Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Pengakuan yang Tidak Diucapkan
Aethela terbangun bukan oleh suara terompet istana atau ketukan pelayan, melainkan oleh keheningan yang begitu pekat hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Namun, ada yang berbeda. Detak jantung itu terasa ganda—sebuah denyut lembut di dadanya, dan sebuah dentuman kuat yang bergema di kejauhan, namun terasa sangat dekat.
Ia berada di kamar utama Menara Barat, namun segel obsidian yang menyesakkan itu telah lenyap. Kamar itu kini terasa hangat, diterangi oleh cahaya fajar yang menembus jendela tinggi. Saat ia mencoba menggerakkan lengannya, ia menyadari bahwa ia tidak sendirian.
Di samping tempat tidurnya, duduk Valerius di sebuah kursi kayu besar. Pria itu tampak tertidur dengan kepala bersandar pada tangannya yang terlipat. Zirahnya telah dilepaskan, menyisakan kemeja linen hitam yang koyak di beberapa bagian, memperlihatkan perban yang melilit bahunya.
Aethela memperhatikan wajah Valerius saat tidur. Tanpa topeng kedinginannya, ia terlihat lebih muda, lebih lelah, dan entah bagaimana... lebih manusiawi. Bekas luka kecil di pelipisnya adalah pengingat akan pertempuran di Jantung Gunung kemarin. Ingatan tentang bagaimana mereka menyatu—bagaimana jiwa mereka benar-benar bersentuhan tanpa penghalang—membuat pipi Aethela memanas.
Ikatan ini, pikir Aethela, menyentuh dadanya. Ini bukan lagi sekadar sihir. Ini adalah sesuatu yang mengakar di dalam darah
Valerius tersentak bangun saat merasakan perubahan pada frekuensi napas Aethela. Matanya yang emas langsung terbuka, waspada secara instingtif, sebelum melunak saat melihat Aethela sudah terjaga dan menatapnya.
Selama dua belas jam terakhir, Aethela tidak sadarkan diri setelah ritual paksa di Jantung Gunung. Para tabib naga mengatakan bahwa jiwanya hampir terbakar habis, dan hanya ikatan nyawa dari Valerius yang menjaganya tetap di dunia ini.
"Kau bangun," suara Valerius serak, penuh dengan kelelahan yang tidak bisa disembunyikan.
"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Aethela, suaranya kecil dan parau.
"Terlalu lama," jawab Valerius singkat. Ia berdiri dan mendekat ke tepi tempat tidur. Ia mengambil segelas air dari meja samping dan membantunya minum dengan tangan yang anehnya sangat lembut untuk seorang pejuang.
Saat Valerius menyangga punggung Aethela agar bisa minum, kulit mereka bersentuhan. Seketika, arus hangat mengalir di antara mereka. Aethela bisa merasakan setiap emosi yang coba disembunyikan Valerius: ketakutan akan kehilangannya, rasa bersalah karena membiarkannya terluka, dan sesuatu yang jauh lebih dalam—sebuah kerinduan yang belum berani ia beri nama.
Aethela menatap tangan Valerius yang kini memiliki jejak sisik naga yang permanen di punggung tangannya. "Sisik itu... mereka tidak hilang."
Valerius menatap tangannya sendiri, lalu kembali menatap Aethela. "Itu adalah tanda permanen dari fusi kita. Jantung Gunung telah menandai kita berdua. Aku tidak lagi bisa menjadi naga sepenuhnya tanpa pengaruh cahayamu, dan kau... kau tidak akan pernah bisa kembali menjadi manusia biasa lagi, Aethela."
Aethela terdiam, mencerna kenyataan itu. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Di bawah kulitnya yang pucat, ada pendaran perak kebiruan yang lebih pekat dari sebelumnya. Ia adalah percampuran antara bulan dan naga. Sebuah anomali. Sebuah keajaiban.
"Seraphina?" tanya Aethela.
"Dia sudah hilang. Terjatuh ke dalam jurang inti," jawab Valerius dengan nada dingin. "Ayahku telah menyatakan faksi 'Mata Safir' sebagai pengkhianat. Dewan... mereka tidak punya pilihan selain menerima kita sekarang. Kau bukan lagi tawanan, Aethela. Kau adalah Penyelamat Obsidiana. Rakyat mulai memanggilmu Sang Pengantin Cahaya."
