NovelToon NovelToon
LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romansa
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.

Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.

Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.

Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.

Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi Buruk

Sampai di rumah, sekitar jam dua belas siang.

Lestari masuk lewat pintu belakang—biar nggak ketemu Wulandari dulu. Tapi... sial.

Wulandari lagi di dapur, lagi masak—tumis kangkung yang bau terasi nyengat.

"Lo darimana?" tanya Wulandari datar, nggak noleh, tetep aduk kangkung.

"A—aku... aku tadi pingsan, Mamah. Bu Ratih bawa aku ke puskesmas..."

"Pingsan?" Wulandari noleh, ngeliat Lestari dari atas sampe bawah. "Manja! Emak gue dulu hamil aja masih kerja keras! Angkat karung beras, cuci baju seabrek, masak buat sepuluh orang! Lo cuma cuci baju beberapa kilo udah pingsan?! Dasar perempuan lemah! Nggak berguna!"

Lestari nunduk. Nggak berani ngelawan.

"Besok lo tetep kerja. Jangan sampe males-malesan pake alasan hamil. Ngerti?!"

"Tapi Mamah... dokter bilang aku harus istirahat dua minggu—"

"DOKTER TAU APA?! Dokter nggak bayarin hidup lo! Gue yang bayarin! Lo mau makan, lo harus kerja!"

Lestari diem. Nggak bisa jawab.

Sore itu, sekitar jam lima, Dyon pulang. Muka nya kusut, baju nya kotor tanah—dia kerja angkut barang seharian, cape banget.

Dia duduk di sofa, nyalain TV. Wulandari udah siapin makan sore—nasi, tumis kangkung, tempe goreng.

Dyon makan sambil nonton. Lestari berdiri di pojokan dapur, nunggu giliran makan—kalau ada sisa.

Tiba-tiba Dyon nengok ke belakang. "Eh, lo. Sini."

Lestari mendekat. "I—iya?"

"Beliin gue rokok. Sampurna Mild. Satu bungkus."

Lestari menelan ludah. Rokok? Dia... dia nggak punya uang. Uang lima puluh ribu dari Bu Ratih harus dia simpen buat makan dia sama bayinya.

"Mas... aku... aku nggak ada uang—"

"Ya pake uang lo lah! Lo kan kerja! Masa nggak punya uang?!"

"Tapi uang aku udah disetor ke Mamah buat uang ngontrak—"

"Gue nggak peduli! Pake uang lo yang mana aja! Pokoknya beliin sekarang!"

Dyon nggak ngasih uang. Dia cuma nyuruh. Maksa.

Lestari... lestari nggak tau harus gimana. Kalau nggak beliin, pasti dipukul. Tapi kalau beliin... uang dari Bu Ratih bakal berkurang.

"Cepet! Gue mau ngerokok sekarang! Gue capek seharian!"

Lestari keluar. Jalan ke warung ujung gang—warung Mak Ijah yang jual rokok, sabun, minyak, bumbu dapur.

"Satu bungkus Sampurna Mild, Mak," kata Lestari pelan.

Mak Ijah—nenek tua gemuk yang rambutnya putih semua—ngasih rokok. "Dua puluh ribu, Nak."

Lestari ngeluarin uang lima puluh ribu dari dalam bra nya. Dikasih ke Mak Ijah.

Mak Ijah ngasih kembalian tiga puluh ribu.

Lestari natap uang kembalian itu. Uang yang tadinya lima puluh ribu, sekarang tinggal tiga puluh ribu.

Berkurang banyak.

"Eh, Nak, sekalian beli kopi nggak? Kopi Kapal Api satu sachet cuma seribu," tanya Mak Ijah.

"Enggak, Mak. Makasih." Lestari jalan keluar.

Tapi pas sampai di pintu warung, dia inget—Dyon suka ngopi. Kalau nggak ada kopi, dia bakal marah lagi.

Lestari balik. "Mak, beli kopi satu sachet."

Mak Ijah ngasih. "Seribu."

