NovelToon NovelToon
The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠)

SINOPSIS


Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
​Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Darah di Atas Salju dan Sumpah Phoenix

​Langit di atas Kekaisaran Phoenix Matahari tidak pernah semerah ini. Bukan karena rona merah matahari terbenam yang syahdu, melainkan karena api yang melalap Menara Terlarang—puncak tertinggi yang melambangkan keagungan abadi kekaisaran—kini telah berubah menjadi neraka dunia yang menderu. Bau amis darah segar bercampur dengan aroma hangus dari kayu cendana kuno yang terbakar memenuhi udara, mencekik paru-paru siapa pun yang berada di sana.

​Di tengah kobaran api yang menjilat langit, Feng Ruxue—wanita yang pernah diagungkan sebagai 'Ibu Negara' dan 'Dewi Perang'—tergeletak tak berdaya di atas lantai marmer yang kini retak karena panas. Gaun sutra putihnya yang legendaris kini berubah warna menjadi merah pekat, bukan karena pewarna, melainkan karena darah yang terus merembes dari luka tusukan di perutnya.

​Setiap embusan napas Ruxue terasa seperti ribuan jarum yang menusuk dadanya. Ia mencoba menggerakkan jarinya, namun rasa sakit yang tajam menghujam tulang belakangnya, menandakan bahwa saraf-sarafnya telah hancur.

​"Kenapa...?" suara Ruxue parau, nyaris habis ditelan suara kayu yang berderak jatuh. "Aku memberikan segalanya untukmu, Long Tian. Klan Feng memberikan nyawa mereka di medan perang hanya untuk memastikan kau duduk di tahta ini. Apakah ini upah bagi kesetiaan yang kuberi?"

​Di hadapannya, seorang pria berdiri dengan angkuh. Jubah naga emas yang ia kenakan berkilau terkena pantulan lidah api, menciptakan bayangan yang tampak seperti monster. Dialah Long Tian, pria yang sepuluh tahun lalu berlutut di bawah pohon persik dan bersumpah akan mencintai Ruxue hingga napas terakhirnya.

Namun kini, pedang di tangan pria itu masih meneteskan darah hangat milik istrinya sendiri.

​Long Tian sedikit membungkuk, mencengkeram dagu Ruxue dengan kasar agar mata mereka bertemu. Matanya yang dulu penuh kehangatan kini sedingin es di puncak pegunungan utara.

​"Kesetiaan? Ruxue, di dunia di mana kekuatan adalah hukum tertinggi, tidak ada tempat untuk kesetiaan yang buta," bisik Long Tian dengan nada datar yang menusuk. "Kau terlalu berguna, hingga kau menjadi ancaman. Rakyat memuja namamu lebih tinggi dari namaku. Prajurit lebih rela mati demi perintahmu daripada perintahku. Selama kau masih hidup dengan gelar 'Dewi Perang' itu, aku tidak akan pernah benar-benar menjadi Kaisar di mata mereka. Kau adalah matahari yang menenggelamkan cahayaku."

​Ruxue ingin tertawa mendengarnya, namun yang keluar hanyalah batuk darah yang membasahi wajah Long Tian. Betapa ironisnya; pengorbanan dan perlindungannya selama ini justru menjadi alasan suaminya sendiri merasa rendah diri dan terancam.

​Tiba-tiba, sebuah langkah kaki ringan dan gemulai terdengar. Seorang wanita dengan gaun sutra tipis yang memamerkan lekuk tubuhnya melangkah maju dari balik bayangan Long Tian. Wajahnya cantik jelita, namun senyum di bibirnya mengandung racun yang lebih mematikan dari ular kobra.

​Dia adalah Feng Meili, adik tiri Ruxue. Wanita yang selama ini dirawat Ruxue seperti anak sendiri, wanita yang selalu ia lindungi dari kerasnya dunia politik istana.

​"Kakakku yang hebat, jangan menatap suamiku seperti itu," Meili menutup mulutnya dengan kipas sutra, berpura-pura sedih namun matanya berkilat penuh kemenangan. "Tahukah kau? Ayah sebenarnya sudah mengetahui rencana ini sejak awal. Bahkan, ayahlah yang memberikan racun pelumpuh energi ke dalam tehmu pagi ini. Klan Feng tidak butuh permaisuri yang keras kepala seperti kau. Mereka butuh aku, yang jauh lebih bisa dikendalikan, untuk duduk di samping Kaisar."

​Dunia Ruxue seakan runtuh lebih cepat daripada bangunan di sekitarnya. Ayah juga mengkhianatiku? Rasa sakit di hatinya saat ini jauh melampaui rasa sakit fisik akibat tusukan pedang.

​"Dan satu hal lagi," Meili berjongkok, berbisik tepat di telinga Ruxue sementara tangannya meraba punggung Ruxue yang terluka. "Tulang sumsum Phoenix-mu... sumber kekuatan suci yang membuatmu tak terkalahkan... aku akan mengambilnya sekarang. Tanpa itu, kau hanyalah sampah yang akan terbakar menjadi abu tanpa jejak."

​SRET!

