NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Di belahan dunia lain, tepatnya di Paris, Tania masih terlelap di ranjang, tempat yang kerap ia bagi bersama Akram. Model berparas menawan itu tenggelam dalam tidur nyenyak, larut dalam mimpi-mimpi manis yang ia rajut sendiri tanpa gangguan.

Akram memandangi sosok Tania melalui layar ponsel yang terhubung dengan CCTV, senyum tipis penuh kelicikan terukir di wajahnya. Terlalu sayang, pikirnya, jika membiarkan perempuan itu terus terlelap begitu saja selagi napasnya masih ada. Dalam keheningan itu, sebuah rencana busuk perlahan menyelinap ke benaknya, ide yang membuat senyumnya kian mengeras.

“Bangunkan perempuan itu,pakai cara apa pun yang kau anggap perlu. Aku ingin dia bagun dan aku ingin mendengar bagaimana suaranya memecah sunyi kamar itu.” ucap Akram dingin, suaranya rendah namun penuh tekanan.

Meski hanya memantau dari layar CCTV, Akram pada saat yang sama tengah tersambung dalam panggilan dengan pengawal yang ia tugaskan khusus untuk mengawasi Tania, memastikan setiap perintahnya tersampaikan tanpa celah.

“Baik, Tuan Akram.” jawab sang pengawal singkat, nadanya tegas dan patuh tanpa sedikit pun keraguan.

Pengawal yang ditugaskan menjaga Tania melangkah mendekat ke arah perempuan itu. Dalam hatinya terbersit angan seandainya saja ia bisa mengelabui tuannya. Tubuh Tania yang proporsional dan memesona menggoda pikirannya, membuatnya harus menahan diri agar tak larut dalam keinginan terlarang.

Awalnya, ia masih berusaha membangunkan Tania dengan cara yang halus. Namun perempuan itu tetap terlelap, tak menunjukkan reaksi sedikit pun. Kehabisan cara, pengawal itu akhirnya mematikan pendingin ruangan. Dalam pikirannya, jika udara di kamar menjadi panas dan pengap, tak mungkin seseorang bisa terus terbuai dalam tidur nyenyak.

Setengah jam berlalu, Tania tetap tak juga membuka matanya, tubuhnya basah kuyup oleh keringat yang menetes tanpa henti. Kedua bodyguard saling berpandangan, lalu tanpa sepatah kata pun mereka sepakat untuk mencoba metode terakhir. Ember berisi es kristal diangkat, dan dengan satu tarikan napas panjang, mereka menumpahkan air beku itu tepat di atas Tania.

Byur! 

Tania tersentak kaget saat tubuhnya basah kuyup, langsung terduduk tanpa sadar. Kepalanya berputar hebat akibat terbangun secara tiba-tiba, ditambah derasnya air es yang menimpa tubuhnya membuat seluruh anggota tubuhnya menggigil tak terkendali.

“Ahhh! Dingin banget!” Tania menjerit histeris, tubuhnya menggigil hebat, air es masih menetes di rambut dan bajunya.

Tubuhnya hanya terselimuti pakaian dinas yang ia kenakan saat menggoda Akram kemarin. Seketika, hawa dingin menyergapnya, membuat seluruh badannya menggigil. Padahal beberapa saat yang lalu, keringat menetes deras karena panas yang mendera.

“Cepat bangun sekarang!” teriak salah satu bodyguard, suaranya keras menggema di ruangan.

Mata Tania membesar saat suara bentakan salah satu bodyguard kepercayaan Akram menghentak telinganya. Ia masih belum menyadari bahwa selama ini ia telah diperdaya oleh kekasihnya sendiri.

“Dasar tak tahu diri! Berani-beraninya kau melakukan ini padaku!” bentak Tania, suaranya menyaingi teriakan para bodyguard.

Alih-alih menunjukkan rasa takut seperti yang ia harapkan, bodyguard itu justru tersenyum sinis, lalu perlahan menggelengkan kepala seolah menertawakan kemarahannya.

“Kalau aku boleh menyingkirkanmu begitu saja, kenapa tidak?” ujar bodyguard itu, bibirnya melengkung dalam senyum puas yang dingin.

Tania terperangah mendengar ucapan itu. Apa maksud semua ini? Mengapa para bodyguard Akram tega melakukan hal semacam ini padanya, bahkan tampak menertawakan dengan puas saat ini.

“Aku akan melaporkan semua perbuatan kalian pada Akram. Bersiaplah, kalian pasti akan dipecat. Tunggu saja akibatnya.” sentak Tania dengan nada penuh percaya diri.

“Benarkah? Aku agak meragukannya.” cibirnya dengan senyum sinis.

Kesal setengah mati, Tania meraih gelas yang terletak di samping ranjangnya dan melemparkannya ke arah kedua bodyguard itu dengan sekuat tenaga.

“Bersiaplah, kau akan menyesal berurusan denganku! Dasar pengawal murahan!” teriak Tania lantang, amarahnya meledak tanpa sisa.

“Hati-hati dengan ucapanmu, Nona. Jangan sampai kau memaksaku melakukan sesuatu yang tak akan kau sukai termasuk melemparmu dari lantai delapan belas ini.” ancam bodyguard itu dengan suara rendah namun menusuk.

Semua ini terjadi atas perintah Akram. Dialah dalang di balik drama yang sengaja dimainkan oleh para bodyguard itu. Akram hanya ingin melihat, bagaimana reaksi Tania saat akhirnya menyadari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.