Lestari bayar. Sekarang uang nya tinggal dua puluh sembilan ribu.

Dia jalan pulang dengan langkah berat. Uang nya udah berkurang banyak. Padahal baru dapet tadi siang. Belum sempet dipake buat beli makanan buat diri sendiri, udah berkurang buat beli rokok sama kopi suami.

Sampai di rumah, dia kasih rokok sama kopi ke Dyon.

Dyon terima tanpa bilang makasih. Langsung buka bungkus rokok, nyalain satu batang, menghisapnya dalam-dalam. Asap nya ngepul, nyengat banget.

"Kopinya seduh."

Lestari ke dapur, seduh kopi pake air panas dari termos. Gula dikit—gula di rumah ini udah hampir habis, Wulandari pelit kasih.

Kopi di seduh, dikasih ke Dyon.

Dyon minum sambil ngerokok sambil nonton TV. Lestari berdiri di samping, nunggu.

"Lo mau apa? Pergi sana."

Lestari balik ke dapur. Liat panci—masih ada sisa nasi dikit, tumis kangkung tinggal sedikit, tempe udah habis.

Dia ambil nasi sisa, tumis kangkung sisa, makan di pojokan dapur. Makan sambil berdiri, piring plastik di tangan.

Rasanya hambar. Kangkung nya udah dingin, udah nggak enak. Tapi dia makan sampe habis. Nggak boleh sisa. Dia laper banget.

Selesai makan, dia cuci piring. Terus ke kamar gudang, tidur.

Tapi nggak bisa tidur. Perut nya masih laper—nasi sedikit nggak cukup. Bayi nya butuh nutrisi.

Dia ngerem. Mengelus perut.

"Maaf ya, Nak... Ibu nggak bisa kasih makan yang banyak... Ibu... Ibu usaha..."

---

Malem itu, sekitar jam sepuluh, Lestari terbangun karena haus. Tenggorokan nya kering banget.

Dia keluar kamar, jalan ke dapur, ambil gelas, tuang air dari kendi.

Lagi minum, dia denger suara dari ruang tamu. Suara Dyon sama Wulandari—lagi ngobrol.

"Mah, di kulkas ada susu kan?" suara Dyon.

"Ada. Susu kotak putih. Itu susu ibu hamil yang dikasih Bu Ratih buat Lestari kemarin."

Lestari berhenti minum. Susu? Bu Ratih kasih susu?

Dia nggak tau. Bu Ratih kasih ke Wulandari, bukan ke dia langsung. Berarti Wulandari simpen.

"Gue minum boleh kan? Gue kehabisan kopi tadi."

"Ya udah, minum aja. Lumayan buat ganti kopi. Susu mahal loh, sayang kalau cuma buat dia."

Lestari... jantungnya nyesek.

Susu ibu hamil. Susu yang seharusnya buat dia. Buat bayinya.

Diminum Dyon. Buat ganti kopi.

Lestari jalan pelan ke pintu dapur, ngintip ke ruang tamu lewat celah pintu.

Dyon lagi buka kulkas kecil, keluarin kotak susu—susu ibu hamil merek terkenal, kotak nya warna pink. Dia buka, minum langsung dari kotak—glek glek glek—setengah kotak habis.

"Enak juga nih susu," kata Dyon sambil nyeka mulut pake punggung tangan.

"Iya, mahal. Dua puluh ribu satu kotak. Bu Ratih baik banget kasih dua kotak buat Lestari. Tapi ya... daripada dia minum sendirian, mending kita minum juga kan?" Wulandari ketawa.

Mereka ketawa berdua.

Lestari mundur dari pintu. Kakinya lemes. Punggungnya bersandar ke tembok dapur.

Susu nya... susu buat bayinya... diminum Dyon. Setengah kotak. Tinggal setengah lagi.

Air mata nya keluar. Tapi nggak ada suara. Cuma air mata yang ngalir diam-diam.

Dia balik ke kamar. Tidur di tikar. Meringkuk.