​Tanpa belas kasihan, Meili menghujamkan belati perak yang telah dimantrai ke tulang punggung Ruxue. Jeritan histeris pecah dari mulut Ruxue—sebuah jeritan yang begitu menyayat hati hingga seolah-olah mampu menghentikan aliran waktu sejenak. Meili menarik keluar sebuah cahaya keemasan yang murni dan menyilaukan dari tubuh Ruxue. Itu adalah Inti Jiwa Phoenix.

​Seketika, rambut Ruxue yang hitam legam berubah menjadi putih kusam. Kulitnya yang bersinar menjadi pucat dan keriput. Ia kehilangan seluruh kekuatan kultivasinya dalam sekejap.

​Long Tian dan Meili berbalik pergi, membiarkan api mengepung tubuh Ruxue yang hancur. Di ambang kematiannya, Ruxue menatap langit yang tertutup asap hitam. Ia tidak menangis. Kebencian yang murni mulai membakar sisa-sisa jiwanya.

​"Jika langit masih memiliki mata... aku bersumpah dengan sisa jiwaku yang terkutuk!" Ruxue berbisik dengan nada yang bergema di tengah reruntuhan. "Meskipun aku harus merangkak keluar dari neraka terdalam, aku akan kembali. Long Tian, Feng Meili... darah harus dibayar dengan darah. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebagai berkah di kakiku!"

​BUM!

​Menara itu runtuh sepenuhnya, menelan tubuh sang Dewi Perang ke dalam tumpukan bara api. Seluruh kekaisaran berduka, namun di balik tembok istana, pesta kemenangan baru saja dimulai.

​Di sebuah desa terpencil yang tersembunyi di balik hutan lebat, ribuan mil dari ibu kota...

​"Bangun, dasar sampah tidak berguna! Kau ingin mati kelaparan atau ingin aku yang membunuhmu sekarang juga?!"

​Byur!

​Sensasi air sedingin es yang menusuk kulit membuat Ruxue tersentak bangun. Ia terbatuk-batuk, menghirup udara dengan rakus seolah-olah ia baru saja bangkit dari kematian—dan memang begitulah kenyataannya.

Penglihatannya yang kabur perlahan mulai fokus. Ia tidak melihat api, melainkan langit-langit atap jerami yang bocor dan penuh sarang laba-laba.

​Bau busuk jerami lembap dan kotoran hewan menyengat hidungnya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun ia tertegun. Tangannya kecil, kurus kering, dan penuh dengan bekas luka memar kebiruan. Ini bukan tangannya yang kokoh dan terlatih memegang pedang.

​"Lihat dia! Masih berani melamun setelah menghabiskan jatah makan pagi ini? Benar-benar beban!" Seorang wanita paruh baya dengan wajah galak dan pakaian kumal berdiri di depannya, memegang ember kosong yang baru saja diguyurkan ke tubuhnya.

​Ruxue meraba wajahnya. Jarinya menyentuh tekstur kulit yang kasar dan benjolan cacat besar di pipi kirinya. Tiba-tiba, gelombang ingatan asing menghantam kepalanya dengan kekuatan yang membuat dunianya berputar.

​Lin Xiao. Gadis yatim piatu berusia 16 tahun. Dihina sebagai 'Si Buruk Rupa' dan 'Sampah Tanpa Bakat' di Desa Awan Hijau. Bibinya, wanita di depannya ini, selalu menyiksanya dan menjadikannya budak tanpa bayaran.

​Ruxue—tidak, sekarang Lin Xiao—menundukkan kepalanya. Rambut hitamnya yang kumal menutupi wajahnya yang cacat. Di balik rambut itu, matanya yang redup perlahan mulai berkilat dengan kecerdasan dan otoritas yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang gadis desa yang penakut.

​"Apa kau tuli?! Cepat pergi ke hutan dan cari dua ikat kayu bakar! Jika kau pulang dengan tangan kosong, kau akan tidur di kandang babi malam ini!" Bibi Lin menendang bahu Lin Xiao hingga gadis itu tersungkur ke tanah yang berlumpur.

​Orang-orang desa yang lewat di depan gubuk hanya menonton sambil tertawa mengejek. Bagi mereka, menindas Lin Xiao adalah hiburan harian yang murah.

​Lin Xiao berdiri perlahan. Ia tidak menangis, tidak pula memohon ampun seperti Lin Xiao yang lama. Ia membersihkan lumpur dari pakaiannya dengan gerakan yang begitu anggun dan bermartabat, membuat tawa orang-orang desa perlahan terhenti karena bingung.

​Ia menatap Bibi Lin dengan tatapan dingin—sebuah tatapan yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi jenderal perang di masa lalu. Untuk sesaat, Bibi Lin merasa jantungnya seolah berhenti berdetak karena ketakutan yang tidak bisa dijelaskan.

​"Aku akan pergi," ucap Lin Xiao dengan suara serak namun tegas. "Tapi ingatlah ini, Bibi. Setiap tetes air dingin yang kau guyur dan setiap tendangan yang kau berikan... akan aku kembalikan seribu kali lipat di masa depan."

​Tanpa menunggu jawaban, Lin Xiao berjalan menuju hutan dengan punggung tegak. Ia tahu, di tubuh yang lemah ini, masih tersisa sedikit bara api dari jiwanya yang lama.

​"Phoenix ini tidak mati," bisiknya pada angin hutan yang berhembus. "Ia hanya sedang menunggu waktu untuk membakar seluruh dunia."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!