“Kurang ajar! Berani-beraninya kau bicara seperti itu padaku. Lepaskan aku sekarang! Lepaskan!” teriak Tania sambil meronta, suaranya pecah oleh amarah dan kepanikan.

Tania baru menyadari tubuhnya kini terikat. Saat ia masih terlelap beberapa saat yang lalu, dua bodyguard itu telah melepaskan ikatan lama di sisi ranjang. Kini, tangan dan kakinya terkunci dengan borgol milik Akram, membuatnya tak berdaya.

“Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Ke mana Akram pergi? Ke mana bajingan itu? Dan kenapa para bodyguard nya bertindak seperti ini?” gumam Tania dalam hati, penuh kebingungan dan kemarahan.

Lalu, matanya tertuju pada jam digital yang berada di atas nakas. Terlihat jelas bahwa kini sudah hari kedua sejak malam rencana itu. Tania pun mulai menelusuri pakaian yang ia kenakan, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya.

“Tidak… tidak mungkin! Pasti ada kesalahan. Aku sudah menaruh obat tidur itu di kopinya, aku melihatnya tertidur… dan…” ucapnya terhenti, kata-katanya tenggelam saat ingatannya mendadak hilang begitu saja.

“Aku… aku tertipu. Termakan jebakan yang kulayangkan sendiri.” gumamnya, suaranya penuh ketidakpercayaan dan kekesalan.

Tiba-tiba, layar TV yang terpasang di depan ranjang menyala dengan sendirinya, memancarkan cahaya yang menembus kegelapan kamar.

“A-Akram…” desis Tania, wajahnya berubah pucat pasi.

Akram menghubungi Tania melalui aplikasi yang tersambung dengan smart TV di kamarnya. Jangan heran melihat ekspresi Tania saat itu wajahnya memerah, mata menyala penuh kemarahan. Ironisnya, kini ia harus menelan akibat dari rencananya sendiri.

“Jadi, bagaimana tidurmu, sayang?” goda Akram sambil duduk santai, kakinya disilangkan di atas meja dengan senyum penuh kemenangan.

“Apa-apaan ini, sayang? Kau berselingkuh, kan?” Tania mulai memainkan dramanya, nada suaranya penuh tuduhan dan kemarahan pura-pura.

“Tidak, aku tidak berselingkuh. Tania sayang, selingkuh itu menjijikkan bermain api di belakang pasangan sendiri.” sindir Akram dengan nada dingin tapi penuh kepastian.

“Di mana kau sekarang, sayang? Aku merindukanmu sejak tadi… dan… siapa mereka?” seru Tania, napasnya tersengal-sengal penuh gugup dan penasaran.

Sejujurnya, perasaannya pada Akram belum pudar. Pria asal Inggris itu selalu tahu bagaimana membuatnya tersenyum, memenuhi setiap keinginannya, dan yang paling penting Akram memperlihatkan cintanya padanya dengan begitu tulus.

Namun kini, Akram berada di sisi dua wanita menawan, dan pemandangan itu menyalakan api cemburu yang membakar hati Tania.

“Benarkah? Kau merindukanku? Oh, mereka cuma partner-ku, Tania,” jawab Akram santai, nada suaranya penuh percaya diri dan sedikit menggoda.

“Partner ranjangmu, kan? Benar begitu?!” bentak Tania, suaranya memecah keheningan dengan amarah yang menebal.

Melihat Tania mulai terpancing emosinya, Akram merasa kesal sekaligus bingung. Sesungguhnya itulah tujuan utamanya, tapi anehnya, kini hatinya justru tersentuh oleh kesedihan yang tak terduga.

Entah kata-kata atau godaan apa yang dilontarkan Akram kepada dua gadis itu, keduanya langsung terkikik manja, mencuri ciuman singkat dari bibirnya, lalu pergi meninggalkannya, meninggalkan Akram yang dipenuhi kemarahan.

“Dasar menjijikkan, Akram!” bentak Tania, suaranya penuh sakit hati dan kemarahan.

“Tutup mulutmu, jalang kecil. Kau benar-benar berhasil membuatku marah kali ini.” desis Akram, matanya menatap Tania dengan tajam penuh amarah.

Tania terdiam ketakutan, jantungnya berdegup kencang. Seumur hidupnya, ia tak pernah melihat Akram setajam dan semarah ini.

“Jangan pernah lagi kau mencoba membuat ku tidur seperti itu. Sekali saja kau mengulanginya, kau akan.....” ucap Akram dengan nada dingin yang sarat ancaman.

“Akan apa? Kau mau menuduhku ?” balas Tania, nada suaranya menyimpan kemarahan. 

“Atau kau akan terlelap lebih lama dari yang pernah kau bayangkan, Tania.” desis Akram dengan penekanan dingin yang membuat bulu kuduk meremang.

Tania terperangah, jantungnya berdebar kencang. Apakah Akram sudah mengetahui rahasia yang selama ini ia sembunyikan.

“Dengarkan aku baik-baik, Tania. Jika kau masih ingin tetap aman, patuhi semua ucapanku. Berikan padaku apa yang kuinginkan yaitu memberikan ku anak dan kau pun akan mendapatkan imbalannya.” desis Akram, setiap kata diucapkannya dengan tekanan dingin yang menakutkan.

“Tidak! Aku tidak mau mengandung! Akram, aku menolak!” jerit Tania histeris, suaranya pecah oleh kepanikan dan kemarahan.

“Dan sayang… kau pasti sudah mengandung, Tania.” bisik Akram dengan nada dingin tapi penuh kepastian.

“A… apa?” gumam Tania tergagap, matanya melebar penuh keterkejutan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!