Tangannya mengelus perut.

"Maafin Ibu, Nak... susu yang seharusnya buat kamu... malah diminum Bapak kamu... Ibu... Ibu nggak tau harus gimana..."

Dia nangis pelan. Sampe akhirnya ketiduran karena kecapean.

---

Pagi harinya, Lestari bangun jam setengah empat seperti biasa. Shalat subuh. Terus ke dapur.

Di meja dapur ada kotak susu itu. Masih ada setengah.

Lestari buka kulkas pelan—berusaha nggak berisik biar Wulandari nggak bangun. Dia ambil kotak susu, tuang ke gelas.

Setengah kotak dia tuang—sekitar seratus mililiter.

Dia minum pelan. Rasanya... manis. Creamy. Enak. Rasanya kayak... harapan. Harapan kecil buat bayinya.

Selesai minum, dia cuci gelas, simpen kotak susu balik ke kulkas.

Sekarang kotak susu nya tinggal seperempat. Besok pagi dia minum lagi. Biar bayinya dapet nutrisi. Biar... biar bayinya sehat.

Dia masak sarapan—nasi, telur dadar, tempe goreng.

Dyon bangun, makan, berangkat kerja tanpa bilang apa-apa.

Wulandari bangun, makan, terus ngomel-ngomel suruh Lestari beresin rumah.

Hari berjalan seperti biasa.

Tapi malam nya—

Lestari bermimpi.

Mimpi buruk.

Dia mimpi... dia melahirkan. Melahirkan di tempat gelap. Nggak ada lampu. Nggak ada orang. Cuma dia sendirian.

Bayinya lahir—bayinya kecil, lemah, kulitnya pucat. Nangis. Nangis keras.

Tapi Lestari nggak bisa megang bayinya. Tangan nya terikat. Kaki nya terikat. Dia cuma bisa liat bayinya nangis.

Terus bayinya... bayinya melayang. Terbang ke udara. Makin tinggi. Makin jauh.

"ANAKKU! ANAKKU JANGAN PERGI! KUMOHON!" Lestari teriak dalam mimpi.

Tapi bayinya terus menjauh. Terus menjauh. Sampe hilang.

Gelap.

Lestari terbangun—napasnya tetengah-engah. Keringat dingin membasahi dasternya. Jantungnya berdegup cepet banget.

Dia duduk, tangan nya langsung mengelus perut.

"Anak ku... anak ku masih ada kan? Masih di sini kan?"

Perut nya masih buncit. Masih ada.

Lestari nangis. Nangis lega. "Ya Allah... syukur... syukur masih ada..."

Dia berbaring lagi. Tangan nya nggak lepas dari perut. Terus mengelus. Terus mengelus.

"Ibu janji... Ibu janji bakal jaga kamu... Ibu janji nggak bakal ninggalin kamu... Ibu janji... demi apapun... Ibu akan kuat. Demi kamu."

Angin malam masuk dari lubang ventilasi. Dingin. Tapi Lestari nggak kedinginan.

Karena di dadanya... ada kehangatan kecil.

Kehangatan dari tekad.

Tekad buat bertahan.

Demi anaknya.

Demi satu-satunya harapan yang dia punya.

---

Pagi harinya, waktu Lestari mau minum susu lagi, dia buka kulkas—kotak susu nya nggak ada.

Hilang.

Dia cari di kulkas—nggak ada. Cari di meja—nggak ada.

"Mamah... susu yang kemarin... ke mana?" tanya Lestari hati-hati.

Wulandari lagi nonton TV. "Oh itu? Dyon habis in semalam. Dia bilang enak, jadi dia minum sampe habis. Kenapa?"

Habis.

Susu terakhir... habis.

Lestari diem. Nggak bisa ngomong. Tenggorokan nya sesak.

"Kenapa diem? Lo mau minum? Ya udah nggak ada. Besok Bu Ratih kasih lagi juga kali."

Lestari balik ke dapur. Pegang wastafel. Kepala nunduk.

