuntut penjelasan.

“Aku juga nggak tau, entah dia tau dari mana. Mungkin dari Bang Pram,” jawab Johan bingung.

“Apa dia juga tau soal rumah ini dan harta warisan ayahnya?” bisik Risma.

“Nggak mungkin dia tahu soal itu,” jawab Johan penuh keyakinan.

Seisi rumah tampak bingung melihat perubahan sikap Junia. Namun Johan hanya meminta mereka untuk tidak mengusik Junia lagi dan melupakan kejadian tadi. Risma dan si kembar hanya mengikuti perintah Johan tanpa banyak protes.

***

Bersambung…

1
Suratmi
sepertinya ada musuh dalam selimut,, seperti nya rasa iri si Jun bakal buat Dara kena Fitnah,,semangat ya kak author..di tunggu upnya💪💪
@Resh@: sepertinya dia yg fitnah dara dia nyamar klo pake cadar dan jadi pelakor tapi dara yg dituduh awal mula kehancuran dara ini
total 1 replies
Suratmi
karya Author sangat bagus.. menginspirasi kita perempuan agar lebih berhati-hati dalam kehidupan
Lovita BM
ayok up lagi kakak ✊🏼
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Sweet Girl
Bisa jadi ... mesti diselidiki.
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
Sweet Girl
Ijin baca Tor...
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.
Sweet Girl
Kamu salah... Makai Cadar kok karena Adara...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!