Ia mendapatkan rasa hormat yang ia inginkan, namun ia menyadari bahwa harganya adalah hilangnya jalan pulang ke Solaria yang ia kenal. Ia kini menjadi milik pegunungan ini, dan milik pria yang berdiri di depannya.
"Valerius, tentang apa yang terjadi di bawah sana... saat kita menyatu..." Aethela ragu-ragu, matanya mencari jawaban di mata emas itu. "Kau merasakan apa yang kurasakan, bukan?"
Valerius memalingkan wajahnya sejenak, menatap ke arah jendela yang menampilkan puncak-puncak gunung yang kini tampak lebih cerah—terang oleh energi Jantung Gunung yang telah murni.
Ia ingin mengakui bahwa saat jiwanya menyentuh jiwa Aethela, ia tidak lagi melihatnya sebagai alat atau beban. Ia melihatnya sebagai satu-satunya alasan baginya untuk terus menjadi manusia. Namun, kata-kata "aku mencintaimu" terasa terlalu berat bagi seorang pria yang dibesarkan untuk hanya mengenal kewajiban dan perang.
"Aku merasakannya," bisik Valerius akhirnya. Ia kembali menatap Aethela, dan kali ini, ada kejujuran yang telanjang di matanya. "Aku merasakan setiap ketakutanmu, setiap luka yang diberikan Solaria padamu. Dan aku berjanji, Aethela... selama jantungku masih berdetak, tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu dengan niat jahat. Tidak ayahku, tidak juga dewannya."
Itu bukanlah pernyataan cinta yang puitis seperti yang sering ia baca dalam buku-buku di Solaria. Itu adalah sebuah sumpah darah. Dan bagi Aethela, itu jauh lebih berharga.
Ia menjangkau tangan Valerius, menelusuri sisik naga yang kasar di punggung tangannya dengan jari-jarinya. "Aku juga merasakannya, Valerius. Kesepianmu. Caramu memikul seluruh beban kerajaan ini sendirian. Kau tidak harus melakukannya lagi. Aku di sini. Bukan karena perjanjian, tapi karena pilihanku."
Valerius tertegun. Ia perlahan duduk di tepi tempat tidur, mendekatkan wajahnya ke wajah Aethela. Suasana di kamar itu menjadi sangat intim, hanya ada suara deru angin di luar menara dan napas mereka yang saling memburu.
Valerius menyentuhkan dahinya ke dahi Aethela.Sebuah gerakan yang bagi ras Naga adalah bentuk pengakuan pasangan yang paling suci. Aethela memejamkan mata, menikmati kehangatan yang mengalir dari Valerius. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi kecurigaan. Hanya ada dua jiwa yang mencoba menemukan rumah di tengah badai.
"Kita akan menghadapi banyak tantangan, Aethela," bisik Valerius di depan bibirnya. "Ayahmu tidak akan senang mendengar bahwa 'Penghancur'-nya kini memiliki sekutu naga."
"Biarkan dia marah," sahut Aethela dengan keberanian yang baru. "Dia kehilangan hak atas diriku saat dia menyerahkanku padamu."
Valerius menarik diri sedikit, menatap Aethela dengan tatapan yang kini dipenuhi dengan rasa protektif yang posesif namun lembut. Ia tahu bahwa meskipun Seraphina telah tiada, perang yang sebenarnya—perang politik antara Solaria dan Obsidiana—baru saja akan dimulai kembali dengan tensi yang berbeda.
"Beristirahatlah hari ini," kata Valerius, suaranya kembali menjadi tegas namun penuh perhatian. "Besok, kita harus tampil di depan publik. Mereka harus melihat bahwa permaisuri baru mereka tidak hanya selamat, tapi dia telah menguasai Jantung Gunung."
Saat Valerius beranjak pergi untuk memberikan waktu bagi Aethela beristirahat, Aethela merasa tidak lagi kesepian. Ia menyentuh dadanya, merasakan resonansi yang tenang. Pengakuan itu mungkin tidak diucapkan dalam kata-kata yang indah, namun tindakan Valerius—kesetiaannya, pengorbanannya, dan caranya menatapnya—telah mengatakan segalanya.
Ia menatap langit Obsidiana yang kini tidak lagi kelabu, melainkan biru pucat yang jernih. Untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan Solaria, Aethela Vespera merasa bahwa ia tidak sedang menuju kehancuran. Ia sedang menuju sebuah awal yang baru.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...