Air mata netes ke wastafel.

Susu terakhir... yang seharusnya buat bayinya... habis diminum Dyon.

Habis.

Nggak ada lagi.

"Ya Allah... sampai kapan... sampai kapan aku harus kuat kayak gini...?"

Tapi jawaban nggak datang.

Yang datang cuma hari baru.

Hari yang sama menyakitkan nya.

Hari yang sama putus asa nya.

Tapi Lestari... Lestari harus tetep berdiri.

Karena kalau dia roboh—

Siapa yang bakal melindungin bayinya.

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, teruntuk Lestari wanita kuat dan tentunya Author hebat di balik setiap lembarannya 👍🙏
Mentari_Senja: mkasih udh slalu stay di ceritaku, Kak☺
total 1 replies
checangel_
Dan tentunya penuh kejutan 🤭
checangel_
/Good/
Dri Andri
yon urang gelud lah... ajg parah lord dyon... anak balita aja di tampar... anak setan... bapaknya apa ? aaaaaakakakkakaakakak
checangel_
Karena Dyon adalah suamimu, firasatmu sebagai istri selalu tepat dan akurat Lestarai 😇
Mentari_Senja: ikatan batin seorang istri😌
total 1 replies
checangel_
Wah, Antoni hebat bisa juggling bola/Applaud/, Aunty bangga padamu /Smile/
Mentari_Senja: mkasih Aunty🤭
total 1 replies
checangel_
Kok berasa komedi ya, saat Ibu Wulandari muncul, komedinya ngeri² gimana gitu/Facepalm/🤭, Astaghfirullah maafkan Reader ini ya Ibu Wulandari 🤧
checangel_: Entahlah/Silent/
total 4 replies
checangel_
Anak lelaki memang harus dekat dengan Ibunya, baru deh yang kedua Ayahnya 😇
checangel_
Mau aku kasih tahu rahasia nggak, anak sekecil itu jika sudah mendapat tekanan keras (berupa tamparan, teriakan, bahkan Ibunya tersakiti) dari Ayahnya, saat dewasa anak itu akan benci dengan apa yang pernah dialaminya sedari kecil, TAPI .... kebencian itu bukanlah solusinya, karena pada akhirnya kebenaran yang berpihak 👍
checangel_: /Good/
total 2 replies
checangel_
Kenapa ditampar anak sekecil itu?/Sob/ Dyon kamu itu ya /Drowsy/
checangel_: /Facepalm/
total 4 replies
checangel_
Lestari, kamu Ibu hebat🤧
checangel_
Andriano hadir disaat yang tepat, bukan begitu Lestari, Dyon hempaskan. Astaghfirullah/Facepalm/
Mentari_Senja: main hempaskan aja, Dyon jga manusia, hanya saja dia salah jalur🤣🤣
total 1 replies
checangel_
Dyon kamu itu ya!!!/Grimace/, banyak² istighfar yuk sebelum terlambat 🤧
checangel_
Tenang, ada Allah yang selalu bersamamu😇
Mentari_Senja: dan ada author yg slalu ada di cerita ini🤭
total 1 replies
checangel_
Tapi kita juga tak tahu, apakah mereka yang tersenyum di luar sana beneran tersenyum atau hanyalah pura², karena dibalik senyum tak semua orang tersenyum 🤭/Facepalm/
Mentari_Senja: karena manusia terlalu pandai berpura2
total 1 replies
checangel_
Lestari, you are strong woman🤧
checangel_
Apalagi ni? Ibu Wulandari berulah lagi🤧
Mentari_Senja: emang suka bikin ulah kak😩
total 1 replies
checangel_
Ibu Wulandari terjuket /Facepalm/
Mentari_Senja: untung aja bukan terjungkit😩
total 1 replies
Dri Andri
anjay ududna Sampurna mill.. beliin aja petasan biar mulut nya hancur😁
Dri Andri: sampurna kretek murah
total 3 replies
Dri Andri
agak laen nih dyon

lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!